Senin, 27 April 2015

Nasehat: Meninggal dalam Damai

Tiba-tiba ngelihat postingannya bang Agus widodo di FB yang tulisannya:
Selamat jalan buat dek Lintang Alif Madani bersama ibundanya, semoga segala amalnya diterima Allah. Begitulah kira-kira.
Ku telusuri akun FB yang ditag oleh bang Agus itu. Hampir saja aku meng-addnya, tapi urung karena pemiliknya juga tidak akan mengkonfirm permintaanku itu,hiksss. Ukhti Lintang meninggal dalam kecelakaan tunggal ketika mau mengantarkan tugas kulihanya dan sang ibu yang shock mendengar kabar tersebut juga meninggal dunia (srangan jantung). Ia ditemani sang ibu di sana.

Subhanallah! Banyak banget ucapan yang ngumpul di FBnya, ada juga yang mengajaknya bercerita seolah-olah dia masih hidup dan membaca postingan itu. Ternyata, almarhum adalah aktivis di Dompet Dhuafa dan memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Aku terkagum, semoga dia ditempatkan Allah ditempat terindah di sisi Allah di sana dan dimudahkan Allah segala urusannya. Aku merenung: Indahnya meninggal dalam keadaan dicintai oleh banyak orang ya?, kira-kira kalau aku meninggal, apa yang akan dikatakan orang lain tentangku ya? Hal yang baik atau yang buruk?.

Ya Allah, bantu aku mengenyahkan segala amarah di dalam hati ini. Hamba hanya ingin bertemu denganmu dalam KETENANGAN. ^_^

Menegur Senja yang Telah Meramah

Pagiku seketika rusak. Sms tak diharapkan itu masuk lagi dan terbaca olehku ketika mata baru terbuka. Niat hati melihat jam di HP, malah disuguhi sesak tak terperi. Ku hempaskan HPku dan bergegas berwudhu. Subuh telah mengetuk pintu.

Setelah usai melunasi sedekah pagi oleh diri, aku mengadukan halku kepada Rini. Semalam, dia terlalu cepat terlelap. Padahal, saat itulah gejolak mulai menggelegak. Sempat sms-an dengan mami saat itu, tapi untuk bercerita tentang hal ini, rasanya butuh waktu yang lama. Mungkin mami sudah mengantuk di sana.

Quaker Oats siap menemani sarapan pagiku kali ini. Terngiang enaknya pecel dan gurihnya bakwan. Hiksss. Memang ya, yang namanya makanan sehat sering banget nggak disukai orang karena hambar. Sedangkan makanan beresiko, rasanya gurih, enak dan disukai semua orang. Semoga aku bisa bertahan dan bisa habis sebungkus ini, karena lumayan juga nih 800gr (kalau ngabisin kerupuk atau keripik pasti beda ceritanya ya). Sementara Rini, ngerebus mie dan makan pakai nasi. Dia nggak nawarin aku, karena tahu aku pasti bakalan minta. Tapi, aku pura-pura jual mahal donk. Rini sok cuek dan ngancem mau ngabisin mienya semuanya. Heh, padahal akhirnya nggak habis juga nyooo dan otomatis aku segera mengambil alih. Hehe.

Gugah Semangat

Jika tidak ada seorang pun yang menyediakan waktu untukmu, akankah tujuanmu berbalik arah?
Jika tidak ada keberpihakan ke arahmu, akankah percayamu memudar?
Jika tidak ada kata benar untukmu, akankan yakinmu kepada sesuatu berkurang? Bahkan usai?
Semoga tidak tetap menjadi milik tidak.

April berembun melembab, 2015