Sabtu, 16 Januari 2016

BAT 10; "Wahai diriku, engkaulah sang Pemenang!"



“Daaa… El pergi yaaa.. Assaalmualaikummm…”
Ku lambaikan tanganku pada papi dan Nilam lalu ku tutup pintu kamarku. Tapi, ketika sudah sampai di teras, mendadak aku ingin kembali lagi ke kamar. Hanya untuk berkata yang kedua kalinyaa…
“Daaa…Pi, Laammm.. Assalamualaikum.. muuuachhhhhh!”
Usai mereka meresponku, barulah ku tutup pintu dan dengan basmalah aku bergerak meninggalkan kosan.  Kalau bisa memilih, aku ingin mengiringi kepulangan papi dan Nilam, tapi tidak mungkin, karena aku sudah punya janji dengan sang Sabtu sejak jauh-jauh hari.
“Ya Allah… jaga papi dan Nilam, hamba titipkan mereka kepadaMu. Sesungguhnya Engkaulah Dzat yang selamanya tidak pernah menyia-nyiakan titipan. Selamatkan mereka, lancarkan perjalanan mereka, mudahkan urusan mereka, jauhkan mereka dari segala marabahaya. Aamiin..”
Aku sudah tiba di ujung jalan Lobak dan mulai memasuki kawasan Soekarno Hatta. Sebentar lagi, Arfin Ahmah akan menjelang.
Jangan lupa ya Lisss. Resto bintang 5 tu letaknya tepat di seberang BRI. BRI tu sebelah kiri kantornya kalau Elis masuknya dari jalan Lobak.


Kembali terngiang olehku arahan bang Wira tadi pagi-pagi sekali. Kali ini aku nggak boleh salah alamat lagi! Sekarang, Aku sudah berada di jalan Arifin Ahmad dan ku perhatikan deretan ruko di sebelah kiriku. Ahaaaa! Itu diaaa! Resto Bintang 5 yang sebelumnya hilang dari pandangan, akhirnya ketemu juga sekarang!
“Bang Wiraaaaa!” sapaku padanya yang sedang memakai sepatu pentofel di mobilnya.
“Langsung ke atas ya Lis, udah ada Yoga juga di atas.”
Aku segera ke lantai 2. Sempat ragu juga ketika melihat orang-orang ramai di sepanjang ruang makan dan koridor ini. Benarkan ini tempatnya?
“Elisssss?” sapa mbak Wien dari meja registrasi.
Aku segera menujunya. Menyalaminya dan menyalami Anna di sebelahnya. Lalu, aku langsung masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Yoga. Seperti biasanya, kami berdua selalu memunculkan kemistri sebelum mulai ngeMC. Beberapa hal yang sebenarnya itu-itu saja, sengaja kami ulang untuk lebih memantapkan diri.
“Tadi pagi Yoga dan Bang Wira gotong royong dulu loh Kak. Ruangan ini kami rombak total, awalnya kacau kursinya.”
“Oh iyaaa yaaa. Maaf ya Kakak telat datangnya Dekkk.”
Bang Wira memasuki ruangan dan bertanya kepada kami berdua; “5 menit cukup untuk bersiap-siap?”
“Cukup Bang!” jawab kami.

Pukul 08.40wib, seluruh peserta di persilahkan memasuki ruangan dan acarapun dimula. Aku dan Yoga menjelaskan 3 manfaat utama yang akan diperoleh setelah mengikuti training ini hingga selesai, kemudian menjelaskan bahwa acara ini tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang ingin menjadi trainer atau motivator saja, tetapi untuk semua orang yang ‘butuh’ bicara. Aku dan Yoga selalu meminta peserta untuk menjawab ‘Amazing!’ ketika kami menanyakan ‘Apa kabar?’ kepada mereka. Sengaja, jargon ‘Amazing’ selalu kami munculkan supaya amazingnya acara ini tertinggal di hati.
“…ini adalah games ‘siapa cepat, dia dapat’, maka jika ada yang sudah berhasil mendapatkan 5 data teman-temannya, silahkan maju ke depan secepat mungkin! Bisa difahami?”
“Bisaaa!” jawab peserta yang jumlahnya belum genap 30 orang itu.
Setelah 2 menit berlalu, salah satu peserta mengangkat tangan dan kami persilahkan untuk segera maju ke depan. Namanya Maulana. Hal yang lucu dari hasil ‘perburuan’nya ini adalah ketika kami menge-check 5 nama teman yang ia tersebut. Dan, ternyata hanya 1 orang saja yang berhasil ia ingat orangnya.
“Gimana, Bang Wira? Sah kah dia sebagai The Networker?” tanyaku.
“Silahkan tanya ke audience saja, lihat bagaimana pendapat mereka,” kata bang Wira, sambil tertawa kecil.

Ternyata, teman-teman di ruangan ini adalah orang yang sangat tolerir; sebagian besar setuju bahwa Maulana sah menjadi the Networker. Setelah Maulana sah digelari The Networker, ia kembali ke tempat duduk dan tiba saatnya kami sesi I; Berani Tampil, pun dimulai…
“Dengan tepuk tangan yang meriah…. Kita sambuuuttt…. Wiraaa Ramliiii,” kataku dan Yoga.
Selanjutnya, kesempatan bicara adalah miliknya. Aku dan Yoga kembali ke belakang. Baru beberapa menit kami duduk, Yoga memohon diri untuk mengisi acara Leadership Training di sekolah. Karena khawatir bakal mengantuk karena duduk sendirian di belakang, ku putuskan untuk menemui mbak Win yang baru selesai sholat Dhuha. Aku curhat kepadanya tentang seseorang yang sedang diam-diam ku perhatikan. Tapi, belum tuntas kami bercerita… aku beralih kepada kak Vivien yang baru tiba. Aku menyalaminya, memeluknya dan mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan. Hari ini, ada kak Tami (koordinatorku di Duta Lingkungan Hidup Pekanbaru), ada bang Yopi (Aktivis KNPI yang udah bolak-balik diliput TV), kak Vivien (seorang putri dengan segudang prestasi tpai rendah hati). Mereka adalah inspirasiku dan hari ini mereka ada di sini, untuk belajar.

***

Coffe Break session…
Peserta BAT 10 sedang menikmati teh atau kopi hangatnya dan sepotong roti tawar. Mereka duduk menyebar di seluruh room dining yang sangat nyaman ini. Ada yang memilih duduk di tengah, ada yang di sudut ruangan dan ada juga yang berada di bangku teras supaya leluasa melepas pandagan ke jalanan Arifin Ahmad. Di sinilah aku dan kak Vivien berada. Kami mendadak berubah menjadi 2 orang yang mirip ibu-ibu arisan karena sudah cukup lama tidak bertatap muka. Kira-kira sudah setahun juga aku tidak bersua dengannya. Hanya melihatnya dari sosial media saja. Tapi hari ini, ia seperti sahabat karib.
“…Ih kok jadi nyaman gini ya rasanya curhat ke Elisss? Ahhaha..” kata kak Vivien.
“Nggak apa-apa Kak, terusin aja! Mumpung masih ada waktuuu.”
“Huhuuuuu… urang nih waktunya Dekkkk sebenarnyaaa! Bentar lagi Bang Wira pasti manggil.”
Ternyata benar. Baru 5 menit obrolan berlanjut, bang Wira sudah memberi kode. Karena merasa masih bisa memanfaatkan kesempatan, kak Vivien masih melanjutkan ceritanya menjelang kami tiba di ruangan. Sesaat lagi, sesi II; Bicara Sistematis, akan dimulai.
“Kaaakkk…. Ada lihat HP Adek nggak?” seorang peserta menghampiriku dengan wajah pucat pasi.
“HPnya merknya apa Dek?” tanyaku.
“OPPO Kak.”

“Tadi bukannya Adek pakai untuk foto-foto ya dengan teman-teman Adek?”
“Iya Kak. Nah, setelah itu Adek nggak sadar lagi ntah di mana HP tuu.”
Aku menenangkannya dan memintanya untuk tetap mengikuti acara sementara aku berusaha mencari ke seluruh penjuru dining room dan bertanya ke CS. Tapi, sejauh ini belum juga ku peroleh hasil.
“Loh? Mbak belum jadi pergi toh?” tanyaku pada mbak Wien.
“Belum Deeekk.. Tadi kaki Mbak pegel banget, nggak kuat turun ke bawah. Dek Elis udah ngambil coffe break?”
“Udah Mbaak,” aku duduk di samping Mbak Wien, di sofa di sudut ruangan.
Bukan hanya ngobrol-ngobrol biasa, aku malah jadi curhat padanya tentang tragedi penolakanku terhadap seseorang. Mbak Wien sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. Sejak pertama kali kami bertmu, aku sudah merasa sangat nyaman padanya. Bukan hanya lembut, ia pun keibuan.
“Maafin Mbak Winn ya Dek kalau Mbak Win salah bicaraaa. Dari cerita Elis tadi, Mbak Win menyimpulkan kalau cowok itu cuma seperti sedang ‘uji-coba’ aja. Kelihatan dari sikapnya yang dingin dan nggak mencoba mengklarifikasi lagi ke Elis. Dia nggak menunjukkan seorang cowok yang sangat mengharapkan untuk bisa bersama Elis.”
“Oh gitu ya Mbak? Bukannya itu menunjukkan dia itu nggak dewasa ya?”

“Nggak Dek. 7 tahun itu bukan waktu yang sebentar loh. Dia juga udah berkarir dan udah merancang masa depan. Tandanya dia sudah dewasa, tapi ya itu tadi… Mbak Win nggak melihat dia sedang sungguh-sungguh memperjuangkan Elis.”
“Bener juga ya Mbaaak. Makasih ya Mbak udah dengerin Elis.”
“Lillah ya Dek. Yakinlah, Elis pasti akan mendapatkan yang terbaik dan cocok buat Elis nantinya.”
“Iyaa Mbak. Lillah,” aku terdiam sejenak. “Eh iya Mbak, Elis menyimpulkan bahwa ternyata yang terpenting itu bukan siapa yang paling lama kamu mencintai, tapi siapa yang paling cepat menghalalkan. Ya kan Mbakkk? Sihiyyyyy..”
“Bener Dekk. Beneerr banget.”
Setelah itu kami berpisah; aku kembali ke dalam ruangan sementara mbak Wien menemui kliennya. Ternyata, ruangan training ini terasa panas karena listrik sedang padam. Bang Wira mengodeku untuk menanyakan kepada CS. Aku ke luar ruangan dan segera mengkonfirmasi kepada staff resto ini. Tak lama kemudian, listrik kembali menyala.


***

“Elissssss…cerita yaaang tadi belum kelaaarrr.” Pekik kak Vivien ketika waktu ISHOMA tiba.
Kami langsung menuju meja makan bundar di sisi kanan tangga. Tapi, edisi curhat ini terpaksa harus ditunda dulu karena bang wira dan beberapa peserta lainnya ikut nimbrung makan bersama kami. Karena ada kak Vivien dan bang Wira, teman-teman yang lain jadi tertarik ngobrolin tentang public speaking dan perkuliahan.
“Kak, enak yaaa Ayam Madunya niii. Ada kismisnya, ada kacang almonnya juga,” bisikku pada kak Vivien.
“Iyaa Dek, enak banget.”
“Kalau Kakak nggak habis, bilang ke Elis yaa. Heheee.”
Kak Vivien tergelak mendengar kalimatku barusan. Lalu ia kembali melanjutkan ceritanya tentang asal mula tertundanya skripsinya.
“Gini ya efeknya kalau semeja sama mahasiswa tingkat akhir, hhehee,” celetuk bang Wira.
Kini, giliran bang Wira pula bercerita tentang tunggang-langgangnya ia menyelesaikan SKRIPSI dan rela meninggalkan bisnisnya beberapa waktu.
“Ijazah Abang sampai sekarang masih di UNPAD tuh! Ke Pekanbaru tanpa ijazah, supaya Abang ber-pantang untuk melamar kerja. Akhirnya, mau nggak mau kan Abang mikir gimana caranya bisa menghasilkan uang sendiri.”

Aku dan yang lainnya terus menyimak obrolan bang Wira sampai makan siangku selesai. Aku memang agak cepat makannya nih! Efek kelaparan atau doyan ya? hahaa.
“Elis ni luar biasa loh Bang. Vivien pengen berguru gimana caranya nulis yang baik sama dia. Blognya udah ada 7 loh Bang! Bayangkan cobaaaa! Punya Vivien cuma 1 aja terbengkalai gitu sampai udah bersarang laba-laba, hahaa.”
“Iya Liss? 7 blog Elis?” tanya bang Wira, memastikan.
Aku hanya mengangguk, sambil tersipu malu. Mendadak jadi pengen minta blogku dipromoin sama bang Wira. Emmmm… tapi, kayaknya belum sekarang deh! Masih belum layak dishare oleh orang sekaliber bang Wira. Hehhe.
“Sama Vin, punya Abang pun nggak keurus blognya. Lebih rame postingan di Facebook malah. Hahaa,” lanjut bang Wira.
Sudah pukul 13.35wib. Makan siang sudah selesai dan Bang Wira memberi kode kepada peserta untuk segera masuk ke dalam ruangan.Sesi ke 3; Berbicara yang Menghipnotis, dimulai…

***

Usai sholat Ashar, peserta kembali diberikan coffe break dan snack. Masih ada waktu sekitar 5 menit sebelum Show Time dimulai. Kak Vivien sudah diberi kode oleh bang Wira untuk memotivasi peserta lainnya selama 5 menit.
“Kak, Kakak ikut BATnya kapan?” tanya salah satu peserta.
“Emmm…Desember 2014 Dek. Huahhhh…udah lama juga ya ternyata!” ja wabku.
“Ohhh…berarti dalam setahun, BAT ada 5 kali yaa?” sahut yang lain.
“Iyaaa. Bener banget. Eh, ntar di BAT 11 ikutan Kakak jadi fasilitator yuk? Biar ilmunya nambah!” ajakku.
“Ah, kami ilmunya belum seberapa Kak. Segan Kak. Belum bisa kayak Kakak, hehehe.”
Mendengar jawabannya membuatku termenung sejenak. Fikiranku mendadak bertamu lagi ke bulan Desember 2014 lalu. Ketika aku baru selesai mengikuti BAT 4 dan aku langsung berkata kepada bang Wira; “Bang, ntar kalau ada BAT atau acara apapun, plisss bawa Elis ya Bang! Biar ilmunya berguna dan terasah terus.” Dan.. saat itu bang Wira menjawab; “Siap Elis!”. Lalu, aku kembali kepada kesadaranku; mataku memandang wajah di depanku lagi. Muncul pula pertanyaan di dalam hati; “Bagaimana caraku membuang mindermu Dek?”
“Ayooo…silahkan masukkk!” kata bang Wira.
Waktu break sudah selesai. Seluruh peserta kembali ke dalam ruangan dan aku mulai bersuara. Sedikit pengantar sebelum memanggil kak Vivien ke depan.

“Kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah, Kakak kita…. Vivien Anjadi Suwitooooo…”
Mic segera berpindah tangan dan mulailah kak Vivien dengan pengawal khasnya; Pantun. Setelah itu, ia mulai menceritakan unforgettable moment di pemilihan Bujan Dara INHIL tahun 2014 silam. Ia mengaku bahwa dari sanalah titik baliknya bermuasal. Ini bukan pertama kalinya aku mendengar celotehan kak Vivien tentang tema yang sama, tapi ntah apa ‘mantra’ yang kak Vivin punya, ia selalu berhasil membuatku tertawa sekaligus memetik pelajaran dari ceritanya.
“…padahal bahasa Inggris yang Kakak katakan itu opening pidato yang kita hafal sewaktu SMA dulu. Pasti pernah kan dapat tugas ngafal teks pidato? Hehehee. Tapi, ternyata itu berhasil mencuri perhatian juri setelah pantun tadi. Barulah seisi ruangan tepuk tangan untuk Kakak sambil bisik-bisik. Padahal sebelumnya heing, kayak nggak ada orangnya tuh ruangan ketika nama Kakak dipanggil.”
Peserta di sebelahku ikut tertawa karena wajah kak Vivien yang memang sangat ekspresif saat bercerita.
“Kak Vivien tu emang selalu gitu Dek! Letak keberuntungannya itu selalu di ‘TRIK’nya. Dia selalu ngaku kalau kemenangannya bukan karena dia pintar atau karena fisiknya sempurna. Dan, satu lagi…. Kakak itu sangat rendah hati dan apa adanya Dek. Mungkin itu yang membuat dia cantik!”
“Hemmmmm…luar biasa ya Kak.”

Kami kembali menyimak kelanjutan cerita kak Vivien. Kali ini ceritanya sudah sampai di pemilihan Putri Pariwisata. Lagi-lagi ia menceritakan bagaimana trik-cerdiknya ketika menjawab pertanyaan seputar pariwisata yang kala itu ditanyakan oleh dokter Lula Kamal.
“Kalau saya ke Riau, apa yang akan kamu suguhkan?”
“Wahhhh… kalau dokter ke Riau, ketika mendarat di bandara Sultan Syarif Qasim, Dokter akan langsung merasakan nuansa Melayu yang sangat kental sekali di Riau,” jelas kak Vivien dengan mantap. “Padahal nggak kental-kental amat! Hehee,” lanjutnya lagi.
Seluruh peserta tertawa.
“Lalu saya akan bawa Dokter ke Istana Siak,” lanjut kak Vivien. “Terus, Kakak ditanya lagi; ‘Apa bedanya istana Siak dengan istana-istana pada umumnya?’ Nah, langsung deh Kakak jawab dengan penuh percaya diri; ‘Di Istana Siak itu ada Cermin Awet Muda Dok. Kalau Dokter tidak percaya, silahkan saja Dokter lihat wajah sayaa!’ hehee,” jelasnya sambil mengibaskan rambut.  “Bukan hanya itu Dok! Dokter juga akan saya ajak berjalan di sepanjang sungai Siak untuk melihat betapa indahnya sungai tersebut. Dan, Dokter juga akan disuguhkan dengan minuman khas Riau yang bernama Laksamana Mengamuk’.. Weeewww… padahal nggak ada kan? Hehehe,” lanjutnya sambil tertawa geli.
“Tuh kan Dek, lagi-lagi tentang ‘trik’, hehee,” bisikku kepada peserta tadi.
“Kok bisa ya Kak Vivien sekreatif itu Kak? hahaa.”

Setelah 5 menit berlalu, kak Vivien menyerahkan mic kepada bang Wira. Bang Wira memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum show time dimulai. Aku jadi nggak sabar menyaksikan siapa peserta terbaik hari ini. Aku, Yoga dan bung Misnan membantu mengkondisikan tempat duduk dan posisi tampil peserta. Seperti biasa, mereka harus bertanding melawan kelompok lain dan setelah diperoleh nilai tertinggi dari masing-masing kelompok, maka merekalah yang berhak menduduki kursi panas.
“Masing-masing peserta mendapatkan waktu 2 menit untuk tampil. Ketika waktu habis, silahkan dilanjutkan dengan penampilan peserta lainnya. Bisa difahami ya?”
“Bisaaaaaaaa…” jawab seluruh peserta.
“2 menit dimulai dari….sekarang!”
Aku dan Yoga berkeliling ruangan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuatu rule. Tentunya tak lupa pula aku menjepret sana-sini untuk dokumentasi. Setelah semua peserta selesai tampil, aku me-list peserta terbaik dari 14 kelompok yang ada. Lalu, memilih 8 besar untuk final. Ketika final berlangsung, aku ke luar sebentar karena ruangan semakin gerah saja.
“Loh? Adek kok di luar? Nggak masuk ke dalam?” tanyaku kepada seorang peserta yang cukup aktif itu.

“Kak, aku ngerasa kayaknya ada ketidakadilan deh!”
“Hemm? Maksudnya?”
“Masa kami dinilai oleh teman-teman kami sendiri sih Kak? Aku tu berharapnya kami benar-benar diminta satu per satu tampil dan Bang Wira, Kakak atau bang Yoga gitu yang menjadi jurinya. Kalau kayak gini rasanya nggak maksimal, Kak.”
“Dekkk… kalau tampil satu per satu, kapan selesainya? Segini banyak loh pesertanya. Justru akan lebih fair kalau sesama kalian yang saling menilai penampilan, karena kalian kan sama-sama peserta dan nggak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Lagipula Dek… Bang Wira itu udah berusaha seadil mungkin dan inilah bukti keadilannya,” aku berusaha memahamkan si adek.
“Tetap aja aku ngerasa ini nggak adil Kak. Sejak tadi pagi kan aku juga udah aktif, tapi hanya gara-gara nilaiku nggak tinggi di sini akhirnya aku nggak bisa masuk final. Aku jadi ngerasa kalau semuanya sia-sia aja,” keluhannya semakin menjadi-jadi.
“Sttttt… Jangan bicara gitu Dek, yang penting ilmunya kan udah dapat toh? Semoga bermanfaat ya untuk selanjutnya. Ini kan cuma kompetisi Dekkk… Setiap orang berhak lebih baik setelah ini. Semangaaat! Kakak masuk ke dalam dulu yaaa,” aku sengaja buru-buru menyudahi pembicaraan ini. Takut kalau energ positifku habis sementara aku tak berhasil juga menetralkannya. Lagipula, dari sekian banyak peserta, hanya dia yang merasa tidak puas.
Di dalam… aku melihat bang Yopi  sudah membuka bicara…

“…kenapa aku mencintaimu lebih dari yang lainnya? Karena kamu MENULIS (Pramodya ananta toer). Saya Yopi Pranoto… terimakasih,” tutupnya.
Tepat sekali ia menutup presentasinya ketika bang Wira memberi kode usainya durasi. Aku bertepuk tangan cukup keras untuknya. Aku pun bertepuk tangan sangat keras untuk penampilan kak Vivien yang kembali menceritakan tentang pengalaman Putri Pariwisatanya. Ia memang selalu amazing dalam segala musim dan suasana. Kerendahan hatinya itu yang membuat cantiknya tak pernah habis.
“Tepuk tangan sekali lagi donk untuk ke-8 peserta yang luar biasa iniii!” pinta bang Wira ketika seluruh peserta sudah tampil.
Selanjutnya, saatnya vote. Aku menulis berapa jumlah tangan yang terangkat untuk setiap finalis yang disebutkan namanya. Dan…. Inilah peserta terbaik di BAT 10; Novi Susanti Suwardi dari UR. Semua peserta mengucapkan selamat padanya dan setelah acara ditutup olehku dan Yoga, kami melanjutkannya dengan sesi wajib; Foto bersama dan membuat short video. Happy weekend everybody….!

***

Sekalipun peserta lainnya udah pada bubar sejak tadi, tapi kak Vivien masih betah curhat denganku. Aku menyimaknya dengan sepenuh hati, mata dan telinga. Barulah setelah azan maghrib berkumandang, obrolan kami dicukupkan.
“Ngobrolin apa sih dengan si Kakak?” tanya mbak Wien.
“Tentang kisah hidupnya Mbak. Hehee. Kami terlihat sangat akrab ya Mbak?”
“Iyaaa. Banget. Vivien itu di atas Elis setahun ya angkatannya?”
“Iya Mbak… Kakak tu 2010. Ya ampuuuun Mbaaakkkk… dia itu rendah hatinyaaaaaaaaa luar biasaaaa kaliii! Elis belajar kerendahan dalam ketinggian itu ya dari dia salah satunya. Pernah waktu itu dia jadi bintang tamu sekaligus MC diacara sosialisasi program Dispora dan Elis kira dia akan membicarakan sesuatu yang sangat WOW dan ‘tinggi’ karena waktu itu dia kan baru jadi Putri. Eh, ternyata nggak Mbaaak. Kakak itu ya tetap ngomong apa adanya dan mengalir aja, persis kayak tadi waktu dia di BAT.”
“Iyaaa…Vivien sangat rendah hati ya Lisss. Kalau dipuji orang, dia selalu bilang; ‘Vivien ini orang biasaa aja Mbaaak.. Vivien orang kampung nyoo.’ Subahanallah sekali dia yaa.”
Padahal, kisah kak Vivien yang dibagikannya tadi sewaktu BAT sudah ku dengarkan berulang kali di berbagai acara, tapi tetap saja ketika aku mendengarkannya lagi dan lagi, kagumku tak pernah SUDAH. 

Semoga indahnya hatimu itu menyempurnakan segala taatmu di hadapanNya ya Kak.”
“Yuk, kita makan malam duluuu!” ajak Mbak Wien.
Ada aku, Yoga, Bung Misnan, bang Wira dan mbak Wien di dining room dan sudah siap menyantap makan malam kami dengan menu Ayam Madu seperti tadi siang. Sambil makan, breafing dan evaluasi pun berlanjut dengan hangat di antara kami tentang acara hari ini. Alhamdulillah… semuanya berjalan dengan lancar dan ada beberapa perbaikan yang harus diupayakan untuk BAT berikutnya.
“Elis nggak sabar untk bisa ‘manggung’ di luar Riau, Bang!” celetukku sambil mengkhayal.
“Ciptakan penyebabnya Lis!” sahut bang Wira, lugas. “Kita sering minta air hujan, padahal kita cuma punya gelas kecil. Perbesar dulu wadahnya baru mintalah air hujan. Kalau kapasitas kita lebih kecil daripada amanah yang kita terima, itu namanya ZOLIM. Kalau amanah yang kita terima lebih kecil daripada kapasitas kita, itu namanya MUBAZIR, Lis. Makanya, berlakulah hukum kepantasan dan keseimbangan di sana. Sering-seringlah mengukur diri, supaya kita tahu mana yang cocok buat kita,” jelas bang Wira.
Gini nih kalau ngobrol sama orang yang berilmu… baru sedikit aja aku berkata, ribuan kata melengkapiku… sihiyyyy…
“Bang, dapat formula 21 hari membangun fondasi kesuksesan itu dari mana?” tanyaku.
“Dari forum trainer nasional yang Abang ikutin.”
“Gratis tu Bang?”

“Gratis! Makanya Abang juga ngasih ilmunya gratis ke kalian. Karena Abang berfikir; ‘Aku aja dapat ilmu ini gratis, kok nggak nggratisin juga ke orang?’. Gitu. Installah nanti Telegram yaa di HP, itu bagus banget aplikasinya; nggak ngabisin memori karena penyimpanannya by online.”
Selanjutnya, bang Wira ngobrolin tentang Hypnoteraphy. Ternyata, Yoga mau ikutan acaranya besok di Alpha hotel. Luar biasa juga harga trainingnya; Rp 500.000/pertemuan. Huahhhh!
“Softskill itu adalah sesuatu yang nggak terlihat, tapi mendukung hardskill. Menulis itu hardskill Lis. Nah, makanya sebelum membentuk hardskill seseorang, sebenarnya perlu juga dipelajari bagaimana caranya membentuk softskillnya, baru deh lengkap. Salah satunya dari Hypnotherapy ini.”
Aku jadi teringat dengan sesi Tampil Percaya Diri tadi. Bang Wira sempat meminta kami menutup mata selama 5 menit sambil kami diminta untuk memaafkan diri kami sendiri dan diakhiri dengan kalimat; “Wahai diri… aku percaya padamu! Kamu adalah sang pemenang.” Itu pasti salah satu teknik hypnotherapy yang bang Wira pelajari dalam ilmu NLP (Neuro Linguistik Programme). Luar biasa!
Aku melihat bang Wira sebagai 1 paket utuh; Trainer dan motivator. Aku melihat segenap jiwanya ada di sana. Maka wajar saja jika trainingnya selalu ber-RUH. Trainer adalah jiwanya, jiwanya ada di trainer. Lalu, aku apa? Siapa? Mau ke mana? Masih bisu.

1 komentar:

Wira Ramli mengatakan...

Berkembanglah dengan tulisan yang bisa menyejukkan karena isinya penuh dengan cinta.

Dan... Cinta adalah bahasa universal yang mendamaikan dunia.