Kamis, 21 Mei 2015

Hujan Berwarna Ungu-Biru

Aku pernah berkeluh
bahwa aku tengah mengiris rindu
tahukah jika aku selalu menunggu
menunggu jabat dari tanganmu
bukan aku tak mau menjabat dahulu
aku hanya takut jika aku menjabat tanganmu
senyum takkan pernah terukir
tahukah kamu aku ibaratkan rindu ku adalah hujan
kemudian aku mulai berkhayal
kapan hujan ini berwarna
berwarna antara ungu dan biru
aku ingin kau menyayangiku bagai kau menyayangi biru
aku ingin menyayangimu
bagai aku menyayangi ungu
ingatkah
jika dahulu kita selalu beradu tawa
menyambung cerita tentang luka
tentang duka bahkan tawa
kini aku sakau rindu
bagaikan sakaunya seorang pemabuk pada anggur
kini aku aku rindu
aku ingin
rindu datang padaku kemudian memelukku
dan aku tak akan pernah mau peluk lepas dari tubuhku
aku ingin rindu mencumbuku
hingga aku tak lagi dapat bangun karena nikmatnya bercumbu dengan rinduku
atau bolehkah aku meminta cawan
kemudian aku akan meminta rindu padamu
kemudian rindu itu akan kusimpan dalam cawan itu
kemudian sesekali kuhidu cawan itu
meski cawan itu berbau idu
tahukah kau jika hatiku mulai beruas
beruas bagaikan tebu
makin keatas rindumu padaku makin tak berbau

Kado Juni dari Okta, 2015

Inspirasi: Untuk Ngetop, Sekarang Banyak Cara

"Rin! Lihat Tuh!" Rini melongokkan kepalanya menuruti arah mataku; ke TV di sudut kanan warung mie ayam ini. "Apa yang Rini fikirkan?"
"Alay!" komentar Rini terhadap acara ***dut **demy.
"Ada hal aneh loh di sana Rin. (Rini berfikir keras) Lihatlah! Masa MCnya sampai 4 orang."
"Iya ya. Ntah apa-apa puuunnn. Penyanyinya jadi kayak dikeroyokin."
"Lihatlah, mereka pun jadi terkesan rebutan kalau mau ngomong dan banyak bercansanya aja. Mubazir sih menurut aku. Itu si Uya Kuya ngapain di situ? Udah berubah profesi pula jadi MC? Ada-ada aja. Kadang aku juga mikir, tuh acara digelarnya pas waktu-waktu sholat, apa penonton yang serame itu ingat sholat ya? Jurinya apalagi yang geraknya nggak luwes. Termasuk juga seluruh kru ddan penyanyinya. hemmm..."

KPN hari ke-1: Pagi Milik 1 dan 2 Tahun yang Lalu


Pagi ini, adalah pagi pada setahun yang lalu. Serupa pula dengan setahun yang lalu sebelumnya. Menyambut pagi dengan debar-debar lama yang baru lagi. Matahari sudah sedemikian terik untuk ukuran sepagi ini. membangunkan mata yang masih menyipit. Rini belum turun juga dari kamar Andin ketika aku sudah meninggalkan kosan, lalu aku pergi tanpa pamit kepadanya
“Mamake, langsung ke kosan Wiwik aja ya, di dekat kosan Titin.”
Aku sedang dalam perjalanan ke sana. Melewati gang Damai sekaligus membuatku berdoa agar dipertemukan dengan motornya Teguh yang terparkir di pinggir jalan, berarti di sanalah kosan Yudi. Tapi, nyatanya tak kutemui.

“Ah, mungkin mereka sudah menunggu di depan gerbang UNRI, Arengka.”
Parahnya, aku berkesimpulan bahwa mereka sudah pergi dan meninggalkan kami ketika tidak kami dapati tunggu mereka di tepi Arengka yang telah dijanji. Eh, ternyata sampai di tempat, mereka belum tiba di sini.
“Squat Jump 10 kali!”
Aku menurut demi pembolehan memasuki ruangan. Masih persis dengan tahun lalu, seleksi diawali dengan pembukaan oleh kepala Dipora Provinsi Riau, pak Edi Yusti. Dilanjutkan dengan tes tertulis tentang wawasan umum, kebaharian dan kemelayuan. Ah, bahkan soalnya menurutku sama. Sama sekali tidak ada beda.