“Daaa… El pergi yaaa.. Assaalmualaikummm…”
Ku lambaikan tanganku pada papi dan Nilam lalu ku tutup
pintu kamarku. Tapi, ketika sudah sampai di teras, mendadak aku ingin kembali
lagi ke kamar. Hanya untuk berkata yang kedua kalinyaa…
“Daaa…Pi, Laammm.. Assalamualaikum.. muuuachhhhhh!”
Usai mereka meresponku, barulah ku tutup pintu dan dengan
basmalah aku bergerak meninggalkan kosan.
Kalau bisa memilih, aku ingin mengiringi kepulangan papi dan Nilam, tapi
tidak mungkin, karena aku sudah punya janji dengan sang Sabtu sejak jauh-jauh
hari.
“Ya
Allah… jaga papi dan Nilam, hamba titipkan mereka kepadaMu. Sesungguhnya
Engkaulah Dzat yang selamanya tidak pernah menyia-nyiakan titipan. Selamatkan
mereka, lancarkan perjalanan mereka, mudahkan urusan mereka, jauhkan mereka
dari segala marabahaya. Aamiin..”
Aku sudah tiba di ujung jalan Lobak dan mulai memasuki
kawasan Soekarno Hatta. Sebentar lagi, Arfin Ahmah akan menjelang.
Jangan
lupa ya Lisss. Resto bintang 5 tu letaknya tepat di seberang BRI. BRI tu
sebelah kiri kantornya kalau Elis masuknya dari jalan Lobak.
Kembali
terngiang olehku arahan bang Wira tadi pagi-pagi sekali. Kali ini aku nggak
boleh salah alamat lagi! Sekarang, Aku sudah berada di jalan Arifin Ahmad dan
ku perhatikan deretan ruko di sebelah kiriku. Ahaaaa! Itu diaaa! Resto Bintang
5 yang sebelumnya hilang dari pandangan, akhirnya ketemu juga sekarang!
“Bang
Wiraaaaa!” sapaku padanya yang sedang memakai sepatu pentofel di mobilnya.
“Langsung
ke atas ya Lis, udah ada Yoga juga di atas.”
Aku segera
ke lantai 2. Sempat ragu juga ketika melihat orang-orang ramai di sepanjang
ruang makan dan koridor ini. Benarkan ini tempatnya?
“Elisssss?”
sapa mbak Wien dari meja registrasi.
Aku segera
menujunya. Menyalaminya dan menyalami Anna di sebelahnya. Lalu, aku langsung
masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Yoga. Seperti biasanya, kami berdua
selalu memunculkan kemistri sebelum mulai ngeMC. Beberapa hal yang sebenarnya
itu-itu saja, sengaja kami ulang untuk lebih memantapkan diri.
“Tadi pagi Yoga
dan Bang Wira gotong royong dulu loh Kak. Ruangan ini kami rombak total,
awalnya kacau kursinya.”
“Oh iyaaa
yaaa. Maaf ya Kakak telat datangnya Dekkk.”
Bang Wira
memasuki ruangan dan bertanya kepada kami berdua; “5 menit cukup untuk
bersiap-siap?”
“Cukup
Bang!” jawab kami.
Pukul
08.40wib, seluruh peserta di persilahkan memasuki ruangan dan acarapun dimula.
Aku dan Yoga menjelaskan 3 manfaat utama yang akan diperoleh setelah mengikuti
training ini hingga selesai, kemudian menjelaskan bahwa acara ini tidak hanya
diperuntukkan bagi mereka yang ingin menjadi trainer atau motivator saja,
tetapi untuk semua orang yang ‘butuh’ bicara. Aku dan Yoga selalu meminta
peserta untuk menjawab ‘Amazing!’ ketika kami menanyakan ‘Apa kabar?’ kepada
mereka. Sengaja, jargon ‘Amazing’ selalu kami munculkan supaya amazingnya acara
ini tertinggal di hati.
“…ini
adalah games ‘siapa cepat, dia dapat’, maka jika ada yang sudah berhasil
mendapatkan 5 data teman-temannya, silahkan maju ke depan secepat mungkin! Bisa
difahami?”
“Bisaaa!”
jawab peserta yang jumlahnya belum genap 30 orang itu.
Setelah 2
menit berlalu, salah satu peserta mengangkat tangan dan kami persilahkan untuk
segera maju ke depan. Namanya Maulana. Hal yang lucu dari hasil ‘perburuan’nya
ini adalah ketika kami menge-check 5 nama teman yang ia tersebut. Dan, ternyata
hanya 1 orang saja yang berhasil ia ingat orangnya.
“Gimana,
Bang Wira? Sah kah dia sebagai The Networker?” tanyaku.
“Silahkan
tanya ke audience saja, lihat bagaimana pendapat mereka,” kata bang Wira, sambil
tertawa kecil.
Ternyata,
teman-teman di ruangan ini adalah orang yang sangat tolerir; sebagian besar
setuju bahwa Maulana sah menjadi the Networker. Setelah Maulana sah digelari
The Networker, ia kembali ke tempat duduk dan tiba saatnya kami sesi I; Berani
Tampil, pun dimulai…
“Dengan
tepuk tangan yang meriah…. Kita sambuuuttt…. Wiraaa Ramliiii,” kataku dan Yoga.
Selanjutnya,
kesempatan bicara adalah miliknya. Aku dan Yoga kembali ke belakang. Baru
beberapa menit kami duduk, Yoga memohon diri untuk mengisi acara Leadership
Training di sekolah. Karena khawatir bakal mengantuk karena duduk sendirian di
belakang, ku putuskan untuk menemui mbak Win yang baru selesai sholat Dhuha.
Aku curhat kepadanya tentang seseorang yang sedang diam-diam ku perhatikan. Tapi,
belum tuntas kami bercerita… aku beralih kepada kak Vivien yang baru tiba. Aku
menyalaminya, memeluknya dan mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan. Hari
ini, ada kak Tami (koordinatorku di Duta Lingkungan Hidup Pekanbaru), ada bang
Yopi (Aktivis KNPI yang udah bolak-balik diliput TV), kak Vivien (seorang putri
dengan segudang prestasi tpai rendah hati). Mereka adalah inspirasiku dan hari
ini mereka ada di sini, untuk belajar.
***
Coffe Break session…
Peserta BAT
10 sedang menikmati teh atau kopi hangatnya dan sepotong roti tawar. Mereka
duduk menyebar di seluruh room dining yang sangat nyaman ini. Ada yang memilih
duduk di tengah, ada yang di sudut ruangan dan ada juga yang berada di bangku
teras supaya leluasa melepas pandagan ke jalanan Arifin Ahmad. Di sinilah aku
dan kak Vivien berada. Kami mendadak berubah menjadi 2 orang yang mirip ibu-ibu
arisan karena sudah cukup lama tidak bertatap muka. Kira-kira sudah setahun
juga aku tidak bersua dengannya. Hanya melihatnya dari sosial media saja. Tapi hari
ini, ia seperti sahabat karib.
“…Ih kok
jadi nyaman gini ya rasanya curhat ke Elisss? Ahhaha..” kata kak Vivien.
“Nggak
apa-apa Kak, terusin aja! Mumpung masih ada waktuuu.”
“Huhuuuuu…
urang nih waktunya Dekkkk sebenarnyaaa! Bentar lagi Bang Wira pasti manggil.”
Ternyata
benar. Baru 5 menit obrolan berlanjut, bang Wira sudah memberi kode. Karena
merasa masih bisa memanfaatkan kesempatan, kak Vivien masih melanjutkan
ceritanya menjelang kami tiba di ruangan. Sesaat lagi, sesi II; Bicara
Sistematis, akan dimulai.
“Kaaakkk….
Ada lihat HP Adek nggak?” seorang peserta menghampiriku dengan wajah pucat
pasi.
“HPnya
merknya apa Dek?” tanyaku.
“OPPO Kak.”
“Tadi
bukannya Adek pakai untuk foto-foto ya dengan teman-teman Adek?”
“Iya Kak.
Nah, setelah itu Adek nggak sadar lagi ntah di mana HP tuu.”
Aku
menenangkannya dan memintanya untuk tetap mengikuti acara sementara aku
berusaha mencari ke seluruh penjuru dining room dan bertanya ke CS. Tapi,
sejauh ini belum juga ku peroleh hasil.
“Loh? Mbak
belum jadi pergi toh?” tanyaku pada mbak Wien.
“Belum
Deeekk.. Tadi kaki Mbak pegel banget, nggak kuat turun ke bawah. Dek Elis udah
ngambil coffe break?”
“Udah
Mbaak,” aku duduk di samping Mbak Wien, di sofa di sudut ruangan.
Bukan hanya
ngobrol-ngobrol biasa, aku malah jadi curhat padanya tentang tragedi
penolakanku terhadap seseorang. Mbak Wien sudah ku anggap seperti kakakku
sendiri. Sejak pertama kali kami bertmu, aku sudah merasa sangat nyaman
padanya. Bukan hanya lembut, ia pun keibuan.
“Maafin
Mbak Winn ya Dek kalau Mbak Win salah bicaraaa. Dari cerita Elis tadi, Mbak Win
menyimpulkan kalau cowok itu cuma seperti sedang ‘uji-coba’ aja. Kelihatan dari
sikapnya yang dingin dan nggak mencoba mengklarifikasi lagi ke Elis. Dia nggak
menunjukkan seorang cowok yang sangat mengharapkan untuk bisa bersama Elis.”
“Oh gitu ya
Mbak? Bukannya itu menunjukkan dia itu nggak dewasa ya?”
“Nggak Dek.
7 tahun itu bukan waktu yang sebentar loh. Dia juga udah berkarir dan udah
merancang masa depan. Tandanya dia sudah dewasa, tapi ya itu tadi… Mbak Win
nggak melihat dia sedang sungguh-sungguh memperjuangkan Elis.”
“Bener juga
ya Mbaaak. Makasih ya Mbak udah dengerin Elis.”
“Lillah ya
Dek. Yakinlah, Elis pasti akan mendapatkan yang terbaik dan cocok buat Elis
nantinya.”
“Iyaa Mbak.
Lillah,” aku terdiam sejenak. “Eh iya Mbak, Elis menyimpulkan bahwa ternyata
yang terpenting itu bukan siapa yang
paling lama kamu mencintai, tapi siapa yang paling cepat menghalalkan. Ya
kan Mbakkk? Sihiyyyyy..”
“Bener
Dekk. Beneerr banget.”
Setelah itu
kami berpisah; aku kembali ke dalam ruangan sementara mbak Wien menemui
kliennya. Ternyata, ruangan training ini terasa panas karena listrik sedang
padam. Bang Wira mengodeku untuk menanyakan kepada CS. Aku ke luar ruangan dan
segera mengkonfirmasi kepada staff resto ini. Tak lama kemudian, listrik
kembali menyala.
***
“Elissssss…cerita
yaaang tadi belum kelaaarrr.” Pekik kak Vivien ketika waktu ISHOMA tiba.
Kami
langsung menuju meja makan bundar di sisi kanan tangga. Tapi, edisi curhat ini
terpaksa harus ditunda dulu karena bang wira dan beberapa peserta lainnya ikut
nimbrung makan bersama kami. Karena ada kak Vivien dan bang Wira, teman-teman
yang lain jadi tertarik ngobrolin tentang public speaking dan perkuliahan.
“Kak, enak
yaaa Ayam Madunya niii. Ada kismisnya, ada kacang almonnya juga,” bisikku pada
kak Vivien.
“Iyaa Dek,
enak banget.”
“Kalau
Kakak nggak habis, bilang ke Elis yaa. Heheee.”
Kak Vivien
tergelak mendengar kalimatku barusan. Lalu ia kembali melanjutkan ceritanya
tentang asal mula tertundanya skripsinya.
“Gini ya
efeknya kalau semeja sama mahasiswa tingkat akhir, hhehee,” celetuk bang Wira.
Kini,
giliran bang Wira pula bercerita tentang tunggang-langgangnya ia menyelesaikan
SKRIPSI dan rela meninggalkan bisnisnya beberapa waktu.
“Ijazah
Abang sampai sekarang masih di UNPAD tuh! Ke Pekanbaru tanpa ijazah, supaya
Abang ber-pantang untuk melamar kerja. Akhirnya, mau nggak mau kan Abang mikir
gimana caranya bisa menghasilkan uang sendiri.”
Aku dan
yang lainnya terus menyimak obrolan bang Wira sampai makan siangku selesai. Aku
memang agak cepat makannya nih! Efek kelaparan atau doyan ya? hahaa.
“Elis ni
luar biasa loh Bang. Vivien pengen berguru gimana caranya nulis yang baik sama
dia. Blognya udah ada 7 loh Bang! Bayangkan cobaaaa! Punya Vivien cuma 1 aja terbengkalai
gitu sampai udah bersarang laba-laba, hahaa.”
“Iya Liss?
7 blog Elis?” tanya bang Wira, memastikan.
Aku hanya
mengangguk, sambil tersipu malu. Mendadak jadi pengen minta blogku dipromoin
sama bang Wira. Emmmm… tapi, kayaknya belum sekarang deh! Masih belum layak
dishare oleh orang sekaliber bang Wira. Hehhe.
“Sama Vin,
punya Abang pun nggak keurus blognya. Lebih rame postingan di Facebook malah.
Hahaa,” lanjut bang Wira.
Sudah pukul
13.35wib. Makan siang sudah selesai dan Bang Wira memberi kode kepada peserta
untuk segera masuk ke dalam ruangan.Sesi ke 3; Berbicara yang Menghipnotis,
dimulai…
***
Usai sholat
Ashar, peserta kembali diberikan coffe break dan snack. Masih ada waktu sekitar
5 menit sebelum Show Time dimulai. Kak Vivien sudah diberi kode oleh bang Wira
untuk memotivasi peserta lainnya selama 5 menit.
“Kak, Kakak
ikut BATnya kapan?” tanya salah satu peserta.
“Emmm…Desember
2014 Dek. Huahhhh…udah lama juga ya ternyata!” ja wabku.
“Ohhh…berarti
dalam setahun, BAT ada 5 kali yaa?” sahut yang lain.
“Iyaaa.
Bener banget. Eh, ntar di BAT 11 ikutan Kakak jadi fasilitator yuk? Biar
ilmunya nambah!” ajakku.
“Ah, kami
ilmunya belum seberapa Kak. Segan Kak. Belum bisa kayak Kakak, hehehe.”
Mendengar
jawabannya membuatku termenung sejenak. Fikiranku mendadak bertamu lagi ke
bulan Desember 2014 lalu. Ketika aku baru selesai mengikuti BAT 4 dan aku
langsung berkata kepada bang Wira; “Bang, ntar kalau ada BAT atau acara apapun,
plisss bawa Elis ya Bang! Biar ilmunya berguna dan terasah terus.” Dan.. saat
itu bang Wira menjawab; “Siap Elis!”. Lalu, aku kembali kepada kesadaranku;
mataku memandang wajah di depanku lagi. Muncul pula pertanyaan di dalam hati;
“Bagaimana caraku membuang mindermu Dek?”
“Ayooo…silahkan
masukkk!” kata bang Wira.
Waktu break
sudah selesai. Seluruh peserta kembali ke dalam ruangan dan aku mulai bersuara.
Sedikit pengantar sebelum memanggil kak Vivien ke depan.
“Kita
sambut dengan tepuk tangan yang meriah, Kakak kita…. Vivien Anjadi Suwitooooo…”
Mic segera
berpindah tangan dan mulailah kak Vivien dengan pengawal khasnya; Pantun.
Setelah itu, ia mulai menceritakan unforgettable moment di pemilihan Bujan Dara
INHIL tahun 2014 silam. Ia mengaku bahwa dari sanalah titik baliknya bermuasal.
Ini bukan pertama kalinya aku mendengar celotehan kak Vivien tentang tema yang
sama, tapi ntah apa ‘mantra’ yang kak Vivin punya, ia selalu berhasil membuatku
tertawa sekaligus memetik pelajaran dari ceritanya.
“…padahal
bahasa Inggris yang Kakak katakan itu opening pidato yang kita hafal sewaktu SMA
dulu. Pasti pernah kan dapat tugas ngafal teks pidato? Hehehee. Tapi, ternyata
itu berhasil mencuri perhatian juri setelah pantun tadi. Barulah seisi ruangan
tepuk tangan untuk Kakak sambil bisik-bisik. Padahal sebelumnya heing, kayak
nggak ada orangnya tuh ruangan ketika nama Kakak dipanggil.”
Peserta di
sebelahku ikut tertawa karena wajah kak Vivien yang memang sangat ekspresif
saat bercerita.
“Kak Vivien
tu emang selalu gitu Dek! Letak keberuntungannya itu selalu di ‘TRIK’nya. Dia
selalu ngaku kalau kemenangannya bukan karena dia pintar atau karena fisiknya
sempurna. Dan, satu lagi…. Kakak itu sangat rendah hati dan apa adanya Dek.
Mungkin itu yang membuat dia cantik!”
“Hemmmmm…luar
biasa ya Kak.”
Kami
kembali menyimak kelanjutan cerita kak Vivien. Kali ini ceritanya sudah sampai
di pemilihan Putri Pariwisata. Lagi-lagi ia menceritakan bagaimana
trik-cerdiknya ketika menjawab pertanyaan seputar pariwisata yang kala itu
ditanyakan oleh dokter Lula Kamal.
“Kalau saya
ke Riau, apa yang akan kamu suguhkan?”
“Wahhhh…
kalau dokter ke Riau, ketika mendarat di bandara Sultan Syarif Qasim, Dokter
akan langsung merasakan nuansa Melayu yang sangat kental sekali di Riau,” jelas
kak Vivien dengan mantap. “Padahal nggak kental-kental amat! Hehee,” lanjutnya
lagi.
Seluruh
peserta tertawa.
“Lalu saya
akan bawa Dokter ke Istana Siak,” lanjut kak Vivien. “Terus, Kakak ditanya
lagi; ‘Apa bedanya istana Siak dengan istana-istana pada umumnya?’ Nah,
langsung deh Kakak jawab dengan penuh percaya diri; ‘Di Istana Siak itu ada Cermin
Awet Muda Dok. Kalau Dokter tidak percaya, silahkan saja Dokter lihat wajah
sayaa!’ hehee,” jelasnya sambil mengibaskan rambut. “Bukan hanya itu Dok! Dokter juga akan saya
ajak berjalan di sepanjang sungai Siak untuk melihat betapa indahnya sungai tersebut.
Dan, Dokter juga akan disuguhkan dengan minuman khas Riau yang bernama
Laksamana Mengamuk’.. Weeewww… padahal nggak ada kan? Hehehe,” lanjutnya sambil
tertawa geli.
“Tuh kan
Dek, lagi-lagi tentang ‘trik’, hehee,” bisikku kepada peserta tadi.
“Kok bisa
ya Kak Vivien sekreatif itu Kak? hahaa.”
Setelah 5
menit berlalu, kak Vivien menyerahkan mic kepada bang Wira. Bang Wira
memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum show time dimulai. Aku jadi nggak sabar menyaksikan siapa peserta
terbaik hari ini. Aku, Yoga dan bung Misnan membantu mengkondisikan tempat
duduk dan posisi tampil peserta. Seperti biasa, mereka harus bertanding melawan
kelompok lain dan setelah diperoleh nilai tertinggi dari masing-masing
kelompok, maka merekalah yang berhak menduduki kursi panas.
“Masing-masing
peserta mendapatkan waktu 2 menit untuk tampil. Ketika waktu habis, silahkan
dilanjutkan dengan penampilan peserta lainnya. Bisa difahami ya?”
“Bisaaaaaaaa…”
jawab seluruh peserta.
“2 menit
dimulai dari….sekarang!”
Aku dan
Yoga berkeliling ruangan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuatu rule. Tentunya tak lupa pula aku
menjepret sana-sini untuk dokumentasi. Setelah semua peserta selesai tampil,
aku me-list peserta terbaik dari 14 kelompok yang ada. Lalu, memilih 8 besar
untuk final. Ketika final berlangsung, aku ke luar sebentar karena ruangan
semakin gerah saja.
“Loh? Adek
kok di luar? Nggak masuk ke dalam?” tanyaku kepada seorang peserta yang cukup
aktif itu.
“Kak, aku
ngerasa kayaknya ada ketidakadilan deh!”
“Hemm? Maksudnya?”
“Masa kami
dinilai oleh teman-teman kami sendiri sih Kak? Aku tu berharapnya kami
benar-benar diminta satu per satu tampil dan Bang Wira, Kakak atau bang Yoga
gitu yang menjadi jurinya. Kalau kayak gini rasanya nggak maksimal, Kak.”
“Dekkk…
kalau tampil satu per satu, kapan selesainya? Segini banyak loh pesertanya.
Justru akan lebih fair kalau sesama kalian yang saling menilai penampilan,
karena kalian kan sama-sama peserta dan nggak ada yang lebih tinggi atau lebih
rendah. Lagipula Dek… Bang Wira itu udah berusaha seadil mungkin dan inilah
bukti keadilannya,” aku berusaha memahamkan si adek.
“Tetap aja
aku ngerasa ini nggak adil Kak. Sejak tadi pagi kan aku juga udah aktif, tapi
hanya gara-gara nilaiku nggak tinggi di sini akhirnya aku nggak bisa masuk
final. Aku jadi ngerasa kalau semuanya sia-sia aja,” keluhannya semakin
menjadi-jadi.
“Sttttt…
Jangan bicara gitu Dek, yang penting ilmunya kan udah dapat toh? Semoga
bermanfaat ya untuk selanjutnya. Ini kan cuma kompetisi Dekkk… Setiap orang
berhak lebih baik setelah ini. Semangaaat! Kakak masuk ke dalam dulu yaaa,” aku
sengaja buru-buru menyudahi pembicaraan ini. Takut kalau energ positifku habis
sementara aku tak berhasil juga menetralkannya. Lagipula, dari sekian banyak
peserta, hanya dia yang merasa tidak puas.
Di dalam…
aku melihat bang Yopi sudah membuka
bicara…
“…kenapa
aku mencintaimu lebih dari yang lainnya? Karena kamu MENULIS (Pramodya ananta
toer). Saya Yopi Pranoto… terimakasih,” tutupnya.
Tepat
sekali ia menutup presentasinya ketika bang Wira memberi kode usainya durasi.
Aku bertepuk tangan cukup keras untuknya. Aku pun bertepuk tangan sangat keras
untuk penampilan kak Vivien yang kembali menceritakan tentang pengalaman Putri
Pariwisatanya. Ia memang selalu amazing dalam segala musim dan suasana.
Kerendahan hatinya itu yang membuat cantiknya tak pernah habis.
“Tepuk
tangan sekali lagi donk untuk ke-8 peserta yang luar biasa iniii!” pinta bang
Wira ketika seluruh peserta sudah tampil.
Selanjutnya, saatnya vote. Aku menulis berapa jumlah tangan yang
terangkat untuk setiap finalis yang disebutkan namanya. Dan…. Inilah peserta
terbaik di BAT 10; Novi Susanti Suwardi dari UR. Semua peserta mengucapkan
selamat padanya dan setelah acara ditutup olehku dan Yoga, kami melanjutkannya
dengan sesi wajib; Foto bersama dan membuat short video. Happy weekend
everybody….!
***
Sekalipun
peserta lainnya udah pada bubar sejak tadi, tapi kak Vivien masih betah curhat
denganku. Aku menyimaknya dengan sepenuh hati, mata dan telinga. Barulah
setelah azan maghrib berkumandang, obrolan kami dicukupkan.
“Ngobrolin
apa sih dengan si Kakak?” tanya mbak Wien.
“Tentang
kisah hidupnya Mbak. Hehee. Kami terlihat sangat akrab ya Mbak?”
“Iyaaa.
Banget. Vivien itu di atas Elis setahun ya angkatannya?”
“Iya Mbak…
Kakak tu 2010. Ya ampuuuun Mbaaakkkk… dia itu rendah hatinyaaaaaaaaa luar
biasaaaa kaliii! Elis belajar kerendahan dalam ketinggian itu ya dari dia salah
satunya. Pernah waktu itu dia jadi bintang tamu sekaligus MC diacara
sosialisasi program Dispora dan Elis kira dia akan membicarakan sesuatu yang
sangat WOW dan ‘tinggi’ karena waktu itu dia kan baru jadi Putri. Eh, ternyata
nggak Mbaaak. Kakak itu ya tetap ngomong apa adanya dan mengalir aja, persis
kayak tadi waktu dia di BAT.”
“Iyaaa…Vivien
sangat rendah hati ya Lisss. Kalau dipuji orang, dia selalu bilang; ‘Vivien ini
orang biasaa aja Mbaaak.. Vivien orang kampung nyoo.’ Subahanallah sekali dia
yaa.”
Padahal,
kisah kak Vivien yang dibagikannya tadi sewaktu BAT sudah ku dengarkan berulang
kali di berbagai acara, tapi tetap saja ketika aku mendengarkannya lagi dan
lagi, kagumku tak pernah SUDAH.
“Semoga indahnya hatimu
itu menyempurnakan segala taatmu di hadapanNya ya Kak.”
“Yuk, kita
makan malam duluuu!” ajak Mbak Wien.
Ada aku,
Yoga, Bung Misnan, bang Wira dan mbak Wien di dining room dan sudah siap menyantap makan malam kami dengan menu
Ayam Madu seperti tadi siang. Sambil makan, breafing dan evaluasi pun berlanjut
dengan hangat di antara kami tentang acara hari ini. Alhamdulillah… semuanya
berjalan dengan lancar dan ada beberapa perbaikan yang harus diupayakan untuk
BAT berikutnya.
“Elis nggak
sabar untk bisa ‘manggung’ di luar Riau, Bang!” celetukku sambil mengkhayal.
“Ciptakan
penyebabnya Lis!” sahut bang Wira, lugas. “Kita sering minta air hujan, padahal
kita cuma punya gelas kecil. Perbesar dulu wadahnya baru mintalah air hujan.
Kalau kapasitas kita lebih kecil daripada amanah yang kita terima, itu namanya
ZOLIM. Kalau amanah yang kita terima lebih kecil daripada kapasitas kita, itu
namanya MUBAZIR, Lis. Makanya, berlakulah hukum kepantasan dan keseimbangan di
sana. Sering-seringlah mengukur diri, supaya kita tahu mana yang cocok buat
kita,” jelas bang Wira.
Gini nih kalau ngobrol sama orang
yang berilmu… baru sedikit aja aku berkata, ribuan kata melengkapiku… sihiyyyy…
“Bang,
dapat formula 21 hari membangun fondasi kesuksesan itu dari mana?” tanyaku.
“Dari forum
trainer nasional yang Abang ikutin.”
“Gratis tu
Bang?”
“Gratis!
Makanya Abang juga ngasih ilmunya gratis ke kalian. Karena Abang berfikir; ‘Aku
aja dapat ilmu ini gratis, kok nggak nggratisin juga ke orang?’. Gitu.
Installah nanti Telegram yaa di HP, itu bagus banget aplikasinya; nggak
ngabisin memori karena penyimpanannya by online.”
Selanjutnya,
bang Wira ngobrolin tentang Hypnoteraphy. Ternyata, Yoga mau ikutan acaranya
besok di Alpha hotel. Luar biasa juga harga trainingnya; Rp 500.000/pertemuan.
Huahhhh!
“Softskill
itu adalah sesuatu yang nggak terlihat, tapi mendukung hardskill. Menulis itu
hardskill Lis. Nah, makanya sebelum membentuk hardskill seseorang, sebenarnya
perlu juga dipelajari bagaimana caranya membentuk softskillnya, baru deh
lengkap. Salah satunya dari Hypnotherapy ini.”
Aku jadi
teringat dengan sesi Tampil Percaya Diri tadi. Bang Wira sempat meminta kami
menutup mata selama 5 menit sambil kami diminta untuk memaafkan diri kami
sendiri dan diakhiri dengan kalimat; “Wahai diri… aku percaya padamu! Kamu
adalah sang pemenang.” Itu pasti salah satu teknik hypnotherapy yang bang Wira
pelajari dalam ilmu NLP (Neuro Linguistik Programme). Luar biasa!
Aku melihat
bang Wira sebagai 1 paket utuh; Trainer dan motivator. Aku melihat segenap
jiwanya ada di sana. Maka wajar saja jika trainingnya selalu ber-RUH. Trainer
adalah jiwanya, jiwanya ada di trainer. Lalu, aku apa? Siapa? Mau ke mana? Masih
bisu.


1 komentar:
Berkembanglah dengan tulisan yang bisa menyejukkan karena isinya penuh dengan cinta.
Dan... Cinta adalah bahasa universal yang mendamaikan dunia.
Posting Komentar