Minggu, 19 April 2015

Inspirasi: Perlukah Berterimakasih Ketika Ditanyai oleh Juri?

Dalam suatu obrolan indah lainnya,
"Kak, Okta selama ini memperhatikan loh acara-acara di Balai Bahasa. Nah, kebanyak orang dan lazimnya ketika juri memberikan pertanyaan kepada peserta, mereka akan menjawab begini: "Terimakasih atas pertanyaan yang telah diberikan oleh dewan juri, izinkan saya untuk menjawabnya bla bla bla" nah, begitulah kebanyakan," kata dek Okta.
"Benar, Dek (aku memikirkan fakta ini). Terus, Dek?"
"Nah, seharusnya mereka nggak perlu berkata seperti itu, Kak. Kita kan sedang ditanya nih, anggap aja kita sedang dihakimi posisinya, mana ada orang yang berterimakasih dalam posisi seperti itu kan? (Okta terdiam, memberiku kesempatan untuk mencerna kalimatnya). Masuk akal nggak, Kak?"
"Masuk akal bangeeet, Dek. Lalu, sebaiknya gimana?" kejarku, tak sabar.
"Seharusnya seperti ini: "Menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh dewan juri, maka saya akan menjelaskan bahwa bla bla bla," gitulah Kak kurang lebihnya."
Aku manggut-manggut. Nggak nyangka, setiap ngobrol dengan dek Okta selalu ada aja ilmu baru yang aku terima. Makasih ya, Dek. Semoga Kakak bisa mengabulkan mimpi Duta Bahasa-mu itu. aamiin.

Hanya Mencintai Diri

Jika aku tidak menerima rasa sakit dari mencintai seseorang, artinya aku belum bisa mencintai. Cinta adalah MAAF. Seharusnya tidak ada yang tersakiti dalam cinta. Maka, belajarlah mencintai dia dengan sesempurna cinta. Bukan cinta untuk mencintai hati kita sendiri.

Ranum Pagi, di 19 April 2015

Happy Competer: Aku Terlanjur Cinta

Penyakitku adalah: kalau udah terlanjur nulis, nggak mau gerak dan beranjak. hiksss. Lihat ke luar jendela, udah terang ya ternyata? Lihat HP, oh sudah jam setengah 7 rupanya. Bimbang, pergi atau nggak ya?
"Cuy! CFD-an yuksss?"
"Kalau mau CFD-an, perginya jam 6, El. Bukan jam segindrang," jawab Rini sok cuek. Lagian, dia jam 9 mau ke BEM UR juga ngurusin PPRU-nya sementara aku mau lanjut sampek siang di COMPETER. Dengan bismillah, aku beringsut dari tempat tidur dan bergegas pergi. Lihat jam lagi, eh udah jam 7.30wib aja. Nggak apa-apa deh, kan sampek sana udah mulai acaranya, nggak pake nunggu-nunggu lagi.

Rencananya mau lewat UR aj. Tapi karena KTM-ku belum juga ketemu dan males ditanya-tanyain satpam, akhirnya ku putuskan lewat Subrantas dan berbelok ke Arengka 2. Udah ada firasat nggak enak dengan gas yang stabil. Ah, aku berusaha cuek, selama ini juga sering mendadak rendah gasnya. Tapi, aku nggak bisa mengelak lagi ketika motorku semakin nyaris berhenti. Aku melaju dengan kecepatan tinggi, kalau pun mogok di dekat stadion utama aja jadi gampang kalau minta pertolongan. *fikiran jenis apa ini?. Daaan... niatku terjadi, mogok di samping stadion utama, di depan halte TMP.