
“Mamake pernah nggak sih merasa pesimis
dengan impian Mamake?”
Pertanyaan Titin barusan
membuatku berekspresi serius dari yang tadinya sumringah saat menceritakan
mimpi-mimpi. Pertanyaan sederhana tapi menimbulkan banyak tanya lagi
sesudahnya. Dariku.
“Emmm… pernah lah Cin. Kok nanya
itu sih?”
“Soalnya Tin lihat Mamake optimis
banget dengan impian-impian Mamake. Kayak nggak pernah kecewa dan dikecewakan
kehidupan rasanya,” jelas Titin dengna wajah datar.
“Cinnn.. Kalau bukan kita yang
percaya dengan impian kita, lalu siapa lagi?” tanyaku kembali.
“Tin pengen bisa kayak Mamake,
tapi emmm… susah sekali rasanya. Bukan hanya tentang impian, bahkan tentang
kehidupan pun Tin sering pesimis.”
Aku heran. Kenapa Titin sampai
demikian? Tapi, pertanyaanku terjawab dari penjelasannya yang membuatku
terperanga sekitar setengah jam lalu aku ikut menangis bersamanya.
“Ya Allahhh!” kataku dengan nada
kesal. “Kalau Mamake di posisi Cin, belum tentu Mamake sekuat Cin loh! Cin itu
wanita kuat! Bahkan Cin udah berhasil menyimpan semua ini selama 2 tahun kita
kenal. Sama sekali Mamake nggak nyangka kalau Cin berada dalam keadaan kayak
gitu dan hebatnya Cin terlihat sangat TEGAR! Mamake yang harus belajar tentang
hidup dari Cin,” kataku, dengan mata berembun.