MENULIS adalah AKU; caraku beristirahat, caraku memaafkan, caraku mencintai dan caraku hidup abadi.
Senin, 27 Juli 2015
Juli dalam Skripsi
Nasehat: Ikutilah Bacaan Imam
“Eh, sebenarnya yang koe baca krusak-krusuk-krusak-krusuk
pas imam baca surat pendek itu apa El?” tanya mami.
“Maksudnya Mi?”
“Waktu imam sedang baca surat pendek, koe baca apa?
Alfatiha?”
“Iya. Kan dulu Papi ngajarinnya gitu kan?”
“Kan waktu itu udah dikasih tau lagi kalau yang bener tu
nggak kayak gitu.”
“Jadi gini, sewaktu imam menziharkan suara (mengeraskan),
maka kita harus mengikuti bacaan imam. Jadi, waktu imam baca Alfatiha, kita pun
baca begitupun kalau imam baca surat pendek. Jadi, sewaktu imam ada kesalahan
bacaan, kita langsung nyambung dan bisa memperbaiki. Kalau misalnya kita aja
sibuk baca Alfatiha, gimana kita bisa menyimak bacaan imam? Kalau kita nggak
tahu surat apa yang dibaca sama imam, minimal kita mendengarkannya. Kan berpahala
juga,” jelas papi dengan mantap.
Aku menyimak penjelasan papi itu. kemudian
melanjutkan mengaji. Biasanya ketika imam membaca Alfatiha, aku merenungi
terjemahnya. Tapi, yang dibilang papi emang bener juga, kalau kita nggak menyimak, gimana kita bisa memperbaiki?Cinta dan Cerita yang Tertinggal dan Terbawa
Bangun jam 4 itu susah banget ya. Aku udah hidupin alarm,
tapi sama sekali nggak kedengaran. Ntah alarmnya yang terlalu pelan atau
telingaku yang terlalu pekak. Huhh. Akhirnya aku bangun jam 5 lagi, sholat
Subuh dan langsung nyetrika baju sekolah adek-adek dan bajunya papi. Hari ini
aku akan kembali pulang ke Pekanbaru dan aku harus doing the best sebelum
pulang. Nggak kebayang aja ketika ntar aku udah pergi, apa rumah akan selalu
rapi kayak waktu aku di sini? Kan yang tukang ngerapiin udah pergi. Hehe. Tapi,
emm…aku selalu percaya mekanisme pasar itu bekerja. Jadi, sekalipun aku nggak
ada, orang-orang di rumah ini akan menyesuaikan diri terhadap keadaan,
kebutuhan dan keharusan. *teori macam apa ini pemirsaa? Hehe.
“Dedeeekk…Salsaa...Alfiiiiii…Mbak Elaaaaaaa…sarapaaaannnn,”
teriak Nilam dari dapur.
Aku meninggalkan beberapa baju lagi yang belum disetrika.
Setelah sarapan akan ku lanjutkan lagi.
“Mbak, bantuin ya!” pinta Nilam sambil menyodorkan terong
hijau bakar untuk ku kupasi kulitnya.
“Ih, yang ini belum bersih naaa Mbaaak?” kata Nilam.
“Jangan terlalu bersih. Itulah seninya Laam, ehhee.”
“Ummiiii…Mbak Ela Miii, katanya ngupas kulitnya jangan
terlalu bersih.”
Mami yang sedang menampi beras hanya melirik sebentar lalu
diam saja. Yah, mungkin karena kulit yang tertinggal ini memang nggak
banyak-banyak amat dan indah dipandang. Hehe.
“Miiii…makan Mii,” ajakku kepada mami setelah semuanya
ready.
“Nanggung nih, satu kali lagi,” jawab mami. Aku melirik ke
beras di dalam karung yang tinggal sedikit itu.
Langganan:
Postingan (Atom)
