Bangun jam 4 itu susah banget ya. Aku udah hidupin alarm,
tapi sama sekali nggak kedengaran. Ntah alarmnya yang terlalu pelan atau
telingaku yang terlalu pekak. Huhh. Akhirnya aku bangun jam 5 lagi, sholat
Subuh dan langsung nyetrika baju sekolah adek-adek dan bajunya papi. Hari ini
aku akan kembali pulang ke Pekanbaru dan aku harus doing the best sebelum
pulang. Nggak kebayang aja ketika ntar aku udah pergi, apa rumah akan selalu
rapi kayak waktu aku di sini? Kan yang tukang ngerapiin udah pergi. Hehe. Tapi,
emm…aku selalu percaya mekanisme pasar itu bekerja. Jadi, sekalipun aku nggak
ada, orang-orang di rumah ini akan menyesuaikan diri terhadap keadaan,
kebutuhan dan keharusan. *teori macam apa ini pemirsaa? Hehe.
“Dedeeekk…Salsaa...Alfiiiiii…Mbak Elaaaaaaa…sarapaaaannnn,”
teriak Nilam dari dapur.
Aku meninggalkan beberapa baju lagi yang belum disetrika.
Setelah sarapan akan ku lanjutkan lagi.
“Mbak, bantuin ya!” pinta Nilam sambil menyodorkan terong
hijau bakar untuk ku kupasi kulitnya.
“Ih, yang ini belum bersih naaa Mbaaak?” kata Nilam.
“Jangan terlalu bersih. Itulah seninya Laam, ehhee.”
“Ummiiii…Mbak Ela Miii, katanya ngupas kulitnya jangan
terlalu bersih.”
Mami yang sedang menampi beras hanya melirik sebentar lalu
diam saja. Yah, mungkin karena kulit yang tertinggal ini memang nggak
banyak-banyak amat dan indah dipandang. Hehe.
“Miiii…makan Mii,” ajakku kepada mami setelah semuanya
ready.
“Nanggung nih, satu kali lagi,” jawab mami. Aku melirik ke
beras di dalam karung yang tinggal sedikit itu.
Alfi nongol dengan kemeja putih dan celana hitamnya.
“Aiih Fiii? Ganteeengnyaaa…” kata mami.
“Hemm… siapa dulu yang mangkas Miii?” kataku dengan pede.
“Gitu kan rapi Fiii. Mantap daaah!”
Mami benar-benar memasakkan permintaanku semalam; sambal
ikan asin. Aku fikir sebelumnya, mami akan menyambal ikan asin ini dengan
bentuk ikan asin semula jadi. Ternyata, mami memotongnya kecil-kecil baru
menyambalnya. Hemm…seorang itu itu kok kreatif banget yak? Besok, aku bisa
kayak mami nggak ya…
“Ya aampuun Mii, enak bangetttt masakan Mami. Sambal ikan
asin plus terong goreng. Hemmm..nyummiiii, makasih ya Mi. Love you Miii,”
kataku.
“Kalau udah dimakasin ikan asin baru bilang I love you?” kata
mami pula.
“Hhahaa. Eh, tapi ini Rini kasihan. Dia nggak bisa makan ini
Mi. Kalau Mami bawain sambal teri, tempe itu aja cuma dimakan tempenya doank
Mii, terinya dikasihkan ke Ela.”
***
“El, salaman dulu siapa tahu nanti kita nggak ketemu,” kata
mami kepadaku yang sedang nyetrika.
Aku melongo, “Kok Mami gitu ngomongnya?” sambil menyalami
tangan mami.
“Soalnya mau ngelihatin Alfi di sekolahnya ni setelah
didaftarkan nanti.”
Oohhh, aku kira ntah apa tadi. Mami lalu pergi sambil
mengantarkan Salsa ke sekolah juga. Sekolahan Alfi dan Salsa berada di tempat
yang berlawanan arah, jadi mungkin setiap harinya mami akan ngatarin Salsa
pertama kali barulah Alfi yang lebih jauh. Tapi, bisa jadi juga Alfi bakal
jalan kaki atau naik sepede kalau ternyata nanti dia mau begitu.
“Puja jam berapa ke sekolahnya?” tanyaku.
“Jam 10.”
“Oh, berarti Puja bisa lihat Mbak Ela berangkat ya nantii,so
sweet,” kataku, genit.
Aku kira setelah menyetrika, aku bisa wifian sebentar dan
mengetik beberapa kalimat, tapi nyatanya tidak. Aku harus segera menyapu dan
merapikan rumah yang pastinya itu nggak sebentar. Ketika kita akan pergi, kita
pasti selalu dihadapkan pada kondisi sibuk; mau nyiapin ini-itu, bersihin yang
ini dulu, memeriksa lagi apa yang perlu dibawa. Yah, selalu seperti itu. Pergi selalu tawarkan kepanikan
tersendiri.
Membaca SMS barusan, membuatku bertanya siapa pengirimnya?
Rini? Okta? Teguh? Papi? Atauu… emmm…. Ohhh, ini pasti orang mobil nih!
Jadi bang. Jemputnya
setelah pasar senin ya di Bantayan.
Siapa tahu abang itu lupa, aku mengulang alamatku lagi.
Hemm.. ini baru terjadi di dunia pertravelan pemirsaaa; SMSan sama supir mobil.
Kenapa dari officer sampai drivernya pada suka SMSan gini ya? Memang sih harga
sawit sedang anjlok, tapi apa itu ngaruh ke mereka juga?
Mami baru aja pulang ketika aku baru saja berkemas dan
mandi.
“Mi, ini udah jam setengah 9 tapi kata supirnya di SMS, bentar lagi berangkat. Harusnya kan
kalau emang udah berangkat, SMSnya bilang, udah
mau sampek Bantayan nih. Apa jangan-jangan dari Bagan bahkan belum
bergerak ya? Lelet kali.”
Udah sampek mana bang?
Aku langsung mengorek kejelasan supaya tahu pasti sudah
sampai mana sebenarnya mobilnya.
Masih di Bagan kak.
“Haa, kan bener Mi, masih di Bagan mobilnya.”
“Iya, memang gitu, mungkin njemputin penumpang satu-satu
dulu. Sampek sini pasti jam setengah 10 tuh kayak Ummi dijemput kemarin juga
gitu.”
“Kalau yang di Pekanbaru ontime banget kan Mi?”
“Yalah, gimana nggak, kemarin waktu koe bilang Alfi udah di
dalam mobil aja se-ontime itu.”
Yah, sebenarnya maklum juga sih karena jarak dari Bagan ke
Bantayan aja setidaknya udah 40 menit. Daripada nungguin dengan diem aja,
mending aku ikut mami ke pasar nukarin celana sekolahnya Alfi yang kekecilan
sekaligus beli eye liner karena punyaku udah habis dipake adek-adek tiap hari.
Hehe.
“Mi, kalau dengar anak-anak ni ngomong kayak gaya Mami
ngomong tuh rasanya lucu kali. Kok bisa sepersis itu, tapi kok kedengarannya
lucu. Contohnya waktu Nilam marahin Moza dan ujung-ujungnya bilang; ‘Kok yo
lee’ Asli, itu lucu kali loh Mi. hahaha.”
Mami memandangiku dengan wajah datar, tanpa ekspresi.
Sok-sok serem gitu dehh .ehhe. *Oh ya,
Kok yo lee itu sama kayak kita bilang “Ya ampuuun” gitu deh pemirsaaa.
“Ehhhhhhhh… El!” pekik mami ketika kami baru meninggalkan
rumah sekitar 100meter.
“Ngapa Mi?”
“Putar lagi. Celana yang mau ditukar malah nggak dibawa
nih!”
Aku kembali memutar motor dan meneriaki Nilam supaya
mengeluarkan plastic hitam berisi celana tersebut dari jendela samping. Setelah
itu, kami berangkat lagi.
“Ini pasarnya kok yo lee sepi ya Mi?”
“Masih pada lebaran mungkin orang-orang,” jawab mami.
Aku kembali memasuki pasar yang udah ntah berapa kali ganti
penampilan ini. Aku jadi ingat, bagaimana waktu SMP setiap kali jam istirahat,
aku selalu ke sini dengan teman-teman. Tidak untuk beli apa-apa, mungkin
sekedar beli es cendol atau ikat rambut aja. Ada beberapa pedagang yang aku
lihat masih setia dengan profesinya itu hingga kini. Satu senyuman untuk mereka
yang gigih itu.
Aku mengikuti mami dari belakang sambil menikmati suasana
pasar yang selalu begini; suara teriakan pedagang, suara pembeli, suara obrolan
orang-orang dalam lalu lalang dan suara musik es krim dari arah belakang yang
selalu begitu ragam bunyinya. Aku seolah mengulang semuanya.
“Yang nomor 33 ajalah Mi. Biar bisa dipake sampek SMA.
Hahaha,” saranku ketika mami memilih nomor celananya Alfi.
“Mau bawa jeruk nggak? tanya mami. Aku mengiyakan dengan
cepat.
Kami pun beranjak menuju penjual jeruk dan rambutan. Lalu
beli celana pendek untuk hariannya Alfi, beli martabak dan terakhir barulah
beli eye liner.
“Eh, Elaa rupanyaaa! Kirain siapa tadi. Kok gemuk betul.
Bisa segemuk ini sekarang La?” kata mamanya Dayat yang ternyata ada di
sebelahku.
“Hhaha..iya nih Bu. Ntah gimana ceritanya kemarin. Dayat
nggak gemuk Buk?”
“Nggak doo. Biasa aja. Ya ampuun Elaaa.”
Okeee pemirsaaa, sebenarnya ini bukan hal baru bagiku.
Sebagian besar ekspresi orang-orang memang seperti itu ketika baru bertemu
denganku.
“Mi, Ibu itu belum tahu waktu El sering pergi-pergi kemarin
tu. Kalau dia tahu, mungkin dia menghubung-hubungkan juga ke sana nih gemuknya
El ya? Kok yoo lee,” bisikku kepada mami.
***
“Mbak, kopikan film baru napa ke laptop ini? Benci kali
Kakak, tiap nengok orang ini mutar film, pasti yang ditonton si Russel!. Suka
kali lah orang nii sampek bosan orang lihatnyaa,” pinta Nilam.
“Hhahaa…iya ya Lam. Ntah kenapa itu terus yang dihidupkan.
Nggak ada bosen-bosennya. Oke, Mbak ambil hardisk dulu!”
“Iya, sampek orang ni ngamati dan hafal kali sama film
Russel tuu. Haha. Orang aja lihatnya muak.”
Film Russel yang dimaksud Nilam adalah film cartoon romance
yang judulnya Up. Pemirsa udah pernah
nonton belum? Film itu menceritakan tentang istri yang mandul tapi mereka tetap
hidup bahagia dan bermimpi untuk tinggal di puncak bukit air terjun Niagara.
Tapi, istrinya meninggal duluan dan si kakek itu berjuang mengabulkan mimpi
mereka itu dengan rumah balonnya. Nah, di tengah jalan ketemua anak pramuka
yang namanya Russel, jadilah mereka teman seperjalanan. Lucu dan luar biasa filmnya.
Di Bantayan di
mananya Dek?
Setelah pasar senin
bang. Udah sampek di mana bang?
Ah, semoga mobilnya masih jauh deh. Aku mengkopikan beberapa
film untuk stok baru perfilman anak-anak ini di rumah supaya Moza, Salsa dan
Alfi bisa move on dari si Russel itu. hahahha.
Udah di mana bang?
Aku mengulang pesanku itu lagi. Tapi tetap aja tidak ada
balasan. Hemmm…
“Nanti kalau udah ada Babe Cabita, jangan-jangan itu terus
yang ditonton sama orang ini Mbak,” kata Nilam. “Tapi nggak apa-apalah, yang
penting jangan Russel aja yang ditonton.”
Udah di pasar nih.
Pesan barusan seperti mencecik leherku. Moza yang sedang ku
pangku mendadak dudukkan di sebelahku. Buru-buru ku cabut hardisk yang masih
separuh lagi belum selesai mentransfer file.
“Assalamualaikumm…”
Hah, itu suara om Giyat.
“Ooommm..tolong lihatkan mobil Indah Karyaaaa di depaaan,”
teriakku dari dalam kamar. Ku masukkan beberapa barang yang masih berada di
luar, ke dalam koper. Kemudian segera membawanya ke luar.
Om giyat meneriaki mobil yang ternyata ngebut banget
lewatnya.
“Eeelll! Udah lewat mobilnya tuuh. Gimana niii?” pekik mami
pula. Aku tak bisa menjawab apa-apa, tanganku gemetaran mengetikkan SMS kepada
pak supir, Udah kelewatan bang
mobilnya.
Tapi belum sempat ku kirimkan pesan itu, pak supirnya menelvonku.
“Hallo? Di mana Dek?”
“Udah kelewatan loh Bang mobilnya. Saya udah lihat tadi
mobilnya lewat.”
“Memangnya nunggunya tadi di mana?”
“Saya tadi di halaman Bang, nggak nunggu di pinggir jalan.”
“Mana kelihatan kalau gitu saya.”
Telvon dimatikan. DEG!!! Feelingku nggak enak nih. Aku
menyusul mami yang udah nyeberang jalan dan mengecek keadaan.
“Udah lewat El mobilnya dari jembatan itu. Nggak kelihatan
lagi. Mau balik lagi nggak dia?” tanya mami.
“Udah El minta putar balik sih Mi. Tapi, nggak tahu mau atau
nggak dianya.”
Setelah beberapa menit menunggu, nggak juga tuh mobil nongol
lagi. Wahhh,, lewat deh.
“El, itu nggak mobilnya sih? Ada biru dan kuningnya warnanya
tuh.”
Aku mengikuti pandangan mami ke arah Barat. Kalau memang
benar itu mobilnya, artinya belum kelewatan donk? Ah, jadi yang tadi ku sangka
kelewatan itu bukan mobil yang akan ku naiki ini? pantesan aja dia ngebut gitu.
Ah, malu pula sama supir yang ini nanti, gara-gara cepat menyimpulkan malah
bikin orang kebingungan hiksss..
“Telvonlah lagi ni haa,” kata mami sambil menyodorkan HP.
“Inilah gara-gara pake SMSan. Aneh kali pun orang ni, baru
kali ini terjadi di dunia persilatan; mesan mobil pake SMSan.”
Ketika ku panggil nomor pak supir tadi, nomornya sibuk.
Beberapa detik kemudian ternyata dia menelvonku.
“Di manana Dek? Saya di dekat SD ni.”
“Bang, kayaknya Abang belum kelewatan deh. Maju lagi ke
depan aja Bang. Saya udah di pinggir jalan. Ternyata yang saya lihat tadi tu
bukan mobil Abang, tapi yang lainnya.”
“Apa ni maksudnya? Rumah Adek di mananya?”
Duh! Udah nyerocos panjang lebar, ternyata nggak ngerti pula
si abang ni.
“Abang maju ajaa baaangg.. Saya udah lihat mobilnya. Saya di
pinggir jalaann,” jelasku dengan penuh geram dan ucapan perlahan.
“Nah, bener tuh dia El. Langsung bergerak kemari dia,” kata
mami.
“Nilah susahnya kalau SMSan Mi. Gimana El nggak kaget coba?
Udah El tanya dari tadi, udah dimana
bang, tapi nggak ada dibalasnya. Sekalinya dibalas, dia bilang, udah di pasar Senin nih. Gimana orang
nggak kalang kabut coba? Baru terjadi nih yang beginian Mi.”
Mobil yang ku tunggu sudah sampai di depan mata. Aku mencium
pipi mami kiri dan kanan lalu menyalaminya. Dalam hitungan detik, aku sudah
dibawa jauh oleh mobil ini dari pandangan mami. Aku juga sudah sempat mencium
Moza dan Nilam serta berpamitan dengan Om Giyat dan istrinya tadi.
Bismillah…
Ini adalah pergiku yang paling dini selama masa kuliah.
Keadaan ini bukan untuk dipilih, tapi untuk dijalani. Demi sebuah mimpi, demi sebuah
pelunasan janji, demi sebuah demi.
Selalu ada cinta dan
cerita yang tertinggal dan terbawa
Sent to Teguh, Okta
***
Cuy, nasi ada kan?
Ada. Jam berapa
sampek? Jangan lupa lakban hitamnya ya. Kaca mataku lepas-lepas nii. Susah.
Astaghifrullah, padahal tadi aku kan ke pasar Senin, tapi
kok sama sekali nggak ingat ya beliin lakban hitam buat Rini? Hiksss. Sekarang,
aku udah memasuki Kandis. Jalan sudah mulai berliku dan naik-turun. Kepalaku
semakin pusing, perut perih dan keringat dingin mulai ke luar. Sejak awal naik
mobil ini, feelingku udah mulai nggak enak. Beda banget dengan mobil yang
kemarin ku naiki waktu pulang; slow, tapi cepet sampek. Jadi, nggak pusing gini
dibuatnya.
Aku sengaja nggak makan siang tadi waktu sampek Duri. Cuma
beli 3 potong buah buat menyegarkan perut yang sempat mual-mual. Kadang, aku
berfikir gimana ya caranya produktif di perjalanan? Aplagi Bagan-Pekanbaru
setidaknya ngabisin waktu 7 jam di jalan, kalau dipake buat nulis udah dapat
berapa halaman tuh coba? Tapi sayagnya, aku sering kali memilih untuk tidur
karena yang ku lawan adalah rasa tidak nyaman. Mau sambil ngaji, tapi lihat
huruf-hurufnya aja semakin pusing, mau sambil nulis badan aja
terguncang-guncang gini. Memang terasa
banget sih, tidur itu benar-benar menyingkat waktu.
Lagi ngapain mi?
maen Zumma?
Bakarin sampan di
belakang dan bersihin daun tebu. Ni mau ngambilin cabe.. muaachhh
Aku mulai memaksa diri untuk tidur lagi ketika tubu semakin
nggak nyaman. Semoga ketika aku bangun, udah sampek di Pekanbaru aja. aamiin.
Masalahnya lagi adalah aku nggak bisa tertidur kalau posisi duduknya masih
‘jujur’, setidaknya kepalaku harus miring sedikit, perutku di tekuk dan kadang
harus membungkuk, baru deh bisa tidur. Yah, resikonya udah pasti badanku pada
sakit semua ntar.
***
“Yang ke Panam, yang ke Panam??? Pindah ya ke mobil sebelah.
Ayoo yang ke Panam, yang ke Panam.”
Aku mengucek-ngucek mata. Eh, ternyata udah sampai di loket
aja nih. Huaahhh… doaku terkabul. Bahkan Minas pun nggak terasa lika-likunya ya
Allah.
Aku segera ke luar dari mobil. Barang-barang penumpang yang
di sekitar Panam dipindahkan ke mobil di sebelahnya. Aku memperhatikan koperku
ketika proses pemindahan, takut tertukar atau tertinggal soalnya.
“Udah Bang? Masuk lagi kami ni?” tanyaku ketika si abang
selesai memasukkan koperku ke bangku ter-belakang mobil.
“Adek mau dimasukkan ke sini juga?”
Aku nggak ngerti apa maksud abang ini. Eh, dia malah ketawa
melihatku bingung. Haha. Ternyata dia nanya, apa aku mau di lemparin ke dalam
kayak koperku tadi. Aku tertawa kemudian segera masuk ke dalam mobil lewat
jalan yang benar. Heehe.
“Adek di mana?”
“Balam Sakti Bang.”
Setelah mengecek semua alamat penumpang, mobil pun melaju
menjauhi loket. Tujuan pertama adalah jalan Melati.
“Belok kiri Bang,” pinta cewek yang duduk di dekat supir.
Rasanya aku tidak asing dengan jalan ini. Ah, ini kan jalan
ke rumahnya kak Era? Udah di semen ternyata gang ini yang sebelumnya masih
tanah.
“Belok kanan Bang,” pinta cewek tadi lagi.
Hah? Itu kan kak Era! Aku melihatnya dari jarak yang
benar-benar dekat. Bahkan, cewek itu ternyata turun tepat 1 rumah sebelum rumah
kak Era. Aku ragu menegurnya. Justru akhirnya aku memasang masker supaya tidak
dikenali olehnya. Sebenarnya sih kak Era juga nggak memperhatikan karena ia
sedang ngobrol dengan orang lain, tapi aku hanya khawatir aja kalau tiba-tiba
ia melihat ke dalam mobil dan aku nggak ada inspirasi mau menegurnya dengan
cara apa. Hiksss.. *apakah anda pernah juga seperti aku ini pemirsaa?
Mobil sudah diputar balik dan siap meninggalkan jalan
Melati. Daahh..kak Eraa.. insya Allah
secepatnya Elis akan main ke rumah, jumpa dek Indah dan Kesyaa.
Mak edisi galau nih
Ku baca SMS Teguh barusan dan tersenyum.
Hehe, mau jadi penampung ide mak kan? Ini ide sedang
berseliweran di perjalanan.
Teguh mengomentari beberapa SMS yang sejak tadi sengaja ku kirim
ketika rasa bersatu dengan masa dan ku jelma dalam kata. Sebenarnya itu bukan
hanya untuk Teguh, ke Okta pun ku kirim. Tapi, si Okta ni sering slow respon
atau bahkan no respon kalau di SMS gitu. Ya udah, buat teguh aja deh yang
penting ada yang baca.
Aku ingin jatuh
cinta sebelum menikah dan menjalani cinta dengan menikah..
Ada kalanya kita menyengaja untuk berpura tak mengapa demi
meredam rasa yang mungkin tak menjadi apa..
Demi sebuah demi,
kita sering menawar akan menjadi akan..
Mengatakan “Seharusnya” memang kelihatan lebih mudah bila
dibandingkan dengan melakukan yang “Sebenarnya”
Kita tidak selalu
bergerak. Kadang, kita hanya sedang diam dengan cara yang berbeda.
Ketika jatuh cinta, kita akan berfikir bagaimana caranya hidup
bersama. Setelah hidup bersama, kita harus berfikir bagaimana caranya ke syurga
bersama.
Kebiasaan kita cuma
2; datang, pergi.
Ketika bingung memutuskan, kadang kita lebih memilih
tidak memutuskan.
Kita paling hafal
dengan Maha Pengasihnya Allah sekaligus sering lupa bahwa Allah pun punya siksa
yang pedih.
Yang dekat sering terluput, yang jauh malah tertuju.
Mungkin kita melihat terlalu dekat, menilai terlalu cepat
dan hanya menghargai kala sempat.
Persimpangan selalu
tawarkan ragam jalan. Tutup matamu. Tanya hatimu.
Kece kali mak ni
ide. Adek sampek nggak bisa balas (emot nangis). Adek pinjam kata-katanya boleh
yaa.
Yang mana yang kece
dek? Boleh-boleh dek. Eh, tahu nggak, spontanitas itu kadang mengandung dan
mengundang ide tiada batas loh!
Ada deh. Ntar mak
tahu sendiri. Hehehe. Iya mak. Ketceh banget mak. Apalagi soal syurga-syurga
tadi. Duh!
***
Pukul 17.20wib
Aku baru saja sampai kosan nih. Ternyata ada cewek yang
kosannya di depan kosan ini. Hikss, kok aku nggak pernah tahu ya? Aku yang
terlalu cuek atau dia yang emang jarang kelihatan? Hihii.
“Salam dulu kitaaa,” kataku kepada Rini sambil menyodorkan
tangan. “Sehat? Tadi makan pake apa?”
“Alhamdulillah. Pake telurr aja El.”
Aku segera mengambil piring dan mulai bersantap dengan
sambal ikan asin yang dimasakin mami. Hemm…nyummiii. Laper-laper gini mah
semuanya jadi terasa enak aja. 2 ekor kucing melompat masuk ke dalam dari
jendela kamarku. Mungkin karena tericum aroma ikan asin ini atau memang
kebetulan mereka memang suka ‘bertamu’ seperti itu.
“Orang 2 ini pacaran ya Rin?” tanyaku sambil memandang 2
kucing berwarna hitam berbelang abu-abu itu.
“Nggak loh, orang 2 ini kan Mamak sama anak El.”
“Ah, masak iya sih?” aku mengamati kucing yang terlihat
lebih muda itu. “Iya yaa. Ini kan anaknya ya. Wah, kok udah sama aja gedenya
kayak mamaknya? Hemm…pasti gara-gara mamaknya ni dulu nikah muda Rin,” jelasku,
asal comot.
“Howalaah… ckckck,” balas Rini, malas. “Anaknya tu lucu kali
El. Dia berani mendekat, tapi kalau ditangkap langsung kabur. Malu-malu tapi
mau dia tuh!”
“Bukan Rin, kebalikannya. Mau-mau tapi malu.”
“Oh, iya, iya.”
“Eh Rin, pernah nggak sih Rini merasa perbedaan rasa nyaman
di dalam mobil yang sama denga tujuan yang sama? Kadang, waktu kita berangkat
lebih terasa nyaman tapi waktu kita pulang sampai pusing kita dibuatnya. Pernah
nggak?”
“Pernah. Tergantung supirnya tuh El.”
“Iya, emang. Kemarin waktu aku pulang tu supirnya kayaknya
pelan banget nyupirnya Rin. Tapi cepet banget sampeknya. Biasanya sampai 7 atau
8 jam, tapi kemarin tembus 6 jam. Kan keren tuh! Tapi yang tadi ini, udahlah
ngebut, tapi nggak pula cepat sampek. Mual dan pusing kali aku dibuatnya.”
“Biasanya yang lembut bawa mobilnya tu supir jawa El.
Soalnya waktu supirku orang jawa kemarin pun kayak gitu, lambat tapi cepat.
Kalau ke Medan kan rata-rata supirnya kalau nggak batak ya jawa, jarang ada
yang minang.”
“Mungkin juga sih Rin. Nggak ingat pula aku dia jawa atau
bukan. Tapi, yang tadi kayaknya sih orang minang.”
*maaf, bukan rasis ya Cuyy. Ini cuma obrolan konyol. Heheh.
Senja mulai
temaram... sejak kepergianmu, kini ku
rasakan sepi itu kembali menyeruak di ruang hati yang hampa. Akankah ku nikmati
lagi kebersamaan indah itu? Setelah kini kau benar-benar pergi.
Sihiiiyyy… kangen ya
mi?
Bukan kangen, tapi
merasa kayak ada yang hilang aja. tapi, cuma kayaknya aja ternyata. Hehe.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar