Jumat, 27 Februari 2015

Cerpen: SWASDEE

*Cerpen ini diikutsertakan dalam event bertema "TULUS" oleh penerbit Rasselea. Doakan ya semoga menang (atau minimal masuk 30 besar).


Aku ingin–sekali lagi–menjalin persaudaraan lintas aneka
Agar pandai ku menghargai segala beda di antara

Aku melangkah menuruni maskapai ini dengan bibir terkembang. Alam Indonesia telah beralih rupa menjadi Siam. Sebuah negeri yang belum sempat ku bayangkan untuk disambangi. Tapi nyatanya apa? Inilah. Pemandangan di atas sana jadi ajangku merapal syukur dalam deret bunyi huruf hijaiyah yang terkalimatkan. Sungguh! Ini bukan mimpi. Aku telah menginjakkan kaki di tanah tak terprediksi; tanah Siam.

Aku mengikuti langkah-langkah tergesa di sekitarku sambil tetap waspada memeluk tas rangsel dan tangan kanan menarik koper. Aku bingung. Ini tempat yang sebenar asing. Tapi orang-orang ini pasti punya rute awal yang sama denganku di bandara ini.
“Dik… lewat sini,” ujar lelaki berkulit gelap dengan wajah khas India mengarahiku. Aku hafal bagaimana rupa orang India itu karena hobiku pada film-filmnya telah mencandu.
“Oh iyaa,” aku menurut panut.
Ia adalah penumpang yang duduk berlawanan sudut dengan tempat dudukku, ke arah kanan. Mungkinkah dia juga dari Medan? Nanti coba ku tanyakan. Setidaknya, aku lebih merasa aman sekarang. Bingungku telah menemukan teman.
“Baris di sini dik” pandunya lagi.
Aku telah melewati batas berdiri ternyata. Ah, ini pula kelemahanku; kurang cermat. Tapi ini pula kelebihanku; teguh keyakinan walaupun kurang cermat.
Your passport, please?.”
Aku memberikan. Lalu, menyusul langkah laki-laki tadi. Ia membantuku mencari kartu seluler. Tapi karena harganya sangat mahal, ia menganjurkan untuk membeli ketika aku sampai di tujuan saja. Aku terus menuruti langkahnya. Ia berhasil menemukan resto halal dengan menu serba ikan. Ikan dihaluskan dan diadoni dengan tepung, rasanya seperti makan bakso ikan. Sausnya aneh menurutku; manis, sedikit pedas dan sedikit asam. Tapi, aku suka.
“Abang bisa bahasa Thailand ya?” tanyaku.
“Iya. Sedikit saja.”
Ternyata ia bukan orang sembarangan. Perjalanannya telah menjangkau Eropa, menguasai 10 bahasa asing dan adalah seorang pebisnis minyak. Hanya 1 hal yang menyayangkan; ia orang Malaysia rupanya. Aku sedikit kecewa. Ternyata, ia berlangganan ke Indonesia pun hanya untuk berbisnis. Mengingat Malaysia hanya membuat hati menyepi. Kita bertetangga, kita bersaudara, kita sebudaya, tapi berseberangan rasa. Indahkah? Tidak.
“Oh belum, kalau yang itu,” jawabnya setelah ku tanya hal lain.
“Sudah layak dan pantas bang.”
“Iya. Tapi abang belum jumpa lagi dengan yang cocok.”
Ntah bagaimana pula bisa ku tanyakan hal yang sudah sejauh itu. Tapi rasanya dia tidak tersinggung. Semoga.
“Kemarin abang sudah bertunang dengan perempuan di Singapur. Tapi ntahlah, dia pergi gitu je. Tak ada kabar sampai detik nii.”
Ya Allah, himpun yang terserak di antara keduanya. Sempurnakan apa yang kurang di antara keduanya. Segerakan yang baik bagi keduanya.
“Saya permisi duluan ya. Sebab, saya ada hajat sebentar lagi ni,” pamitnya.
“Terimakasih bang.”
“Jangan lena ya, dik. Ingat semua arahan saya tadi. Tempat transit di lantai atas, ok? Jaga diri elok-elok” tegasnya lagi.
Aku kembali menikmati makananku. Setidaknya aku sudah diberinya alamat email, meskipun itu masih kurang. Sedikit kecewa sebenarnya, kenapa Facebook atau sekedar Blackberry Masanger pun dia tidak punya? Aku masih memandangi alamat email itu. Semoga aku tidak salah tulis ketika ia mendikte tadi. Jika salah, sudahlah.
Ketika aku akan membayar makananku, ternyata sudah dilunasi. Ah, siapa dia sebaik itu? Hanya doa terbaik yang bisa tercuplik. Mendekati eskalator ke lantai 2, tiba-tiba…
“Astaghfirullah! Mana mapku?!!” tanyaku gusar. Ku turunkan tas rangselku dan ku keluarkan semua isinya. Lalu lalang cewek-cewek ber-rok selutut melihat sekilas ke arah panikku, lalu berlalu menuju tuju. Aku tak digubris.
“Uang dua jutaku di situ pula. Kalau hilang bagaimana?!!” gelisah memburu lariku.
Lariku terhenti. Dugaku bersemi. “Jangan-jangan abang tadi…”
Aku berlari lagi ke arah berlawanan dari resto tadi menuju resecptionist dan tak ku selesaikan duga burukku tadi. Dari kejauhan, aku melihat si abang ada di sana.
“Loh? Tadi katanya sedang buru-buru ya? Kok masih di sini juga?” curigaku.
“Hey dik!!!” teriaknya yang seketika menghentikan langkah endap-endapku.
“Hey bang? Belum pergi?”
“Ini (sambil menyodorkan map). Abang jumpa ini di pintu masuk. Abang yakin ini milik Elysa. Ada uang Rupiah di dalamnya, insya Allah masih utuh. Oke, abang berangkat dulu dik. Assalamualaikum,” ia berlalu. Aku termangu. Lega bercampur buntu.
“Waalaikumsalam,” jawabku lirih,
Segera ku cek uangku. Ah, syukurlah masih utuh. Seorang receptionis masih melihatku ternyata, seolah menyaksikan adegan antara aku dan baaaang…….
Hey!!! Siapa namanya? Kenapa tentang nama pun aku sampai lupa menanya?
***
            Penerbangan berlanjut. Aku duduk di dekat jendela. Hampir saja tadi terlambat check-in. Segera ku buka kembali draft email tadi. Ah, mungkin inilah kiranya nama abang; Tousif.

Title : My special thanks

Assalamualaikum bang…
Tak tau bagaimana cara wiraca sampaikan terimakasih kepada abang. Kita bukanlah sesiapa bagi siapa, tapi Allah telah menolong saya lewat tangan abang. Semoga Allah membalas dengan berliat-lipat nikmat, berlapis-lapis berkah. Maafkan saya yang lupa menanyai nama. Saya juga sempat cepat menduga buruk. Sudilah abang memberi maaf. Semoga kita bersua kedua. Aamin

            Ku tekan tombol send sebelum pesawat tinggal landas. Dari Hat Yai ke Bangkok melahap 35 menit dan aku disambut oleh maghrib bersimbah gerimis romantis.
            Swasdee khaaa,” sapa pramugari bertangkup tangan kepada setiap penumpang sebelum menuruni pesawat.
Assalamualaikum mami.. papi…
El baru mendarat dengan selamat di Bangkok. Awal perjalanan yang benar-benar menakjubkan. Mohon doakan El selalu yaaa...

Tidak ada komentar: