Ketika subuh
membangunkanku, aku baru menyadari semalam aku tidak sedang bermimpi. Pukul 02.35wib Okta
membangunkanku untuk Tahajud dan seingatku aku hanya menjawab iya dan tidur
kembali. Hiksss, *maafkan Kakak ya, Dek, kak emang bandel. Tapi setidaknya, sholat subuhku tidak kesiangan seperti
kemarin. Usai menunaikan sholat Subuh, sebelum mengaji, aku menanyai Rini
tentang persoalan semalam.
“Gimana Rin
akhirnya yang semalam?”
“Intinya Pak
*ai**l yang akan ngomong langsung sama bapak itu.” (nadanya tegas)
“Loh? Kok Pak
*ai*l ngomong langsung sama Bapak itu?" tanyaku tak mengerti.
“Ya gitulah.
Nggak mungkin pula kan a**di* yang ngomong?!” (nadanya jadi cenderung
membentak).
Aku terdiam.
Ku tarik kembali janin-janin pertanyaanku. Awalnya masih biasa. Tapi,
ketika ku baca baris demi baris ayat Al-Quran ini, hatiku mulai mengiba.
Sebab, kali ini marah sedang tak hendak bertamu. Maka, rasa tersinggung berubah menjadi sedih. Selama 3 tahun, baru kali ini Rini begitu. Biasanya
aku memang yang memulai (menyebalkan), baru nadanya meninggi. Sifatnya pagi ini
adalah sifatku. Dan itu buruk. Tidak sepatutnya ia mengikutinya. Tolong, ambil saja apa yang baik dari
diriku, tapi jangan ikuti yang buruk, Rin. Plisss!, pekikku dalam hati. Tapi
rasanya tidak ada yang salah dengan pertanyaanku tadi. Bukan pula aku
sedang menyepelekan persoalan, justru aku sedang sangat peduli. Atau bisa jadi
ia hanya sedang larut ke dalam persoalan itu dan tidak ingin ditanya-tanya?
Mungkin saja.


