Kamis, 10 Desember 2015

Aku Dendam dengan Pengabaian



Setelah sholat Zuhur, aku segera bersiap-siap untuk ke Krema Kafe di jalan Rajawali Sukajadi, ada janji temu dengan tim HIGH IMPACT Public Speaking hari ini. Di perjalanan menuju Krema, aku baru tersadar bahwa pagi ini aku nggak produktif. Bahkan, diary tentang hari kemarin pun belum selesai. Hiksss.
Kalau sudah tiada, baru terasaaa..
Lagu dangdut itu bener banget ya maknanya. Bukan hanya tentang perpisahan, tapi juga tentang kesia-siaan. Selagi ada, kita memang sering abai. Aku terus melaju dengan kecepatan sedang. Tapi…tiba-tiba.. BRUUUKKKKKKKkk!
2 motor di depanku sam-sama jatuh ntah bagaimana ceritanya. Mungkin, aku terlalu fokus untuk berhati-hati mengitari tugu Songket ini dan kejadiannya pun sangat cepat terjadinya. Aku hanya melintas perlahan lalu kembali melaju. Maaf yaaa Allah, hamba benar-benar buru-buruu. Ada beberapa orang yang sigap menolong mereka. Aku menduga salah satu dari pengendara motor itu ada yang berbelok mendadak sementara yang satunya lagi ngebut. Tiba-tiba aku teringat dengan keluargaku nun jauh di sana…

Inspirasi; Beginikah Siklus si Penulis?

...Mendadak aku teringat dengan Yudi.
Yud… buku Tentang Januari kita gimana?

Bukunya masih ada ini sekitar 10. Dah banyak yang ngambil,
tapi belum bayar. Hikss.

Oh… aku tahu garis lurusnya nih!
Apa tu?

Gini. 1. Seseorang yang tadinya nggak punya mimpi menjadi seorang penulis tapi setelah membaca buku yang bagussss banget atau ngelihat penulis yang sukses bangeeettt, akhirnya dia pun bermimpi menjadi penulis.
2. Mulailah dia belajar bagaimana caranya menulis
3. Setelah merasa mampu, ia mulai berfikir untuk memiliki buku sendiri. Maka, ia pun mulai mencari ide dan berusaha menulis naskah buku.
4. Setelah selesai, dia pun mempertimbangkan penerbit mana yang akan ia pilih. Ingin yang minor atau mayor? Sempat bingung, antara menerbitkan yang berbayar atau yang gratis tapi persaingan sangat ketat dan harus siap ditolak.
5. Setelah buku terbit, ia kebingungan lagi; ‘Bagaimana caranya agar bukunya laku di pasaran? Siapa yang akan membeli bukunya?’ Lalau, sadarlah ia bahwa menjual buku tidak semudah menjual kacang goreng. Belum lagi menghadapi teman-teman yang berhutang atau malah minta gratisan.
6. Setelah bukunya habis terjual, ia kembali lagi ke sikluk satu; ‘Aku mau nulis apa lagi ya yang kira-kira laku di pasaran?’
Kenapa bisa seperti ini? Bukankah MENULIS itu seharusnya MEMBEBASKAN? Bukankah menulis itu adalah pekerjaan hati, cinta dan fikiran yang seharusnya penulisnya bisa hidup dengan sejahtera?Tak banyak yang seberuntung Asma Nadia, Habiburrahman, Tere Liye di sini. Lalu, apa bedanya kita dengan buruh? Bedanya hanya terletak pada; kita sebagai pekerja dan kita sebagai bosnya. Hhehe. Udah, analisisnya baru samapi di situ aja, belum nemu kelanjutannya. Ehee.

Iya yaa, bener tuh! Jadi gimana ya solusinya?

Barangkali, karena alasan; Aku ingin MENULIS dengan BEBAS, inilah makanya sampai detik ini aku masih belum ingin punya buku lagi. Aku lebih nyaman nulis di Blog, Instagram atau Facebook. Aku lebih bahagia ketika siapapun bisa membaca tulisanku secara gratis dan terinspirasi setelahnya. Sedangkan kalau aku cetak tulisanku menjadi buku, hanya mereka yang membelilah yang bisa menikmatinya. Aku belum ingin ke sana!

tentang 1 hari Lagi

1 hari  berlalu lagi sebagai TADI
1 tarikan nafas yang sedang dihirup masih sebagai KINI
1 mimpi yang masih entah adalah sebagai NANTI

Kita terus bergerak
Berganti
Lalu Berhenti

Desember dan hentian, 2015