Sabtu, 28 Februari 2015

Februariku yang terlupa

Februariku yang terlupa
kali ini aku luput
karena terlalu banyak rebut
dengan deret target lainnya
hingga hari terakhirmu terlewati
seolah melompat ke Maret
tanpa melewati selangkah kakimu
hari ini aku kembali
bermaksud melengkapimu
semoga masih ada waktu

Februari yang terlambat digenapi, 2015

Nasehat: Kenapa dulu Memilihnya?

Setelah mendengar mami ngobrol dengan mbah, tiba-tiba aku bilang gini, “Mi, Ibu ** mau cerai ya?” mami menjawab iya. “Gara-gara dia sebel sama suaminya yang selalu main keyboar di pesta ya Mi?” tanyaku lagi. Mami menjawa iya lagi. “Satu aja sih pertanyaan El Mi; Bukannya sebelum nikah sama Bapak itu dulu dia udah tahu kalau Bapak itu memang pemain keyboard? Terus, kenapa baru sekarang kesalnya?” ungkapku. Aku berkata seperti ini karena udah sering banget rasanya aku dengar alasan orang bercerai itu karena sesuatu yang sebenarnya udah sejak dulu ada. Kita juga pasti pernah dengar kan seorang istri yang stress.minta cerai gara-gara suaminya selingkuh? Pertanyaannya cuma 1 sih; Kenapa dulu mau nikah sama dia? Sejak muda dulu pasti dia udah ada bakat selingkuh, bakat bengis, bakat judi, bakat mabuk-mabukkan kan? Jaraaaaang banget ada orang yang dulunya baik, setelah menikah berubah jadi iblis. Kalau pun ada, itu cobaanlah dari Allah. Kalau kata mami sih CINTA yang jadi penyebabnya. *makanya jangan jatuh cinta, tapi bangun cinta cuuuyyy.

Huyaaah! Alang-alang!

"Kak pengen sepatu kayak ini lah El..."
"Itu seken loh kak"
"Gak penting doh El. Yang jelas berkualitas!"
"Yuklah El bawa kakak ke sana"
"Kemana?"

Menebas hiruk pikuk himpitan kendaraan di badan jalanan. Aku dan kak Dilla melengkapi perjalanan dengan cerita. Ia banyak berceloteh tentang maha kacaunya tes wawancara tadi. Aku turut menaruh iba. Tapi ntah mengapa, aku hanya tetap pada keyakinanku bahwa kak Dilla pasti LULUS. Insya Allah.
"Kita bukan sekedar belanja ke sini kak. Tapi lihatlah berapa banyak ekonomi pedagang di sini yang akan terbantu. Barang-barang di sini banyak diimport dari luar negeri kak. Yah... faham sendiri lah bagaimana kondisi barang bekas kan? Tapi kalau kita jeli, insya Allah dapet juga yang berkualitas".

Truly Elysa on Pink February


Jumat, 27 Februari 2015

Inspirasi: Kain pengiring Manusia

Pada suatu pulang yang berulang, aku pernah bertanya tentang kain Jarik (baca: kain gendong) kepada mami lantaran seringnya ku dapati mami mempunyai kain Jarik baru, meskipun tidak selalu.

“Mi, kenapa sih kok suka kali punya kain Jarik gini? Ini masih baru kan?” tanyaku sambil mencium Jarik beraroma khas pakaian jawa itu.

“Kata orang, kain ini nggak pernah bisa lepas dari kita. Karena, sejak lahir sampai kita nggak ada, kain ini akan selalu mendampingi kita.”
Itu adalah jawaban yang kurang memuaskan akal sebenarnya, tapi cukup mengkayakan jiwa. Aku tersentuh mendengarnya dan tidak ingin bertanya apa-apa lagi lebih jauh.

Sebuah Tempat Bernama BNI

"Dek, urus ajalah cepat ke BNI!" desak kak Dila.
AKu berfikir sejenak dan segera bergegas untuk segera tiba di BNI, bersama kak Dila tentunya. Sekitar jam 09.00wib sekarang. Setelah memarkirkan motor, aku bergegas membuka pintu masuk. Dingin seketika memelukku. Aku memandangi satpam yang sedang berdiri di dekat meja pencabutan nomor antrian itu dan tersneyum kepadanya.
"Ada keperluan apa ya Bu?"
"Saya mau ngurus ATM saya."
"ATMnya memangnya kenapa Bu?" ah, ini satpam atau polisi sih? Apa urusannya dengan dia? Aku mulai merasa nggak nyaman dan terpaksa harus jujur.
"Saya sebenarnya nasabah BRI, Pak. Saya ke sini mau mengajukan permohonan penge-checkan sisi tivi karena sebulan yang lalu uang saja tertelan di ATM BNI, jadi pihak BRI meminta saya ke sini."
Si satpam mempersilahkanku untuk ke luar dengan isyarat tubuhnya.
"Uang itu kalau udah ke luar ya ke luar aja Bu. Nggak mungkin masuk lagi ke dalam mesin!" jelasnya dengan keyakinan 100%.
"Loh? Nggak mungkin bagaimana? Saya yang mengalaminya langsung, Pak," Kak Dila melihat ke arahku yang aku yakin dia tahu bahwa aku mulai marah.

Cerpen: SWASDEE

*Cerpen ini diikutsertakan dalam event bertema "TULUS" oleh penerbit Rasselea. Doakan ya semoga menang (atau minimal masuk 30 besar).


Aku ingin–sekali lagi–menjalin persaudaraan lintas aneka
Agar pandai ku menghargai segala beda di antara

Aku melangkah menuruni maskapai ini dengan bibir terkembang. Alam Indonesia telah beralih rupa menjadi Siam. Sebuah negeri yang belum sempat ku bayangkan untuk disambangi. Tapi nyatanya apa? Inilah. Pemandangan di atas sana jadi ajangku merapal syukur dalam deret bunyi huruf hijaiyah yang terkalimatkan. Sungguh! Ini bukan mimpi. Aku telah menginjakkan kaki di tanah tak terprediksi; tanah Siam.

Kamis, 26 Februari 2015

INFO: Link LOMBA NULIS sastra

Hallo kawan-kawan,
Ini aku baru nemuin 1 fanspage di facebook tentang daftar even lomba nulis (cerpen, puisi, fiksimini, cerita inspiratif de el el, intinya tulisan non ilmiah) beserta deadline-nya. Semoga bermanfaat ya. ^_^ Semangat menciptakan PELUANG!

Tuga kita bukan untuk memastikan kita akan BERHASIL, tapi memastikan kita telah MENCOBA.

Ini Linknya :
https://www.facebook.com/notes/xpose-comunity/info-link-event-event-deadline-24-februari-30-maret-2015/1529978233934544

Satpam Buruk Perangai

Hendak menembus etalase bening biru-kuning
Tapi dihalang oleh penjaga ber-banyak tanya
Aku hanya menagih hak berkepastian
Bukan merampok atau ingin mengacau
Tapi kaku dan kawan busukmu itu sama kacaunya
Aku dikuasai amarah melihatnya
Untung saja ada Kak Dila berdingin rasa
Akhirnya ku peroleh jua apa yang ku tanya

Sebuah pelayanan yang tak layak dari pelayan masyarakat,
Februari 2015

Rabu, 25 Februari 2015

Pura-Lupa

Belajar berpura-pura ketika berpapasan dengannya yang sangat terkenal di hati adalah seperti berpura-pura tidak mencium aroma wangi. Mustahil dan SULIT.

Desember Penuh Luka, 2014

TIPS: Mensiasati Waktu Luang

Waktu Luang? Tentu ya setiap kita punya. Setiap kita. Presiden sekalipun pasti punya. Misalnya, 10 menit menuju tidur malam. Luang kan? *hehe. Intinya, waktu luang adalah saat dimana kita bebas dari kejaran DEADLINE dan bisa memilih akan melakukan apa. Tapi sayangnya, waktu luang ini sering sekali tidak berbobot dan habis begitu saja. Misalnya; nonton film yang udah pernah ditonton, bermenung di depan pintu/jendela, tidur tambahan de el el.

Tuhan menciptakan kita ke dunia dengan MISI LUAR BIASA loh. Akankah kita habiskan waktu kita hanya dengan cara yang BIASA SAJA?. Tentu jangan sampai ya. Nah, berikut ini ada beberapa tips mengisi waktu luang agar lebih berdaya guna :

Karena Kita Adalah Anak Langit

Sore ini telah ku jadwalkan untuk pertemuan para fasilitator BAT 6. Aku direncanakan (eh, mengajukan diri) untuk menjadi MC bersama bang Andrika (peserta terbaik BAT 5). Sesampainya di parkiran mesjid Agung An-Nur, aku menyaksikan suasana sore sangat ramai. Banyak orang jogging di pelatarannya. Yang mengherangkan adalah para cewek yang nggak berjilbab itu loh. Mereka nggak segan gitu di depan rumah Allah nggak pakai jilbab? Yah, walau pun sedang jogging, tetap aja.

Aku terus berjalan menuju bagian tengah mesjid.
Diam-diam, ada kenangan yang hadir di ingatanku.
Tentang sebuah pertemuan antara aku, dia dan seorang laki-laki yang belakangan ini baru ku sadari bahwa pertemuan itu bukan pertemuan biasa bagi mereka.
"Aku diajak Abang *im** buat meeting sore ini di Mesjid Agung. Setelah itu sekalian ada pertemuan dengan wirausaha Riau di Gaboh Burger malamnya," demikian dia berpamitan denganku. Aku nggak rela melepasnya pergi rasanya. Ada rasa khawatir, takut dan tanda tanya besar di hati. Sebuah pergi bersama dia yang bukan mahramnya. Dulu, duluuu sekali, aku pun mengizinkannya. Tapi, dulu berbeda jauh dengan kini. Kali ini, ia seolah telah rela, terbiasa dan bisa dibilang kecanduan.
"Aku ikut! Yuk? Kita pergi bareng sore ini," demikian akhirnya kata-kataku.

Selasa, 24 Februari 2015

Dada Manusia

Dada manusia tidak dapat diselami

Bertuju pada makna :
Pada sebuah pepatah yang dulu
"Rambut boleh sama hitam, hati orang siapa yang tahu?"
Aku ingat!
Pada sebuah umpama teka-tebak terjemah asingBetapa rumit memaknai labuh tujuan nanti
Tanda sebuah hati tak mudah termaknai
Tak mudah terprediksi
Tak mudah ter-arti

#Pekanbaru, 24 Februari 2015
Terkenang pada yang lalu

Hamba Camera

Pagi ini, kak Dila mengajakku belanja ke pasar pagi Panam.
Dia tahu kalau hari ini adalah hari pasar.
Aku? Seperti biasa, butuh diomeli sedikit supaya pantatku bisa beranjak dari depan laptop.
Tujuan utamanya adalah beli bahan-bahan untuk masak mie bihun goreng, kesukaanku. Akhirnya, bukan hanya beli mie bihun goreng, kami juga beli jilbab, jeruk dan banyak lagi.
"Dek, kita cuma butuh modal 20ribuan buat masak mie bihun goreng 1 kuali. Daripada beli di tempat langganan El itu, 1 porsi udah 10ribu aja. Udah dapat banyak, kita bisa bagi-bagi juga dengan yang lainnya. Nggak rugi kok Dek kalau kita masak sendiri."
"Emang untung banget Kak. Tapi, masalahnya El yang malas masak. hikssss."

Nasehat: Dalam Lapang atau Sempit

Beribadah dan berbuat baik dilakukan bukan hanya karena kita menyukainya atau ketika kita sedang ingat. Tapi harus dilakukan baik dengan sukarela maupun terpaksa, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
#Inspirasi dari Buku: Syurga bagi Si Ahli Maksiat

Senin, 23 Februari 2015

Berani untuk Negeri !

Dalam citra keberlimpahan warisan alam
Adalah meranggas sebenarnya jadi
Ada tangis minor di antara rimbun daun-daun asap
Terbungkam pejam bersekam
Berlimpah tak selamanya meruah
Meruah tak selamanya bertuah
Sebab, serakah bisa datang kapan suka
Menawan, menahan nurani hati suci
Di bilik-bilik iming-iming elit janji
Meskipun tak selalu nurani seperti begini
Masih ada gebrakan gerak derap-derap dalam senyam
Dari pemula ber-seluruh semua
Untuk sebuah demi
Berani untuk negeri
Mengawal segala bakti

#FURAYA Kusuma Bakti
23 februari 2015, Sunday

Inspirasi: Selesaikanlah hal Kecilmu

“Rin, ternyata dengan menyelesaikan hal-hal kecil, kita bisa menjadi sangat lega dan bahagia. Tapi, meskipun menurut kita kecil, yang namanya kewajiban itu ya tetap kewajiban yang harus sesegera mungkin diselesaikan. Dan, aku sangat lega banget udah melakukan 3 hal tadi.”
“Arasssooohh. Kalau kita tumpuk-tumpuk, justru hal-hal kecil itu jadi beban berat kan di fikiran.”
“Yuhuuu Riin.”

Minggu, 22 Februari 2015

Happy Millad for My FLP, 18th

Aku nolak berangkat bareng bang Adit dan para anggota FLP Ranting karena udah janji nganterin Rini ke rumah mertuanya kak Rindu (kakaknya Andin). Andin sedang sakit dan dirawat di sana, makanya Rini mau menjenguknya ke sana. Eh, ternyata ketemu juga dengan bang Adit di Arfaunnas dan mereka ngikutin aku sampek ke depan rumahnya kak Rindu.
"Dek Putri, boleh nggak Kakak semotor aja sama Adek karna motor Kakak lagi kurang sehat?"
Akhirnya aku bareng Putri deh. Lumayan ngirit minyak.

eh, eh, eh, ini bukan cerita hari ini rupanya. salah, salah! haduhhh, inilah akibatnya kalau nggak langsung di tulis hari itu juga. menabung cerita nih sebutannya.hiksss

Jadi gini, hari ini aku ketemu dengan teman-teman di Alam Mayang di acara Millad FLP yang ke 18th. Lumayan rame juga, sekitar 15 orang. Kami duduk di lesehan Meranti (kalau nggak salah ya) dan saling mengucapkan selamat ulang tahun  buat FLP sekaligus penyampaian harapan untuk FLP yang lebih gemilang. Setelah itu, ditraktir makan ayam penyet oleh bang Wamdi yang ternyata kerja di RM di dekat sini. Nyummiiii. Sebenarnya nggak ditraktir sih judul awalnya, tapi ketika bang Wamdi nggak mau dibayar oleh mbak Sugi, barulah namanya ditraktir. yeeyeeee! hehhe

Inspirasi: Pelayanan menuntut Keprofesionalan



Ku serahkan 2 lembar uang Rp 2000 dan 1 recehan Rp 1000 kepada si abang atas kartu bebas Pustaka Wilayah yang diuruskannya.
“Heeemmm..nggak usah lah Dek kalau gitu.”
“Loh kenapa Bang?”
“Kasihan kali lihatnya.”
WHATTTT? Apa masalahnya sih dengan uang recehan begini Bang? Mirip pengemis, gitu maksudnya? Ini uang juga loh Bang. Tanpa Rp 5000 (sekalipun receh), uang 1 milyard itu nggak akan lengkap.
“Lagian nggak terlalu penting juga,” tambah abang tadi.
“Oh, ya udah deh. Makasih Bang,” jawabku sambil tetap tersenyum. Insting ‘tersinggung’ku sedang tidak aktif sepertinya. Aku merasa tetap enjoy dan nggak merasa marah sama sekali dengan abang itu. Hemmm.. tapi aku menyimpulkan bahwa ternyata orang Indonesia itu hobi banget meminta-minta ya? 

Kamu pasti pernah diminta membayar lebih kan padahal itu nggak ada aturannya. Nah, aku juga sering mengalaminya. Kadang, insting ‘Kritikus’ku sedang aktif, aku pengen banget nanya, ‘Ini biaya yang harus saya bayar memang ada aturannya ya Pak/Bu?’ Tapi, biasanya, sebelum aku melancarkan niatku itu, orang disebelahku sering membisikkan kata-kata teduh, ‘Udah lah El, itung-itung sedekah sama mereka. Itu uang tambahan gaji mereka, lagian kan mereka juga udah susah payah ngurusin ini itu buat kita.’

Sebenarnya, aku punya jawaban lebih lanjut untuk si kawan itu, ‘Ya mana bisa gitu donk, itu kan memang udah tugasnya mereka untuk melayani kita. Kalau mau sedekah, udah lain topik lagi tuh. Mungkin yang dipungutin per orang emang nggak besar, tapi kalau dikalikan 50 orang atau 100 orang? Lumayan juga hasilnya tuh. Kalau memang itu ada aturannya sih aku no problem. Yang dipertanyakan sekarang adalah tentang KEJUJURAN.’

Menyurati Tak Ter-ARTI


Pahit rasanya si buah Mengkudu
Lebih pahit lagi getah Mahoni
Selamat ulang tahun untuk FLP-ku
Semoga penulisnya semakin menginspirasi

Selamat mengulang lahir teruntuk FLPku tercinta
Semoga berkekalan abdi dan wangimu
Tiada sudah ku hatur syukur atas temuku denganmu pada 2 tahun silam
Jika tiada pernah itu terjadi, mungkin tiadalah aku seperti ini
Aku masih tiada karya yang bisa disebut apa
Namamu masih jauh meng-aguni diri daripada diri
Aku yang melengketimu kemana pergi hingga jadilah berkesan pasti
Padahal aku sepi dari yang mereka gelari

Sekali lagi, selamat mengulang lahir FLPku
Semoga daku digenapi Tuhan untuk melengkapimu
Hinga jadilah aku sesuatu yang bisa memantasi namamu
Penuh harap pada teguh di diri
Untuk sebuah bakti
Tanpa tapi
#Dari sebuah hati, Elysa_RA
Februari milik FLP di 2015

Sabtu, 21 Februari 2015

Siapalah Aku Mencemburuimu?

Siapalah aku mencemburuimu?
Kita bertemu adalah setahun lalu
Dalam jumpa yang menyatu
2 tahun sebelumnya masih sapa-salam senyum-santun
Sudah. Aku tahu baikmu. Kamu kenal aku. Sudah
Hanya di situ.

Siapalah aku mencemburuimu?
Akrabmu dengan siapa pun tak jadi soalku dulu
Aku-kamu, hanya 1 1 yang sedang 2 sementara
Aku butuh, lalu mendatangimu
Kau tak ada sengaja, saat bertemu-ku
Sapamu kapan saja terasa hangat sangat

Siapalah aku yang mencemburuimu?
Detik menarik tapak beda kita yang rupanya sama arah
Aku-kamu jadi cerita
Yang lalu telah berlalu, yang datang telah ku sambut
Kaulah itu
Kita bertukar tawa dan air mata juga cinta di sana

Inspirasi: Tentang Januari

Biar gak berakhir hanya dengan buku Hijau Skripsi, jadi kita buat yang Orange juga, Tentang Januari. Ddari tempat yang berbeda, kita berjumpa di satu univ yang sama, terpisahkan oleh aktivitas yang berbeda, tersatukan oleh rumah, dan diabadikan oleh Cinta, pada akhirnya kita terekam disini.
#Inspirasi dari Lia: Tentang Januari

Jumat, 20 Februari 2015

Pembicara dalam Forum Annisa (For Nisa)


Nama Acara : Forum Annisa (For Nisa)
Tema : “Muslimah Cerdas, Berprestasi dan Menginspirasi.”
Penyelenggara : UKMI Darul Hijrah FT UR
Waktu : Jumat, 20 Februari 2015

Tentang Pencapaian :
For Nisa adalah kegiatan Keputrian Rohis di Fakultas Teknik yang diadakan setiap hari jumat. Kali ini aku diminta menyampaikan tentang pentingnya seolah Muslimah berprestasi, kemudian menginspirasi orang-orang disekitarnya. Tak muluk-muluk, aku mengawali dengan penjelasan tentang URGENSI WAKTU. Karena, KUALITASMU ditentukan oleh caramu menggunakan waktu. Ada orang yang semakin gemilang karena mahirnya ia dalam mengatur waktu, ada juga yang perlahan tapi pasti pergerakannya (tak terlalu signifikan, tapi terus membaik dari waktu ke waktu), tapi ada juga yang malah semakin MERUGI karena ia tidak pandai menggunakan waktu. Sehingga tahun-tahun berganti tanpa perbaikan diri. Waktu selalu menawarkan pilihan kepada kita; Ingin menjadi Pengemudinya, atau kita yang dikemudikannya? Pilihannya ada pada diri kita.

____Dari kebijaksanaanmu mengatur waktu, akan tumbuhlah berbagai PRESTASI (Truly Elysa)