Kamis, 03 September 2015

Akan Masih Terus Mempuisikanmu

Bahkan setelah berbulan pergimu, aku masih terus mempuisikanmu. Wujud kehilanganku Bukti betapa sulitnya aku. Kau pernah bilang, kau suka puisi tapi takut dengan pembacaan puisi. Nah, ini ku tuliskan puisi tanpa pembacaan kepadamu. Semoga kau suka dan tersenyum kepadaku. Dari kejauhan sekalipun, aku ingin menikmati senyummu.


September yang akan bukan lagi kita, 2015

Evaluasi Gigi



Padahal ini masih pagi banget, tapi Rini sudah sejak tadi mulai merendam pakaian, mencuci tas-tas dan sepatu miliknya. Aku begitu sadar, tapi masih ingin diam saja. Sebuah pertanyaan ingin sekali terlontar sejak tadi.
“El, ini tasku kan? Kok nggak ada ya tali untuk selempangnya?”
“Tapi ku pinjam kemarin. Ni masih ku pake pun.”

Rini melanjutkan aksi beres-beresnya. Aku melanjutkan tontonanku; Haji Backpacker. Sejak awal nonton nih film, aku udah penasaran banget dibuatnya. Apa penyebab si Mada begitu membenci ayahnya? Kakaknya? Sofhia? Bahkan sampai nggak mau balik lagi ke Indonesia. Aku mulai tak sabar menanti penjelasan. Mungkin satu per satu akan terjelaskan seiring bergulirnya jalan cerita.
“Hemmm… udah selesai. Tinggal packing-packing aja besok,” kata Rini setelah sepatu dan tasnya selesai dicuci. “Ah, si Didit ni ntah gimana pun. Kalau nggak mau diambilnya kuali dan yang lainnya ini, bilanglah. Biar ku bawa ke Siantar aja. Nggak jelas kali. Udah setahun pula KKN berlalu,” katanya lagi.
Aku masih diam. Pura-pura nggak mendengarnya, meskipun telingaku sebenarnya panas banget. Film ini tak kalah membuatku panas; ‘Masa hanya gara-gara Sofhia kabur dari rumahnya dihari pernikahan sampai membuat si Mada nggak mau balik lagi ke Indonesia sih? Lebay! Huh,’ gerutuku di dalam hati.
“Banyak kali  barang-barangku ini ternyata. Heemmm…”
“Emang kapan sih mau pulangnya? Besok? Kok cepat amat beres-beresnya?” tanyaku, akhirnya.
“Masih 2 minggu lagi loh. Tapi diangsur dari sekarang.”
2 minggu lagi. Jawaban yang melegakan. Tapi, aku tak cukup berani untuk memastikan tanggal berapakah itu. Setidaknya, aku bisa mensugesti diriku tetap tenang karena masih berteman di kamar ini 2 minggu ke depan. Sejujurnya, aku sedang berusaha membebalkan hati karena merasa akan ada kesedihan yang luar biasa di depan sana jika aku tetap peka. Aku takut terlalu sedih ketika kepergiannya, takut merasa sakit ketika aku ‘terlalu’ sedih padahal dia tak ‘seberapa’ menyedihiku, takut terlalu mengharapkannya tetap di sini beberapa waktu lagi padahal dia ingin segera pergi. Yap, aku tidak boleh lemah di hadapannya.