Kita tentu sering berupaya
menunjukkan hal BAIK kepada orang lain. Tapi, ternyata kenyataan tidak selalu
berjalan sesuai dengan inginnya kita. Tidak selalu, pesan BAIK itu ‘dipakai’
oleh orang lain. Tidak selalu, pesan BAIK itu diterima dengan baik oleh orang
lain. Lebih parahnya, tidak dianggap sesuatu yang BAIK oleh orang lain. Tak
masalah sebenarnya itu semua, karena memang tugas kita hanyalah MENYAMPAIKAN,
bukan MENENTUKAN hasil. Sebab, urusan hasil, itu benar-benar urusan hati.
Sementara hati, benar-benar dalam genggamanNya.
*Tugas kita – Metamor(Prosa)
***
Novi bersamaku melaju menuju tujuan, Stadion Kaharudin
Nasution. Di belakang kami, ada pasukan BEM FKIP yang juga sama tujuan. Hari
ini kami berpakaian serba merah, dress code dalam acara Pemasangan Pita Anti
HIV/AIDS sekaligus penyuluhan Narkoba dan HIV/AIDS.
“Dek, coba tengok ke belakang? Mereka masih ada di belakang
kita?” pintaku.
“Loh? Mereka lewat mana? Kok nggak ada siapa-siapa di
belakang kita Kak?”
Ku lambatkan laju motorku, takut mereka tertinggal sangat
jauh di belakang. Tapi, sudah beberapa detik berlalu, tak ada tanda-tanda bahwa
mereka semakin mendekat. Ah, akhirnya ku putuskan untuk kembali melaju. Dan
ketika bertemu banyak persimpangan pada suatu Bundaran, aku tetap lurus saja.
Karena kata dek Novi, arahnya lurus terus. Tapi aku mulai curiga, karena
suasananya semakin sepi saja, padahal seharusnya ini adalah jalan Riau yang
cukup ramai. Ku hentikan motorku untuk bertanya kepada seseorang.
“Ohhh.. Seharusnya tadi di bundaran itu belok ke nanan Dek,
bukan lurus,” katanya.
Kami memutar arah dan menuruti arahan itu. Alhamduillah,
kami sampai dengan selamat. Ternyata, teman-teman yang lain sudah sampai lebih
dulu. Ternyata benar, mereka menempuh jalan yang berbeda. Kami bergerak masuk
ke dalam arena orahraga yang dikelilingi tribun.
"Cek...tribun itu apa sih?" tanya dek Novi.
"Tribun itu artinya, bangku yang bertingkat-tingkat, Cek. Kayak gitu," tunjukku ke-selingkar ruangan.
"Ohhh... jadi, Tribun Pekanbaru itu maksudnya apa?"
"Itu kan nama Koran Cek."
"Iyaa tahu, maksudnya... maksud kata-kata Tribun di situ tu apa?" tanya Novi lagi.
Aku berfikir agak keras untuk menjawabnya; "Emmm..mungkin maknanya, adalah berita yang berisi tingkatan tranding topik Cek. Ada yang paling utama, ada yang berisi opini, ada berita biasa. Gitulah," *Jawaban macam apa ini? haha. Tapi untunglah, Novi nggak bertanya lebih jauh lagi. hihii.
Ah, kami baru tahu bahwa kami diharuskan berpakaian merah karena kami adalah panitia yang harus membantu-bantu acara ini.
"Cek...tribun itu apa sih?" tanya dek Novi.
"Tribun itu artinya, bangku yang bertingkat-tingkat, Cek. Kayak gitu," tunjukku ke-selingkar ruangan.
"Ohhh... jadi, Tribun Pekanbaru itu maksudnya apa?"
"Itu kan nama Koran Cek."
"Iyaa tahu, maksudnya... maksud kata-kata Tribun di situ tu apa?" tanya Novi lagi.
Aku berfikir agak keras untuk menjawabnya; "Emmm..mungkin maknanya, adalah berita yang berisi tingkatan tranding topik Cek. Ada yang paling utama, ada yang berisi opini, ada berita biasa. Gitulah," *Jawaban macam apa ini? haha. Tapi untunglah, Novi nggak bertanya lebih jauh lagi. hihii.
Ah, kami baru tahu bahwa kami diharuskan berpakaian merah karena kami adalah panitia yang harus membantu-bantu acara ini.
“Siapa ya? Kita kenal?” kataku kepada Okta yang ternyata ada
di sini juga.
Aku ngambek. Dia nggak pernah lagi memberitahuku apalagi
mengajakku menghadiri suatu acara. Ia berusaha meminta maaf dengan dalih bahwa
ia sudah tahu aku akan ke sini. Lalu Novi nimbrung, mematahkan usaha Okta bahwa
ialah yang sudah mengajakku ke sini. Bohong banget kalau Okta bakal tahu aku
akan datang. Haaahahaa, tapi bukan aku dan Okta namanya kalau kami bisa saling
marah dan ngambek dalam waktu yang lama. Ujung-ujungnya, kami malah selfie
bertiga.
“Ternyata Novi punya barang alay juga toh!” kata Okta ketika
Novi menggunakan Fish Eye.
“Kita kan anak kekinian Bang Oktaaa.”
Aku dan Novi tak lama di sini. Hanya sampai pukul 08.30wib.
Ada deadline berikutnya. Novi akan menjadi juri baca Puisi tingkat SD dan SMP
dalam acara Garuda Keadilan-nya PKS. Kami segera bergerak menuju DPW Markaz
Dakwah PKS di jalan Soekarno Hatta ujung, menjelang Pasar Pagi.
***
“Kakak duduk di samping Novi yaa. Novi butuh teman untuk
mempertimbangkan nilai. Masa jurinya cuma Novi sendiriii.”
“Okrehhh Bububuyuuu.”
Aku membantu merekamkan setiap peserta yang tampil supaya
nanti lebih mudah mempertimbangkan juaranya. Panitia jadi ikut-ikutan
menyajikanku kue dan minuman layaknya juri, hehe. Alhamdulillah, rezekiku hari
ini.
“Kak, silahkan naik ke atas dulu menjelang pengumuman.
Karena setelah ini ada perlombaan lain dan takutnya Kakak kelamaan nunggunya,”
kata salah seorang panitia.
Aku, Novi dan seorang juri fashion show, naik ke lantai 2.
Kami duduk di ruangan panitia. Lumayan, selain bisa ngadem, kami juga bisa
ngobrol santai. Hingga panitia kembali menjemput kami untuk turun ke bawah.
Masing-masing juri diminta untuk mengumumkan nama-nama pemenang dan memberikan
saran yang membangun untuk seluruh peserta. Setelah itu, kami berfoto bersama
di Boot Instagram.
Tujuan kami selanjutnya adalah Bazaar Gramedia. *Buku…mana
bukuuuuu..?
***
Bagai orang yang sedang dahaga dan bertemu mata air,
beginilah aku dan Novi setelah bertemu buku. Kami sibuk dengan perburuan
masing-masing, tak peduli lagi satu sama lain. *Padahal, setelah dibeli, bisa
ku pastikan buku-buku ini belum tentu langsung ku lahap dengan segera, hehe. Novi
ntah di mana, aku ntah di mana, kami berbeda arah pencarian. Dan ketika kami
berjumpa di sudut rak..
“Cek milih buku apa aja?” tanyaku.
“Ini cuma 2.”
Aku melihat 2 buku Fisika untuk anak-anak, di tangannya.
“Novi suka kali loh Cek dengan buku-buku kayak gini,”
lanjutnya.
“Seingat Kakak, justru Kakak nggak pernah sekalipun sengaja
beli buku Ekonomi sebagai pengaya kayak gitu Cek, hahaa. Ntah ke mana lah ilmu
Ekonomi Kakak tu menguapnya.”
Novi menilik satu per satu buku dari tumpukan yang ku bopong
(baca: gendong) ini.
“Kakak setiap kali borong buku, pasti buku-bukunya terdiri
dari 2 jenis; Asupan untuk otak dan asupan untuk hati. Biar berimbang, Cek,”
lanjutku.
Aku menghabiskan Rp 94.200 untuk 5 buku; When Author meet Editor (Rp 30.000) , Ternyata orang yang Menikah lebih mudah
Masuk Syurga (Rp 14.000), Kita bisa
Membuat Perbedaan (Rp 15.000), Travel
Writing (Rp 15.000), COME (Rp
10.000), Menyambut Kematian (Rp
10.000). Sementara Novi hanya menghabiskan Rp 25.000 untuk 2 buku.
“Gabungin ke plastik ini aja Kak!” kataku kepada mbak kasir.
Supaya Novi nggak perlu bayar Rp 200. Ternyata uang Rp 200 itu terasa berharga
banget di saat-saat begini. Uang yang seharusnya utuh Rp 1000, tapi karena
dipecah akhirnya jadi pecarah Rp 800. Huhuuu…
“Mbak, Mbak.. boleh minta waktunya sebentar? Saya mau
menawarkan Mbaknya buat ikut berdonasi dalam kegiatan sosial yang kami adakan.
Bisa Mbak?” tanya laki-laki itu, di dekat parkiran motor.
“Emm…tapi kami mau sholat dulu niiih!” kataku.
“Oh kalau gitu sebentar saja ya Mbak, beri saya 5 menit saja
untuk menjelaskannya. Jadi begini…”
Ia menjelaskan tentang donasi untuk Rumah Baca Pelangi
dengan harga Rp 100.000 dan kami akan mendapatkan banyak banget vocher diskon untuk
ditukarkan di bermacam tempat; termasuk hotel, café, rumah makan dan spa.
“Gimana Mbak?”
“Emmm…kayaknya belum sekarang deh Bang,” kataku. Novi
mengiyakan.
“Wahhh… nggak bisa ya Mbak? Sayang sekali. Emmm…boleh iuran
berdua juga Mbak, fifti-fifti,” bujuknya lagi.
Tapi kami tetap menolak. Ia pun mengakhiri penjelasannya
dengan tersenyum. Aku akui, cara berbicaranya luar biasa banget. Ruh seorang
sales sudah terbentuk dalam dirinya.
“Novi agak kurang ngerti juga dengan sistem donasinya tadi
tu Cek,” kata Novi sembari kami menuju tempat berwudhu.
Setelah berwudhu, aku tiba-tiba tersadar…
“Dek… sebenarnya, vocher tadi kan cuma feed back dari mereka. Mereka hanya ingin memberikan kita hadiah atas
sedekah kita sehingga kita juga mendapatkan sesuatu dari sedekah kita itu. Tapi
Dek, nyadar nggak sih…sebenarnya ada atau tidaknya vocher-vocher tadi, bukankah
sedekah harusnya tetaplah sebuah sedekah? Tulus dan ikhlas. Kok kita malah
memusingkan vocher-vocher tadi ya Dek?” kataku dengan raut penyesalan.
“Lah… iya yaaa Cekkkkk. Duh, Abang tadi masih ada nggak ya?”
Novi pun baru tersadar.
“Nanti setelah sholat, kita coba temui lagi Abang itu. Kalau
dia masih ada, berarti uang kita memang sudah waktunya disedekahkan Cek.”
Usai sholat, kami bergegas ke parkiran. Nah, itu dia
orangnya! Dia sedang ngobrol dengan teman-temannya yang sepertinya baru selesai
mencari donator juga. Aku mengeluarkan motor, sementara Novi mendekati mereka. Senang
sekali bisa berbagi dan semoga sedekah itu bermanfaat bagi adik-adik di Rumah
Baca Pelangi. Aamiin..
***
“Lah! Ngapa kita
nggak langsung nukar salah satu vocher ini aja Cek? Lumayan nih, ada menu
makannya juga,” kata Novi.
“Iyaa juga yaaa. Nggak ingat pula Kakak, Dek. Emmm… yang
terdekat dari Soekarno Hatta ada Cek?”
“Nggak ada Cek. Ini letaknya di jalan Diponegoro Cek.”
“Ya udah..kapan-kapan aja kita tukarkan. Oh ya, Dek pernah
kefikiran nggak untuk nginap di hotel? Menghabiskan waktu sehari semalam untuk
memanjakan diri di sana, layaknya orang penting yang sedang menginap sambil
menunggu jadwal selanjutnya. Sihiyyyy.”
“Emmm..nggak pernah kefikiran Cek.”
“Kakak dulu pernah punya rencana dengan Kak Rini, tapi
sampai sekarang belum kesampaian juga, hehe.”
“Yah, sayangnya hotel-hotel di Vocher ini adalah hotel Grand
Zuri di Duri Ceek,” jelas Novi.
“Masa iya Dekk? Huahhh…ya udah, kasihkan sama orang Duri
aja, hehe.”
Karena kami bingung menentukan
akan makan siang di mana, akhirnya motor ini membawa kami terus melaju dan
ujung-ujungnya ke Sambal Lesung juga, hehe. Kami sama-sama memesan Ayam
Rica-rica. Aku memesan Es Teh Galon (baca: Jumbo) karena terik matahari
benar-benar menyengat kulit. Novi mengaku tenggorokannya sakit dan ku anjurkan
untuk meminum Jeruk Peras Hangat. Sebenarnya pukul 13.00wib tadi ada rapat
internal URC. Tapi ini sudah pukul 14.00wib dan aku sudah kelelahan. Akhirnya
aku memohon izin kepada bang Dade.
“Cek, Novi pengeeeen kali bisa
kayak Cek,” kata Novi.
“Kayak Kakak? Sifat Kakak yang
mana satu nih Dek, maksudnya?” tanyaku. *Sedikit agak ke-geeran di hati, ehhee.
“Pengen punya naluri ‘mengajak’
orang lain. Novi belum bisa kayak gitu.”
“Emmm… waktu akan mengajarimu
Dek. Mungkin sekarang, Adek masih berusaha mencontoh orang lain, nanti ada
masanya hati Adek akan terketuk sendiri untuk melakukannya. Insya Allah.
Bububuyuuu.”
“Amiin. Cek, ikutlah Peksiminas
besok haa! Bang Yudi udah tamat. Paling nanti Heldi lagi yang ikut lomba nulis
cerpen. Cek ikutlaaah!” ajak Novi.
“Kakak kan udah selesai juga
Dekk.”
“Tapi Kakak kan belum wisuda.
Kemarin, ada juga yang sedang nunggu wisuda kayak Kakka. Boleh kok!”
“Lah? Adek mau ikut lagi?
Bukannya dulu udah sampai nasional? Kok ikutan lagi?”
“Tapi kan kemarin belum menang,
Cekkk. Novi pengen menang.”
“Hemmm…kayaknya Kakak belum
pernah deh ngikutin perlombaan yang sama berkali-kali kayak Adek, kecuali
MAWAPRES. Karena bagi Kakak, MAWAPRES itu berbeda. Nah, selain itu, rasanya
nggak pernah. Kakak lebih suka mencoba lomba di tempat lain, jadi bervariasi
deh!”
“Hemmm…kalau Novi suka kali Cek.”
Kami sudah selesai makan siang
dan aku ditraktir ternyata oleh Novi. Makasih Dekkkk.. ^_^ Tadi bensin pun
ditraktirnya. Huahhhh, pas mau ku bayar, dia malah nggak mau. Ya udah deh, kalau Adek maksa! Kakak terima
deh. Hehe.
***
Aku membantu Novi meng-utuhkan
ide KTI dan calon bukunya. Setelah sekian lama berdiskusi kian kemari, akhirnya
kami kembali ke ide pertama; melanjutkan ide KTInya Novi dalam pemilihan
MAWAPRES tahun lalu. Ia akan membuat buku kali ini. Buku Demonstrasi sederhana
tentang Fisika dan aku mengusulkan judul; Physic
I'm in Love, supaya buku itu terkesan renyah dan gurih. Novi langsung menyetujuinya. Alhamdulillah, senang sekali bisa
membuatnya lega seperti ini. Kerangka buku dan KTInya sudah clear!
“Makasiiih Cekkk…. Huahhhh… lega kali rasanyaaa Novi haaa.
Buku panduannya pun udah ada, jadi Novi udah bisa ngangsur ngetik nih!”
“Alhamdulillah ya Allah, bububuyuuuu..”
Berada di samping Novi, rasanya mirip sekali seperti berada
di samping Lia dan Yana; Membuatku susah banget nge-rem mulut buat nggak
ngoceh, menceritakan apa saja padanya. Sore ini sebenarnya aku ada janji dengan
Yudi untuk memberinya hadiah wisuda yang belum juga ku berikan sejak kemarin.
Akhirnya, aku baru menyerahkannya sepulangnya dari kosan Novi, selepas maghrib.
Yudi menjemput hadiah ini ke kosku.
“Jangan dibuka sebelum sampai di kosmu pokoknya! Hehe. Emmm…
jangan dilihat dari ukurannya ya. Tapi lihatlah dari isi dan manfaatnya. Insya
Allah itu akan bermanfaat untuk dunia dan akhiratmu. Bingung loh milihnya tuuu.
Hahaa.”
“Apa ini memangnya? Surat Yasin ya? hehhee.”
“Haaa…iyaaa..betul sekaliiii, hehee.”
“Makasih yaa. Aku langsung pulang nih!”
“Yuhuuu.. Puisinya nyusul aja yaaa. Hemat kertas, biar go
green!”
“Halaahhh, alasan aja!” kata Yudi sambil berlalu dan tertawa
renyah.
***
Sebenarnya, tanganku sudah sangat gatal; Ingin sekali menuliskan semua kisah hari ini. Tapi, hati masih enggan bersentuhan dengan huruf-huruf keyboard itu. Jemari ini bagai kehilangan nyawanya; Cinta. Sebab, cintaku belum sembuh dari sesuatu yang baru menggoresnya. Suntuk! Benar-benar suntuk sebenarnya, kalau boleh jujur. Tapi, aku tetap berkeras hati untuk mengalihkannya pada hal lain. "Ah, nonton aja deh!" ujarku, mencoba membelokkan perhatian...
*Tulisan ini diselesaikan pada tanggal 11 Februari 2016, pukul 18.25wib.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar