Sabtu, 25 Oktober 2014

INFO: Runner Up LKTI Nasional UNY

Tiga Mahasiswi FKIP UR Raih Prestasi Tingkat Nasional
Elysa Rizka Armala, Nur Jamaliah, Harnila Pekanbaru berhasil peroleh peringkat 2 tingkat nasional dalam penulisan karya tulis ilmiah. Dengan judul “ Permainan Boom-Door La-La Dengan Gerakan Tari Rentak Bulian Sebagai Modifikasi Permainan Rakyat Melayu Riau “Lulu Cina Buta” Dalam Membentuk Karakter Kepemimpinan Siswa Sekolah Dasar”. Lomba yang diadakan oleh Hima PGSD UNY kampus Wates ini bertemakan “Kontribusi pemuda dalam menyongsong Indonesia emas 2045” yang diadakan pada tanggal 17 hingga 19 Oktober 2014. 

Setelah terpilih menjadi salah satu dari 16 finalis yang lolos seleksi, akhirnya tiga mahasiswi UR berhasil meraih peringkat 2 tingkat nasional mengungguli tuan rumah Universitas Negeri Jogyakarta, namun Universitas Brawijaya berhasil peroleh peringkat pertama pada perlombaan ini. Lomba yang diadakan se-Sumatera, Jawa, dan Sulawesi ini diikuti oleh 60 an peserta ungkap Elys.
“Bagi rekan-rekan dan adek-adek FKIP harus lebih semangat lagi mencetak prestasi, kibarkan almamater Biru Langit agar seisi dunia tahu bahwa kita ada” tutur Elys. Nur juga mengatakan “ Keyakinan, cinta, dan penyerahan diri pada Allah Ta’ala akan memberikan kejutan indah tak terduga. Dan semua itu akan diselesaikan oleh diri kita sendiri. FKIP ini kampus besar, memiliki sumber daya manusia yang besar pula, dan sebenarnya juga punya kualitas mahasiswa yang tinggi, tinggal bagaimana kita memacu diri untuk menciptakan jejak-jejak diluar logika”.

Ditulis oleh :
( Monica Eka Yulianda)

Minggu, 19 Oktober 2014

Inspirasi: Di Bawah Langit Yogya

*Part 1
“Perlombaan itu bisa diikuti oleh semua orang kan? Kecuali kalau mereka mengirimkan surat ke kampus dan meminta utusan dari FKIP, ini kan tidak? Kalian saja kan yang pandai-pandai ikut?”
“Pak, selama ini perlombaan nasional yang saya ikuti itu memang terbuka untuk umum. Siapapun berkesempatan untuk mencoba dan ini adalah inisitatif kami untuk mencari informasi itu”.
“Nah, inisiatif kalian inilah yang tidak bisa didanai. Kecuali kalau ini menjadi program tahunan dan ada pos anggarannya”.
“Okey, sudah faham kan? Tapi kalian tetap berangkat kan walaupun tidak dapat bantuan?”
Dengan senyum, aku menjawab “Tentu saja tidak pak. Kami tidak akan final, karena kami tidak punya dana”. Aku keluar dari ruangan itu dengan sebisa mungkin menyembunyikan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk.

Jumat, 17 Oktober 2014

Pemenang 2 LKTI Nasional

Nama Acara : PPI (Pena Pemuda Indonesia) bertema ‘Kontribusi Pemuda alam Mengaktualisasikan Pendidikan di Era Global Menuju Indonesia Emas 2045’
Penyelenggara : HIMA PGSD Universitas Negeri Yogyakarta (Kampus Wates)
Waktu : 17-19 Oktober 2014
Judul Karya : Permainan Bom-Dor La-La dengan Gerakan Tari Rentak Bulian sebagai Modifikasi Permainan Rakyat Melayu Riau “Lu Lu Cina Buta” dalam Membentuk Karakter Kepemimpinan Siswa Sekolah Dasar

Tentang Pencapaian :
Bisa dibilang, ini adalah perjalanan terakhirku di tahun 2014. Kesulitan pengajuan dana semakin hari semakin ekstrim saja. Aku, Lia dan dek Nila sudah memutuskan untuk nggak berangkat ke Yogyakarta. Keputusan kami sudah bulat karena berbagai cara udah kami tempuh dan hasilnya tetap nihil. Kami butuh sekitar 5 juta untuk perjalanan pulang-pergi sementara rektorat benar-benar nggak bisa membantu.
Tapi, pasrahku itu seketika berubah jadi gairah ketika Okta bilang, “Kak, coba bicarakan ini dengan Pak Iyal. Beliau pasti bisa bantu Kakak.” Ini adalah ikhtiar terakhirku. Kalau seandainya pak Iyal pun nggak bisa menolongku, aku akan ikhlas. Setidaknya, aku telah berusaha daripada menyerah begitu saja.
Ternyata benar, lewat pak Iyal, Allah memberikan pertolongannya. Kejutan buat Lia dan dek NIla bahwa pak Iyal memberikan bantuan secara pribadi dari kantongnya sendiri. Bahkan, yang mengharukan adalah ketika ku sadari bahwa angka yang tertera di amplop benar-benar persis dengan isinya. Itu benar-benar gajinya pak Iyaaalll pemirsaaa. Setelah ke luar dari ruangan pak Iyal, aku berdoa “Ya Allah, izinkan aku menghadiahkan piala kepada pak Iyal.”
Lia menemaniku dengan konsekuensi akan merogoh kantong sendiri kalau ternyata ongkos kurang. Sementara dek Nila ikhlas karena nggak bisa pergi. Aku nggak bayangin gimana jadinya kalau aku pergi sendirian dalam menikmati perjalanan yang jadi 2x lipat lebih lama karena kesalahan jurusan. Kami tiba di penginapan pukul 4 sore dan presentase pada pukul 18.30wib. Luar biasa bukan? Aku selalu mengulang-ulang doa ini, “Ya Allah yang Maha Sempurna, bantu kami menyempurnakan persiapan yang singkat ini.”
Hingga, keputusan Allah itu datang, kami dinobatkan sebagai juara 2 dan kembali mengulang detik-detik seperti ketika di Madiun kemarin. Lagi-lagi bersama Lia. iya, dia memang selalu ku bawa ke mana-mana. Mimpiku untuk menghadiahi pak Iyal piala kemenangan akhirnya terkabul. Bahkan, hadiah yang kami peroleh itu bisa kami gunakan untuk membeli oleh-oleh dan menduplikasi piala. Sebelum pulang, kami diajak ke Waduk Sermo dan berkeliling di Wates. Alhamdulillah dan aku berharap Yogya kembali mengundangku ke sana. Aamiin.
___Setiap perjalanan memiliki hikmahnya sendiri (Truly Elysa)

Rabu, 15 Oktober 2014

Pembicara ORASI (Obrolan Prestasi)

Nama Acara : ORASI (Obrolan Prestasi)
Penyelenggara : UR Cendikia Universitas Riau
Waktu : 15 Oktober 2014
Judul Karya : -

Tentang Pencapaian :
Ada bang Dimar dan bang Hendra yang menjadi pembicara dalam acara ORASI ini. Kami dimoderatori oleh 2 MC kondang FKIP yang luar biasa; Okta dan Vera. Dalam kesempatan ini, bang Hendra menjadi pembicara pertama menceritakan tentang pengalamannya dalam program Kapal Pemuda Nusantara hingga menjadi Best Participant dan dinobatkan sebagai Pemuda Berprestasi. Selanjutnya, bang Dimar menceritakan tentang pengalamannya keliling Indonesia karena kemapuan Debate bahasa inggrisnya. Lalu, aku dipanggil sebagai pembicara ketiga untuk menceritakan perjalananku dari nol hinga sampai ke Thailand di bulan Juni lalu. Titin, Yaumil, Alan, Azlan hadir untuk menyaksikanku dan yang membuatku terharu adalah ketika Alan dan Yaumil bertanya kepadaku tentang sesuatu yang sebenarnya udah pernah ku ceritakan kepada mereka. Disitulah letak spesialnya menurutku, karena mungkin mereka merasa  tak cukup jika hanya mereka yang mengetahuinya. Ada Rini dan Andin juga di sana.
Sebenarnya, ada rasa gelisah di hati yang belum kunjung reda sejak kemarin. Gelisah itu berasal dari kemungkinan besar kegagalanku untuk berangkat ke Yogyakarta mengikuti final LKTI nasional. Tapi, tadi pagi sudah ku putuskan untuk memberikan yang terbaik untuk acara ini dan sebisa mungkin ku lupakan sejenak kegelisahan tadi. Insya Allah, jika Yogya adalah takdirku, maka Allah akan menunjukiku jalan-Nya. Tapi, jika pun tidak, semoga berkat totalitasku untuk acara ini, Allah menghadiahiku hal lain yang lebih baik. Aamiin. 

___Tugas kita hanya berusaha dengan MAKSIMAL, sisanya biarlah Allah yang bekerja (Truly Elysa)