Nama Acara : PPI (Pena Pemuda Indonesia) bertema ‘Kontribusi
Pemuda alam Mengaktualisasikan Pendidikan di Era Global Menuju Indonesia Emas
2045’
Penyelenggara : HIMA PGSD Universitas Negeri Yogyakarta
(Kampus Wates)
Waktu : 17-19 Oktober 2014
Judul Karya : Permainan Bom-Dor La-La dengan Gerakan Tari
Rentak Bulian sebagai Modifikasi Permainan Rakyat Melayu Riau “Lu Lu Cina Buta”
dalam Membentuk Karakter Kepemimpinan Siswa Sekolah Dasar
Tentang Pencapaian :
Bisa dibilang, ini adalah perjalanan terakhirku di tahun
2014. Kesulitan pengajuan dana semakin hari semakin ekstrim saja. Aku, Lia dan
dek Nila sudah memutuskan untuk nggak berangkat ke Yogyakarta. Keputusan kami
sudah bulat karena berbagai cara udah kami tempuh dan hasilnya tetap nihil.
Kami butuh sekitar 5 juta untuk perjalanan pulang-pergi sementara rektorat
benar-benar nggak bisa membantu.
Tapi, pasrahku itu seketika berubah jadi gairah ketika Okta
bilang, “Kak, coba bicarakan ini dengan Pak Iyal. Beliau pasti bisa bantu
Kakak.” Ini adalah ikhtiar terakhirku. Kalau seandainya pak Iyal pun nggak bisa
menolongku, aku akan ikhlas. Setidaknya, aku telah berusaha daripada menyerah
begitu saja.
Ternyata benar, lewat pak Iyal, Allah memberikan
pertolongannya. Kejutan buat Lia dan dek NIla bahwa pak Iyal memberikan bantuan
secara pribadi dari kantongnya sendiri. Bahkan, yang mengharukan adalah ketika ku
sadari bahwa angka yang tertera di amplop benar-benar persis dengan isinya. Itu
benar-benar gajinya pak Iyaaalll pemirsaaa. Setelah ke luar dari ruangan pak
Iyal, aku berdoa “Ya Allah, izinkan aku menghadiahkan piala kepada pak Iyal.”
Lia menemaniku dengan konsekuensi akan merogoh kantong
sendiri kalau ternyata ongkos kurang. Sementara dek Nila ikhlas karena nggak
bisa pergi. Aku nggak bayangin gimana jadinya kalau aku pergi sendirian dalam
menikmati perjalanan yang jadi 2x lipat lebih lama karena kesalahan jurusan.
Kami tiba di penginapan pukul 4 sore dan presentase pada pukul 18.30wib. Luar
biasa bukan? Aku selalu mengulang-ulang doa ini, “Ya Allah yang Maha Sempurna,
bantu kami menyempurnakan persiapan yang singkat ini.”
Hingga, keputusan Allah itu datang, kami dinobatkan sebagai
juara 2 dan kembali mengulang detik-detik seperti ketika di Madiun kemarin.
Lagi-lagi bersama Lia. iya, dia memang selalu ku bawa ke mana-mana. Mimpiku
untuk menghadiahi pak Iyal piala kemenangan akhirnya terkabul. Bahkan, hadiah
yang kami peroleh itu bisa kami gunakan untuk membeli oleh-oleh dan
menduplikasi piala. Sebelum pulang, kami diajak ke Waduk Sermo dan berkeliling
di Wates. Alhamdulillah dan aku berharap Yogya kembali mengundangku ke sana.
Aamiin.
___Setiap perjalanan
memiliki hikmahnya sendiri (Truly Elysa)