Sabtu, 08 Agustus 2015

Tangsoae Pornthip (My Thailand's Friend)

From me... Alice is so friendly, so cute and i glad to meet you and we become friend ^_^ Love you too naa..

Welcoming You :
Love for your argument about me, Tangsoe. Korb Khun Kaa Naa ^_^. I still remember how do you laugh when i call Note as Jirawat. So Funny. I love it and now i miss it. I remember when you spent the night in Cu i House for my last night in Bangkok. Almost about you are still fresh in my memory. May the God keep you and guide you to His True Way. ^_^

For you guys, just find Tangsos out in here: https://www.facebook.com/qiu.soae

Inspirasi: 2 Tipe Penulis

Aku terkesima dengan artikel di FB yang baru aja Santi bagikan. Ini intisarinya :

Kehidupan Andrea Hirata, Tere Liye, Dee, Ahmad Fuadi, Kang Abik, Ilana Tan, dan penulis-penulis lain, boleh jadi manis sekali. Membuat sebagian besar orang iri. Gigit jari. Kerjanya mereka, hanya duduk di depan laptop, ongkang-ongkang kaki, menari-narikan jemari di atas tuts-tuts keyboard pribadi. Menyulam kata menjadi kalimat, lalu menjahitnya menjadi paragrap. Terus-menerus begitu hingga beberapa hari. Di dunia ini hanya ada dua tipe penulis.Pertama adalah penulis stagnan. Penulis tipe ini adalah penulis amatiran yang cepat sekali puas. Baru menerbitkan satu buku saja sudah senang bukan kepalang. Lupa dunia. Bahkan saking girangnya hingga ia lupa menulis lagi. “Nanti dulu lah, istirahat sebentar menulisnya.” begitu hatinya berkata. Beranggapan bahwa setelah menerbitkan satu buku, itu juga kurang laku, maka ia sudah menang dan selalu akan dikenang.

Tipe penulis yang kedua adalah penulis potensial. Tentu saja dia adalah kebalikan dari penulis stagnan tadi. Penulis ini terus menerus berbenah dan belajar. Setiap hari, ia selalu menulis. Setiap hari pula ia selalu membaca. Baginya, tiada hari tanpa keduanya, membaca dan menulis. Kalaupun saat ini belum ada tulisannya yang dibukukan, ia selalu percaya bahwa nanti, jika masanya tiba, pasti tulisannya akan dikenang, dicari, dan bernilai tinggi.

Antara Bangladesh dan Skripsi

Assalamualaikum Mii.. El ada kabar bahagia nih. Alhamdulillah El lulus program pertukaran ke Bangladesh. Baru aja pengumumannya dilihat di email.

Biayanya gimana?

Itulah Mi yang belum terfikirkan. Yang jelas, biaya registrasinya Rp 2000.000. Tapi, El bakal cari cara.

Pesanku tidak dibalas lagi oleh mami setelah ku tunggu beberapa menit. Perasaanku tiba-tiba nggak enak. Menurutku, mami tidak terlalu gembira dengan kabar tadi. Tapi, ntahlah memang begitu atau hanya firasatku.
“Apa lagi langkah selanjutnya ini Kak?”
“Klik ini Dek, Registration as Participant.”
“Langsung Novi isi ya nih Kak formulirnya.”
Aku memandu Novi tahap per tahap pendaftaran pertukaran sepertiku. Novi sangat antusias untuk ke luar negeri sejak tahun lalu. Makanya, mumpung aku tahu jalannya maka aku menunjukinya. Kebetulan, program yang satu ini memiliki keunikan, kalau pendaftar memang layak, mereka akan langsung menerima tanpa menunggu quota.
“Udah selesai. Ye ye yeee.”
“Alhamdulillah. Semoga lolos juga ya Dek, ntar kita bisa terbang bareng ke Bangladesh. Aamiin.”
“Kakak nunggu berapa hari kemarin sampai pengumumannya ada di email?”
“Kira-kira 5 hari lah Dek.”

Seharusnya ini, Seharusnya itu

Kalau udah kehilangan, barulah aku berkata; ‘Seharusnya ini, seharusnya itu’ untuk melampiaskan rasa bersalah. Udah sejak hari senin kemarin padahal aku tanya ke Atika kapan ada jadwal ujian. Atika mengatakan tanggal 10 bahkan dia mendesakku untuk segera mendaftar ujian. Tapi……., ya bukan Elysa namanya kalau tidak menunda pekerjaan. Bak kata si kawan lama, ‘Elysa ni suka kali ngerjakan yang sunnah dulu. Utamakanlah yang wajib duluan, El’ sampai sekarang aku masih ingat kata-katanya itu. Kalau sampai saat ini dia masih ada, dia pasti akan bilang, ‘Elysa nggak pernah berubah ya ternyata dari dulu.’
Aku menamai sifatku ini Terlalu Optimis, tapi nggak logis. Kadang, di beberapa kesempatan, aku memang sering beruntung dan mendapatkan miracle. Dan, nggak jarang juga aku bernasib sial karena kehilangan kesempatan. Kemarin, aku terlalu yakin bisa menyelesaikan proposal itu dalam sekejap mata dan baru hari Jumat kemarin aku tersadar bahwa hari ini adalah hari Sabtu; kesempatan terakhirku untuk mendaftar ujian proposal. Nyatanya apa? Keoptimisanku itu lesap seketika. Yang tersisa tinggallah penyesalan diam-diam dan berusaha pura-pura tidak menyesal. Inilah aku yang ku akui.
“Elis harus merubah kebiasaan Elis menunda. Karena belum tentu nantinya Elis selalu beruntung. Kalau nggak beruntung gimana? Mau diperbaiki, Elis udah nggak punya waktu lagi. Kalau cepat selesai kan cepat disempurnakan lagi.”
Yap, intinya adalah cepat menyelesaikan supaya sempat memperbaiki.