Jumat, 01 Mei 2015

Kontributor Antologi Puisi ‘Hujan’

Nama acara : Lomba Menulis Puisi
Tema : “Hujan”
Tanggal : 2 Mei 2015
Penyelenggara : Rassellea Publishing
Judul Puisi : Hujan pun Pernah Kecewa

Tentang Pencapaian :
Yang memberitahu dan mengingatkanku tentang even ini adalah Yudi Mukhtar. Tapi, ketika pengumuman, namaku lolos sedangkan dia tidak. Memang, yang berbuat baik itu tak selalu menjadi yang terbaik, tapi ia adalah pendorong orang lain untuk berbuat yang terbaik. Itulah yang dilakukan oleh Yudi. Ia tetap terlihat tegar dan tak apa-apa. Aku sangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan Allah ini, sekalipun aku belum berkesempatan menjadi pemenangnya. Semuanya butuh proses. Aku harus lebih banyak lagi mencoba, supaya peluang itu semakin lebar terbuka. Bukankah kesuksesan itu adalah milik mereka yang MENCOBA? Bukan milik mereka yang BERPUAS HATI.

____Bukan tentang berapa kali kamu MENANG, tapi tentang berapa banyak kamu MENYERANG (Truly Elysa)

Fitri Nurjanti (Author Bestseller Book from Yogyakarta)

Waktu pertama kali dirimu nge add guweeehhhh hahahaaa.....yah first of all ya...it is great that i can meet other author, jadi aku bisa sharing-sharing pengalaman sebagai penulis.  Kamu itu orangnya penuh dengan energi, ceria, optimis dan ambisius. Have a great willing to do things u like. tapi ada sedikit dari kamu yang mungkin akan jadi penghambat dalam karirmu kelak, yaitu jurusan yang beda dengan obsesimu, dari pengalaman pribadi aja yahhh.....kamu suka nulis tapi jurusanmu ekonomi (kalo aku gak salah sih hahahaa). Intinya, jurusan ekonomi itu seperti bukan panggilan dirimu, kemungkinan karena tuntutan dari ortu untuk memiliki pekerjaan konvensional tapi itu bukan tuntutan hatimu. Jadi, setidaknya kamu memiliki hal yang disebut dengan kurang mampu menunjukkan perasaanmu, terlepas dari benar enggaknya. Kan kamu sendiri yang tahu, aku cuman ngeliatin hahaha itupun ngeliatnya nggak jelas, karena kita belum pernah ketemu straight to the poin. dan satu lagi, kayaknya kamu lagi ada krisis tertentu yaaa arahnya sih ke krisis kedewasaan diri. Intinya... kayaknya kamu sedang memiliki masalah yang pelik hehehee (Sunday, May 17th 2015)

Sambutanku :
Usia perkenalanku dengan mbak Fitri belum sampai hitungan semester apalagi tahun. Ngepoin orang yang luar biasa adalah hobiku. Nah, mbak Fitri ini adalah penulis yang nggak sombong dan rendah hati. Ngerasa kayak curhat ke kakak sendiri aja. Tentang komentarnya itu pun banyak benernya. hehe. Tapi, mau gimana lagi, Ekonomi telah lebih dulu mencuri cintaku daripada Literasi. Jadi gimana? Masa Ekonominya ku campakkan? Ntar dibilang habis manis sepah dibunag pula, hehe. Silahkan berteman dengannya di FB: https://www.facebook.com/fitri.nurjanti

Mungkin Kita Terlalu

Kenapa barang yang sedang ku cari ini susah sekali ku temukan?
Jawabannya: Mungkin kita melihatnya dengan mata  yang tergesa-gesa.
kenapa kita nggak pernah sadar kalau ternyata rumah kita banyak retakannya?
Jawabannya: Mungkin selama ini kita melihatnya terlalu dekat. Cobalah ke luar dari rumahku dan lihatlah rumahmu dari luar, apakah yang kamu temukan?
Kenapa kita susah menerjemahkan sesuatu padahal itu sering kita alami?
Jawabannya: Mungkin kita sudah terlalu merasakannya
Kenapa kita merasa lebih susah menasehati orang terdekat daripada orang-orang jauh?
Jawabanny: Mungkin rasa sayang telah mengambil alih logika. Atau mungkin karena kita terlalu dekat dengannya sehingga celah untuk menasehati dirinya menjadi celah diri kita sendiri.

Mei Baru 2015

Kalian Ada Untuk Melengkapi Lemahku

Seperti biasa. Mungkin pemirsa udah bosan membaca alasanku malas beranjak ketika pagi. Aku kembali dalam candu merangkai kata. Kali ini, aku menggenapi 7 postingan; 2 postingan tentang Me of The Day dan yang 5nya lagi adalah inspirasi tentang CINTA. Kalau dilanjutkan, aku akan lebih punya banyak waktu lagi untuk mengetik. Tapi, kewajiban rapat telah mengurungkan sementara keinginanku ini. Tapi, sedikit agak heran sih; Kok belum ada yang ribut nelvonin ya? *aku kan nunggu-nunggu cinnn. hehe.

Drettt... Dreettt..
Baru aja difikirin, Okta udah menjawab keherananku.
"Kakak dimana?"
"Di kosan, Dek."
"Kami ke kos Kakak." Telvon ditutup dan sebentar kemudian terdengar teriakan-teriakan nggak sopan dari depan; Eliseeeeekkk.... yuhuuuuuuuuuu... Ceeekkkkkkkkkk.
Aku bergegas ke luar untuk memanaskan motor, tapi apa yang terjadi? Aku harus mengambil Citra Hazline-ku lalu membiarkan Okta dan Joni memakainya di wajahnya. huahhhhh, tercemarlah bedak saya pemirsaaa. hihii. Baru deh cusss ke Fisika ngeliat kain panjang untuk keperluan dekorasi. Cuma ada aku, Joni, Okta dan Rini (yang cuma minta tolong antering ke BEM untuk mulangin falshdisk dan minta dianterin lagi ke kosan), hiksss. Memang, beginilah kondisinya.
"Kemanalah si *an*u* itu kok nggak ada orangnya?!" ujar Joni, geram.
Yaumil masih di luar dan belum bisa ikutan dekorasi.
Di Rektorat lantai 4, kami naik bersama; Okta dan Joni mengangkat kardus berisi kain-kain panjang. Ada Rahman di dalam ternyata. Langsung saja mereka beraksi, memasang dinding di samping panggung sebagai tempat persembunyian para finalis sebelum dipanggil oleh MC. Karena tenaga panitia yang terbatas, menjelang sholat Jumat baru selesai untuk sisi sebelah kanan panggung dan dilanjutkan lagi setelah sholat. Kali ini, sudah ada aku, fifi, intan dan Ainun.

Inspirasi: Hobi yang Dibayar

Dalam sebuah obrolan yang sebenarnya tidak santai,
"Kak, mungkin mereka biasa aja kalau pun nggak dapat honor atau sertifikat, karena kita pun teman mereka. Orang pun mungkin mikir; Oh, anak kampus kok. Mereka pasti masih cari pengalaman aja dan masih belajar. Tapi Kak, setidaknya panitia berfikir untuk memberi mereka penghargaan. Mereka itu presenter loh Kak di luar dan gaji Rp 500.000 itu kecil Kak sebenarnya bagi mereka. Okta sangat meyakini kalimat ini; Pekerjaan yang paling nikmat itu adalah gaji yang dibayar. Okta juga udah pernah menyarankan sama sahabat-sahabat Okta itu untuk menentukan tarif pembayaran untuk siapa pun yang mengundang mereka. Nggak masalah kan, Kak? Karena itu profesi mereka dan ada harganya."
#Inspirasi dari dek Okta