Senin, 22 Juni 2015

Ramadhan ke-5; The Three Jorkiers

Setelah Lia terlelap, aku segera menyusulnya. Barusan, menjelang Lia tertidur, aku mendengar ceramah dari HPnya. Tentang Rosulullah; detik-detikkepergiannya. Sedih. Aku sampai membathin, Kok ada ya manusia sebaik beliau? Hemmm… aku rindu ingin berjumpa denganmu ya Rosul. Beliau meminta siapa saja yang pernah merasa tersakiti dan terzolimi karenanya untuk segera membalasnya. Beliau rela diqisas atas perbuatannya tersebut demi agar dosanya diampuni Allah. Aku bergumam lagi, Orang sebaik Rosulullah aja sampai segitunya meminta maaf kepada orang lain, lah kita (aku) kok malah gampang melupakan kesalahan kita kepada orang lain toh? Hiksss… padahal, bisa jadi mereka yang tersakiti belum ikhlas atas diri kita. Rosulullah hanya ingin bertemu Allah dalam hati yang tenang. *terharuuuuu…
Walhasil, momen jelang-tidurku berhiaskan istighfar kepada Allah. Seketika ‘tertegur’ bahwa diri ini banyak salahnya.

***
Alhamdulillah, inilah hikmah dari kebersamaan;2 porsi cukup untuk 3 orang, 3 porsi untuk 4 orang dan seterusnya. Sambal tempe dan ayam bumbu yang kami beli setelah sholat Tarawih ternyata cukup untuk santap-sahur kami pemirsaaa. Bahkan sambal tempenya masih berlebih. Padahal, kalau dimakan sendirian pun sebenarnya akan habis juga, tapi dengan berbagi 2 untuk bertiga pun cukup.
Tumben banget setelah tegukan terakhirku azan langsung berkumandang. Berarti waktu bangun kami nih yang agak lambat dair biasanya. Tapi, yang harus disyukuri adalah kami tidak sempat merasakan kantuk karena harus segera mendirikan sholat Subuh. Yuhuuuu…
Aku perhatikan, suara keluarga penjaga kosan sudah lebih dulu hening sebelum azan berkumandang. Dan timbullah pertanyaan di hati, Mereka udah sholat Subuh atau belum ya? Sayang banget ya kalau ada yang masih juga bolong-bolong sholatnya dalah puasanya.hiksss…
Setelah sholat Subuh, kami melanjutkan kewajiban memenuhi panggilan UI. Aku meminta Rini mencari informasi tentang kasus penyelewengan wewenang sementara Lia mencari tentang hasil penelitian tentang efektivitas kelompok mengaji. Aku? Nggak usah ditanya. Sejujurnya, sejak semalam aku belum mengerjakan apa-apa selain melengkapi blog. Duh, rasanya asyik banget kalau kita udah punya kesibukan dan udah tahu mau ngapain bersama hal-hal yang kita suka.
“Aku tidur bentar yaa? Agak, agak 10 menit. Rin, bangunkan aku jam 7 pas ya!” pesanku.
Sejauh ini hingga aku terlelap, Lia masih aman. Matanya masih terjaga. Semoga ia masih bisa bertahan seperti itu hingga aku kembali terjaga. Hehe.
“El! Udah 10menit loh. Bangun!” pekik Rini dari atas dipan.

Aku menoleh ke kananku, ternyata Lia udah terkapar. Huft! Sekarang, giliran aku yang melaju. Ku kumpulkan semua bahan yang sudah dikumpulkan oleh Lia dan Rini, biarkan aku yang meraciknya! *kayak masakan aja neng.
Dan, hal di luar kewaspadaan pun terjadi. Kesel itu adalah ketika kamu udah ngetik berhalaman-halaman dan lupa nge-save, akhirnya ketika disclose, semua file tadi hilang seketika. Hiksss.. *sedih kan pemirsaaa? Jantungku seketika berhenti berdetak, darahku berhenti mengalir dan otakku berhenti berfikir ketika pertanyaan di layar desktop, Do want to save this Document? dan aku mengklik No. huaaaaahhhhhhh…
“Yuk tos dulu kita? Tosss!” ajak Rini untuk menghiburku.
Setelah kami bertos-tosan, giliran aku yang harus meluruskan bahu dan melenturkan jemari untuk mengulang segala ide. Ya Allah, semoga Engkau mengganti apa yang telah hilang dengan yang jauh lebih baik. Aamiin.
Aku membutuhkan waktu lebih dari sejam untuk melengkapi semuanya. Hal-hal yang pernah disarankan oleh juri ketika kami presentase kemarin pun tak lupa ku sertakan. Memang benar, kemahiran menulis sangat dituntut dalam jenis tulisan yang satu ini. Bukan hanya tentang bagaimana caranya merangkai kata dengan indah, tapi bagaimana cara menghubungkan kalimat demi kalimat sehingga ide kita terpola dengan tepat di dalamnya.
“Rin, Rin, tolong donk Rin?” aku menepuk bahu Rini pelan. Ia dan Lia sama pulasnya. “Tinggal dilengkapi lagi nih footnotenya, setelah itu langsung dikirim. Soalnya udah jam 10 nih.”
Rini segera bangun, meraih laptopnya dan menghidupkannya.
“Mau pakai modemku atau pakai wifinya Lia aja?” tanyaku.
“Modem ajalah.”
Giliran Lia yang menyusul bangun. Aku beranjak dari duduk peweku untuk membereskan kamar. Sampah-sampah yang menumpuk di belakang pintu kamar sudah seplastik besar ternyata. Aku membuangnya ke ember sampah di depan kosan. Lalu, kamar ku sapu dan pel sementara Lia mencuci piring. Niat untuk ke Prodi terpaksa urung dulu, karena nanggung banget udah jam segini. Apalagi jam 13.30wib kami pun harus bergegas ke Arfaunnas.

***
"Cin, kalian nggak pulang doh?"
"Nggak Cin. Kami pantang mandi sore. Nanti kalau kami mandi, kecantikan kami luntur. hihii."
"Hisss. Jorki."
"Udahlah, nggak usah lagi mandi. Kita harus hemat air Cin. Mari bergabung bersama kejorkian kami dan kita akan jadi The Three Jorkiers. hehehe."
"Hisss...nggak mau ah."
 Akhirnya, Lia pulang. Sementara aku dan Rini langsung ke RM. Mandiri dan memesan 3 porsi nasi. Lia akan kembali lagi ke sini setelah mandi.
"Rin, pengen bakwa ituuuu," kataku di pertengahan santap buka. Ada keluarga besar yang sedang berbuka bersama di RM ini dan mereka duduk di dekat TV. Aku ngiler banget ngelihat bakwan-bakwan itu.
"Iya El. Semoga kita dikasih juga ya. Masa cuma cowok-cowok itu aja."
Rini dan aku memandangi 3 orang cowok yang sedang minum dan makan bakwan. Mungkin tadi waktu pesanan mereka sedanga dibungkus, udah keburu azan. Makanya mereka dikasih bebukaan di sini. Kami iri.
"Rin, biasanya doa dibulan puasa gin cepet loh terkabulnya.
"Iya El. Semoga sebentar lagi kita ditawarin ya. aamiin."

Tapi, setelah nasi dipiring kami habis, bakwa itu tak juga datang. Bahkan, kami pun sudah mencuci tangan dan sebentar lagi akan beranjak dari sini. Aku mengalihkan perhatian dengan ngobrol ringan bersama Rini.
"Dek, ni ada bakwan," ujar si kakak pengantar bakwan.
GLEKKK! Aku dan Rini nggak menyangka. Setiba-tiba inikah? Tanpa basa basi lagi, kami langsung menyikat bakwan-bakwan lezat itu.
"Doa kita terkabul disaat yang tepat Rin."
"Bener El. Doa kita emang langsung terkabul. Bulan ramadhan emang bulan yang ajaib."

Tidak ada komentar: