Senin, 13 Juli 2015

Tak Sempat

Tiada marah dalam setiap jumpa yang terlambat
Hadirku selalu sesaat
Banyak alasan tak sempat
Kalau bisa, ingin ku menyempat
Tapi selalu tak tepat

Juli yang tak tepat tempat, 2015

Inspirasi: Pengabulan Doa=Pengabulan Syurga

“Mi, Alhamdulillah. Akhirnya El selesai juga puasa tahun ini tanpa bolong 1 pun.”
“Belum tahu leehhh. Iko belum buka, siapo tahu nanti sore tiba-tiba batal.”
“Heemmm. Tapi kayaknya nggak deh Mi. Tahun ini adalah tahun keajaiban buat El. aamiin. Mi, kalau memang El terkabul bisa puasa sebulan penuh, berarti doa El sebelum mulai puasa itu benar-benar dikabulkan oleh Allah. El berfikir, jangan-jangan pengabulan doa itu mirip dengan perestuan Allah kepada kita untuk masuk Syurga. Kita kan disuruh berbuat baik sebanyak-banyaknya karena kita nggak tahu ibadah yang mana yang akan menyebabkan kita masuk syurga. Begitupun dengan doa, berdoalah sebanyak-banyaknya karena kita nggak tahu doa kita yang mana yang akan dikabulkaan oleh Allah segera. Bener kan Mi?”
Sebelum Ashar, kami sudah selesai masak sambel teri+tempe+kacang dan semur daging kambing. Nanti sore tinggal menyiapkan es teh dan beli gorengan aja buat buka puasa. Yeyeye.

Ramadhan ke-26; Home Sweet Home

Aku terbangung sebelum alarmku berdering, karena suara gaduh. Lagi-lagi, abang dan kakak kos berseteru dijam ini. Suaranya sampai mengusik siapapun yang sedang terlelap di rumah ungu ini.
Setelah Tahajud, aku mendadar 1 butir telur yang sengaja ku beli setelah sholat Tarawih.
Selamat sahur terakhir di Pekanbaru ya Mak.
Teguh nggak tahu kalau aku berencana untuk pulang hari selasa. Tapi, SMSnya barusan seolah punya ‘energi’ dan membuatku bertanya kembali, “Benarkah aku memilih pulang hari selasa? Atau jangan-jangan doa Teguh ini akan menjadi kenyataan?”
Setelah telur dadar matang, aku meniriskannya ke dalam piring. Untung aja sebelum tidur, aku nggak lupa memasak nasi. Hemmm, kalau sempat lupa, syudahlah pemirsaaa!
“Yuhuu Mi?” mami menelvonku. Seperti biasa, ia ingin memastikan aku sudah bangun.
“Udah bangun?”
“Udah. La jadi Mi?”
“Makan pake apa?”
“Pake telur dadar aja Mi. La jadi?”
“Ya udah, makanlah. Yupp. Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam..”
Aku menyuap makanan ke dalam mulut dengan fikiran terpusat kepada keributan yang belum juga mereda di depan. Aku tebak, di teras TKPnya. Permasalahan apa gerangan yang menyulut keributan itu lagi ya kira-kira? Aku ingin sekali melerai atau menasehati kak Dewi. Tapi, how could? Dia nggak pernah cerita sama aku? Aku juga belum berkeluarga dan masih cocok kalau disebut anak ingusan. How how how? Tapi, kalau diam aja pun rasanya aku nggak bisa. Untung aja Fajri dan Ami tidurnya sangat lelap sehingga mereka tidak mendengar apa yang memang tidak pantas didengar ini.
Reni, di kamarnya mungkin sekarang pun sudah terjaga lantaran keributan ini.