Senin, 27 April 2015

Menegur Senja yang Telah Meramah

Pagiku seketika rusak. Sms tak diharapkan itu masuk lagi dan terbaca olehku ketika mata baru terbuka. Niat hati melihat jam di HP, malah disuguhi sesak tak terperi. Ku hempaskan HPku dan bergegas berwudhu. Subuh telah mengetuk pintu.

Setelah usai melunasi sedekah pagi oleh diri, aku mengadukan halku kepada Rini. Semalam, dia terlalu cepat terlelap. Padahal, saat itulah gejolak mulai menggelegak. Sempat sms-an dengan mami saat itu, tapi untuk bercerita tentang hal ini, rasanya butuh waktu yang lama. Mungkin mami sudah mengantuk di sana.

Quaker Oats siap menemani sarapan pagiku kali ini. Terngiang enaknya pecel dan gurihnya bakwan. Hiksss. Memang ya, yang namanya makanan sehat sering banget nggak disukai orang karena hambar. Sedangkan makanan beresiko, rasanya gurih, enak dan disukai semua orang. Semoga aku bisa bertahan dan bisa habis sebungkus ini, karena lumayan juga nih 800gr (kalau ngabisin kerupuk atau keripik pasti beda ceritanya ya). Sementara Rini, ngerebus mie dan makan pakai nasi. Dia nggak nawarin aku, karena tahu aku pasti bakalan minta. Tapi, aku pura-pura jual mahal donk. Rini sok cuek dan ngancem mau ngabisin mienya semuanya. Heh, padahal akhirnya nggak habis juga nyooo dan otomatis aku segera mengambil alih. Hehe.


Keisengan pagi ini adalah membuka kotak gelang-gelangku dan mulailah aku berkreasi: mengikatkan pita-pita hitam di delang putih dan gelang-gelang lainnya. Eh, ternyata jadi gimanaaa gitu, padahal cuma dikasih sentuhan pita aja dikit. Tapi, kesan yang dihasilkan luar biasa loh. mungkin ini bisa jadi referensi buat sahabat semua yang bingung mau ngapain dengan waktu luangmu. Coba bongkat-bongkar lagi barang-barang lamamu dan otak-atik deh!

Waktu aku sedang membongkar isi lemari dan merapikannya, Yumil datang dan meminta file proposal MAWAPRES. Aku menceritakan semuanya kepadanya, dia pasti faham, bathinku. Ternyata, setelah aku cerita ke sana kemari, aku malah menangkap ekspresinya yang berlawanan dengan inginku.
“Memang kayak gitu prosedurnya, Mamake.”
Aku nggak memberikan kesempatan kepadanya untuk melanjutkan kalimatnya. Giliran aku yang menuntaskan ocehanku dan segala keluhan.
“Intinya, apa yang kita khawatirkan dari jatah dana itu sebenarnya mereka juga sedang mengkhawatirkan hal yang sama. Disitulah kesenggangannya menurutku.”
Lalu, Yaumil menanyakan hal lain kepada Rini dan aku terdiam atau menyambungkan dengan pembahasan lain juga menjelang file yang dikopikan ini selesai ditransfer. Apa yang ku harapkan dari niat awal bercerita tidak ku dapatkan. Rini tahu hal itu. Padahal, aku secara refleks hampir menceritakan tentang ide gila menulis buku bersama Titin juga. Tapi, dengan kondisi yang tidak menarik seperti ini, moodku tiba-tiba berubah warna: dari pink ke hitam.

“El, kapan kita urus legalisir Kak Dila ni?”
“Hari ini yuk?”
“Yuklah. Cepatlah siap-siap. El nyaa lamaaa.”
“Rin, sekalian tolong fotoin aku sekalian donk. Untuk syarat kelengkapan pemilihan Duta Bahasa. Tapi ntar kita cari tembok aja biar backgroundnnya putih. Yuhuuu cin?”
“Yuhuuuu…”
Ternyata, kali ini persiapanku memakan waktu yang cukup lama. Nyocokin jilbab dengan gaya formalku kali ini: kemeja putih dalam balutan blazer hitam.
“Agak lama yaa..” sindir Rini yang sedang nungguin aku sambil nonton film Korea di laptopnya.

Aku masih juga bergonta-ganti jilbab setelah memilih bajunya pun nggak kalah lama tadi. Rasanya belum nemuin kecocokan. Ada yang udah nyaman dengan bentuknya, tapi gerah karena rempong. Haha.
“Udah habis juga 2 episode nih,” sindir Rini lagi ketika aku baru selesai dan siap berangkat.
Kami langsung menuju FEKON, Rini yang masuk ke dekanatnya sedangkan aku menunggu di bawah pohon, sebelum parkiran di samping dekanat. Tak lama, Rini muncul lagi dengan kertas yang tinggal selembar.
“Nggak ada orangnya, ku tinggal aja di sana.”
“Kenapa ini dibawa?”
“Takut ada yang hilang. Jadi, ini buat pertinggal aja,” jawab Rini.
Karena belum punya tujuan tembok mana yang akan kami gunakan, maka…
“Rin, itu perpus kalian ya?” tanyaku kepada Rini ketika terlihat gedung di sudut wilayah FISIP.
“Iya. Itulah perpus FISIP.”
Tanpa banya ba-bi-bu, kami langsung ke sana dan menjadikan tembok di pinggir perpus sebagai background fotoku. Nggak hanya di satu tempat, kami berpindah-pindah objek foto dan terakhir adalah di antara pepohonan ekaliptus. Ternyata perut kami lapar pemirsa, tapi kebingungan mau makan di mana menyesuaikan dengan seleranya Rini (menghindari santan).
“Di Bangau ada nggak yang enak ya?”
Langsung aja kami menjelajahi bangau sakti dan berhenti di Nasi Sambal Korek, mirip banget dengan Ayam Gopek di Balam Sakti.
“Udah buka mas?” tanyaku memastikan.
“Udah, Mbak. Mau makan di sini atau dibungkus?”
“Di sini Mas.”

Kami memilih menu Ayam Kriuk, Terong, Petai dan air putih. Ternyata yang membedakan dengan Ayam Gopek adalah yang ini pakai sambal cabe rawit. Enak sih, seger, tapi cabenya dikiiit.hiksss. Untung aja ada terong dan petai, jadi puas banget deh makannya. Hehe. Rini nggak mau apa-apa selain ayam dan sambelnya aja. Aku ambilin kemangi dan kol-nya *daripada mubazir kan?hehe. Tempatnya asyik, yah tipe lesehan-lesehan gitu *walaupun duduknya di kursi. Temboknya papan, kursi dan mejanya juga papan tanpa di cat, semi klasik deh. Tapi, ada satu yang nggak sesuai menurutku, yaitu harganya. Masa jus aja sampai 12ribuan. Piye kuiii? Spanduknya udah keren, mereknya juga udah keren banget. Tapi, harga juga harusnya menyesuaikanlah dengan lingkungan kampus dan pesaing lainnya. Mau mesen es teh pun jadi khawatir kemahalan. Hehe. Aku totalnya Rp 20.000 (ayam penyet 10rb, terong 5rb, petai 5rb *nggak nyangka terong dan petainya dipisah gitu harganya hikss), sedangkan Rincuy Cuma Rp 10.000 saja.

“Aku mau pulang ajalah. Sedang nggak siap bertemu siapa pun hari ini.”
“Antarin aku ke BEM dulu yaa?” pinta Rini.
Setelah bayar parkir, kami melaju. Aku iseng meletakkan tanganku dipaha Rini dan pasti dia akan mencubitiku dan mengataiku genit, gatal dsb. Hehe.
“El, lewat sini aja,” pinta Rini, menunjuk ke arah sebelah kiri barrier gate. Jalan ini akan berpenghujung di FMIPA. Pengen merasakan suasana baru, kata Rini.
“Rin, biasanya aku kalau stress, hobinya makan mie bihun goreng sendirian dan setelah itu pulang, tidur, nggak mau ngangkat telvon dari siapa pun atau bertemu siapa pun.”
“Buatlaah buaat (logat bataknya muncul). I know that feel bro!.”
“Rin, ternyata setelah aku fikir-fikir ketika menghadapai masalah gini, aku tersadar bahwa karakter jahatku sangat dominan,” aku membuat sebuah pengakuan.
“Hemm, baru sadar ya? El tuh jahat, el tuh kejam. Kalau ada masalah, marah-marah dulu, nangis dulu, Rin aku tadi kayak gini loh, aduuuuhhh,” Rini menirukan gayaku berbicara.
“Iya Rin. Saya kejam, jahat, jorok *kayak iklan pembersih toilet, hehe.”
“Orang-orang di luar sana mengira El adalah sosok wanita yang anggun dan berwibawa. Belum tahu aja mereka gimana cara El menyelesaikan masalah,” ejek Rini lagi.
Aku terbahak mendengar penuturannya itu. *sepertinya itu adalah penuturan terjujur dari hatinya pemirsaaa,,hihii.
“Iya ya Rin. Kalau PEGADAIAN itu menyelesaikan masalah tanpa masalah, kalau aku menyelesaikan masalah dengan masalah baru, hehe.”
“Bener tuh! Inilah yang disebut MAWAPRES, Muslimah Inspiratif oleh orang-orang itu. Duh, Kak Elis itu luar biasa, kak Elis itu begini begittuuuu. Aku yang paling tahu gimana El sebenarnyaaa, menyelesaikan masalah dengan menciptakan masalah baru. Huh!” ejek Rini lagi.
“Kalau dalam pelajaran sosiologi, ini disebut sosialisasi tidak sempurna, Rin. Artinya, dalam proses pematangan emosional menuju tahap dewasaku ada mengalami gangguan.”
“Hhaa, bener tuh. Prilaku menyimpang nama sifat El tuh.”

Kalimat Rini itu adalah penyudah perjalananku mengantarkannya. Di depan BEM, ku turunkan ia. Dan aku langsung capcus pulang. Aku sengaja nggak meminjam KTMnya Rini, karena rempong dan aku berniat menerobos saja. hehe

Di kamar berukuran 4x4,
Bang, sedang nyembunyikan sesuatu ya dari Elis?
Tanyaku tiba-tiba kepada bang Nando karena smsku sejak semalam nggak dibalas. *benar yang dikatakan Rini, menyelesaikan masalah dengan masalah baru, hihii
Maksudnya nyembunyikan apa Lis?
Balas bang Nando sesaat kemudian.
Kenapa sms Elis nggak Abang balas-balas?
Pulsa abang habis. Baru tadi isi pulsa. Abang sekarang sedang rapat ni…
Jangan terlalu cuek, bang. Peka-kan hati bang lagi.
Aku sempat ragu menuliskan kalimat itu, takut si abang salah faham. Tapi, menurutku nggak ada yang salah kok. Bang Nando kan ketua, seharusnya memang ketua peduli dengan masalah internal di antara pengurusnya. Iya kannn pemirsyaaa? Rupanya, bang Nando udah balas smsku sejak semalam dan bertanya ada apa? Tapi nggak aku balas. Idiih! HPku yang hang ternyata, sori ya bang. Hiksss. Sore ini, bang Nando mau mendengarkan penjelasanku. Oke deh, baiklah! Aku akan menceritakan ke bang beremosi stabil itu. Hiyaaaaaaakkkk! 

Iseng-iseng milihin mana foto yang cantik dan layak cetak atau perlu diedit dulu. Daripada suntuk mikirin ruwet di kepala. Sebenarnya, masalah ini harus dibagi (terutama ke bang Nando, karena dia yang paling faham), itu aja sih. Kalau aku yang mikirin sendirian gini, ya tentu aja uring-uringan sendiri. Yudi sempat nelvon juga dan ndengerin beberapa omelanku. Dia juga cerita bahwa dapat bantuan Rp 1000.000 dari URC untuk keberangkatannya besok ke Jakarta. Selamat ya bro, akhirnya mimpimu terbang melintasi sumatera segera terwujud. Semoga besok kami berkesempatan untuk melepas keberangkatanmu. Sukses selalu, jangan lupa bawa Januari kita! hehe.

Jam 16.15wib, aku menuju ke ruang F8 Matematika. Nggak pakai motor, aku jalan kaki lewat belakang MAPALA, ada momen kejutan ulang tahun yang tertangkap olehku tadi ketika melewatinya. Di TKP, ternyata belum ada siapa-siapa. Barulah Yaumil datang setelah aku duduk di ruangan. Bunyi langkah sandal tiba-tiba mendekat ke arah ruangan ini. Pasti bang Nando tuh! gumamku dan ternyata benar. Aku tidak serta merta bercerita kepadanya, meskipun Yaumil juga udah tahu. Aku tetap menahannya, sabar el, sabar! 
"Mil! Jangan lupa traktir Abang ya kalau menang nanti. Umil nih hebat nih diam-diam gini."
"Mana mungkin awak menang. Abang nggak lihat sih, Umil hancurnya gimana kemarin waktu presentasi. Masuk 10 besar pun mustahil, Bang," tangkis Yaumil sambil tertawa kecil.
"Jangan gitu bang, nanti kak Umil nangis. Masuk 10 besar pun nggak! hahha," kata Okta.
"Memang waktu presentase biasa aja, tapi abang tahu potensi Umil. Tunggu ajalah nanti. Buktikan kalau omongan Abang ni benar ya dan jangan lupa traktirannya, Mil hehee."
"Kak Umil lebih percaya sama siapa? Sama bang Nando yang sibuk di luar atau sama kami yang selalu dekat dengan juri dan lihat kakak tampil kemarin? haha," tambah Okta lagi. Umil selalu menangkis semua kalimat-kalimat bang Nando dan meyakini dirinya tidak mungkin masuk 10 besar. Aku hanya tersenyum, sambil sesekali melirik dek Okta.

Rapat macam apa ini? Hanya 5 orang saja yang ada: Aku, bang Nando, Okta, Umil dan Ainun. Tapi, nggak apa-apalah inilah yang disebut 'istimewa' itu. Eh, ternyata lebih efisien ya? Rapat cepat selesai dan semuanya sudah terkonsep dengan jelas. Tinggal eksekusi!

Setelah rapat ku tutup, giliran urusanku dengan bang Nando yang harus diselesaikan,
"Hah! Liss? Ada apa sebenarnya?" tanya bang Nando dengan nada bijak.
Kami bergeser sedikit dari pintu ruangan, sementara Okta dan Yaumil masih membicarakan sesuatu tentang teknis penganugerahan. Mulailah bang Nando menasehatiku dan menceritakan detil peristiwa apa adanya. Aku jauh lebih bisa menerima penjelasan ini pada akhirnya, walaupun sebenarnya ini juga yang sudah disampaikan oleh bang *ad*e semalam. Tapi, dengan bang Nando aku bebas memprotes dan keberatan sesukanya *lalu dengan sabar dan diplomatis, dia menjawab satu persatu pertanyaanku itu. Aku terdiam! Tidak ada lagi celah untukku memberontak. Aku terima semua nasehat ini dan ini adalah pengajaran dan pelajaran buatku. Aku juga sudah menumpahkan segala kata semalam yang menurutku kasar dan bang Nando menanggapinya dengan:
"Sudahlah, Lis, itu kan adalah kata-kata kasar kan? Mungkin abang tu sedang banyak fikiran, sama juga dengan abang ngurusin penelitian ini. Kita sama-sama saling memaafkanlah ya. Abang juga pusing sebenarnya, setiap kita itu punya ego masing-masing di sini. Memang, kita adalah pemain lama, tapi kita baru tergabung di sini dan langsung disuguhi agenda-agenda besar seperti ini. Makanya, kita butuh bikin acara kekeluargaan setelah semua ini selesai, biar kita menyatu dan benar-benar seperti keluarga."

Aku pulang melewati jalur yang sama.
Senja telah pulang kepangkuan malam mendahului pulangku yang penuh gesa.
Lia tidak terdengar kabarnya hari ini, hanya tadi pagi ketika aku bilang aku sedang marah. Okta juga lebih cuek hari ini, tidak seperti biasanya yang merengek-rengek. Aku harus R E L A atas segala yang berlaku ^_^ *belajar rela, mungkin lebih tepat.

Yudi menelvonku dan aku langsung menasehatinya (seperti emak-emak) untuk persiapan penerbangannya besok. Ah, masih teringat begitu jelas bagaimana putus asanya seperti tak terobati lagi setahun yang lalu, ketika dia baru gagal PEKSIMIDA. Dan, esok ia akan meraih mimpinya untuk terbang melintasi Sumatera-Jawa, doaku bersamanya.
"Mak! Makan bareng yuk di Ayam Gopek, bareng Jhon juga nih."
"Duh! Maaf ya, Bang. Mak udah beli lauk nih dan males bingit mau ke luar lagi. hihii."

Tidak ada komentar: