Senin, 04 Mei 2015

Maharku Untukmu

Bisa bangun lebih siang karena sedang cuti sholat, hehe. Jam 06.00wib, tapi ketiduran lagi sampai jam 06.30wib *lumayanlah. Aktivitas pagiku masih seperti biasa; NULIS. Kebetulan, cerita semalam baru separuh yang sanggup ku tulis. Pagi ini, aku menggenapinya. Setelah selesai, ku copi alamat blognya dan ku inbox-kan ke Tian. Semoga dia suka, hehe. Agak konyol emang ceritanya.
"Maaf ya, Cin aku cuekin soalnya belum selesai nih postingannya tentang cerita semalam," kataku kepada Lia yang sedang merapikan tempat tidur.
"Okeeyy, ndak apa-apa. Aku juga sibuk nih, hehe."

Susu yang sejak tadi dibuatkan oleh Lia sudah dingin ketika ku minum. *Kelamaan sih minumnya. Bicara tentang susu, jadi teringat dengan bu Mimin yang selalu membuatkanku susu cokelat sebelum aku pulang ke rumah. Beliau selalu memintaku tidur di rumahnya selama om Giman mandah (baca: kerja untuk waktu yang lama). Sampai sekarang aku masih dekat dengan keluarganya. Hampir setiap pulang ke rumah, aku selalu menyempatkan diri untuk main ke rumahnya yang hanya berjarak 500m dari rumahku. Ada dek Noval dan Fatoni yang menjadi pelengkap keluarganya kini. *Kalau El kapan punya anak? huaahhh, skripsi aja belum dikerjain, hihii


Karena sedang tidak ingin sarapan, aku hanya ngambil 1 dari 2 potong Ayam Pop dari atas piring berisi nasi. Sambil baca buku, aku ngunyah ayamnya. *tenang aja, hari ini aku nggak akan ngambil jatah sarapan Lia kok! hehe
"Cin, gile ya sambutan-sambutan untuk bukunya bang Asad ini. Ada Asmirandah dan Acha juga di sini. Aku sih menyimpulkan bahwa pergaulannya memang pergaulan dengan orang-orang luar biasa. Benar kata kak Oki, kalau mau tenar dan melejit kita harus berani hijrah ya, Cin? Ya, salah satunya ke Jakarta sebagai centra ketenaran, hehe."
"Iya, bener banget tuh, Cin! Jadi nggak sabar nyusul bang Adit. Nekat merantau sambil menunggu beasiswa LPDPnya di Jakarta."
"Cin! Buku-buku biografi kayak kak Oki dan bang Asad ini dan mungkin yang pernah juga mu baca, selalu aja bercerita tentang sosok mereka yang sejak dulunya udah luar biasa. Ya kan? Perhatiin nggak? Setidaknya sejak kecil udah kelihatan bakat mereka untuk menjadi orang sukses. Mungkin belum pernah aku baca biografi orang yang dulunya sangat biasa saja, tapi karena mengalami 'sesuatu' akhirnya dia perlahan berubah dan menjadi 'sesatu'."
"Iyaa yaa..." gumam Lia, panjang.
"Insya Allah aku yang akan menuliskannya Cin. Doakan yak?"
"Aaamiin. Eh, tapi bukannya mu sejak SD udah dapat juara 1 ya?"
"Juara 1 itu bukan apa-apa lagi Cin ketika kamu udah ke luar ke tempat yang baru. Di sana kita baru menyadari bahwa istilah katak dalam tempurung itu memang nyata adanya."
"Loh? Katamu biasa, kata orang lain itu luar biasa, Cin."
"Ntahlah ya. Tapi yang jelas, aku sejak SD sampai SMP ya di desa sekolahnya. Barulah ketika SMA pindah ke kota Bagan dan langsung merosot ke rangking ke-9 dari 32 siswa, hiksss. Nah, tapi dalam bukuku itu nantinya akan ku ceritakan prosesku merubah karakterku, Cin. Karena sebenarnya, itulah hal tersulitnya."
"Maksudnya?"


"Dulu, sewaktu baru masuk kuliah, aku ingat banget bang Hendra jadi MC diacara penyambutan mahasiswa FKIP. Ketika Bang Hendra nanya, siapa yang berani ke depan dan akan dapat hadiah bagi yang berani, orang-orang mulai berebut untuk maju. Aku? Masih berkutat dengan diriku sendiri; maju nggak ya? maju nggak ya? Ah, nanti kalau maju dan ternyata bikin malu gimana?. Begitulah yang ku fikirkan, Cin. Kegagalan terbesar dalam hidup kita biasanya ya diakibatkan oleh karakter kita sendiri. Di kelas juga gitu, untuk mengangkat tangan aja rasanya beraaaaat banget. Makanya, sampai sekarang, aku sangat takjub dengan mereka yang bisa dengan mudahnya maju ke depan, bertanya di depan banyak orang, mampu berbicara dengan lancar, tanpa ragu atau malu. Aku melatih diriku untuk berani ya salah satunya dari seminar-seminar yang ku ikutin, Cin. Buanyak banget aku dapat doorprise waktu semester 1 dan 2 dulu, ya karena iming-iming doorprise. Itulah pemancingnya, kalau nggak gitu tanganku berat banget buat diangkat.  Aku fikir, setidaknya ada yang diperjuangkan, meskipun yang terbaik itu adalah berbuat tanpa memikirkan hadiah. Yah, namanya aja sedang latihan untuk berani."

"Lucu pula ya? Kayaknya sekarang pemberani gini karena emang udah pede dari dulu. Ternyata, ada cerita di balik peristiwa, hehe" jawab Lia.
"Itulah masa-masa setahun awal, Cin yang sangat berat. Beratnya ya karena melawan karakterku tadi; pemalu, minder, pesimis, takut salah, takut diketawain. Perlahan-lahan ku kikis dari proses belajar di kelas juga. Belajar berani bertanya, walaupun mungkin pertanyaannya sepele, yang terpenting adalah berani bicara dulu. hehe. Makanya, waktu naik ke semester 3 dulu rasanya aku belum siap (punya adek kelas), karena masih pengen disambut, pengen diperhatiin sama kakak-kakak itu. Bener kata kak Resi, Cin, pada akhirnya kita akan hidup bersama karakter kita, bukan dengan kecerdasan kita."

Sebelum menuju ke Panam, aku meminta tolong kepada Lia untuk mampir dulu ke PMI. Aaku mengamati ada yang aneh dengan cara parkir mobil-mobil di jalan di depan bangunan PMI ini.
"Parkir kok di tengah jalan sih nih mobil?", tanyaku kepada Lia. Lia hanya menjawab bahwa mungkin begitu peraturannya apalagi jalannya memang udah mentok sampai di sini. *sayangnya nggak kefikiran buat nangkap momen tadi hiksss. Alhamdulillah, petugas memberi tahuku bahwa kondisi darah yang ku donorkan Rabu lalu hasilnya negatif HIV, Hepatitis B, Hepatitis C dan Sipilis. Alhamdulillah y Allah.

Langsung deh, ke Panam dan aku minta dimampirkan di BEM FKIP oleh Lia dan dia cabut ke DPM. Pulang ke rumah pun nggak ada orang karena Rincuy pasti sedang memantau pemira di FISIP yang harus di ulang lagi sejak hari Kamis lalu. Di BEM, kebetulan ada Obi. Dia mau konsultasi tentang tema KTI yang diadakan oleh BEM FKIP ini, yang rencanya akan diikutinya. *alhamdulillah, senang rasanya kalau ilmuku bisa berguna untuk orang lain.
"...nah, kalau yang tema Akulturasi pendidikan dan kebuyaan di dalam pembelajaran ini contohnya kayak KTIku kemarin yang ke Yogya. Aku memodifikasi permainan Lu-lu Cina Buta dengan mengganti lagunya menjadi 3 pola gerak tari Rentak Bulian. Obi tahu kan lagunya Lu-lu Cina Buta itu nggak mendidik? (Obi mengangguk). Nah, begitulah contohnya. Coba nanti Obi dan tim cari lagi metode yang lebih kreatif, kalau memang mau mengangkat tentang tema yang itu."

Tak lama setelah Obi pergi, giliran Okta yang datang. Mulailah dia merengek-rengek minta dibuatkan blog dan aku mengabulkannya. Permintaannya aneh, masa latar blognya dimintanya pakai animasi kartun Ben 10, huaaahh, udah ku sarankan untuk pakai yang simple aja tapi dianya nggak mau. Ya udah, deh! *aku mah nurutin maunya pelanggan aja ciin, heehe. Romi ikutan nimbrung dan bilang;
"Pasti nanti kalau postingan di blognya udah banyak, dikumpulkan dan dibukukan kan, Mbak? Kayak Raditya Dika," tebak Romi, sok tahu.
"Oh, kalau yang itu rahasia eke donk, ciin. hehe. Eh, bukan dibukukan Cek, tapi untuk dijadikan mahar (sambil mengedip-ngedipkan mata kecentilan), seperangkat postingan blog. Keren kan?" kataku. Romi mengernyitkan dahi.
Maharku untukmuuuu.... bla bla bla
Romcek mulai bernyanyi ria dan aku mendadak dapat ide;
"Aha! Judulnya Maharku Untukmu aja nih," kataku.
"Judul apa Mbak?," nyanyian Romi terhenti.
"Judul postingan Blog Mbak hari ini donk, Ceeek...."

***
"Aku merasa dia itu bukan diriku lagi loh sekarang. Mu ngerti kan maksudku?" tanya Okta kepada Joni. Aku ikutan nguping. Setiap kali Okta berjeda dalam ceritanya, aku menyambutnya dengan tertawa terbahak-bahak. Bukan ceritanya yang lucu, tapi yang membuatku tertawa adalah wajah Joni yang susah disebutkan (dibilang ganteng, ragu. Dibilang imut, ragu juga. Dibilang keren, apalagi, hehe). Belum pernah aku ketemu manusia-manusia seperti mereka sebelumnya.
"Heh, nggak pernah aku bisa bicara serius dengan si Elis ini doh!" kata Okta. Padahal dia pun ikut-ikutan tertawa juga nyooo, malah nyalahin eke.
"Kak! Kakak tahu nggak kak Vivien sekarang dimana?" lanjut Okta.
"Di Jakarta kan?" tanyaku.
"Di Dubaiiiiii loh Kaaaaaaak..."
"Seriusaaaaan, Dek? Ya Allah, luar biasaaaaaa."
"Okta lihat PMnya tadi; Alhamdulillah sudah mendarat di Bandara International Dubai, Kak. Kereeen kali kan? huaahhhhh."
Ya Allah, aku pengen juga ke Dubai. Kenapa ya Dubai selalu mampir di telingaku akhir-akhir ini? Mungkinkah aku juga akan ke sana? Ehmmmm...pengeeennnn.....
"Dek, ntah cuma perasaan Kakak aja atau bagaimana. Kakak merasa, dek *o*ihin itu kok sekarang nggak seramah dulu ya? Dulu, pertama kali Kakak kenal dengan dia waktu sama-sama ikutan LKTI di BEM FKIP EXPO. Ramaaahhhh banget dia, tiap jumpa sama Kakak pasti dia teriak-teriak; Kak Eliiiiiiiiisss, gitulah pokoknya. Sekarang nggak kayak gitu lagi. Kakak merasa dia nggak kenapa-napa sih, nggak ada masalah, tapi ramahnya berkurang, itu aja."
"Kami pun merasakan hal yang sama Kak."
"Dia banyak fikiran tuh, makanya gitu jadinya," sahut yang lainnya lagi.

Makan siangku kali ini diajakin Okta tapi digangguin Joni. Dia nyuri-nyuri Ayam Kecapku, katanya sih udah kenyang, tapi Ayam orang dirampoknya juga, hehe. Okta memesan Ayam Pop dengan nasi dan sayur dalam porsi besar. *Ya iyalah, namanya aja dia ngambil sendiri makanannya. Kok ibu itu ngizinin dia ya? Nggak takut rugi, bukk? *colek Okta. ehhe.

Gara-gara lihat Joni makan Es Krim Mamamia, aku dan Okta juga jadi ngiler. Akhirnya Okta juga memesan 2, untukku dan untuknya. *Padahal ngutang tuh es krimnya, hihi. Biarlah Okta aja yang jadi jaminannya. hehe. Setelah makan siang, kami cusss masuk lagi ke dalam BEM FKIP. Okta minta tolong convertkan file PDF yang baru di downloadnya dan berniat dia kumpulkan sebagai tugasnya *hiihhh, dek okta copas maniak. Aku sempet terlelap beberapa menit karena merasa suntuk karena laptopku dipakai oleh Okta. Joni juga ternyata ikutan lalok, tapi di sebalik lemari.

"Dek? Udah selesai tugasmu?" tanyaku setelah terjaga dan langsung sigap menghampiri latop.
 "Udah, Kak. Ini mau ngeprint lagi."
Eh, giliran dek Joni yang bangun, kebetulan BEM mulai ramai karena setelah Ashar akan ada rapat pengurus kabarnya. Barusan aja Novi cerita kepadaku.
"Kak, menurut Kakak apa yang harus Vovi benahi dari MAWAPRES kemarin?"
"Prestasi aja sih, Dek. Yang lainnya udah oke banget."
"Manalah HPku ini?!" Romi mondar-mandir nyariin HPnya sejak tadi siang. Pemirsa ada yang bisa nebak HPnya Romcek berada di mana sekarang? *sudah pasti dia sedang dikerjain oleh Okta dan Joni. Bahkan parahnya, mereka berniat ngerjain Romcek sampai besok. Semoga si Romcek nggak jantungan ya, wkwkwk. *wah, gawatnya lagi kalau sampai Romcek baca blog ini, ketahuanlah kita bah!

Azan Ashar berkumandang sudah, tapi Okta dan Joni belum juga beranjak dari membaca blogku keras-keras. Dengan map, sudah ku tepukkan ke mulut Okta, tapi tetap saja mereka cekikikan membaca cerita yang ku tulis tentang mereka. *walaupun sebel, aku mikir juga; ternyata blogku bermanfaat ya! Alhamdulillah.
"Kak, kita main yuk?"
"Kemana?" tanyaku.
"Naik bus way, keliling Pekanbaru pasti seru, Kak."
"Kalau naik bus way, bayar Dek. Naik bus UNRI ajalah biar gratis," usulku.
Akhirnya, dari sekian banyak rencana, kami memilih taman berkolam di depan Rektorat UR, tempatku dan teman-teman Januari launching kemarin. Tapi, kali ini kok banyak banget sampah ya? Hemmm, kebiasaan ini nih yang belum bisa dienyahkan dari masyarakat kita. Bahkan, ini di lingkungan kampus loh!

"Dek, lihatlah air mancur itu. Dia tetap aja memancar dengan indah, tak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Ada atau tidak ada yang memperhatikan kecantikannya, ia tetap begitu. Lalu Dek, perhatikanlah gelombang airnya, seolah-olah dia mendekat ke arah kita, kan?" tanyaku sok romantis.
"Gilo lamo-lamo dibuat si Elis ko," ejek Okta.
Aku sampai ke sini dengan berjalan kaki bersama Joni, sementara Okta naik motornya Joni dan beli gorengan yang kini kami santap bersama. Obrolan pun lama kelamaan berubah bertajuk cinta.
"Okta mau bertanya sama Kakak. Selama kuliah, udah berapa banyak sih cowok yang nembak Kakak?"
Aku tertegun. "Nggak ada, Dek! Nggak pernah ada, hehe. Nggak ada yang suka sama Kakak ternyata ya?, hehe."
"Nah, kalau gitu, kemungkinan mereka yang sudah faham bahwa Kakak nggak bisa diperlakukan begitu. Baguslah tuh, Kak! Nah, sekarang Okta mau nanya sama Kakak. Kalau teman Kakak ada yang pacaran, gimana cara Kakak menasehatinya?"
"Emm... paling Kakak bilang aja yang kayak tadi, bahwa pacaran itu (jadi atau tidaknya menikah) hanya merugikan kedua belah pihak. Oh iya iya! Kakak ingat prinsip yang satu ini yang udah Kakak pegang sejak SMP. Waktu itu, Kakak belum ngerti alasan syari kenapa pacaran itu nggak boleh. Tapi, Kakak nggak mau pacaran dengan alasan; Kakak nggak suka dengan gelar 'mantan'. Karena, nggak ada yang bisa menjamin hubungan Kakak akan sampai ke pernikahan. Kalau pun sampai, rasanya tetap banyak ruginya, Dek. Itu aja sih, paling-paling yang Kak sampaikan."
"Kalau Okta beda Kak. Suatu hari, *era pernah tanya ke Okta; Ta, aku cocok nggak sih dengan Abang itu?. Okta jawab aja; Cocok! Cocok banget bahkan. Berusahalah untuk dipertahankan sebaik-baiknya ya! gitulah kata Okta. Nah, menurut Kakak, Okta itu sedang melarang pacaran atau menyuruh pacaran?"
Aku berfikir keras sebelum menjawabnya.
"Menyuruh pacaran," jawab Joni.
"Iya, bener kata Joni," sahutku.
"Benar. Nah, suatu saat, *era datang lagi ke Okta dan cerita ini itu tentang hubungannya yang sering berantem, barulah Okta masuk ke topik. *era, Okta mau nanya nih, menurutmu pacaran itu gimana sih? Setelah dia ceritakan semuanya, Okta akan bilang; Cewek loh yang paling dirugikan dengan berpacaran. Sekarang, menurutmu lebih indah mana malam pertama 2 orang yang nggak pernah pacaran dengan 2 orang yang udah 7 tahun pacaran? Kita gunakan logika ajalah. Apalagi kalau ternyata yang melamarmu itu adalah dia yang selama ini diam-diam kamu sayangi. Gimana rasanya? Tentu lebih indah yang baru malam itu saling berdekatan, kan? Saat itu baru kita melihat wajahnya dari dekat dan mengelus halus wajahnya,"
"Issss Adek jorky.... Udah banyak tahu dia daahhh," selaku.
"Ih, Kakak nggak pernah baca buku yang kayak gitu ya emangnya? Okta ada buku yang judulnya Ya Allah, diakah jodohku?"
"Iya, aku juga punya yang judulnya Izinkan Aku Pacaran Setelah Menikah," sahut Joni.
"Kebalik itu Jon! Yang bener tuh Izinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran," balas Okta lagi.

"Ta, besok-besok kita sering-sering ke sini yuk? Aku suka memfoto matahari sore kayak gini," pinta Joni.

Aku diajak Joni untuk melewati jalan pintas, lewat belakang labor PMIPA. Tapi, tantangannya adalah kami harus melewati batu-batu petak yang meliuk menyeberangi kolam ber-air mancur ini. Batu ke-1 masih aman hingga batu ke-6. Tibalah di batu ke-7 yang tadi ku lihat bergoyang saat Joni melewatinya.
"Kak Elisssss, hati-hati yang itu! Agak goyang," kata Joni.
Bertambah sudahlah ketakutanku. Setelah berteriak berkali-kali tapi tidak juga jadi melangkah, 2 orang cewek mendahuluiku untuk melewati batu itu. *ah, kakak cemen banget sih! Mungkin begitulah kata mereka, hikssss. Akhirnya, aku berhasil melewati batu bergoyang itu dan ternyata di depanku ada lagi batu manggu-manggut. Huaahhh, Okta malah menertawaiku dari atas motor. hiksss, jahat! Berbalik ke belakang pun adalah pekerjaan bodoh, aku nggak punya pilihan lain selain melewatinya dengan cepat. Sebuah teriakan yang memekakkan telinga menandai langkahku yang telah berada di batu konsisten, setelah si batu mengangguk tadi. YES!!! Akhirnya....

"Adek langsung ke kos Kakak aja lewat sini kita!"
"Emang iya, Kak. Tadi kan Okta udah ku suruh langsung ke kos Kakak aja. Tapi, ku suruh dulu dia nyari KTMku di BEM," pungkas dek Joni.

Sesampainya di kosan, dek Okta pun muncul bersama motor Beatnya Joni.
"Kak, Okta sejak kemarin ngidam kali sama pepaya itu loh!" Okta menunjuk ke atas pohon Pepaya yang salah satu buahnya sudah kekuningan. "Kak, tolonglah tanyakan sama Kakak itu berapa harganya. Biarlah Okta beli."
"Sekarang nih?"
"Nggak, Kak. Besok aja kalau udah matang buahnya. Tolong ya, Kak."
Hoawalah, ternyata dia memperhatikan buah itu sejak kemarin toh! Aciaaan aliii...hihii
Terimakasih ya adek-adekku atas hari yang indah ini. Dan, aku pun sampai terlupa bahwa aku punya janji dengan bu Elvira dan pak Arisman hari ini.hikssss,, parah!

Tidak ada komentar: