*Cerpen ini diikutsertakan dalam event bertema "TULUS" oleh penerbit Rasselea. Doakan ya semoga menang (atau minimal masuk 30 besar).
Aku ingin–sekali lagi–menjalin
persaudaraan lintas aneka
Agar pandai ku menghargai segala
beda di antara
Aku
melangkah menuruni maskapai ini dengan bibir terkembang. Alam Indonesia telah
beralih rupa menjadi Siam. Sebuah negeri yang belum sempat ku bayangkan untuk
disambangi. Tapi nyatanya apa? Inilah. Pemandangan di atas sana jadi ajangku
merapal syukur dalam deret bunyi huruf hijaiyah
yang terkalimatkan. Sungguh! Ini bukan mimpi. Aku telah menginjakkan kaki di
tanah tak terprediksi; tanah Siam.
Aku
mengikuti langkah-langkah tergesa di sekitarku sambil tetap waspada memeluk tas
rangsel dan tangan kanan menarik koper. Aku bingung. Ini tempat yang sebenar
asing. Tapi orang-orang ini pasti punya rute awal yang sama denganku di bandara
ini.
“Dik…
lewat sini,” ujar lelaki berkulit gelap dengan wajah khas India mengarahiku.
Aku hafal bagaimana rupa orang India itu karena hobiku pada film-filmnya telah
mencandu.
“Oh
iyaa,” aku menurut panut.
Ia
adalah penumpang yang duduk berlawanan sudut dengan tempat dudukku, ke arah
kanan. Mungkinkah dia juga dari Medan? Nanti coba ku tanyakan. Setidaknya, aku
lebih merasa aman sekarang. Bingungku telah menemukan teman.
“Baris
di sini dik” pandunya lagi.
Aku
telah melewati batas berdiri ternyata. Ah, ini pula kelemahanku; kurang cermat.
Tapi ini pula kelebihanku; teguh keyakinan walaupun kurang cermat.
“Your passport, please?.”
Aku
memberikan. Lalu, menyusul langkah laki-laki tadi. Ia membantuku mencari kartu
seluler. Tapi karena harganya sangat mahal, ia menganjurkan untuk membeli
ketika aku sampai di tujuan saja. Aku terus menuruti langkahnya. Ia berhasil
menemukan resto halal dengan menu serba ikan. Ikan dihaluskan dan diadoni
dengan tepung, rasanya seperti makan bakso ikan. Sausnya aneh menurutku; manis,
sedikit pedas dan sedikit asam. Tapi, aku suka.
“Abang
bisa bahasa Thailand ya?” tanyaku.
“Iya.
Sedikit saja.”
Ternyata
ia bukan orang sembarangan. Perjalanannya telah menjangkau Eropa, menguasai 10
bahasa asing dan adalah seorang pebisnis minyak. Hanya 1 hal yang menyayangkan;
ia orang Malaysia rupanya. Aku sedikit kecewa. Ternyata, ia berlangganan ke
Indonesia pun hanya untuk berbisnis. Mengingat Malaysia hanya membuat hati
menyepi. Kita bertetangga, kita bersaudara, kita sebudaya, tapi berseberangan
rasa. Indahkah? Tidak.
“Oh
belum, kalau yang itu,” jawabnya setelah ku tanya hal lain.
“Sudah
layak dan pantas bang.”
“Iya.
Tapi abang belum jumpa lagi dengan yang cocok.”
Ntah
bagaimana pula bisa ku tanyakan hal yang sudah sejauh itu. Tapi rasanya dia
tidak tersinggung. Semoga.
“Kemarin
abang sudah bertunang dengan perempuan di Singapur. Tapi ntahlah, dia pergi gitu je. Tak ada kabar sampai detik nii.”
Ya Allah, himpun yang terserak di
antara keduanya. Sempurnakan apa yang kurang di antara keduanya. Segerakan yang
baik bagi keduanya.
“Saya
permisi duluan ya. Sebab, saya ada hajat sebentar lagi ni,” pamitnya.
“Terimakasih
bang.”
“Jangan
lena ya, dik. Ingat semua arahan saya
tadi. Tempat transit di lantai atas, ok? Jaga diri elok-elok” tegasnya lagi.
Aku
kembali menikmati makananku. Setidaknya aku sudah diberinya alamat email,
meskipun itu masih kurang. Sedikit kecewa sebenarnya, kenapa Facebook atau sekedar Blackberry Masanger pun dia tidak punya?
Aku masih memandangi alamat email itu. Semoga aku tidak salah tulis ketika ia
mendikte tadi. Jika salah, sudahlah.
Ketika
aku akan membayar makananku, ternyata sudah dilunasi. Ah, siapa dia sebaik itu?
Hanya doa terbaik yang bisa tercuplik. Mendekati eskalator ke lantai 2,
tiba-tiba…
“Astaghfirullah!
Mana mapku?!!” tanyaku gusar. Ku turunkan tas rangselku dan ku keluarkan semua
isinya. Lalu lalang cewek-cewek ber-rok selutut melihat sekilas ke arah
panikku, lalu berlalu menuju tuju. Aku tak digubris.
“Uang
dua jutaku di situ pula. Kalau hilang bagaimana?!!” gelisah memburu lariku.
Lariku
terhenti. Dugaku bersemi. “Jangan-jangan abang tadi…”
Aku
berlari lagi ke arah berlawanan dari resto tadi menuju resecptionist dan tak ku selesaikan duga burukku tadi. Dari
kejauhan, aku melihat si abang ada di sana.
“Loh?
Tadi katanya sedang buru-buru ya? Kok masih di sini juga?” curigaku.
“Hey
dik!!!” teriaknya yang seketika menghentikan langkah endap-endapku.
“Hey
bang? Belum pergi?”
“Ini
(sambil menyodorkan map). Abang jumpa ini di pintu masuk. Abang yakin ini milik
Elysa. Ada uang Rupiah di dalamnya, insya Allah masih utuh. Oke, abang
berangkat dulu dik. Assalamualaikum,” ia berlalu. Aku termangu. Lega bercampur
buntu.
“Waalaikumsalam,”
jawabku lirih,
Segera
ku cek uangku. Ah, syukurlah masih utuh. Seorang receptionis masih melihatku ternyata, seolah menyaksikan adegan
antara aku dan baaaang…….
Hey!!! Siapa namanya? Kenapa
tentang nama pun aku sampai lupa menanya?
***
Penerbangan berlanjut. Aku duduk di
dekat jendela. Hampir saja tadi terlambat
check-in. Segera ku buka kembali draft
email tadi. Ah, mungkin inilah kiranya nama abang; Tousif.
Title
: My special thanks
Assalamualaikum
bang…
Tak tau
bagaimana cara wiraca sampaikan terimakasih kepada abang. Kita bukanlah sesiapa
bagi siapa, tapi Allah telah menolong saya lewat tangan abang. Semoga Allah
membalas dengan berliat-lipat nikmat, berlapis-lapis berkah. Maafkan saya yang
lupa menanyai nama. Saya juga sempat cepat menduga buruk. Sudilah abang memberi
maaf. Semoga kita bersua kedua. Aamin
Ku tekan tombol send sebelum pesawat tinggal landas. Dari Hat Yai ke Bangkok
melahap 35 menit dan aku disambut oleh maghrib bersimbah gerimis romantis.
“Swasdee
khaaa,” sapa pramugari bertangkup tangan kepada setiap penumpang sebelum
menuruni pesawat.
Assalamualaikum
mami.. papi…
El baru mendarat
dengan selamat di Bangkok. Awal perjalanan yang benar-benar menakjubkan. Mohon
doakan El selalu yaaa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar