Senin, 25 Mei 2015

Inspirasi: Menolong diri, Menolong Orang Lebih Sempurna

Maaf Kak, pengumpulan KTI terakhir jam 16.00wib tadi.
Aku terperanga membaca pesan ini. Padahal sudah sejak jam 17.00wib ku kirimkan pesan kepada panitia tnetang kejelasan pengumpulan berkas. Tapi baru sekarang dibalasnya dan seperti ini pula kenyataannya. Mendadak kayak tinggal di Jepang aja, telat dikit, tinggal.

Aku menyesal seketika, Ini gara-gara urusan pribadiku belum selesai, maka urusan lainnya jadi terbengkalai. Seandainya aku bisa menolong diriku sendiri, tentulah aku bisa menolong orang  lain dengaa lebih sempurna.

Pembaca Nominasi Pemenang LKTI Nasional

Nama Acara : Penutupan BEM FKIP Celebration
Penyelenggara : BEM FKIP Universitas Riau
Waktu : 25 Mei 2015
Judul Karya : -

Tentang Pencapaian :
Sebuah kehormatan bagiku ketika diminta untuk membacakan nominasi sekaligus penemang LKTI nasional yang diadakan oleh BEM FKIP Universitas Riau. Aku maju dengan penuh percaya diri bersama selempang MAWAPRES yang melabuh di bahuku. Sedikit memberi wejangan sebelum ke poinnya, “Lahirnya karya-karya yang teman-teman torehkan ini adalah bukti bahwa budaya berfikir ilmiah masih terjaga. Semoga ide yang teman-teman tuangkan ini tidak hanya berakhir di atas kertas…” Selanjutnya, aku membacakan 3 pemenang LKTI nasional sekaligus meminta mereka untuk naik ke atas panggung.

___Kita tidak tahu seberapa kuatkah kita sebelum kita menyadari betapa lemahnya kita. (Truly Elysa)

"Kita sedang tinggal di dunia" sadarku kemudian.

Ada banyak cara kita menyalahkan
Kadang, memang pantas menyalahkan
Kadang, pantas pun menyalahkan tak ada guna
Aku berkata kepada adinda yang masih muda,
"Kita sedang tinggal di dunia yang penuh lupa. Bukan di syurga yang penuh cinta."

Mei sendu, 25-2015

Kita Sedang Tinggal di Dunia


Kamarku berserak banget. Udah hampir seminggu seperti ini. Baju-baju yang telah disetrikan rapi jadi kusut kembali karena berserak di tempat tidur dan ditiduri Rini. Agenda pagi ini adalah bersih-bersih kamar. Kakiku masih sangat pegal sebenarnya sejak tes Lari dan Renang kemarin. Ini sedikit menghambat gerakku. Semoga rasa sakit ini jadi penghapus dosa.
Okta memintaku segera ke BEM. Padahal tadi katanya dia udah di tempat bang Hendra, ternyata Cuma ngibulin. Setengah jam kemudian aku baru tiba di BEM dan inilah tanggapan Oktacek,
“Lama betuuuuuuul. Tadi Okta bilang 15 menit, ini dah hampir sejam pula.”
“Kakak udah terlanjur merendam baju loh, Dek. Jadi, nyuci dulu,” belaku.
Tiba-tiba Romi datang dan ikutan nimbrung,
“Iya si Elcek itu memang gitu, lama datangnya kalau udah janji. Bener tuh, Taa..”
Grrrr! Aku jadi bahan bulian pula di sini. BEM sedang sangat rapi karena ruangannya kosong setelah acara kemarin. Ini mereka sedang bersih-bersih dan kami ngerumpi pula di tengah ruangan.
“Eh, pakai sertifikat juga, Kak?”
“Sebaiknya pakai Dek. Walaupun nggak diminta. Tapi, itu kan bisa jadi bahan pertimbangan juga.”