Senin, 22 Juni 2015

Bahasa Hati

Tak peduli seberapa setia kau menemani
Segala tawa hingga air mata
Tetap saja belum tentu dirimu adalah yang spesial
Sebab Hati adalah hati
Berbicara dengan bahasanya sendiri

Juni meragu, 2015

Ramadhan ke-5; The Three Jorkiers

Setelah Lia terlelap, aku segera menyusulnya. Barusan, menjelang Lia tertidur, aku mendengar ceramah dari HPnya. Tentang Rosulullah; detik-detikkepergiannya. Sedih. Aku sampai membathin, Kok ada ya manusia sebaik beliau? Hemmm… aku rindu ingin berjumpa denganmu ya Rosul. Beliau meminta siapa saja yang pernah merasa tersakiti dan terzolimi karenanya untuk segera membalasnya. Beliau rela diqisas atas perbuatannya tersebut demi agar dosanya diampuni Allah. Aku bergumam lagi, Orang sebaik Rosulullah aja sampai segitunya meminta maaf kepada orang lain, lah kita (aku) kok malah gampang melupakan kesalahan kita kepada orang lain toh? Hiksss… padahal, bisa jadi mereka yang tersakiti belum ikhlas atas diri kita. Rosulullah hanya ingin bertemu Allah dalam hati yang tenang. *terharuuuuu…
Walhasil, momen jelang-tidurku berhiaskan istighfar kepada Allah. Seketika ‘tertegur’ bahwa diri ini banyak salahnya.

Inspirasi: Nggak enaknya Ditanya Tentang SKRIPSI

Aku duduk di sebelah wulan yang juga sedang wifian di sini. Dia duluan yang menegurku tadi. Kami bersalaman dan setelah itu kami tak saling bertanya banyak. Aku faham tentang bagaimana nggak enaknya pertanyaan seputar proses SKRIPSI, makanya aku nggak mempertanyakan itu sama sekali meskipun udah ada beberapa kalimat yang berada di ujung lidah. Mungkin, Wulan pun demikian segannya kepadaku.
“Eh, wifinya lancar Say?”
“Lancar El.”
Aku segera mengaktifkan icon wifi di laptopku.