Rabu, 15 April 2015

Aku Bangga Kepamu, Diriku

Sekali-kali tapi berulang-kali mereka mewajari ke-hebatan mereka (yang lainnya)
Puji ditabuh di muka mataku
Pun aku turut terpatri hati
Mengiyakan apa yang mereka kirakan itu
lalu kembali aku menjenguk lubuk-ku
tak ku temui yang sama untuk hari yang kini
beda. Aku beda. Berbeda dengan mereka
Tidak serupa lagi sama
Biasa saja adalah ke-aku-anku dulu
Tiada sempat ada yang dibangga untuk berbangga
tidak pula cerita luar biasa yang tak tak biasa
tidak! Aku biasa
Tapi, apa pun aku yang dulu, aku Bangga kepadaku ^_^
Aku bangga kepadaku
April 15, 2015

Hari 2 MAWAPRES: Memang Kayak Gitu atau Baru Kayak Gini?

Dengan nafas terengah-engah, ku angkat telpon yang sejak tadi bergetar.
"Udah di lantai 3 ni haa!"
Aku kembali melangkah, menaiki tangga hingga lantai 4 rektorat. Tadi, di tengah motor yang sedang melaju, aku teringat pada sesuatu,
"Dek! Kakak jadi teringat dengan yang dibilang Dek Okta waktu kita makan tadi."
"Yang mana, Kak?" tanya Novi.
"Waktu dia bilang gini: Eh, Kak Vivin itu memang juara umum terus loh waktu SMA. Ingat, Dek?"
"Ingat, Kak. Memangnya kenapa?"
"Nggaak. Kakak cuma berfikir, kalimat seperti itu sering banget Kakak dengar dari orang-orang luar biasa di sekitar Kakak. Contohnya ya apa yang dibilang oleh Dek Okta tadi itu. Setiap kali masa lalu mereka diceritakan, pasti komentar orang lain adalah: memang kayak gitu sejak dulu. See? Begitu pun dengan Bang Azhari, Bang Hendra, Kak Taufanni. Kalau Kakak beda banget. Nggak ada cerita masa lalu yang luar biasa yang bisa Kakak bagikan. Mungkin kalimat untuk Kakak itu bukan memang kayak gitu, Dek..."
"Tapi.... baru kayak gini," sela dek Novi.
"Hhaahaa.... Bener-bener tuh!," aku tertawa menyambutnya.
"Tapi Kakak hebat loh! Baru sejak kuliah aja, tapi udah bisa kayak gini."
"Kayak gini, apanya hayooo hehe?"

IDE: 2 level Nasihat Pacaran

Dari hasil mengamati, mendengar dan pernah merasakan, aku menyimpulkan 2 level nasihat tentang pacaran. Berikut ini:
1. "Kamu kenapa sih mau pacaran sama cowok jahat kayak dia? Kamu itu cantik, baik, pintar lagi. Bego banget sih kamu mau pacaran sama dia?"
Ini adalah level bawah. Biasanya nasehat ini sering ditujukan untuk mereka yang udah berhubungan lama, tapi salah satu pihak lebih sering terzalimi dan rela menerima segala kezaliman itu karena alasan-alasan perasaan. Aku setuju sih, itu bego namanya. hhehe, Logikanya udah nggak bermain lagi intinya. Ya, emang gitu resikonya kalau pacaran.

2. "Kamu kenapa sih mau pacaran? Rugi banget tauk! Waktumu habis percuma, belum tentu dia jodohmu, kalau pun dia jodohmu tetap aja rugi karena kalian udah saling tahu (saling mengenal jauh sebelum saatnya), dan kalau dia bukan jodohmu ruginya bakal 2x lipat (ibarat barang yang udah dipegang, udah dicoba dipakai tapi nggak jadi dibeli)."
Ini level tinggi. Artinya, ini bukan hanya tentang bagimana terbebas dari 1 cowok yang tidak baik dan mencari cowok yang lebih baik. Tapi, tentang penutupan segala akses ke jalan yang tidak diridhoi Illahi. Itu aja. Aku adalah buktinya, pialaku tidak akan pernah menggunung seperti saat ini jika aku nggak pernah menyudahi sebuah 'kedekatan'.

So, kamu memilih yang mana wahai anak muda?