Aku terbangun karena eongan kucing. Tumben banget sepagi ini
dia udah bangun dan mengeong-ngeong. Aku curiga dia mau eek. Akhirnya, segera
ku buka jendela dan mengeluarkannya. Kembali ku dapati kamar ini benar-benar
kayak kapal pecah. Sambil mengucek mata, ku lipat selimut tebal yang menjadi
alasku tidur semalam. Aku memang sengaja tidak tidur di atas kasur karena kasur
pun berantakan oleh barang-barang pecah belah (?). hehee.
“Alhamdulillahilladzi akhyanaa ba’damaa ‘amatanaa
wailayhinnushuur..”
Setelah sholat Subuh, aku berdoa memohon ketetapan hati
kepada Allah; sebaiknya aku pergi ke Kampar bersama Lia atau tidak.
Cin… jam 07.30wib
kita berangkat ya dari Panaam… See u.
Pesan singkat dari Lia barusan semakin menambah gelisahku.
Memang, semalam secara tersirat mami sudah mengizinkanku. Pertimbangannya
sekarang tergantung padaku. Karena, biasanya sekalipun sudah direstui, aku
tetap wajib mempertimbangkan segala sesuatunya kembali. *ciyeee..yang udah
dewasaaa.