Kamarku berserak banget. Udah hampir seminggu seperti ini. Baju-baju
yang telah disetrikan rapi jadi kusut kembali karena berserak di tempat tidur
dan ditiduri Rini. Agenda pagi ini adalah bersih-bersih kamar. Kakiku masih
sangat pegal sebenarnya sejak tes Lari dan Renang kemarin. Ini sedikit
menghambat gerakku. Semoga rasa sakit ini jadi penghapus dosa.
Okta memintaku segera ke BEM. Padahal tadi katanya dia udah di
tempat bang Hendra, ternyata Cuma ngibulin. Setengah jam kemudian aku baru tiba
di BEM dan inilah tanggapan Oktacek,
“Lama betuuuuuuul. Tadi Okta bilang 15 menit, ini dah hampir sejam
pula.”
“Kakak udah terlanjur merendam baju loh, Dek. Jadi, nyuci dulu,”
belaku.
Tiba-tiba Romi datang dan ikutan nimbrung,
“Iya si Elcek itu memang gitu, lama datangnya kalau udah janji.
Bener tuh, Taa..”
Grrrr! Aku jadi bahan bulian pula di sini. BEM sedang sangat rapi
karena ruangannya kosong setelah acara kemarin. Ini mereka sedang bersih-bersih
dan kami ngerumpi pula di tengah ruangan.
“Eh, pakai sertifikat juga, Kak?”
“Sebaiknya pakai Dek. Walaupun nggak diminta. Tapi, itu kan bisa
jadi bahan pertimbangan juga.”
“Siapa tahu aja rajinnya Kakak sedang kambuh dan nanti sempat ke
Prodi.”
“Judul penelitian nih ya, Kak?”
“Iya. Nah, biasanya kalau udah sekali Kakak usaha ngajuin judul
tapi nggak bisa, akan berselang cukup lama untuk ngajuin lagi tuh, Dek!. Kayak
kemarin, seminggu lalu Kakak ngajuin tapi karena ketua Prodi sedang sakit,
sampai hari ini belum juga Kakak ajuin. haaha.”
Aku, Novi dan Okta mengantarkan berkas persyaratan ke Balai
Bahasa. Persis banget di samping BEM FKIP. Busyeett, udah 100 orang lebih yang
daftar. Sementara yang diambil cuma 15 pasang. Will me be there?
“Kak, tadi Kakak berdoa apa?” tanya Okta ketika kami melangkah
meninggalkan mushola di Balai Bahasa.
“Emm…Kakak duma berdoa tentang KPN aja Dek.”
“Kak, ketika Okta pengen banget nyiar radio di tempat Okta nyiar
kemarin, Okta pernah berdoa di situ semoga Okta bisa berada di sana. Dan,
ternyata Allah mengabulkannya. Nah, tadi Okta pun melakukan hal yang sama,
berdoa untuk kesuksesan Duta Bahasa di mushola Balai Bahasa. Semoga diijabah
oleh Allah dan makbul doanya.”
Kami mengamininya bersamaan. Subhanallah! Dia luar biasa. Benar
yang dikatakannya, dan bagaimana aku bisa terlupa untuk melakukannya? Bukankah
aku pun selalu berdoa ketika melihat pesawat lewat agar aku bisa kembali
terbang. Bukankah aku pun selalu berdoa ketika melihat orang yang akan terbang
agar akulah yang selanjutnya terbang. Bagaimana aku bisa lupa tradisi berdoa di
titik momen itu? Malah Okta yang mengabadikannya.
Novi masuk kuliah dan Okta TOFEL. Aku ngobrol dengan Yana di
warung satu-satunya di BEM FKIP ini. Aku makan siang di sini dan nggak terasa seketika habis Rp 18.000 aja karena sambil ngobrol sama Yana, tangan ikut bekerja ngambilin makanan juga. huft! Merasa badanku semakin nggak enak membuatku ingin cepat pulang. Tapi, sebelumnya aku teringat harus untuk Ke Puskom UR,
ngurus KTMku yang ntah kemana rimbanya.
1. Membawa fotocopi surat keterangan hilang dari Polisi
2. Meminta surat pengantar ke rektorat lantai 3 ke bagian Dana
Masyarakat
3. Membayar uang Rp 35.000
4. Menyerahkan kepada Puskom untuk dibuatkan kartu baru
5. Meminta pin baru dengan membawa KTM ke bank BTN
Ya Allah, kok jadi serempong ini sih cara ngurus KTM yang hilang?
Kemarin Andin masih gampang, cuma bawa surat keterangan polisi aja dan langsung
jadi. Wah, pakai bayar Rp 35.000 pula tuh! Aku beringsut meninggalkan Puskom.
Rencananya mau langsung diselesaikan hari ini juga, tapi mengingat kakiku yang
masih sangat pegal membuatku malas untuk naik ke lantai 3. Aku malah pulang dan tidur di atas dipan tak berkasur. Maklumlah
kasurnya sedang dijemur. Di sampingku Rini yang asyik menonton Detectif Conan.
Hoaammm, dia mah nggak ada bosennya nonton!
“Cuy, waktu Reni tadi bilang bahwa aku nggak juga ‘nyusun’ karena
sibuk berorganisasi. Aku mikir, is that
me? Padahal bukannya sibuk di organisasi juga akunya.”
“Iya, El tuh sibuk sendiri dengan mencari kesibukan sendiri,”
tambah Rincuy.
***
Dek, malam ini silahkan
datang ke tempat abang jam 08.00wib untuk persiapan Duta Bahasa. Ajak Okta juga
ya…
Bukan hanya Okta yang ku ajak, ada Dani, Yudi, Teguh dan Novi
juga. Malah ternyata Okta yang nggak bisa datang. hiksss. Kali ini aku on time,
jam 8 kurang aku dan Novi udah sampai di SMP IT Madani.
“Dek, Ustad Hendranya mana?”
“Ustad Hendra sedang di SMP Juara Kak.”
Sambil membunuh masa tunggu ini, aku dan Novi melanjutkan cerita
yang telah kami mulai sejak di pertengahan jalan tadi.
“Itulah yang Novi nggak nyangka, Kak. Masa dia sampai bilang gini;
Maaf ya, mungkin Novi memang
lebih banyak ilmunya. Semoga sukses ya untuk selanjutnya. Perlu Novi tahu,
Kakak bukannya nggak kerja walau pun Kakak nggak terlihat di lapangan. Tapi, Allah
tahu segalanya. Masa gitu Kak dibilangnya ke Novi? Ya Allah Kak, ntah kapan
pulalah Novi menyinggung dia. Novi kan mengevaluasi secara keseluruhan tadi,
lagian dia kan cuma dapat kabar dari orang padahal dia aja nggak ada di ruangan
tadi, seharusnya nggak bisa dia gituin Novi! Tanya dulu kek baik-baik. Novi
nggak papa kalau ada yang mengkritik Novi, oke-oke aja. Lebih baik terbuka
daripada main belakang.”
“Sabar ya Dek. Kemarin pun Kakak pernah dengan bang Hendra kecewa
dengan temannya yang se’pemahaman’ dengannya. Dan, Kakak sendiri pun pernah
mengalaminya. Kayaknya, hal-hal kayak gini memang selalu terjadi Dek di semua
agenda kehidupan. Ada saatnya ego itu muncul dari sosok mana aja. Sekali pun
yang kita fikir seharusnya dia faham dan tidak seharusnya kayak gitu.”
Hampir setengah jam kami menunggu barulah bang Hendra pulang. Ada
Yudi, Heldi, aku, Novi, Dani dan Teguh. Kami menyimak seksama petuah dan
nasehat yang luar biasa dari bang Hendra. Wajarlah ia menjadi seperti sekarang
ini dan memang sudah sangat pantas.
“Pokoknya, mulai besok, kalian akan dinilai dan yang terutama
adalah attitude kalian. Ibarat kata, tembok akan menjadi saksi dan bisa menilai
kalian. Gitulah perumpamaannya.”
“Bang, kadang kita kan merasa minder kalau meliat peserta lain
yang lebih hebat daripada kita. Itu gimana, Bang?” pertanyaan polos milik siapa
lagi kalau bukan milik Teguh? hehe
“Jangan fikirkan hal itu, Dek. Kalau Abang sekali aja berfikir
seperti itu, runtuhlah semua kekuatan yang udah Abang bangun. Jadi, kalau di
dalam seleksi seperti itu, kita harus menganggap diri kitalah yang lebih baik.
Bukankah orang terjahat itu adalah yang tidak mempercayai dirinya sendiri bahwa
dirinya baik? Nah, seperti itu, Dek. Tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan.
Usahakan selalu berawajah ramah, tonjolkan diri tapi jangan show off.”
***
“Dek, firasat Kakak nggak enak.”
“Kenapa Kak?” Novi mengelus pundakku, sementara motor terus
melaju, ke luar dari jalan Bangau Sakti lalu bertemu dengan Subrantas.
“Waktu Bang Hendra bilang kayak gini ‘Ada yang bilang bahwa
gerak tubuh (body language) Elis agak kaku dan kurang luwes’, tiba-tiba Kakak
berfirasat bahwa kemungkinan besar Kakak nggak terpilih, Dek. Tapi, rasanya,
Kakak udah memainkan gerak tubuh juga kalau bicara kok! Ya, kayak Kakak
biasanya ngomong di depan umum. Nggak terlalu kaku dan nggak berlebihan. Kalau
memang yang mereka cari itu adalah ‘karakter’nya, seharusnya mereka faham bahwa
body language itu bisa dipoles. Sedangkan karakter itu jauh lebih kuat dan
muncul dari dalam diri. Kalau body language jadi soal, kasihan banget ya mereka
yang baik tapi karena nggak ngerti ilmu body language?”
“Semangat Kak Elcekkk… Kakak pasti sukses dan jadi orang
hebat! Udahlah Kak, itu udah berlalu mari kita kejar yang baru.”
“Kadang Dek, Kakak mikir apa sih yang mereka nggak suka dari
diri Kakak? Kok kayaknya usaha maksimal Kakak itu nggak bisa membuat mereka
simpatik. Pengen banget rasanya Kakak jadi keluarga besar Alumni KPN dan
selanjutnya lebih tahu bagaimana sebenarnya proses pemilihannya?”
“Kayak MAWAPRES kan Kak?”
“Bener Dek. Kakak jadi lebih faham setelah jadi panitia
seperti kemarin.”
“Jujur, Kakak juga pernah mikir dulu ‘kok si anu yang lolos?
Rambutnya aja bersemir gitu? Waktu break, nggak berbaur dengan yang lainnya.
Sosok seperti apa sih yang mereka cari sebenarnya?’ dan udah 2 tahun setelahnya
Dek di setiap pemilihan, dia nggak pernah nongol sekali pun. Kemana dia coba?
Peserta aja kemarin ada yang bilang gini, ‘dari alumni yang ada waktu seleksi,
hanya beberapa yang memang terlihat wow dan selebihnya biasa aja’. Ya Kakak
berfikir, walaubagaimanapun kenyataannya kan mereka yang terpilih walau pun
kita bilang nggak pantas sekali pun?”
“Semangaaaaaat Kak Elceeeekk!”
“Kakak harus siap menerima apa pun keputusan Allah besok,
Dek. Kadang, persaingan itu nggak adil memang. Yah, namanya aja kita tinggal di
dunia, bukan di syurga.”
“Jurinya pun nggak sempurna. Ya kan, Kak?”
“Bener banget.”
Untung kosan Novi belum dikunci gerbangnya. Ia turun dari
motorku dan kembali menyemangatiku.
“Kalau Kakak nggak terpilih lagi Dek, berarti tempat itu
nggak cocok buat Kakak.”
Aku memutar motor dan berlalu dari hadapan Novi.
***
Rini udah tidur ketika aku tiba di kamar. Ingin rasanya
berkeluh kesah kepadanya. Tapi, biarlah dia istirahat saja. segera ku raih
laptop. Aku tak sabar bersegera menungkapkan rasa. Inilah kesempatanku merajai
laptopnya Rini kalau siang susah banget.
Bang Hendra kok tadi
nawarin program ENJ (Ekspedisi Nusantara Jaya) itu di depan kami semua sih?
Kenapa nggak tawarin aja ke aku? Bukankah aku yang rajin banget tanya-tanya dan
menyelamatinya tentang ENJ itu? Bukankah dia tahu kalau aku sangat ingin
keliling Indonesia? Bukankah dia juga tahu gimana perjuanganku untuk mengikuti
KPN kemarin? Dia seharusnya faham itu.Seharusnya. Setelah Yudi angkat tangan,
bagaimana bisa aku menikungnya? Mana pantas aku berteriak, ‘Elis ajalah, Bang!’
nggak pantas rasanya. Aku pun tahu mimpi Yudi tak jauh berbeda denganku.
Kalau saja bang Hendra
tidak terlebih dahulu memberikan wejangan tentang attitude tadi, tentu sudah ke
luarlah semua sifat asliku; bersemangat tunjuk tangan ketika ENJ ditawarkan dan
langsung kegirangan. Aku sih berharap, bang Hendra membaca semua keinginanku
itu. Tapi? Selamatlah kepada Yudi.* Lagi-lagi, kenapa bang Hendra nggak menawarkannya
kepadaku saja?
Keluhan berbalut keresahan terus berirama di hatiku.
Bulir-bulir bening sudah menyertai kalimat-kalimat ini sejak pertama kali
dituliskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar