Jumat, 18 Desember 2015

Aku yang serba nanti

Sebelum mata mengatup telah ku azamkan janji pagi
sebuah pagi yang padat jemari
sebuah pagi yang bisa diteladani
sebuah pagi yang berwajah mimpi

Tapi memang dasar aku yang serba janji
lalu seketika bisa berubah jadi si nanti
segala yang telah dijanji, mendadak jadi nanti
nanti lah
sebentar lagi lah
tunggu dulu lah
semakin banyak janji, semakin banyak nanti

kadang, ku fikir, mungkin lebih baik tidak usah berjanji.

Desember dan janji, 2015

Inspirasi: Pidato Kematian



Pukul 13.45wib, acara dimulai kembali. Aku dan Yoga membuka dengan salam dan sedikit  arahan tentang Pidato Kematian yang harus ditulis oleh seluruh peserta.  Barulah kesempatan sepenuhnya kami serahkan kepada bang Wira.
“…andaikan saat ini jenazah anda sudah terbujur kaku, namun Allah memberikan keajaiban kepada anda untuk menyampaikan kalimat-kalimat terakhir anda, apakah anda akan membacakan pidato yang jelek?” tanya bang Wira dengan nada meninggi. “Tentunya tidak! Anda pasti akan membacakan pidato terbaik anda sebagai persembahan terakhir sebelum anda pergi. Silahkan tulis pidato kematian anda untuk mereka yang anda cintai.”