Jumat, 17 Oktober 2014

Pemenang 2 LKTI Nasional

Nama Acara : PPI (Pena Pemuda Indonesia) bertema ‘Kontribusi Pemuda alam Mengaktualisasikan Pendidikan di Era Global Menuju Indonesia Emas 2045’
Penyelenggara : HIMA PGSD Universitas Negeri Yogyakarta (Kampus Wates)
Waktu : 17-19 Oktober 2014
Judul Karya : Permainan Bom-Dor La-La dengan Gerakan Tari Rentak Bulian sebagai Modifikasi Permainan Rakyat Melayu Riau “Lu Lu Cina Buta” dalam Membentuk Karakter Kepemimpinan Siswa Sekolah Dasar

Tentang Pencapaian :
Bisa dibilang, ini adalah perjalanan terakhirku di tahun 2014. Kesulitan pengajuan dana semakin hari semakin ekstrim saja. Aku, Lia dan dek Nila sudah memutuskan untuk nggak berangkat ke Yogyakarta. Keputusan kami sudah bulat karena berbagai cara udah kami tempuh dan hasilnya tetap nihil. Kami butuh sekitar 5 juta untuk perjalanan pulang-pergi sementara rektorat benar-benar nggak bisa membantu.
Tapi, pasrahku itu seketika berubah jadi gairah ketika Okta bilang, “Kak, coba bicarakan ini dengan Pak Iyal. Beliau pasti bisa bantu Kakak.” Ini adalah ikhtiar terakhirku. Kalau seandainya pak Iyal pun nggak bisa menolongku, aku akan ikhlas. Setidaknya, aku telah berusaha daripada menyerah begitu saja.
Ternyata benar, lewat pak Iyal, Allah memberikan pertolongannya. Kejutan buat Lia dan dek NIla bahwa pak Iyal memberikan bantuan secara pribadi dari kantongnya sendiri. Bahkan, yang mengharukan adalah ketika ku sadari bahwa angka yang tertera di amplop benar-benar persis dengan isinya. Itu benar-benar gajinya pak Iyaaalll pemirsaaa. Setelah ke luar dari ruangan pak Iyal, aku berdoa “Ya Allah, izinkan aku menghadiahkan piala kepada pak Iyal.”
Lia menemaniku dengan konsekuensi akan merogoh kantong sendiri kalau ternyata ongkos kurang. Sementara dek Nila ikhlas karena nggak bisa pergi. Aku nggak bayangin gimana jadinya kalau aku pergi sendirian dalam menikmati perjalanan yang jadi 2x lipat lebih lama karena kesalahan jurusan. Kami tiba di penginapan pukul 4 sore dan presentase pada pukul 18.30wib. Luar biasa bukan? Aku selalu mengulang-ulang doa ini, “Ya Allah yang Maha Sempurna, bantu kami menyempurnakan persiapan yang singkat ini.”
Hingga, keputusan Allah itu datang, kami dinobatkan sebagai juara 2 dan kembali mengulang detik-detik seperti ketika di Madiun kemarin. Lagi-lagi bersama Lia. iya, dia memang selalu ku bawa ke mana-mana. Mimpiku untuk menghadiahi pak Iyal piala kemenangan akhirnya terkabul. Bahkan, hadiah yang kami peroleh itu bisa kami gunakan untuk membeli oleh-oleh dan menduplikasi piala. Sebelum pulang, kami diajak ke Waduk Sermo dan berkeliling di Wates. Alhamdulillah dan aku berharap Yogya kembali mengundangku ke sana. Aamiin.
___Setiap perjalanan memiliki hikmahnya sendiri (Truly Elysa)