Aku dapat teguran dari Lia tadi sore.
“Androidmu ke mana sih Cin?”
“Tidur di rumah.”
“Aktifkanlah. Gimanalah mu Cin? Terus, androidmu apa
gunanya? Padahal dulu mu yang bilang, ‘Cin, pertukaran informasi zaman sekarang
itu semakin cepat. Naa..naa..naa…’ Sekarang malah mu yang aktif. Atau udah
keenakan ngeblog ya? Huahhh..”
“Iya nih, kok aku jadi ngerasa nggak terlalu butuh android
ya?”
Sebenarnya, aku pengen
beli android baru Cin, yang lebih tahan batrainya. Rencanya sih Vivo. Tapi
aku hanya mengucapkan kalimat itu di dalam hati. Lia nggak perlu tahu sekarang,
karena aku takutnya malah nggak jadi beli. Heheh.
Mungkin, Lia merasakan efek domino semenjak beberapa bulan
ini aku ogah-ogahan ngaktifkan android. Dia jadi susah ngubungin aku dan
terpaksa harus bolak-balik beli pulsa kalau aku keperluan sama aku. Rini jadi
sering kami jadikan perantara komunikasi karena Andronya selalu standby.
Hihiikkss.
Dan, malamnya, giliran Rini yang ngomelin aku karena
kegendutanku. Ceritanya, kami baru selesai ngaji dan Rini tiba-tiba bilang
gini,
“El, lihatlah badan El tuu haaa! Tinggal kepala El ajalah
loh yang kecil. Iisss…tengoklah tuuu genduut kali lah badan El!”
“Hukkk huukkk. Rin kok ngomongnya gituu?”
“Iya loh. Udah nggak proposional lagi loh Ellll! Ya
ampuunn,” gertak Rini tapi dengan nada pelan. Dari nada bicaranya kelihatan
banget kalau di geram banget dengan kegendutanku. “Ihhhh..benci kalilah aku
lihat El niii!”
“Lohh??? Loh?”