Selasa, 07 Juli 2015

Ramadhan ke-20; Dari Bengkel Sampai ke Hotel

Hai diary? Aku rindu. Karena semalam nggak bisa pulang ke kosan dan si putih ketinggalan di kamar, akhirnya aku nggak bisa menuliskan kisahku. Sekarang, aku baru sempat buka laptop, sambil nungguin motorku diservice.  Ini adalah bengkel rekomendasinya Key. Katanya dia suka banget dengan hasil kerja montir-montirnya. Nah, kalau teman-teman mau tau alamatnya nih aku kasih tahu, di deretan Family Box Panam (setelah Family Box-nya kalau dari UR), nama bengkelnya Panca Jaya. Untuk nemuin bengkel ini, aku harus muter-muter dan salah 2 kali tadi. Pertama, aku datangi toko bahan-bahan kue, hehe dan yang kedua aku datangi bengkel mobil.
“Dek, itu baut tempat olinya pecah, makanya dia merembes terus.”
“Terus gimana tu solusinya Bang?”
Jangan bilang harus ganti se-mesin-mesinnya ya Bang, dalam hatiku.
“Ya, harus dilepas ni Dek, terus dilas.”
“Ya udah Bang, nggak apa-apa. Las aja sekarang Bang, di sini bisa kan?”
“Wah, kalau sekarang udah nggak ada lagi waktunya Dek.”
Hiksss, pasti karena aku nggak ke sini sejak tadi pagi!

Inspirasi: What Bank do You Preffer?

“Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau transfer uang ke nomor rek. Ini Mbak.”
“Uangnya boleh saya terima?”
Aku menyodorkannya. “Mbak, ada biaya administrasinya nggak ini?”
“Nggak ada.”
“Oh, kalau gitu saya mau ngirimkan yang Rp 500.000nya itu ke nomor rek. yang ini ya Mbak dan sisanya ke nomor rek. yang tadi.”
“Lain kali tanya biaya administrasinya di awal ya Mbak. Uangnya hampir saja terkirim. Kalau udah terkirim nggak bisa lagi dibatalin. Kalau yang ini kena biaya administrasi Rp 5000. Bisa saya terima uangnya?”
Aku menyodorkan 2 lembar 2ribuan dan 2 buah recehan Rp 500. Ntah hanya aku yang merasa atau memang benar adanya bahwa pegawai di BRI dengan BNI itu jauh lebih ramah dan mengesankan yang di BNI. Pemirsa setujuuu? Ini adalah penilaianku setelah bertahun-tahun mengamati. Bukan hanya hari ini. Hal yang sama juga sering ku dengar dari pelayanan BRI di Bagansiapiapi.

Dulu, Sekarang, Bedakah?

Terusik nian saat penggenap agama terkorek
Kau asyik menyebut-nyebut
Apalagi sekarang
Hampir selalu topik apapun jadi terhubung
Arahmu kini adalah itu
Aku tak nyaman

Dulu, aku khawatir ketika sang sahabat bermesra dalam ketidakhalalan
Sekarang, aku khawatir jika sang sahabat bercepat dalam kehalalan.
Dulu, sekarang, apa bedanya aku?

Juni tak Bertuan, 2015