Jumat, 02 Oktober 2015

INFO: 3 tingkatan Gulai Minang


Di deretan terdepan ibu-ibu penyambut tamu, ada buk In yang sudah siaga menyambut kedatangan kami. Hilanglah segan, terbitlah kepedean. Hihiii.
“Rendangnya di sebelah sini Liss,” kata ibuk, menunjuk meja hidang di sebelah kiriku.
“Okeh Bukk. Lah, tapi ini memangnya bukan rendang Bu?”
“Itu Kalio.”
“Ohhhhh…”
Aku ingat, kemarin waktu bantu mami belajar bikin rendang lewat internet, terbaca olehku bahwa ada tingkatan makanan bersantai versi minang; Gulai, Kalio dan Rendang. Rendang adalah hasil terkering dari santan sedangkan kalio adalah pertengahan dan gulai adalah yang terbanyak genangan santannya.

Ini Batikku, Mana Batikmu?



“Kita kok persis kayak anak-anak gini sih Rin?” tanyaku kepada Rini yang sama-sama sedang asyik dengan HP dalam posisi tengkurap, bersebelahan.
Rini melihat ke arahku kemudian kembali kepada dirinya sendiri. “Eh, iya iyaaa. Hahaaa.. ginilah El kalau punya HP, jadi autis kita dengan dunia kita sendiri.”
“Tuuu, HPnya salah Rin?”
“Enggg…enggak!”
Pagi ini ku putuskan sebagai hari bebas sarapan dan makan malam. Setelah pukul 08.00wib, Rini jalan kaki sendirian ke warung dekat kosan untuk sarapan. Nyaris aku tergoda untuk ikut pergi bersamanya. Tapi, ketika teringat dengan target, kembali ku teguhkan diri.
“Nggak ah Rin. Aku nggak mau. Yap, aku harus kuat!”
“Ya udah, awas ya kalau tiba-tiba nyusul aku nanti!”
“Insya allah nggak Rin,” jawabku sok yakin, sok tenang.
Anak-anak… hari ini kita ke mana? Selamat Hari Batik yaaa. Ada saran nggak kita bagusnya ngapain dan ke mana? Ke tempat belajar membatik gitu boleh juga. Ada yang tahu di mana?, Tanyaku ke grup chat MAWAPRES 2015.

Aku adalah Sedikit


Aku banyak maunya
Banyak tapinya
Banyak nantinya
Banyak bagaimanya
Banyak tunggunya
Banyak nuntutnya
Dan, hasilnya aku adalah sedikit

dalam Rinai Oktober 2015