MENULIS adalah AKU; caraku beristirahat, caraku memaafkan, caraku mencintai dan caraku hidup abadi.
Kamis, 16 Juli 2015
Jauh adalah Pilihanmu
Ramadhan ke-29; Full Fasting Clearly
Well, ini udah jam 11.53wib dan aku baru saja menyelesaikan
90% pekerjaan rumah. Mulai dari jam setengah 8 tadi aku mempermak total
kebersihan dan kerapian rumah ini hingga barusan aku nolongin mami jemurin
baju. Sekarang, mami masih nyuci sebagian lain baju dan barulah aku bantu
jemurin lagi.
Hemmm… ini sudah jadi tradisi setiap tahunnya; bersibuk ria
dengan penyambutan idul fitri. Sebenarnya, akan lebih baik jika sibuk-sibuk
yang kayak gini udah kelar 2 hari sebelum hari H. Tapi, sayangnya itu nggak pernah
terjadi, karena kalau nggak dihari terakhir puasa gini rasanya kurang dapat
feelnya gituu. Ehhe.
Beruntung banget karena mami sama kayak aku; nggak suka
ribet. Tadi pagi aja mami cuma masak peyek. Kalau ditanya, “Kita bikin kue apa
Mi?” pasti akan dijawabnya, “Itu udah dibelikan jeruk 4kg, salak 2kg dan
kue-kue kering yang kemarin. Ngapainlah repot-repot bikin kue di dapur, macam
ada yang mau datang ke rumah kita aja.” Nah, pemirsaaa, mami berkata seperti
itu ada latar belakangnya. Karena, sejak dulu memang kami yang paling rajin
berkunjung ke rumah-rumah tetangga dan impactnya nggak sebanding besarnya. Pun
aku. Aku rajin banget main ke rumah teman-temanku, tapi merekanya nggak gitu
balik ke aku. Jadi, mami tuh pernah bilang gini, “Mana sih El teman-temanmu
itu? Kok kayak nggak punya teman aja.” Aku sih nggak marah, karena yang
dibilang mami tu emang bener. Aku memang merasa kayak nggak punya teman. Sampek
sekarang.
Waktu aku sekolah SMA di kota Bagan, aku bisa berdalih
dengan bilang, “Teman-teman Ela kan banyaknya di Bagan Mi. Yang di sini kan dah
banyak yang nikah.” Apalagi sekarang, selama aku kuliah di Pekanbaru, hemm…
tambah nggak pernah didatangi oleh kawan-kawan dan jadilah aku kayak nggak
pandai bergaul. Hehe. Eh, sebenarnya ada sih beberapa yang datang ke sini.
Someone who are tell me as his special person maybe. Hehee. Yah, yang datang ke
sini biasanya cowok yang suka atau naksir sama aku aja.
Kadang, aku ingin banget survey ke kalian semua, “Apakah
yang aku alami ini kalian alami juga? Atau hanya teman-temanku aja yang nggak
suka bersilaturahmi ke tempat temannya? Atau mungkin kalian justru kehabisan
stok makanan dan minuman lantaran teman kalian rame buangetsss yang datang?”
Nasehat: Tega Adalah Kisah Klasik
Sebenarnya, aku punya beberapa hal yang ingin ku ceritakan
kepada mami. Apa lagi kalau bukan tentang perasaan? Tapi, aku paling nggak bisa
kalau ceritaku terpotong-potong oleh kegiatan lain. Aku juga nggak bisa kalau
sedang cerita, tapi yang mendengarkanku sedang memikirkan hal lain. Akhirnya,
keinginan curhatku itu malah berubah jadi pernyataan yang ku rangkai berikut
ini;
“Mi, sebenarnya permasalahan tentang TEGA itu adalah cerita
lama ya! Kita kan sering kali dengar orang bilang, ‘Nggak nyangka dia tega
banget kayak gitu’ Tapi, sebenarnya itu adalah hal yang biasa aja ya Mi?
Soalnya semua orang pasti pernah mengalaminya. Nggak cocok rasanya kalau kita
berfikir bahwa KETEGAAN yang kita alami itu adalah yang TERPARAH. Jadi ya,
sesedih apapun kita tetap aja nggak sepantasnya kita terpuruk lama-lama di
sana.”
“Betul! Kasus tentang TEGA itu akan terus menerus berulang
sepanjang zaman kepada setiap orang. Mungkin hanya kasus dan waktunya saja yang
berbeda. Kalau dibilang kitalah yang paling sedih di dunia, tunggu dulu. Pasti
masih ada orang yang lebih parah lagi daripada kita nasibnya.”
Aku menelan nasehat mami itu sebagai penawar
atas keluh kesah yang ada di hati. Obrolan barusan adalah jawaban tanpa perlu
mengungkap pertanyaan.
Langganan:
Postingan (Atom)