Sabtu, 31 Oktober 2015

Buku Riwayat Asap oleh para penulis FLP Riau



Judul Tulisan : Bumi Panggan (Puisi), Kehilangan yang Sebenar Kehilangan (Cerpen)
Penerbit : Soega Publishing
Waktu : 31 Oktober 2015
Tebal buku : 200 halaman
Harga Buku : Rp 40.000

Tentang Pencapaian :
Penggarapan buku ini melibatkan para sastrawan Riau untuk menyumbangkan tulisan dan kata sambutanya. Buku ini merupakan aksi protes terhadap bencana kabut asap yang telah menimpa Riau, Palembang, Jambi dan Kalimantan selama kurang lebih 3 bulan. FLP mengajarkan kami untuk menyuarakan pendapat lewat tradisi intelektual yang satu ini. Maka, akhirnya hadirlah buku ini di hadapan para penikmat sastra. Selamat menikmati!
 Launching buku seperti ini mengingatkanku kembali pada momen launching buku Tentang Januari pada bulan Maret lalu. Ya Allah… aku ingin sekali melaunching buku-ku lagi di tempat yang WAH dan ditonton oleh banyak orang yang rela berdesakan mengantri demi mendapatkan bangku untuk menontonku. Aku juga tak sabar melihat judul bukuku terpajang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Aku tak sabar atas karyaku yang WAH itu. Bantu aku ya Allah. Aamiin.

____Kamu adalah apa yang kamu TULIS. (Truly Elysa)

Nasehat: Bukankah Penulis itu seharusnya Menulis?

Bang Wira pernah nanyain hal ini untuk memancing passionku; “Apa yang membuat Elis merasa hampa kalau nggak melakukannya dalam sehariiii aja?” aku jawab; MENULIS. Lalu, beliau bertanya lagi; “Pekerjaan apa yang ketika Elis melakukannya, Elis sampai lupa waktu, lupa makan bahkan nggak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekitar?” aku jawab lagil MENULIS. Lalu, sekarang giliran aku mempertanyakan diriku sendiril “Kalau sudah faham bahwa MENULIS adalah passionmu, kok kamu masih juga sering abai dan lalai sih El? Bukannya kerjanya seorang PENULIS itu MENULIS?”

Sesempurna cinta seorang hamba

Senyum tak terelakkan saat hati mengenang cinta di masa depan
Cinta yang menggenapi
Menyempurnakan
Menentramkan
Melambung tinggi khayal tentang sosok penuh cinta
Menyinta dengan sempurna
Sesempurna cinta hamba
Tak terhalang apa-apa
Bebas memilih seperti apa sosok idaman
Selagi diri terus berbenah

Oktober akhir, 2015

Aku Seperti ini Karena Kamu Seperti itu



Kuncinya hanya KESUNGUHAN.
Man Jadda Wa jadaa
Belajar menulis KTI itu ku akui memang sangat membosankan. Bagaimana tidak? Kita dituntut untuk kreatif menggagas ide solutif atas permasalahan yang ada. Itu sih kalau ingin menjadi juara. Kalau hanya ingin menulis KTI ala kadarnya juga monggo. Tuliskanlah tentang idemu yang masih ngambang dan nggak jelas apakah bisa dilaksanakan atau tidak. Itu terserah padamu. Yang sekarang kembali dipertanyakan itu adalah niatmu; 'Benarkan ingin bisa menulis KTI?' Karena memang sangat sedikit mereka yang bertahan dalam bidang yang satu ini. So, kalau kamu ingin menjuarai KTI tingkat nasional, seriuslah, fokuslah, bertahanlah! Karena aku nggak bisa menjanjikan apapun kecuali PROSES PANJANG.