Hai diary? Aku rindu. Karena semalam nggak bisa pulang ke
kosan dan si putih ketinggalan di kamar, akhirnya aku nggak bisa menuliskan
kisahku. Sekarang, aku baru sempat buka laptop, sambil nungguin motorku
diservice. Ini adalah bengkel
rekomendasinya Key. Katanya dia suka banget dengan hasil kerja
montir-montirnya. Nah, kalau teman-teman mau tau alamatnya nih aku kasih tahu,
di deretan Family Box Panam (setelah Family Box-nya kalau dari UR), nama
bengkelnya Panca Jaya. Untuk nemuin bengkel ini, aku harus muter-muter dan
salah 2 kali tadi. Pertama, aku datangi toko bahan-bahan kue, hehe dan yang
kedua aku datangi bengkel mobil.
“Dek, itu baut tempat olinya pecah, makanya dia merembes
terus.”
“Terus gimana tu solusinya Bang?”
Jangan bilang harus
ganti se-mesin-mesinnya ya Bang, dalam hatiku.
“Ya, harus dilepas ni Dek, terus dilas.”
“Ya udah Bang, nggak apa-apa. Las aja sekarang Bang, di sini
bisa kan?”
“Wah, kalau sekarang udah nggak ada lagi waktunya Dek.”
Hiksss, pasti karena
aku nggak ke sini sejak tadi pagi!
“Soalnya orang udah seminggu lagi mau lebaran, jadi nggak
bisa cepat-cepat selesai Dek.”
“Loh kok gitu Bang? Bisa nggak tolong carikan tempat las yang
bisa agak cepat Bang?”
“Bentar ya, kita tanya dulu sama Kakak tu.”
Aku mengikuti si abang dan dia sedang menceritakan kasusku
dengan kak Cina.
“Biayanya Rp 120.000 ya Dek untuk lasnya.”
“Oh, kapan mau dilasnya Kak?”
“Sekarang setelah dilepas mesinnya itu langsung dilas. Yang
jelas, segitu biaya lasnya di luar biaya servicenya ya.”
“Oke Kak, nggak masalah.”
Si abang kembali lagi mengerjakan tugasnya. Aku kembali
mengetik.
“Dek, rantai tamengnya udah kendor ni Dek.”
Aku mendekat dan memperhatikan rantai itu. “Jadi gimana tu
Bang?”
“Harus diganti Dek.”
“Biayanya?”
“Sekitar 70-85ribu Dek.”
“Oke. Diganti aja.”
“Banyak kali yang kenak ni Dek komponennya.”
“Masa iya Bang?”
“Di mana biasanya servicenya?”
“Di dekat kampus Bang.”
“Asal jangan sampai kena aja mesin yang di dalamnya ni.
Kalau itu banyak lagi yang harus diperbaiki.”
“Penyebabnya apa tu Bang kok bisa gitu?”
“Ya, olinya habis.”
“Ini nyaris ya Bang,” aku menatapi tetesan oli di bawah
mesin motorku yang memang tinggal sedikit.
“Untung nggak jim ni motornya.”
Aku pernah dengar istilah JIM itu dari Alan dan papi.
Kejadiannya waktu KKN kemarin, motorku sampai ngejim karena olinya nggak pernah
diperiksa, sementara teman-teman selalu bawa ke tempat yang jauh-jauh dan
jalannya juga rusak. Sampai Rp 500.000 juga waktu itu biaya perbaikannya. Duh,
jangan sampai terulang lagi nih! Harus lebih perhatian dengan si Supra.
***
Aku nyesal banget ketika membuka mata dan ternyata udah jam
9 aja. Ya Allah, maafkan aku. Coba kalau setelah sholat Subuh tadi aku langsung
pulang aja jalan kaki, tentu sekarang aku udah di kamar dan mungkin tulisanku
udah selesai. Ini malah baru membuka mata. Hikksss…
“Tin, antarkan Mamake pulang yuk?”
“Bentar ya Mamamke, Tin gerah mau mandi dulu.”
Aku nungguin Titin sambil ngaji di kamarnya. Aku lupa bahwa
Titin itu kalau mandi lamaaa banget, pake bedaknya juga lama. Kalau ditotal
mungkin sampai setengah jam juga.
“Mamake, temenin Tin ke perpus dulu ya, mau baliki buku ini.
Takut didenda kalau kelamaan.”
Aku menyanggupinya dan hanya menunggu di atas motor di
parkiran sambil ngaji (bukannya aku rajin ngaji, tapi hutanku banyak banget
dengan target ngaji ini hiksss).
“Mamake, Tin ke ATM bentar ya. Mau ngecek BSnya udah cair
tau belum.”
“Oke Cin. Emangnya Cin dapat BS apa?”
“Bidik Misi. Semester terakhir nih Mamake dapatnya.”
Aku pun menunggunya di atas motor lagi sambil ngaji. Duh,
rasanya aku tu udah gerah banget dan pengen cepet-cepet sampek rumah, tapi
malah dari tadi banyak ritualnya. Hikss…
“Kalau lihat muka Tin yang kayak gini, menurut Mamake
uangnya ada atau nggak di ATM?”
“Nggak ada kayaknya.”
“Tin nggak tahu ada atau nggak Mamake karena Tin lupa dengan
paswordnya. Udah 2 kali Tin salah nekan pin kan kalau sampai 3 kali bisa
diblokir ATM kita.”
“Tulaaah, bikin pin yang aneh-aneh, sampai lupa.”
“Itulah Mamake, semua pin Tin itu beda-beda. FB, Twitter,
Yahoo, Gmail, Portal dan 4 bank yang Tin punya itu beda semua pinnya.
Huaaahhhhhhh, stress orang dibuatnya. Tin udah berapa kali ke BRI Cuma buat
ngurus ATM yang rusak aja.”
“Makanya, bikin password itu
sejenis aja. yang paling kita ingat. Itu cari kerjaan namanya Cin.”
Di kosan, ternyata pintu terkunci. Untung aja pas aku lihat
kuncinya diletakkan Rini di tempat yang
bener. Kalau sempet terbawa lagi sama dia, pengen kali ku kunyah si Rincuy itu
nanti kalau jumpa. Grrrrrr!
“Loh si Rini kok pergi-pergi terus sih Mamake?”
“Nggak tahu, mungkin ke kampus dia tu.”
Titin hanya sebentar di sini untuk minjam hardisk-ku dan
ngambil beberapa perlengkapan make up yang ketinggalan di sini.
Happy bathing time for
me, yeeeaaaaaaaahhh!
***
“Assalamualaikum..”
Rini baru pulang. Aku menjawab salamnya pelan sambil terus
sibuk mengemasi tas rangselku.
“Mau ke mana El?”
“Ke bengkel,” jawabku datar.
“Emang nggak rezeki El pulang semalam tu, aku pun baru
nyadar kalau kunci itu ada di tasku waktu udah sholat di Arrafah. Padahal
rasanya udah ku tinggalkan, tapi kok terbawa.”
“Rini kan emang gitu, sering bawa-bawa kunci karena takut
nggak aman.”
“Nggak juga kok, biasanya juga ku tinggal.”
“Mana pula, kan Rini yang rajin bawa-bawa kunci.”
Rini nggak menjawab, aku pun sibuk membereskan amplop-amplop
yang berserakan ini.
“Eh, si Fauzi kasihan kali loh El. Dia nggak bisa ikut KKN
karena nggak ikut pembelakan KKN kemarin. Dia sampek stress, mau ngapain dia 6
bulan ini coba? Apalagi teorinya udah habis.”
“Weewww! Ternyata separah itu ya kalau nggak ikut
pembekalan?”
“Itulah makanya. Kemarin ada keringanan, bagi yang belum
bisa KKN disuruh datang ke LPM tanggal 22 Juni, tapi sayangnya dia nggak tahu
pula informasi itu. Ya udahlah, lengkap!”
“Loh, 22 Juni? Emang sekarang udah tanggal be..rappp..pa? Oh
iya, ya udah 7 Juli.”
Aku teringat setahun lalu aku terlambat 1 jam datang ke
pembekalan KKN. Untungnya waktu itu nggak apa-apa. Terus, jam 1 siangnya aku
cabut nemuin pak PR 3 untuk ngurus keberangkatan ke Thailand. Dan, aku juga
udah sempat panic. Takut kalau-kalau ada tanda tangan lagi untuk sesi sorenya
dan aku nggak ngisi. Eh, Alhamdulillah ternyata aman. Dan aku bisa KKN dengan
lancar. Awalnya sih aku juga mikir pembekalan itu nggak terlalu wajib. Tapi,
ternyata Fauzi adalah korbannya. Kita
emang nggak boleh nyepelein sesuatu yang kecil ya pemirsaaa. Bukankah banyak
sekali orang yang kakinya tergelincir hanya karena kerikil kecil?
*eyaakkkk…
Mak? Udah baca blog
adek belum?
Oh ya, sejak kemarin Teguh memintaku untuk membaca blognya. Mungkin
baru aja dia tekan tombol publish, dia langsung ngabarin aku kalau dia punya
postingan baru kali ya. *saking semangatnya.
Belum Dek. Bentar yaaa…
Aku membaca post berjudul Kenapa Aku Memilih FEKON? Aku kira,
dia bakal curhat tentang kekecewaannya terhadap ‘anugerah’ nilai dari dosennya
itu, ternyata bukan. Oh mungkin besok nih bakal nyusul lagi cerita terbarunya.
Udah Dek. Yang judulnya
Kenapa memilih FEKON itu kan Dek? Mak boleh kasih saran yak? Supaya lebih
luwes, adek harus pilih salah satu, mau pakai penulis, aku atau saya
ditulisannya. Jangan semuanya dipakai. Ehhe.
Itulah Mak, adek
galau. Tapi, kalau pake ‘aku’ takutnya terkesan kasar.
Gak juga ah. Emangnya
selama ini mak ngepost pake apa coba?
Tidak ada balasan lagi. Mungkin dek Teguh sedang mengamini
dan mengimani nasehatku di sana. Semoga deh. Eeheeh. Dia punya kemampuan itu,
makanya aku ingin ngarahin dia.
***
Kata abang bengkel, motorku baru bisa selesai diperbaiki
besok sore. Aku sedikit kebingungan dengan ketiadaan kedaraan ini sementara
masih ada beberapa tujuan lagi yang belum selesai. Tapi, azan Zuhur sudah
berkumandang 15 menit yang lalu. Maka, ku putuskan untuk jalan kaki ke arah
timur, mencari masjid sekaligus mencari bank BRI yang kata abang bengkel masih
agak jauh jaraknya.
Kubah masjid berwarna hijau yang berniat ku singgahi di
seberang jalan itu setelah ku perhatikan ternyata adalah masjidnya ponpes
Babussalam. Setiap kali ngelihat Babussalam, aku selalu teringat dengan Dayar,
teman SDku yang disekolahkan di sini ketika SMP. Boleh nggak ya aku numpang sholat di sana? aku bertanya di dalam
hati. Setelah ku amati, ternyata kalau mau masuk harus lewat pagar di dalam
komplek dan lapor dulu ke satpam. Huaaaahhh, rempong banget.
Aku melanjutkan perjalanan sampai 300meter ke depan. Awalnya
aku berfikir, akan mudah menemukan
mushola atau masjid di lajur sebelah kiriku ini, tapi nyatanya masjid
Babussalam tadi masih jadi yang terakhir
kali ku lihat. Sekarang, aku sudah berada di depan Hotel Trans dan di
sebelahnya ada ATM BRI yang ku kira adalah kantornya.
“Bang, maaf mau tanya. Itu BRI cuma ATMnya aja ya Bang?”
tanyaku kepada satpam hotel
“Iya Dek. Adek mau ke mana?”
“Kalau kantor BRI yang terdekat itu di mana ya Bang?”
“Wah, udah kelewatan jauh Dek. Kantornya tu udah dekat
dengan lampu merah Tabek Gadang Dek.”
“Wah, jauuuh juga ya Bang. Hemm…kalau mushola di mana ya
Bang yang terdekat? Saya belum sholat Zuhur soalnya.”
Abang itu memanggil cewek yang lewat di depannya dan
bertanya sesuatu. “Naik aja ke atas Dek, di lantai 2 ada mushola.”
“Ke mana Bang? Ke dalam hotel?”
“Iya. Lewat sini Dek, langsung ke atas ya.”
“Makasih Bang.”
Aku segera naik ke atas tanpa menatap atau menyambangi
receptionist. Supaya terkesan akunya emang sedang check in di sini. Di lantai 2
ada petugas kebersihan yang sedang telvonan dan menatapku ketika aku tiba di
ujung tangga.
“Bang, mushola di mana ya?”
“Emm..coba tanya ke receptionist di bawah Dek.”
Wah, gawat nih kalau aku harus nanya baik-baik ke
receptionistnya. Ntar ditanya-tanya pula pengguna kamar nomor berapa. Aku coba
ngeles aja deh, “Emmm..katanya sih di lantai 2 Bang. Tapi, nggak tahu di
mananya.”
Si abang menilik beberapa bilik di koridor di antara
kamar-kamar ini.
“Oh, di sini ni Dek.”
Aku segera ke toilet untuk berwudhu dan kembali lagi ke
mushola. Eh, ternyata mukenanya nggak ada, untung aja sarungnya ada. Akhirnya aku
sholat hanya bersarung aja tanpa mukena.
***
“Bang, makasih ya Baaang.”
“Ya, sama-sama Dek.”
Aku tiba-tiba berfikir, kalau di Indonesia yang gampang
banget nemuin tempat sholat tapi banyak banget yang nggak sholat, gimana kalau
mereka bepergian ke Negara yang muslimnya minoritas dan harus berjuang dulu
untuk sholat? Apakah mereka mau susah payah nyari tempat yang suci untuk
sholat? Ntahlah! Aku ragu.
Aku harus naik oplet. Nggak ada pilihan lain. Kalau nunggu,
ntah siapa yang akan ku tunggu. Nggak apa-apa deh, lagian udah lama banget aku
nggak pernah lagi naik oplet. Merasakan berisiknya klakson paks supir, sesaknya
tempat duduk dan baunya asap knalpot.
“Pak, berhenti di bang BRI ya.”
Pak supirnya mengangguk. Ternyata dari Trans Hotel ke kantor
BRI lumayan jauh juga kalau ditempuh dengan jalan kaki. Yah, nyaris 1km juga
kayaknya.
“Bang, kiri Bang!”
Aku memegang uang Rp 2000 di tangan, kan nggak sampek 5
menit perjalanan.
“Berapa Pak?”
“Rp 4000 Dek.”
“Hah? Kan deket Pak?”
“Iya, mau dekat mau jauh sama aja Rp 4000 Dek.”
Aku menyerahkan 2 lembar uang Rp 2000 dengan sedikit kesal. Tapi,
kesal sedikit demi sedikit ku ubah jadi ikhlas, supaya uang itu berkah untuk si
bapak dan untukku. Aamiin ya Allah. Mungkin emang udah harganya segitu. Akunya
aja yang nggak mengikuti perkembangan tariff oplet. Hiksss.
***
Antrianku nomor 26 sedangkan sekarang masih nomor 14, aku
memutuskan untuk membuka laptop dan melanjutkan tulisan. Opsss! Ternyata baterainya
low. Akhirnya ku baca terjemah Al-Quran yang masih banyak terutang.
“Nomor antrian 25 silahkan ke depan.”
DEGGG! Aku baru ingat bahwa aku nggak bawa buku tabungan. Duh,
gimana ini? Aku mengSMS Rini, kak Dila dan Mami untuk mengirimkan no rekku. Tapi,
mereka nggak sigap membalasku.
“Bapak antriannya nomor berapa?” tanyaku kepada bapak di
sebelah kiri.
“Saya 45 Dek.”
“Oh. Bang, nomor antrian berapa?” tanyaku kepada orang di depanku.
“36 Dek, kenapa tu?” tanyanya ramah.
“Mau nggak tukaran sama saya Bang? Saya nomor 36 nih, tapi
saya masih nungguin teman saya.”
“Boleh, boleh.”
“Makasih ya bang.”
Artinya, aku harus bersabar selama 10 nomor ke depan. Mami
dan Rini sudah mengirimkan no rek.ku. Tapi,
aku tetap masih harus sabar menunggu. Mungkin, Allah menyuruhku untuk
melanjutkan mengaji.
***
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau transfer uang ke nomor rek. Ini Mbak.”
“Uangnya boleh saya terima?”
Aku menyodorkannya. “Mbak, ada biaya administrasinya nggak
ini?”
“Nggak ada.”
“Oh, kalau gitu saya mau ngirimkan yang Rp 500.000nya itu ke
nomor rek. yang ini ya Mbak dan sisanya ke nomor rek. yang tadi.”
“Lain kali tanya biaya administrasinya di awal ya Mbak. Uangnya
hampir saja terkirim. Kalau udah terkirim nggak bisa lagi dibatalin. Kalau yang
ini kena biaya administrasi Rp 5000. Bisa saya terima uangnya?”
Aku menyodorkan 2 lembar 2ribuan dan 2 buah recehan Rp 500. Ntah
hanya aku yang merasa atau memang benar adanya bahwa pegawai di BRI dengan BNI
itu jauh lebih ramah dan mengesankan yang di BNI. Pemirsa setujuuu? Ini adalah
penilaianku setelah bertahun-tahun mengamati. Bukan hanya hari ini.
Kakiku terasa pedih. Ah, mungkinkah ia lecet? Aduh! Dari teller,
aku berjalan agak tertatih karena baru terasa perihnya sekarang. Sepertinya karena
jalan kaki tadi. Ntah kenapa, aku pun merasa udah jalan jauuuuh banget, mungkin
karena aku udah lama nggak jalan kaki dan kebetulan pula sepatuku agak tinggi
nih. Huaaahh.
“Duh, nggak mungkin jalan kaki nih. Kaki perih begini.” Aku
mengecheck uang di tas. Hanya ada uang receh Rp 2000 dan uang Rp 50.000. karena
sayang mecahin uang Rp 50.000 itu, aku memutuskan untuk berdiri di parkiran BRI
ini beberapa menit. Siapa tahu ada orang yang bisa mengantarkanku ke kos.
“Eh, itu kan Wikky member EZ?” tanyaku lirih. Ketika dia
mendekat ke parkiran, aku menyapanya, “Hei WIky? Apakabar say?”
“Baik. Elis gimana?”
“Aku baik juga Say. Udah ujian belum nih?”
“Aku udah selesai Lis, tinggal wisuda aja.”
“Weeeww. Keren ya. Selamat Kii. Eh, Ki, aku mau ngerepotin
nih kalau Wiky bisa sih, aku mau minta tolong anterin aku ke kosan di Balam
Sakti. Soalnya motorku harus ditinggalin di bengkel ternyata.”
“Sekarang udah bisa dijemput jangan-jangan Lis?”
“Nggak mungkin Ki, ini aja belum lama ku tinggal. Besok sore
baru bisa diambil katanya.”
“Emm..tapi maaf Lis,
kayanya au nggak bisa bantu nih soalnya aku mau buru-buru ke EZ.”
“Oh, gitu. Ya udah deh, aku naik oplet aja kalau gitu.”
“Oke deh Lis, hati-hati yaaa.”
Setelah Wiky pergi, aku masih di sini beberapa menit. Masih berharap
ada seorang malaikat yang dikirmkan Allah untuk menolongku. Akhirnya, karena
tak punya pilihan lain, aku nyeberang untuk dapetin oplet. Kakiku semakin jelas
perihnya ni. *huhuu..
“Pak, berhenti di UNRI ya.”
Padahal, dari BRI ke UNRI menurutku nggak jauh deh. Tapi,
kok si bapak supir sama-sama minta Rp 4000 dariku? Emang udah tarifnya atau
gimana sih ini? Padahal, tadi aku sempat melihat 2 orang anak SMA yang turun
sebelumku cuma ngasih Rp 3000. Aku jadi teringat tentang pengamatanku sendiri:
Kenapa setiap penumpang oplet tu turun dulu baru nyerahin uang ke supir? Kenapa
nggak ngasih waktu sedang duduk di dalam aja? Kejadian seperti ini terjadi juga
kepada orang-orang yang duduknya deket banget sama supir padahal. Nah, mungkin
alasan mereka supaya mereka bisa ‘kabur’.
Aku juga pernah dengar saran ini: “Supir oplet itu pantang
ditanya berapa ongkosnya, karena pasti dia akan mengatakan tariff normalnya
meskipun itu jaraknya dekat. Ya, mending kasih aja yang menurutmu pas buat dia
buruan kabur tanpa nunggu responnya.” Jahil ya sarannya? Tapi, kayaknya ada
benernya juga.
***
Aku sengaja minta diturunin di depan UNRI supaya bisa naik
bus ke dalam. Karena kalau di Balam Sakti, aku harus jalan kaki jauh banget
sampai ke kosan.
“Bang, itu busnya nggak emang nggak jalan ya sejak tadi?”
“Jalan kok Dek. Mungkin sedang nunggu penumpangnnya banyak. Soalnya
kan sekarang udah sepi. Kalau mau cepat ya naik ojek aja Dek.”
“Oh ya, makasih ya Mas.”
Si mas melanjutkan pekerjaannya; menyapu daun-daun kering di
selokan.lalu membakarnya. Tak sengaja, aku sudah 2 kali menoleh ke arahnya dan
dia sedang melihat ke arahku. Yang kedua kalinya itu agak ‘niat’ banget,
soalnya dia sedang duduk di atas motor yang parkir 100 meter dariku. Lagian,
wajahku terhalang besi berwarna hijau-kuning di halte yang melintang ke sana
sini. Setelah balas ku pandangi dia beberpa detik, si mas itu langsung pergi
ntah ke mana. *semoga dia bukan tukang hipnotis ya Allah…
Aku memperhatikan setiap kendaraan yang masuk ke dalam
kampus. Siapa tahu ada yang sendirian dan bisa ku tumpangi. Eh, malah yang masuk
ke dalam kebanyakan cewek-cowok, ada juga yang tartig. Huuahhh, haruskah aku
menunggu lebih lama lagi sampai salah satu dari 4 bus itu bergerak? Mau ngetik
tapi nggak ada stop kontak di sini. HP udah mati pula nih! Lengkaplah sudah
kebisuan ini.
Setelah 30 menit berlalu, ku putuskan untuk naik ojek saja.
Tapi, ketika langkahku sudah semakin mendekat, ada cewek berbaju biru yang
bergerak masuk ke dalam kampus. Aku dengan nekat langsung melambaikan tangan,
meminta tumpangan. Eh, ternyata dia adalah Desta; pembaca puisi yang pede
banget waktu PKA tahun 2011 dulu. Weww! Sesuatu banget ya, aku bisa digonceng
dengan pembaca puisi dan pemain teater kayak Desta.
“Desta udah sampek mana prosesnya?”
“Aku udah selesai Kak.”
Aku yakin, dia nggak kenal dan nggak tahu namaku. Tapi mungkin
dia tahu wajahku.
“Oh, berarti wisudanya ntar Oktober kan?”
“Iya Kak.”
“Hebaaaat.”
Aku sudah minta diberhentikan di Bina Bangsa dan jalan kaki
saja selanjutnya, tapi Desta nawarin untuk nganterin sampai depan kos. Yah, aku
mana bisa nolak kalau dipaksa begini pemirsyaaa. Ehhe.
“Makasih banyak ya Say.”
“Iya Kak. Aku langsung cabut ya.”
***
Aku menghalangi diriku untuk tidur siang. Cukup yang tadi
padi aja jadi penyesalan. Ku bunuh waktu dan kantuk dengan menulis kisah konyol
hari ini. Aku dapat inspirasi ketika menunggu di halte bus tadi tentang judul
potingan hari ini; Dari jalan kaki
sampai naik oplet atau Dari bengkel
sampai Hotel. What do you think? Is that
kece? Hehe.
“Rin, jam berapa?”
“Udah azan Ashar nih. Jam setengah 4 lewat dah.”
Aku meraih HP yang sedang dicas dan melepaskan chargernya
dari colokan. Ada 2 janji yang harus ku batalkan hari ini; janji untuk ketemu
pak Rusli di FAPERTA dan janji ngeMC sore ini di SKA. Hikss…bukan hanya kakiku
yang atit, motorku juga sedang atit pemirsaa.
Pak, motor Elysa
rusak. Dan HP sejak tadi mati, ini baru nyala Pak. Maap ya Pak baru ngabari. Kalau
besok pagi gimana pak?
Ya Elsa, besok saa. Terimakasih
Elsa.
Maap ya Pak.
(emot sedih)
Subhanallah,
bapak ni emang baik banget. Padahal aku nggak bisa nemuin beliau jam 3 tadi,
tapi malah aku pula yang diterimakasihi. Hiksss *terharu saya pemirsa. Andai semua dosen seperti pak Rusli;
mengayomi, penyayang dan menghargai. Jadi tiba-tiba teringat dengan bu ** yang
sekarang ntah bagaimana kabar perasaannya. Apakah masih membenciku atau sudah memaafkanku?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar