Padahal ini masih pagi banget, tapi Rini sudah sejak tadi
mulai merendam pakaian, mencuci tas-tas dan sepatu miliknya. Aku begitu sadar,
tapi masih ingin diam saja. Sebuah pertanyaan ingin sekali terlontar
sejak tadi.
“El, ini tasku kan? Kok nggak ada ya tali untuk
selempangnya?”
“Tapi ku pinjam kemarin. Ni masih ku pake pun.”
Rini melanjutkan aksi beres-beresnya. Aku melanjutkan
tontonanku; Haji Backpacker. Sejak awal
nonton nih film, aku udah penasaran banget dibuatnya. Apa penyebab si Mada
begitu membenci ayahnya? Kakaknya? Sofhia? Bahkan sampai nggak mau balik lagi
ke Indonesia. Aku mulai tak sabar menanti penjelasan. Mungkin satu per satu
akan terjelaskan seiring bergulirnya jalan cerita.
“Hemmm… udah selesai. Tinggal packing-packing aja besok,”
kata Rini setelah sepatu dan tasnya selesai dicuci. “Ah, si Didit ni ntah
gimana pun. Kalau nggak mau diambilnya kuali dan yang lainnya ini, bilanglah. Biar
ku bawa ke Siantar aja. Nggak jelas kali. Udah setahun pula KKN berlalu,”
katanya lagi.
Aku masih diam. Pura-pura nggak mendengarnya, meskipun
telingaku sebenarnya panas banget. Film ini tak kalah membuatku panas; ‘Masa
hanya gara-gara Sofhia kabur dari rumahnya dihari pernikahan sampai membuat si
Mada nggak mau balik lagi ke Indonesia sih? Lebay! Huh,’ gerutuku di dalam
hati.
“Banyak kali
barang-barangku ini ternyata. Heemmm…”
“Emang kapan sih mau pulangnya? Besok? Kok cepat amat
beres-beresnya?” tanyaku, akhirnya.
“Masih 2 minggu lagi loh. Tapi diangsur dari sekarang.”
2 minggu lagi. Jawaban
yang melegakan. Tapi, aku tak cukup berani untuk memastikan tanggal berapakah
itu. Setidaknya, aku bisa mensugesti diriku tetap tenang karena masih berteman
di kamar ini 2 minggu ke depan. Sejujurnya, aku sedang berusaha membebalkan
hati karena merasa akan ada kesedihan yang luar biasa di depan sana jika aku
tetap peka. Aku takut terlalu sedih ketika kepergiannya, takut merasa sakit
ketika aku ‘terlalu’ sedih padahal dia tak ‘seberapa’ menyedihiku, takut terlalu
mengharapkannya tetap di sini beberapa waktu lagi padahal dia ingin segera
pergi. Yap, aku tidak boleh lemah di hadapannya.