Sabtu, 03 Oktober 2015

Riauku Silau

Sudah purnama ke tiga
langit masih jua berkabut
malam berkabut
siang berselimut
baju-baju ikut beraroma tengik
tak urung dijilat kabut
mengepul tak sudah-sudah
tempias angin dari ranah tetangga
kita pun tak usai menghirup
kemarin memang kitalah si asal
sekarang banyak lagi berasal
kalau seperti ini terus
pada purnama ke empat
barangkali kita tidak lagi bernafas
mohon pada Tuhan kirimkan tiupan syurga

Oktober berkabung jerebu, 2015

Inspirasi: Suara MC itu akan lebih baik kalau bulat

"Assalamualaikum…” Rini pulang.
“Waalaikumsalam.”
“El udah sholat Zuhur?”
“Udah. Rini?”
“Udah jugak. Emanglah ya, kabinetnya Bang Zulfa kemarin nggak tergantikan. Yang sekarang ini jauh lebih hancur.”
“Loh, kok Rini bicara gitu? Memangnya Rini ada ngikutin acara BEM?”
“Tadi kan aku ke seminar itu dulu di rektorat. Barulah ke puskom setelah aku ngerasa boring.”
“Loh? Jadi jugak Rini ke sana tadi?”
“Iya, kan tadi udah ku bilang bah! MC dan moderatornya gagok-gagok ngomongnya (baca: tergagap). Bagusanlah El dan Okta lagi. Pematerinya pun terlambat datangnya. Terus, yang dibahas itu bukang tentang PENTINGNYA reproduksi wanita tapi GIMANA reproduksi wanita.”

“Lah? Kalau bagaimana itu kan kita udah tahu dan udah belajar sejak SMP pun. Aku juga udah sering kali ikut seminar yang tentang organ reproduksi wanita.”
“Itulah makanyaaaaa. Pokoknya nggak dapatlah poinnya. Tapi, untungnya pesertanya ramelah tadi.”
“Mungkin karena gratis nggak?”
“Mungkin juga. Masa ada senam pinguinnya juga coba? Kan jadinya riuh gitu, aku nggak mau goyang-goyang tadi. Pura-pura ngerekam aja. Boring kali lah pokonya tadi.”
“Siapa MCnya tadi Rin?”
“Nggak tahu juga siapa. Kayaknya angkatan 2013.”
“Ohh.. berarti mereka masih baru belajar tu Rin.”
“Mungkin. Memang lah, MC tu enaknya yang suaranya berat. Kalau cempreng itu sakit telinga dibuatnya.”
“Bener Rin. Suaraku pun cempreng kalau nggak dibantu sama mic. Beda dengan suaranya Okta yang memang udah berat dan bulat. Suaraku ini nggak bisa menjangkau suara yang riuh, susah, sakit leherku kalau ku paksakan. Okta, Vera, Key, Ditra itu memang udah kece banget lah orang tu jadi MC.”

Memaksa Diri Membunuh Kemalasan



Sudah 4 hari aku alfa menulis.  Alasan awalnya sih karena ‘penyesuaian’ (penyesuaian dengan keadaan dan penyesuaian dengan harapan). Tapi, ini sudah hari ke-4 dibulan Oktober, masa sih aku belum sesuai-sesuai juga? Lamaaa banget El, kamu butuh waktu berapa lama lagi emangnya? Sebenarnya, keadaan ini sering sekali tidak aku inginkan; kebingungan/linglung/bimbang/ragu. Di kepalaku sedang bertengker banyak hal, ada yang masih berupa rencana, ada yang sudah berupa ide. Bingung seperti ini selalu menyita waktuku dan parahnya kalau aku merasa lelah dan sejenak menyerah. Tapi, aku sadar bahwa ini adalah bagian dari proses ‘pencarian dan penemuan’ku. Setelah segala bimbang, semoga kan hadir segala senang.

Hari ini kembali ku perbarui niat. Sebisa mungkin ku paksa untuk tetap menulis tanpa merasa-rasa apa yang dirasa, tanpa bertanya-tanya apa dan bagaimana. Apapun yang terjadi, tetaplah menulis di segala musim!