Senin, 28 September 2015

Inspirasi: Menghargai yang Mempercayai


“Kemarin tu sebenarnya ada anak UIN Lis yang mau ngajar les Indah, tapi Kakak ragu. Kakak bilang aja; ‘Sebenarnya ada Adek Kakak yang ngajar les Indah biasanya. Kemarin dia memang nggak bisa, cobalah Kakak hubungi dia dulu ya. nanti kalau memang dia nggak bisa, sama Adek aja Indah lesnya’. Syukurlah ternyata Elis bisa.”
Ya Allah, bagaimana mungkin aku menolak orang yang sangat mengeharapkan dan mempercayaiku seperti ini? Subhanallahi wabikhamdi.

“Dia agak kecewa sih kalau Kakak lihat, tapi mau gimana lagi Lis. Elis tahu sendiri lah gimana rumah ini, anak-anak berdua aja di rumah, Kakak sama Abang jualan sampai malam. Kita kan harus waspada Lis, jangan sampai salah pilih orang.”
“Kakak memang pas banget loh kemarin waktu nawarin ke Elis, soalnya Elis memang lagi pengen ngajar untuk ngisi kekosongan ini Kak. Makasih ya Kak. Elis justru segan karena udah lamaaaa banget nggak main ke sini, takut Kakak marah juga.”
“Ndak apa doh Dek. Kakak bersyukur Elis bisa ngajar les Indah lagi.”
Ya Allah, tolong katakan bagaimana caraku membalas kepercayaan yang satu ini?

Pula

Kalau aku memang salah pemaknaan
Tolong beritahu
Jangan membiarkanku
Nanti ku balas membiarkanmu
Pula
Aku  sedang menilaimu
Bagaimana bisa menawarkan janji pasti
Jika memastikan janji pun kau tak bisa
Sebab janji bukan sekedar janji
Tapi bagaimana sebuah janji
Jangan menmbiarkanku
Nanti ku balas membiarkanmu
Pula


Pula. September 2015. Janji