MENULIS adalah AKU; caraku beristirahat, caraku memaafkan, caraku mencintai dan caraku hidup abadi.
Senin, 04 Mei 2015
Didekap Senja
Lokasi:
Morocco
Al-Afif Muzakkir (Top Ten MAWAPRES UR 2015)
Saya
mengenal seorang kak elysa itu seperti udah kenal lama, padahal baru
kemaren aja kenalnya. Orangnya unique,supel, ramah, bersahaja, yg bikin
geleger, beliau berprestasi. Bagi saya kak elysa sang
inspirator, beliau selalu memberikan motivasi yang membangun. Buat kak
elysa; sihiiiiyyyy, heheh. (Thursday, May 16th 2015)Sambutanku :
Sama halnya seperti dek Afif, aku juga baru mengenalnyalewat MAWAPRES tapi seolah sudah mengenalnya sejak sebelum itu. Pembawaanya yang slow but sure itu mencitrakan sosoknya yang ke-bapak-an, dewasa dan bersahaya. Dek Teguh pun sellau memujimu, nah mungkin itulah yang membuat kakak seolah sudah mengenalmu sejak lama. Silahkan berteman dengan Afif di FB: https://www.facebook.com/al.a.muzakir?fref=ufi
Lokasi:
Fawn Creek, KS, USA
Maharku Untukmu
Bisa bangun lebih siang karena sedang cuti sholat, hehe. Jam 06.00wib, tapi ketiduran lagi sampai jam 06.30wib *lumayanlah. Aktivitas pagiku masih seperti biasa; NULIS. Kebetulan, cerita semalam baru separuh yang sanggup ku tulis. Pagi ini, aku menggenapinya. Setelah selesai, ku copi alamat blognya dan ku inbox-kan ke Tian. Semoga dia suka, hehe. Agak konyol emang ceritanya.
"Maaf ya, Cin aku cuekin soalnya belum selesai nih postingannya tentang cerita semalam," kataku kepada Lia yang sedang merapikan tempat tidur.
"Okeeyy, ndak apa-apa. Aku juga sibuk nih, hehe."
Susu yang sejak tadi dibuatkan oleh Lia sudah dingin ketika ku minum. *Kelamaan sih minumnya. Bicara tentang susu, jadi teringat dengan bu Mimin yang selalu membuatkanku susu cokelat sebelum aku pulang ke rumah. Beliau selalu memintaku tidur di rumahnya selama om Giman mandah (baca: kerja untuk waktu yang lama). Sampai sekarang aku masih dekat dengan keluarganya. Hampir setiap pulang ke rumah, aku selalu menyempatkan diri untuk main ke rumahnya yang hanya berjarak 500m dari rumahku. Ada dek Noval dan Fatoni yang menjadi pelengkap keluarganya kini. *Kalau El kapan punya anak? huaahhh, skripsi aja belum dikerjain, hihii
"Maaf ya, Cin aku cuekin soalnya belum selesai nih postingannya tentang cerita semalam," kataku kepada Lia yang sedang merapikan tempat tidur.
"Okeeyy, ndak apa-apa. Aku juga sibuk nih, hehe."
Susu yang sejak tadi dibuatkan oleh Lia sudah dingin ketika ku minum. *Kelamaan sih minumnya. Bicara tentang susu, jadi teringat dengan bu Mimin yang selalu membuatkanku susu cokelat sebelum aku pulang ke rumah. Beliau selalu memintaku tidur di rumahnya selama om Giman mandah (baca: kerja untuk waktu yang lama). Sampai sekarang aku masih dekat dengan keluarganya. Hampir setiap pulang ke rumah, aku selalu menyempatkan diri untuk main ke rumahnya yang hanya berjarak 500m dari rumahku. Ada dek Noval dan Fatoni yang menjadi pelengkap keluarganya kini. *Kalau El kapan punya anak? huaahhh, skripsi aja belum dikerjain, hihii
IDE: Oppourtunity Cost
Ketika ada orang yang rela meluangkan waktunya untuk bersamaku (mendengar ceritaku atau sekedar menghabiskan waktu bersama), aku sering memikirkan hal ini:
Waktu 1 jamnya bersamaku mungkin akan dihabiskannya untuk hal lain yang menjadi prioritasnya. Tapi, saat ini dia bersamaku dan tidak menghiraukan prioritasnya itu. Waktunya jadi milikku saat ini. Terimakasih karena telah bersedia ku curi waktu berhargamu itu.
Dalam ilmu Ekonomi, hal ini disebut dengan Oppoutunity Cost atau Piaya Peluang. Artinya adalah mengorbankan sesuatu yang kita lakukan jika tidak melakukan hal lain, tapi kita mengorbankannya untuk hal lain itu. *halaahh, kok ribet gini yak penjelasannya? Gini deh, aku umpamain aja dengan diriku sendiri ya... Seandainya aku nggak ngobrol dengan si A, aku bisa menulis cerpen sebanyak 4 halaman dalam waktu 1 jam. Tapi, karena aku memilih untuk mengobrol dengan si A selama 1 jam, maka 4 halaman cerpen tadi raib. Gitu, ngerti ya?
Aku hanya berkesimpulan sendiri seperti ini:
Makanya, kita harus menghargai orang lain yang meluangkan waktunya untuk kita. Karena, kita nggak tahu seberapa besar 'nilai' waktu yang ia korbankan demi kita.
Makanya, kalau ada janji ya usahakan tepat waktu (ini nih, yang aku masih agak sulit hehe), karena waktu menunggunya juga harus kita perhitungkan dan kita hargai.
Waktu 1 jamnya bersamaku mungkin akan dihabiskannya untuk hal lain yang menjadi prioritasnya. Tapi, saat ini dia bersamaku dan tidak menghiraukan prioritasnya itu. Waktunya jadi milikku saat ini. Terimakasih karena telah bersedia ku curi waktu berhargamu itu.
Dalam ilmu Ekonomi, hal ini disebut dengan Oppoutunity Cost atau Piaya Peluang. Artinya adalah mengorbankan sesuatu yang kita lakukan jika tidak melakukan hal lain, tapi kita mengorbankannya untuk hal lain itu. *halaahh, kok ribet gini yak penjelasannya? Gini deh, aku umpamain aja dengan diriku sendiri ya... Seandainya aku nggak ngobrol dengan si A, aku bisa menulis cerpen sebanyak 4 halaman dalam waktu 1 jam. Tapi, karena aku memilih untuk mengobrol dengan si A selama 1 jam, maka 4 halaman cerpen tadi raib. Gitu, ngerti ya?
Aku hanya berkesimpulan sendiri seperti ini:
Makanya, kita harus menghargai orang lain yang meluangkan waktunya untuk kita. Karena, kita nggak tahu seberapa besar 'nilai' waktu yang ia korbankan demi kita.
Makanya, kalau ada janji ya usahakan tepat waktu (ini nih, yang aku masih agak sulit hehe), karena waktu menunggunya juga harus kita perhitungkan dan kita hargai.
Langganan:
Postingan (Atom)
