MENULIS adalah AKU; caraku beristirahat, caraku memaafkan, caraku mencintai dan caraku hidup abadi.
Minggu, 19 Juli 2015
Ke mana Hati Berlutut
Inspirasi: Sampah Salah Siapa?
“Lam, kalau kayak gini kondisinya, siapa yang mau
disalahkan?” tanyaku kepada Nilam sambil menunjuk tebaran sampah-sampah.
“Petugas kebersihannya pun ntah mana. Kan ini tugas mereka.”
Aku berfikir, mungkin pemikiran Nilam inilah pemikiran
masyarakat kebanyakan; menganggap bahwa menjaga kebersihana itu adalah
tanggungjawab Petugas Kebersihan.
“Kok nungguin mereka membersihkan pula? jadi, kalau mereka
nggak kerja, kita pun nggak akan mau menjaga kebersihan?”
“Mereka kan digaji memang untuk itu Mbak.”
Lagi-lagi aku berfikir, mungkin pendapat Nilam ini pun adalah
yang difikirkan banyak orang.
“Lam, menjaga kebersihan ini adalah tugas semua orang.
mentang-mentang udah ada petugasnya, nggak berarti juga kita bisa seenaknya
buang sampah. Mungkin, bupati kita sedanga menyindir kita untuk mencutikan
petugas itu hari ini supaya kita tahu betapa nggak enaknya hidup bareng sampah
gini. Ini taman kota, tapi jadinya kayak tempat pembuangan sampah aja.”
“Tong sampahnya pun nggak disediakan, wajarlah kalau orang
malas buang sampah ke tempatnya.”
Aku celingukan ke kiri dan ke kanan, berusaha menemukan tong
sampah supaya bisa mematahkan pendapat Nilam barusan.
“Ha, ha, ha. Emang nggak ada kan tong sampahnya?” sindir Nilam lagi.
Aku mulai keheranan dan tak habis fikir terhadap 2 hal
sekaligus.
“Iya ya Lam. Mana tong sampahnya?” aku masih terus
mengedarkan pandangan. “Nah, itu di belakang kita ada 1 tong sampahnya!”
“Yah, cuma 1 aja. Itu pun udah penuh.”
Nilam benar. Pemikiran polosnya itu kini setengahnya ku
iyakan. Ada ketimpangan tanggung jawab dan kepedulian dalam kasus ini.
*alangkah lucunya negeri ini.
Lebaran ke-3; Kebahagiaan Tanpa Tapi
“Mi, sebenarnya kita
silaturahmi ke rumah orang-orang tu sekaligus jugaa..”
“Ngabisin makanannya?”
“Lah? Itu udah pasti. Tapi, ada lagi selain yang itu Mi.
Cobalah berapa banyak orang yang udah tau gimana cara bersalaman dan berpakaian
yang bener-bener syar’I Mi.”
“Tapi gimana kalau orang tu udah duluan ngulurkan tangannya?
Kayak pak RT semalam tu udah keduluan dungkeman pula di depan Ummi. Padahal
waktu kemarin kita ke rumahnya, udah Ummi salamin dari jauh. Eh, malah semalam
dia datang ke sini sungkeman.”
“Setidaknya Mami udah pake jilbab lebat. Jadi kan tetap
terjaga Mi. La jadi?”
“coba aja seandainyaa…”
“Eh, ini nanti nasinya diwadahi, piring semua dicuci, maknan
itu ditaruk di atas,” kata mami sambil berlalu dari dapur.
Aku hanya mendengarkan instruksi mami, tapi tak terfahami.
Karena, fokusku terpusat kepada mataku yang tak bergeming dari memandang mami. Masih ada loh Mi yang mau El omongkan. Mami
selalu aja gitu. Kapan kita bisa bicara dalam waktu yang lama dan ‘nyambung’?
Kalimat yang belum sempat tersampaikan kepada mami akhirnya
hanya terangkai di hati, Mi, ada sesuatu
yang lebih tinggi dan mulia dari sekedar memikirkan diri sendiri (untuk
terhindar dari bersalaman, yaitu kita
telah berhasil memberitahu kepada setiap orang yang kita temui bahwa bersalaman
itu nggak boleh, memakai baju ketat itu nggak boleh, nggak menutup aurat itu
nggak boleh. Ya apalagi kalau bukan lewat penampilan kita itu. Sebab Islam itu
adalah care and share.
Aku juga mau bilang gini tadi sebenarnya, “Mi, coba
seandainya orang yang seperti ini (yang udah tahu aturan Islam), nggak mau
bergaul dan berinteraksi dengan warga yang kebanyakan masih awam, darimana
mereka bisa terinspirasi untuk lebih baik? Sedangkan mereka nggak punya
referensi ‘figur’ islami dalam pergaulan mereka sehari-hari.”
Langganan:
Postingan (Atom)
