Selasa, 21 April 2015

Hargailah Orang yang Mengerjaimu (Colek Rini)

"Aku mau ke Prodi pagi-pagi besok, Cin. Doakan lancar ya dan langsung di acc. Aku pengennya jam 7.30wib udah nunggu di depan Prodi Cin. Jadi, begitu bapaknya datang langsung ku serang. Kalau udah jam 09.00wib itu malas lagi, resiko ketemu teman-teman tu besar. hehe."
Dan pagi ini, ketika aku membaca sms Lia yang berbunyi:
Cin, udah jadi mu nemuin bapakmu tadi?
Aku hanya tersenyum dan menekan tombol back. 

Lagi-lagi, aku kecanduan nulis. Udah 3 hari blogku nggak terupdate dan pagi ini aku pengen jor-joran menggenapinya. Nulis 1 cerita dalam 1 hari biasanya aku akan menghabiskan waktu setengah jam. Ini mending cuy, waktu pertama-tama belajar ngeblog dulu aku butuh waktu 3 jam. hahaa. Dan saat itu aku mikir: Sanggupkah aku konsisten nulis setiap hari dengan waktu 3 jam yang harus ku alokasikan per hari? hahha. Pagi ini, aku menyelesaikan 3 cerita dan 3 seni dalam waktu 2 jam. Tapi, ya itu penyakitnya, susah beranjak kalau udah keasyikan nulis. Ketika ku lihat jam di HP udah menunjukkan pukul 08.35wib, niat untuk ke Prodi udah ku blacklist. huft! *apalah yang akan dikatakan Mami atas kelakuan anaknya yang 1 ini ya?

Kakak Rindu Kepadamu, Bang

Saat melihat wajahnya, aku sadar bahwa ia semakin menua. Ntah apa sebabnya, padahal setahun yang lalu ketika baru mengenalnya, wajahnya jauh lebih muda daripada yang saat ini ku lihat. Kenapa? Mungkinkah karena ia sering mengulur bahkan menghujungkan waktu sholat? Atau karena kesibukannya ber-betu akik ria? Atau karena kebiasaannya bergadang dan tidur dipagi hari. Kadang, ketika mata hari hampir tepat berada di ubun-ubun, aku mendapatinya belum juga mandi.

Bagaimana caraku mengomentarinya? Menasehatinya? Atau bahkan sekedar mengingatkan tentang cerita istrinya berikut ini:
"Dulu pernah. Waktu pertama-tama kami menikah, El. Tapi, sekarang nggak pernah lagi. heemmmm," ia mendengus panjang. Pertanda harapan yang ntah masih diharapkan atau terpaksa ditiadakan.

Bang, Kakak sangat ingin Abang kembali seperti dulu. Sholat Maghrib berjamaah dan Abang menjadi imamnya. Usai maghrib, membimbing anak-anak dan Kakak mengaji bersama.  Kakak rindu hal itu Bang. Mungkin dia hanya kehilangan kata-kata untuk berkata kepada Abang.

Ah, seandainya saja kalimat itu bisa ku utarakan. Betapa indah dan mudah, bukan?
Semoga.

IDE: Aku Berfikir Berbeda

Baru membuka mata, aku sudah disajikan kembali dengan pembahasan semalam. Grrrr! Niat hati ingin melihat sudah jam berapa sekarang, malah sesak di dada kembali membuncah!. Dia telah merusak pagiku.

Aku punya pemikiran yang jauh berbeda dengan yang telah menjadi kelaziman selama ini. Mungkin, ini baru menjadi kegelisahan yang serius ketika aku telah bersinggungan langsung dengan keadaan tersebut. Idealisme-ku tetap bermain. Kenapa mesti membuat kebijakan semacam itu jika bisa berlaku normal? Kita berfikir untuk memancing dengan umpan besar supaya hasil yang diperoleh juga besar. Tidak sadarkah kita, bahwa mereka yang berwenang itu juga mencurigai kita? Mungkin, tidak akan jadi seperti ini jika kejujuran menjadi jalan tengah bagi kedua pengguna.

Dalam kondisi kerja kepanitian, sebaiknya kita bisa memisahkan hal-hal mengatas-namakan 'kebersamaan' dengan profesionalisme kerja. Harus ditransparansikan sejak awal, akan ke mana arah roda ini, bagaimana prosesnya hingga urusan-urusan terkecil sekali pun. Agar jangan sampai di ujung-ujung timbul salah-faham yang fatal jenisnya. Jika ternyata ada yang tidak sepakat dengan rencana, maka ia berhak mengajukan keberatannya. Dan, jika ternyata keberatannya itu adalah hal yang lebih 'menenangkan hati' apa salahnya untuk diikuti? Yang telah lumrah, belum tentu mutlak kebenarannya. Kita masih bisa memilih 'cara' yang berbeda, bukan? Mungkin, kita perlu melakukan kunjungan silaturahmi kepada kelembagaan lain yang berwarna 'putih'. Kita akan mendengar tentang mereka pula. Samakah dengan kita? Kalau berbeda, bagaimana mereka melakukannya? Siapa tahu kita bisa mengambil saran mulia dari mereka. Sebab, dulu pun aku terkagum dengan mereka karena kerjanya dipenuhi tangan-tangan ajaib: tanpa dana, acara tetap lancara adanya. Bisakah kita curi saja ide semacam itu untuk kita gunakan? Bukankah kita dan mereka tiada beda?

Dana, sebenarnya bukan hanya tentang penggunaan dan penyimpanan. Tetapi juga tentang kejujuran. Mungkin, kita berfikir telah menyelamatkan dana yang berhasil kita tarik dari 'penyimpan'nya. Namun, secara natural mungkin saja kita telah mendidik diri untuk menjadi makhluk-makhluk konsumtif dengan cara dan alasan yang lebih 'berdasi'. Aku masih ingat, salah satu bunyi ikrar dalam pelantikan sore itu:
"...tidak mengharapkan imbalan apapun atas pekerjaan ini, sekali pun ucapan terimakasih."
LUAR BIASA! Fikirku. Ternata, itulah nyawa yang melingkupi gerak mereka. Sebuah komitmen untuk mengedepankan bakti daripada pamrih. Seharusnya, kita pun bisa seperti itu. Jangan selalu mengkhawatirkan 'kita tidak mendapatkan apa-apa dari kerja ini, kecuali ini dan itu." Loh? Bukankah ini dan itu pun adalah pamrih?

Intinya, jika memang kita mendapatkan hak untuk sesuatu, maka ambillah itu. Tapi, jika tidak, maka tidak sepantasnya juga kita mengurangi hak-hak lain, untuk mencukupi apa yang kita anggap hak kita. Itu saja!