Kamis, 30 April 2015

Donor Darah: Menyehatkanmu, Menyelamatkannya

Tiba-tiba aku terjaga dengan ringannya di pukul 05.15wib (kayaknya sih jam segitu). Ketika masuk toilet dan ternyata lampu udah menyala, aku menduga Rini pasti sholat tahajud tadi (tapi kok nggak bangunin aku yak? Atau dia udah berusaha tapi akunya masih keok?). Aku bertambah yakin ketika melihat power bank udah tercabut dari colokan dan berpindah ke atas tempat tidur.
"Rin, bangun. Subuuuhhh," bujukku. Tumben memang, aku bangun sepagi ini dan tanpa dibangunkan. Mungkin, hatiku sedang 'hidup'.
"Rin, woooyy, subuhhh loh. Sekali-kali kita sholat diawal waktu lah, jangan kesiangan terus," bujukku setelah sholat Fajar dan mulai membuka lembaran Al-Quran. Kaki Rini bergerak-gerak, aku tahu dia sudah terjaga, hanya raganya saja yang belum siaga.
"Rin, ayoook loh sholat," bujukku lagi ketika sudah sehalaman ku baca.
"Riiiin! Buruanlah Rin," bujukku yang terakhir.

Aku kembali kepada niat 'ingin sholat diawal waktu', akhirnya aku sholat duluan. Rasanya, selama 3 tahun kami sekamar, inilah yang pertama kalinya aku meninggalkannya sholat dengan sengaja. Jujur, agak gimana gitu rasanya. Tapi, langit pun mulai menyingkirkan gulita sementara aku takut didahului cericit burung gereja. Maka, maafkan aku Rin kali ini meninggalkanmu. Aku ingat semua kesabaranmu kok dalam membangunkan dan menungguiku selama ini, bener-bener ingat. Dan, aku men-terimakasihi dia untuk semua kesabarannya itu. Tapi, sebenarnya ini bukan tentang aku yang egois dan Rini yang super sabar, ini tentang ketepatan waktu memenuhi panggilan-Nya. Maka, setelah berbagai pertanyaan dan pernyataan seputar hal tersebut muncul, aku berkata di dalam hati: "Oke Rin, lain kali kalau aku lambat dan malas-malasan sholat, duluan aja sholatnya. Aku juga akan sholat duluan kalau Rini males-malesan. Kecuali, kalau minta tunggu karena suatu alasan, barulah kita saling menunggu."

Mei Ber-Kemarau Dimulanya

Aku masih ingat dongeng celotehku tentang kewajibanku yang lalu-dulu. Tidakkah aku tak mengapa jika pun tak menampakkan raga? Demikian pernah ku tanya kepada sendiri. Benar kiranya bahwa segala tindak akan menanduki penindaknya. Benar pula kata-kata mami bahwa karma tak lagi berjalan, tapi kini berlarian sesuka-semaunya. Aku mendapati diriku kini dalam duluku. Di tempat baru ini, aku menjawab sendiri segala tanyaku yang dulu, bahka termasuk yang telah terlupa. Aku berhenti! Tidak ingin ter-karma selain di sini.
Mei sedang menjenguk April, 2015

Inspirasi: Menciptakan Trend

Aku pernah membaca koran on-line tentang kak Vivien dan aku sangat ingat apa yang tertulis di sana.
Kenapa orang-orang berbondong-bondong datang ke mall? Karena sudah terbentuk trend bahwa ke mall itu keren dan ketika orang beramai-ramai ke mall. Akhirnya menjadi trend dan orang banyak memilih ke sana untuk berlibur. Nah, jadi tugas kita adalah menciptakan trend agar orang-orang ramai berkunjung ke tempat pariwisata alam di Riau.

Kurang lebih begitulah kalimatnya, intinya adlaah tentang menciptakan TREND.
Hari ini, ketika aku donor darah, aku baru menyadari bahwa mendonorkan darah belum menjadi trend (terutama di kalangan mhs UR). Terbukti sejak pagi bus PMI udah mangkal di BEM FKIP UR sampai jam 12.00wib, tapi yang datang dan mendonorkan darahnya nggak sampai 30 orang.

Maka, tugas kita (untung aja tadi aku udah donor) adalah menciptakan TREND bahwa mendonorkan darah itu keren, menyehatkan, membuat tubuh lebih ringan dan jauh dari penyakit-penyakit berbahaya. Bismillah! *nggak salah deh tadi aku udah donorin darah, jadi ide ini bukan sekedar imajiner belaka. hehe. Tentu butuh waktu dan itu nggak sebentar, tapi setidaknya langkah perubahan telah dimulai sejak diimpikan. *azekkkkkk
#Inspirasi dari kak Vivie