...Mendadak aku teringat dengan
Yudi.
Yud… buku Tentang
Januari kita gimana?
Bukunya masih ada ini sekitar 10. Dah banyak yang ngambil,
tapi belum bayar. Hikss.
Oh… aku tahu garis
lurusnya nih!
Apa tu?
Gini. 1. Seseorang
yang tadinya nggak punya mimpi menjadi seorang penulis tapi setelah membaca
buku yang bagussss banget atau ngelihat penulis yang sukses bangeeettt,
akhirnya dia pun bermimpi menjadi penulis.
2. Mulailah dia
belajar bagaimana caranya menulis
3. Setelah merasa
mampu, ia mulai berfikir untuk memiliki buku sendiri. Maka, ia pun mulai
mencari ide dan berusaha menulis naskah buku.
4. Setelah selesai,
dia pun mempertimbangkan penerbit mana yang akan ia pilih. Ingin yang minor
atau mayor? Sempat bingung, antara menerbitkan yang berbayar atau yang gratis
tapi persaingan sangat ketat dan harus siap ditolak.
5. Setelah buku
terbit, ia kebingungan lagi; ‘Bagaimana caranya agar bukunya laku di pasaran? Siapa
yang akan membeli bukunya?’ Lalau, sadarlah ia bahwa menjual buku tidak semudah
menjual kacang goreng. Belum lagi menghadapi teman-teman yang berhutang atau
malah minta gratisan.
6. Setelah bukunya
habis terjual, ia kembali lagi ke sikluk satu; ‘Aku mau nulis apa lagi ya yang
kira-kira laku di pasaran?’
Kenapa bisa seperti
ini? Bukankah MENULIS itu seharusnya MEMBEBASKAN? Bukankah menulis itu adalah
pekerjaan hati, cinta dan fikiran yang seharusnya penulisnya bisa hidup dengan
sejahtera?Tak banyak yang seberuntung Asma Nadia, Habiburrahman, Tere Liye di
sini. Lalu, apa bedanya kita dengan buruh? Bedanya hanya terletak pada; kita
sebagai pekerja dan kita sebagai bosnya. Hhehe. Udah, analisisnya baru samapi
di situ aja, belum nemu kelanjutannya. Ehee.
Iya yaa, bener tuh! Jadi gimana ya solusinya?
Barangkali, karena alasan; Aku ingin MENULIS dengan BEBAS, inilah makanya sampai detik ini aku masih belum ingin punya buku lagi. Aku lebih nyaman nulis di Blog, Instagram atau Facebook. Aku lebih bahagia ketika siapapun bisa membaca tulisanku secara gratis dan terinspirasi setelahnya. Sedangkan kalau aku cetak tulisanku menjadi buku, hanya mereka yang membelilah yang bisa menikmatinya. Aku belum ingin ke sana!