Seperti biasa. Mungkin pemirsa udah bosan membaca alasanku malas beranjak ketika pagi. Aku kembali dalam candu merangkai kata. Kali ini, aku menggenapi 7 postingan; 2 postingan tentang Me of The Day dan yang 5nya lagi adalah inspirasi tentang CINTA. Kalau dilanjutkan, aku akan lebih punya banyak waktu lagi untuk mengetik. Tapi, kewajiban rapat telah mengurungkan sementara keinginanku ini. Tapi, sedikit agak heran sih; Kok belum ada yang ribut nelvonin ya? *aku kan nunggu-nunggu cinnn. hehe.
Drettt... Dreettt..
Baru aja difikirin, Okta udah menjawab keherananku.
"Kakak dimana?"
"Di kosan, Dek."
"Kami ke kos Kakak." Telvon ditutup dan sebentar kemudian terdengar teriakan-teriakan nggak sopan dari depan; Eliseeeeekkk.... yuhuuuuuuuuuu... Ceeekkkkkkkkkk.
Aku bergegas ke luar untuk memanaskan motor, tapi apa yang terjadi? Aku harus mengambil Citra Hazline-ku lalu membiarkan Okta dan Joni memakainya di wajahnya. huahhhhh, tercemarlah bedak saya pemirsaaa. hihii. Baru deh cusss ke Fisika ngeliat kain panjang untuk keperluan dekorasi. Cuma ada aku, Joni, Okta dan Rini (yang cuma minta tolong antering ke BEM untuk mulangin falshdisk dan minta dianterin lagi ke kosan), hiksss. Memang, beginilah kondisinya.
"Kemanalah si *an*u* itu kok nggak ada orangnya?!" ujar Joni, geram.
Yaumil masih di luar dan belum bisa ikutan dekorasi.
Di Rektorat lantai 4, kami naik bersama; Okta dan Joni mengangkat kardus berisi kain-kain panjang. Ada Rahman di dalam ternyata. Langsung saja mereka beraksi, memasang dinding di samping panggung sebagai tempat persembunyian para finalis sebelum dipanggil oleh MC. Karena tenaga panitia yang terbatas, menjelang sholat Jumat baru selesai untuk sisi sebelah kanan panggung dan dilanjutkan lagi setelah sholat. Kali ini, sudah ada aku, fifi, intan dan Ainun.
"Kak? Kuenya kok mahal kali? Rp 6.500 pula tuh. Sama teman Okta ada cuma Rp 3500, biarlah Okta
pesankan aja, Kak. Lumayan bisa menghemat uang kita."
"Kue udah dipesan loh. Segan kalau harus dibatalkan lagi."
"Tapi, bayangkanlah Fi separuh loh yang bisa kita hemat. Emangnya berapa banyak yang udah dipesan?" tanyaku.
"Untuk 250 orang kuenya."
"250?" pekikku.
"Ya udahlah, nggak apa-apa kok. Yang penting uangnya kan cukup," tutup Okta. Aku tahu makna kalimatnya itu. Aku juga sangat tahu terjemahan ekspresi wajahnya. Okta, memang pemaksa dan kadang-kadang bandel juga, tapi untuk bedebat? Aku justru sering membaca 'mengalah'nya daripada paksaan-paksaannya. *dia luar biasa, bathinku. Aku belum tentu bisa seperti dirinya.
Sambil menunggu menunggu mereka selesai sholat Jumat, aku ngisi blog dan buka FB. Alhamdulillah, akhirnya MTQ yang udah 2 tahun ini ku nantikan, terpajang sudah pengumuman lombanya. Aku sempat kecewa ketika aku nggak nemu cabang lomba KTI Kandungan Al-Quran. Rupanya, letaknya di bawah, tergabung dengan cabang lomba ke-9; Kaligrafi Al-Quran. hemmm, ya Allah hampir aja aku patah arang. soalnya cuma KTI yang bisa ku andalkan di MTQ. Aku masih ingat 2 tahun yang lalu ketika aku bilang ke Mami-Papi bahwa aku juara 2 KTI Al-Quran di MTQ Mahasiswa, mereka heran bagaimana mungkin aku bisa menang dengan kemampuan ngaji yang seperti ini? haha, aku juga baru nemuin di kampus, bahwa KTI juga di MTQ-kan. *lega sekali.
**fi duduk di dekat tangga dan aku sudah mengajaknya duduk di bangku di sampingku, tapi dia tetap tidak mendekat. Ah, aku sedang tidak pandai membujuk-bujuk atau membuka diri untuk mendekati orang yang sedang tidak berjalan ke arahku (ini apa artinya ya?hhee). Aku tetap tenggelam dengan tarian jemari. Rahman lebih dulu datang daripada Okcek dan Joncek. Aku dan dek Rahman segera beraksi untuk memasang tirai merah di sebelah kiri panggung.
Finalis sudah mulai berdatangan, MC juga sudah datang, ada Ditra, Vera dan Key. Okta dan para MC sedang menyusun acara sedangkan aku, baru saja bisa makan setelah tadi melewati adegan ngambek-ngambekan karena air minum (bonus si nasi bungkus) dilaporkan Novi telah dibuang Okta di tangga. Huaaahhhhh, ada-ada aja emang kerjaan makhluk berdua ini. Aku udah capek-capek ngambek, mereka malah tambah cuek, hiksss.
"Mbak, kami ada bisnis nih. Kita harus serius menggarapnya. Mbak dengerin aja ya sambil makan," paksa Romcek.
"Yuhuuuu," jawabku.
".... jadi ini lebih bertujuan kepada tindakan persuasif kepada mahasiswa untuk menjadi remaja yang aktif dan terhindar dari aktifitas terlarang, berbasis dari Al-Quran dan Islam. Gitu kak!"
"Keren banget tuh! Bermula dari komunitas atau apa nih, Dek?"
"Komunitas aja awalnya. Nah, kira-kira siapa lagi ya Mbak yang bisa kita ajak bareng membangun komuunitas ini?" tanya Romi.
"Orang yang nggak terlalu 'ekstrim' tapi peduli dengan hal-hal seperti ini, siapa ya Kak kira-kira?"
Aku menyarankan beberapa nama dan ini menjadi pertimbangan besar bagi kami. Mereka luar biasa dan aku bangga!
Gladi resik berlangsung 1 jam. Itu udah termasuk dengan rempong-rempongya dan debat-debatnya juga. Alhamdulillah, tapi kami belum sholat Ashar nih jam 17.00wib, karena nanggung kalau udah turun ke bawah dan neglanjutin yang tinggal dikit ini. Aku segera pulang dan sholat di rumah. Ada Rini yang sedang laying-laying di tempat tidur. Dia pasti bete karena modemnya ku bawa, laptopnya ku bawa sedangkan cas latopku juga ku bawa. *piye iki? hehe
Kangen dengan Mami, aku segera menanyakan keadaannya lewat sms. Ternyata papi udah mandah di Sinaboi sejak hari Senin lalu. huaaahh, Mami kok nggak bilang-bilang yak? Ya Allah, jaga papi yang jauh di sana. Segerakan penyelesaian pekerjaannya dan percepatlah ia kembali ke rumah kami bersama. Aamiin. Aku sedih, ketika membaca info di fanspage-nya BEM FKIP, bahwa Dian, temanku di Pekon (tapi dia jur. Akuntansi 2011), baru saja ditinggal ibunya meninggal dunia. innalillahi wainnailaihi Rojiunn, kematian memang begitu dekat dengan kita. Bisa saja, saat kita sedang tertawa terbahak-bahak, sebenarnya malaikat maut berada sangat dekat dengan kita. *maaf ya Allah. Aku harus berubah! Harus menjadi kebanggaan bagi mami-papi baik di dunia maupun di akhirat. Bismillah! Bantu aku ya Allah agar ringan menunaikan tahajud, agar doaku untuk kedua orangtuaku lebih cepat Engkau ijabah. Karena, aku butuh Engkau untuk cepat menjaga mereka, menyayangi mereka dan memberkahi hidup mereka. aamiin.
Seusai Maghrib, HPku bergetar berulang kali. Ternyata panggilan dari Okta dan sekilas aku mendengar ada panggilan: Eliscekkkkkkkkkkk, dari teras kosan. nggak salah lagi, itu pasti Okta dan Joni. Aku menghampiri mereka yang sepertinya ingin berbicara serius.
"Kak, selempangnya nggak bisa selesai malam ini ternyata."
"Loh? Kok bisa? Katanya kemarin sanggup," tanyaku.
"Iya, Kak. Kemarin memang bapak tuh ngakunya sanggup, tapi ternyata tadi mati lampu di sana, Kak. Waktu kami ke sana aja Bapak tuh sedang membordir yang juara 1."
"Terus kapan bisa diambilnya, Dek?"
"Besok paling cepat, Kak. Itu pun jam 1 katanya," Okta dan Joni saling membagi kesempatan menjelaskan.
"Ya ampuuun, kan kemarin katanya bisa. Nggak mungkin kan mereka nggak pake selempang, Dek? Adek ada nomom bapak tu nggak? Kalau ada telvonlah. Bilang, kita mohon kali pagi besok harus udah selesailah selempangnya. Kan dah Kakak bilang, pakai yang sablon aja biar nggak rempong."
"Masa Bapak itu harus lembur malam ini, Cek? Atau pake selempang yang tahun kemarin aja, Cek?" usul dek Joni.
"Mana mungkin bisa, Dek. Kan ada bacaan tahun 2014nya di selempang kami tuh. Macam mana pula nya? Ya Allah, Dek jadinya gimana itu?" tanyaku pelan.
Lalu, tertawalah mereka terbahak-bahak karena udah ngerjain aku. Selempangnya udah selesai dan mereka sembuynikan. *hoawaaallah.
"kami kan niatnya pengen bikin Kakak marah tadi. Tapi, Kakak kok nggak marah juga?"
Hahaha. Giliran aku pula yang tertawa. Ya, namanya aja aku sedang nggak pengen marah, mana bisa aku marah? Memang sedang tidak terpancing sih. Mungkin ini artinya aku sedang stabil. Alhamdulillah.
"Idih! Masih cantikkan lah selempang Kakak lagi. Lebih berat dan kesannya mahal gitu. Ini cerah kali, norak."
"Alaah bilang aja Kakak busuk hati. Cantiklah ini lagi daripada punya Kakak tahun lalu tuh."
Aku segara membawa masuk selempang itu dan memfotonya.
"Rin, cantikkan mana dengan punyaku kemarin?"
"Cantiklah punya El lagi. Ini sih biasa aja. Punya El itulah yang kelihatannya waa gitu."
ku ke luar lagi dan memamerkan pujian Rini barusan tentang selempangku. Mereka berdalih bahwa sajar saja Rini berkata begitu karena dia teman sekamarku. Okta terus saja sibuk mencoba memakai selempang itu, lalu apa katanya?
"Kak, Okta banyaaak tahun tentang perdutaan ini. Tapi, kok selaipun nggak pernah ya selempang itu datang ke Okta ya, kak?" tanyanya.
"Simple aja sih jawabannya, karena Adek nggak mau menjemputnya. Itu aja!"
"Kak, kira-kira apa yang harus kita matangkan lagi malam ini supaya besok kita nggak malu?" tanya Okta serius.
"Iya! Aku masuk besok pagi. Jam 09.00wib aku baru bisa datang," jelas Joni.
Kali ini mereka terlihat serius. Beda banget dengan tadi siang ketika sedang berselendang kain merah. Okta sibuk masangin tirai sama Rahman, eh si Joni nggak mau bantuin sama sekali dan tetap sibuk dengan kain merahnya itu. Yana aja sampai bilang:
"Kak, Joni itu pantang kali jumpa kain, Kak! Nggak bisa berhenti main dia nanti Kak."
Hahaha, nggak ada loe nggak rame, Dek!
Drettt... Dreettt..
Baru aja difikirin, Okta udah menjawab keherananku.
"Kakak dimana?"
"Di kosan, Dek."
"Kami ke kos Kakak." Telvon ditutup dan sebentar kemudian terdengar teriakan-teriakan nggak sopan dari depan; Eliseeeeekkk.... yuhuuuuuuuuuu... Ceeekkkkkkkkkk.
Aku bergegas ke luar untuk memanaskan motor, tapi apa yang terjadi? Aku harus mengambil Citra Hazline-ku lalu membiarkan Okta dan Joni memakainya di wajahnya. huahhhhh, tercemarlah bedak saya pemirsaaa. hihii. Baru deh cusss ke Fisika ngeliat kain panjang untuk keperluan dekorasi. Cuma ada aku, Joni, Okta dan Rini (yang cuma minta tolong antering ke BEM untuk mulangin falshdisk dan minta dianterin lagi ke kosan), hiksss. Memang, beginilah kondisinya.
"Kemanalah si *an*u* itu kok nggak ada orangnya?!" ujar Joni, geram.
Yaumil masih di luar dan belum bisa ikutan dekorasi.
Di Rektorat lantai 4, kami naik bersama; Okta dan Joni mengangkat kardus berisi kain-kain panjang. Ada Rahman di dalam ternyata. Langsung saja mereka beraksi, memasang dinding di samping panggung sebagai tempat persembunyian para finalis sebelum dipanggil oleh MC. Karena tenaga panitia yang terbatas, menjelang sholat Jumat baru selesai untuk sisi sebelah kanan panggung dan dilanjutkan lagi setelah sholat. Kali ini, sudah ada aku, fifi, intan dan Ainun.
"Kak? Kuenya kok mahal kali? Rp 6.500 pula tuh. Sama teman Okta ada cuma Rp 3500, biarlah Okta pesankan aja, Kak. Lumayan bisa menghemat uang kita."
"Kue udah dipesan loh. Segan kalau harus dibatalkan lagi."
"Tapi, bayangkanlah Fi separuh loh yang bisa kita hemat. Emangnya berapa banyak yang udah dipesan?" tanyaku.
"Untuk 250 orang kuenya."
"250?" pekikku.
"Ya udahlah, nggak apa-apa kok. Yang penting uangnya kan cukup," tutup Okta. Aku tahu makna kalimatnya itu. Aku juga sangat tahu terjemahan ekspresi wajahnya. Okta, memang pemaksa dan kadang-kadang bandel juga, tapi untuk bedebat? Aku justru sering membaca 'mengalah'nya daripada paksaan-paksaannya. *dia luar biasa, bathinku. Aku belum tentu bisa seperti dirinya.
Sambil menunggu menunggu mereka selesai sholat Jumat, aku ngisi blog dan buka FB. Alhamdulillah, akhirnya MTQ yang udah 2 tahun ini ku nantikan, terpajang sudah pengumuman lombanya. Aku sempat kecewa ketika aku nggak nemu cabang lomba KTI Kandungan Al-Quran. Rupanya, letaknya di bawah, tergabung dengan cabang lomba ke-9; Kaligrafi Al-Quran. hemmm, ya Allah hampir aja aku patah arang. soalnya cuma KTI yang bisa ku andalkan di MTQ. Aku masih ingat 2 tahun yang lalu ketika aku bilang ke Mami-Papi bahwa aku juara 2 KTI Al-Quran di MTQ Mahasiswa, mereka heran bagaimana mungkin aku bisa menang dengan kemampuan ngaji yang seperti ini? haha, aku juga baru nemuin di kampus, bahwa KTI juga di MTQ-kan. *lega sekali.
**fi duduk di dekat tangga dan aku sudah mengajaknya duduk di bangku di sampingku, tapi dia tetap tidak mendekat. Ah, aku sedang tidak pandai membujuk-bujuk atau membuka diri untuk mendekati orang yang sedang tidak berjalan ke arahku (ini apa artinya ya?hhee). Aku tetap tenggelam dengan tarian jemari. Rahman lebih dulu datang daripada Okcek dan Joncek. Aku dan dek Rahman segera beraksi untuk memasang tirai merah di sebelah kiri panggung.
Finalis sudah mulai berdatangan, MC juga sudah datang, ada Ditra, Vera dan Key. Okta dan para MC sedang menyusun acara sedangkan aku, baru saja bisa makan setelah tadi melewati adegan ngambek-ngambekan karena air minum (bonus si nasi bungkus) dilaporkan Novi telah dibuang Okta di tangga. Huaaahhhhh, ada-ada aja emang kerjaan makhluk berdua ini. Aku udah capek-capek ngambek, mereka malah tambah cuek, hiksss.
"Mbak, kami ada bisnis nih. Kita harus serius menggarapnya. Mbak dengerin aja ya sambil makan," paksa Romcek.
"Yuhuuuu," jawabku.
".... jadi ini lebih bertujuan kepada tindakan persuasif kepada mahasiswa untuk menjadi remaja yang aktif dan terhindar dari aktifitas terlarang, berbasis dari Al-Quran dan Islam. Gitu kak!"
"Keren banget tuh! Bermula dari komunitas atau apa nih, Dek?"
"Komunitas aja awalnya. Nah, kira-kira siapa lagi ya Mbak yang bisa kita ajak bareng membangun komuunitas ini?" tanya Romi.
"Orang yang nggak terlalu 'ekstrim' tapi peduli dengan hal-hal seperti ini, siapa ya Kak kira-kira?"
Aku menyarankan beberapa nama dan ini menjadi pertimbangan besar bagi kami. Mereka luar biasa dan aku bangga!
Gladi resik berlangsung 1 jam. Itu udah termasuk dengan rempong-rempongya dan debat-debatnya juga. Alhamdulillah, tapi kami belum sholat Ashar nih jam 17.00wib, karena nanggung kalau udah turun ke bawah dan neglanjutin yang tinggal dikit ini. Aku segera pulang dan sholat di rumah. Ada Rini yang sedang laying-laying di tempat tidur. Dia pasti bete karena modemnya ku bawa, laptopnya ku bawa sedangkan cas latopku juga ku bawa. *piye iki? hehe
Kangen dengan Mami, aku segera menanyakan keadaannya lewat sms. Ternyata papi udah mandah di Sinaboi sejak hari Senin lalu. huaaahh, Mami kok nggak bilang-bilang yak? Ya Allah, jaga papi yang jauh di sana. Segerakan penyelesaian pekerjaannya dan percepatlah ia kembali ke rumah kami bersama. Aamiin. Aku sedih, ketika membaca info di fanspage-nya BEM FKIP, bahwa Dian, temanku di Pekon (tapi dia jur. Akuntansi 2011), baru saja ditinggal ibunya meninggal dunia. innalillahi wainnailaihi Rojiunn, kematian memang begitu dekat dengan kita. Bisa saja, saat kita sedang tertawa terbahak-bahak, sebenarnya malaikat maut berada sangat dekat dengan kita. *maaf ya Allah. Aku harus berubah! Harus menjadi kebanggaan bagi mami-papi baik di dunia maupun di akhirat. Bismillah! Bantu aku ya Allah agar ringan menunaikan tahajud, agar doaku untuk kedua orangtuaku lebih cepat Engkau ijabah. Karena, aku butuh Engkau untuk cepat menjaga mereka, menyayangi mereka dan memberkahi hidup mereka. aamiin.
Seusai Maghrib, HPku bergetar berulang kali. Ternyata panggilan dari Okta dan sekilas aku mendengar ada panggilan: Eliscekkkkkkkkkkk, dari teras kosan. nggak salah lagi, itu pasti Okta dan Joni. Aku menghampiri mereka yang sepertinya ingin berbicara serius.
"Kak, selempangnya nggak bisa selesai malam ini ternyata."
"Loh? Kok bisa? Katanya kemarin sanggup," tanyaku.
"Iya, Kak. Kemarin memang bapak tuh ngakunya sanggup, tapi ternyata tadi mati lampu di sana, Kak. Waktu kami ke sana aja Bapak tuh sedang membordir yang juara 1."
"Terus kapan bisa diambilnya, Dek?"
"Besok paling cepat, Kak. Itu pun jam 1 katanya," Okta dan Joni saling membagi kesempatan menjelaskan.
"Ya ampuuun, kan kemarin katanya bisa. Nggak mungkin kan mereka nggak pake selempang, Dek? Adek ada nomom bapak tu nggak? Kalau ada telvonlah. Bilang, kita mohon kali pagi besok harus udah selesailah selempangnya. Kan dah Kakak bilang, pakai yang sablon aja biar nggak rempong."
"Masa Bapak itu harus lembur malam ini, Cek? Atau pake selempang yang tahun kemarin aja, Cek?" usul dek Joni.
"Mana mungkin bisa, Dek. Kan ada bacaan tahun 2014nya di selempang kami tuh. Macam mana pula nya? Ya Allah, Dek jadinya gimana itu?" tanyaku pelan.
Lalu, tertawalah mereka terbahak-bahak karena udah ngerjain aku. Selempangnya udah selesai dan mereka sembuynikan. *hoawaaallah.
"kami kan niatnya pengen bikin Kakak marah tadi. Tapi, Kakak kok nggak marah juga?"
Hahaha. Giliran aku pula yang tertawa. Ya, namanya aja aku sedang nggak pengen marah, mana bisa aku marah? Memang sedang tidak terpancing sih. Mungkin ini artinya aku sedang stabil. Alhamdulillah.
"Idih! Masih cantikkan lah selempang Kakak lagi. Lebih berat dan kesannya mahal gitu. Ini cerah kali, norak."
"Alaah bilang aja Kakak busuk hati. Cantiklah ini lagi daripada punya Kakak tahun lalu tuh."
Aku segara membawa masuk selempang itu dan memfotonya.
"Rin, cantikkan mana dengan punyaku kemarin?"
"Cantiklah punya El lagi. Ini sih biasa aja. Punya El itulah yang kelihatannya waa gitu."
ku ke luar lagi dan memamerkan pujian Rini barusan tentang selempangku. Mereka berdalih bahwa sajar saja Rini berkata begitu karena dia teman sekamarku. Okta terus saja sibuk mencoba memakai selempang itu, lalu apa katanya?
"Kak, Okta banyaaak tahun tentang perdutaan ini. Tapi, kok selaipun nggak pernah ya selempang itu datang ke Okta ya, kak?" tanyanya.
"Simple aja sih jawabannya, karena Adek nggak mau menjemputnya. Itu aja!"
"Kak, kira-kira apa yang harus kita matangkan lagi malam ini supaya besok kita nggak malu?" tanya Okta serius.
"Iya! Aku masuk besok pagi. Jam 09.00wib aku baru bisa datang," jelas Joni.
Kali ini mereka terlihat serius. Beda banget dengan tadi siang ketika sedang berselendang kain merah. Okta sibuk masangin tirai sama Rahman, eh si Joni nggak mau bantuin sama sekali dan tetap sibuk dengan kain merahnya itu. Yana aja sampai bilang:
"Kak, Joni itu pantang kali jumpa kain, Kak! Nggak bisa berhenti main dia nanti Kak."
Hahaha, nggak ada loe nggak rame, Dek!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar