Ajari
aku menggunakan PENA, akan ku tulis gemericik air, udara dingin,
kabut
senja sampai daun gugur...
*Menanti
Tulisanmu*
Aku
selalu menanti tulisanmu.
Karena
darimana lagi aku bisa tahu apa yang sedang kamu fikirkan bila tidak dari sana?
Kita tidak pernah bercakap-cakap tentang sesuatu yang dalam. Hanya sebuah
sapaan. Aku selalu menunggu tulisanmu. Karena darimana lagi aku bisa tahu
tentang jalan fikiranmu, tentang masalah yang sedang kamu hadapi atau tentang
perasaan yang sedang kamu rasakan. Meski tulisanmu tidak sepenuhnya mewakili
perasaan, setidaknya aku tahu bahwa perasaanmu masih hidup untuk nantinya aku
cintai. Itupun bila kamu mengizinkan.
Aku
selalu membaca tulisanmu. Dari halaman 1 hingga halaman yang aku yakin akan
terus bertambah. Karena darimana lagi aku bisa mengenalmu dengan leluasa bisa
tidak dari sana? Aku bahkan tidak kuasa menyebut namamu di hadapan temanku. Aku
harus menunggu sepi atau malam hari agar bisa leluasa memandang layar dan
membaca berulang-ulang setiap kata yang lahir dari fikiran dan hatimu. Aku
mencinta cara jatuh cinta seperti ini; tidak diketahui olehmu dan aku pun tidak
harus repot-repot bertanya ke sana ke mari tentang harimu. Teruslah menulis,
karena suatu hari nanti, salah satu tulisanmu akan ku wujudkan. Tentang resahmu
menunggu seseorang yang tak kamu tahu siapa. Tapi, kamu percaya ia pasti
datang.
Aku....
pasti datang.
