Sabtu, 04 Juli 2015

Takut Merindu

Kadang, untuk merindu pun aku takut
Yang dirindu belum tentu merindu
Begitu takut ditinggal pergi
Tapi meminta orang untuk tetap tinggal pun mustahil
Kadang, aku memilih pasrah bagaimana waktu memperlakukanku
Aku mengirimkan pesan tentang perasaanku itu kepada beberapa nomor yang akrab dengan hari-hariku. Ntah kenapa, ungkapan rindu yang baru ku terima justru hambar rasanya. Biasanya aku akan melonjak kegirangan, tapi kali ini rasa bahagia pun ragu-ragu muncul ke permukaan.

Juli dalam Raga Ragu, 2015

Ramadhan ke-17; "Cepat nyusul pulang ya, Mbak!" Pinta Nilam


Sahur kali ini bersama gulai Paku (orang sini nyebutnya paku, kalau aku sih pakis), sambal teri mami dan kerupuk. Dan tidak lupa untuk menambahkan kecap sedaap untuk melengkapi makanku. Yang perlu disyukuri adalah karena nasinya nggak terlalu banyak, jadi akunya nggak banyak-banyak nambahnya. Eheh. Rini aja sampai ngelihatin aku dan bilang,
“Ckckck, bulat kali loh El wajah El. Mirip kali kayak Babe Cabita. Tinggal dikeritingin aja rambunya.”
“Pokoknya, kalau mau kurus ya harus diri kita sendiri yang berusaha mewujudkannya. Kalau kata Deddy Corbuzer, ‘Tanamkanlah di dalam alam bawah sadar kita bahwa gendut itu nggak cantik, gendut itu nggak sehat’ pokoknya bayangkan aja yang nggak enaknya pasti kita mikir sendiri kalau mau makan banyak,” kata mami pula.
“Bububuyu?” tanyaku, nggak nyambung dan nggak ada jawabannya. Heehe.
“Si Okta semalam gimana El? Nangis?”
“Ya, waktu cerita sama aku sih nggak nangis, tapi katanya waktu baru dibuka kadonya, dia terharu kali. Dia mikir keras kok bisa aku kefikiran ngasih dia itu.”
Ya Allah, sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal ini di depan mami. Karena aku merasa nggak enak, Okta aja dibuatkan buku masa mami belum sih? Ya, meskipun mami nggak mungkin berfikir kayak gitu. *ya iyalah, mami kan nggak baperan orangnya. Tapi, sebagai anak, aku tetap aja merasa sedih. Insya Allah, buku untuk mami, papi, Nilam, Moza, Salsa udah ku rancang juga.  Dan insya Allah akan jauh lebih spesial dan berkesan.

Inspirasi: Ramahnya Mami

Setelah selesai mencuci piring, aku beranjak ke ruang keluarga, ternyata mami sedang menelvon mbah. Ini hal yang paling aku kagumi dari mami; hampir setiap hari ia menelvon mbah dan yang lebih menakjubkan lagi ia seolah tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Kadang, aku bertanya di dalam hati; “Mampukah aku seperti Mami ketika kelak aku sudah berumah tangga dan tinggak berjauhan dengannya?” Aku berharap; aku mampu. Karena sebenarnya kita nggak harus berlama-lama meluangkan waktu untuk bisa menyapa; hanya beberapa menit pun sudah sangat berharga lagi bernilai.