“El, lapeeer.”
“Udah gilak nya?! Masih subuh loh Rin. Sholat Subuh pun
belum kita.”
“Iya, tahu. Tapi aku laper bangeet.”
“Allahuakbar,” aku memulai takbir rakaat pertama. Rini
mengikuti.
Usai sholat dan mengaji, Rini langsung nyariin roti buat
ngisi perutnya. Huahhh…segitu kelaparannya dia ternyata pemirsaaa.
“Ntar biar aku masak ya. Tapi, nggak sekarang.”
“Yaahhh.. laperr Elll.”
“Masih pagi buta loh Rin. Aku mau ngetik duyuuu.”
Pukul 7.35wib, giliran Rini yang siap-siap mau ke kampus,
aku baru mau mulai masak. Rini yang nyuci piring sementara aku ngirisin apa
yang bisa diirisin. *Loh? Hehe.
“El, Labu Siam itu bergetah loh! Nggak dicuci dulu?”
“Nggak usah. Ntar sekalian aja dicuci semuanya. Habis waktuku
ntar. Hehe.”
“Selalapnya!”
Setelah Rini selesai mencuci piring, berkomentarlah dia
tentang hasil irisanku.
“El ni memang praktis betullah. Itu wortel nggak El kupasin
kulitnya?”
“Nggak, hehe. Biar praktis Rin. Hemat waktu dan hemat
tenaga. Udah ah, jangan protes. Nikmati saja hasilnya nanti.”
