Selasa, 26 Januari 2016

Menanti Tulisanmu



Ajari aku menggunakan PENA, akan ku tulis gemericik air, udara dingin,
kabut senja sampai daun gugur...

*Menanti Tulisanmu*

Aku selalu menanti tulisanmu.
Karena darimana lagi aku bisa tahu apa yang sedang kamu fikirkan bila tidak dari sana? Kita tidak pernah bercakap-cakap tentang sesuatu yang dalam. Hanya sebuah sapaan. Aku selalu menunggu tulisanmu. Karena darimana lagi aku bisa tahu tentang jalan fikiranmu, tentang masalah yang sedang kamu hadapi atau tentang perasaan yang sedang kamu rasakan. Meski tulisanmu tidak sepenuhnya mewakili perasaan, setidaknya aku tahu bahwa perasaanmu masih hidup untuk nantinya aku cintai. Itupun bila kamu mengizinkan.

Aku selalu membaca tulisanmu. Dari halaman 1 hingga halaman yang aku yakin akan terus bertambah. Karena darimana lagi aku bisa mengenalmu dengan leluasa bisa tidak dari sana? Aku bahkan tidak kuasa menyebut namamu di hadapan temanku. Aku harus menunggu sepi atau malam hari agar bisa leluasa memandang layar dan membaca berulang-ulang setiap kata yang lahir dari fikiran dan hatimu. Aku mencinta cara jatuh cinta seperti ini; tidak diketahui olehmu dan aku pun tidak harus repot-repot bertanya ke sana ke mari tentang harimu. Teruslah menulis, karena suatu hari nanti, salah satu tulisanmu akan ku wujudkan. Tentang resahmu menunggu seseorang yang tak kamu tahu siapa. Tapi, kamu percaya ia pasti datang. 
Aku.... pasti datang.

Ajari aku Menggunakan Pena



Aku ingin berterimakasih kepada SASTRA yang telah mengajariku mengenal KEKAYAAN JIWA. Dan, saat ini aku sedang berusaha memupuknya. Terimakasih wahai SASTRA karena telah mengajariku banyak hal tentang KEMEWAHAN HATI; tentang bagaimana caranya mencintai tanpa menjadi lemah, tentang  bagaimana caranya hidup 2 kali, tentang  bagaimana caranya marah dengan ramah, tentang  bagaimana caranya menyentuh hati tanpa bersentuhan fisik, tentang  bagaimana caranya merapikan perasaan, tentang  bagaimana caranya membenci lewat larik puisi, tentang  bagaimana caranya mengagumi dari kejauhan, tentang  bagaimana caranya berharap dengan elegan, tentang  bagaimana caranya melukiskan segala warna tanpa kuas, tentang bagaimana caranya menggambar dengan bermodal pena, tentang cara  bagaimana caranya banyak orang yang jauh di sana, tentang bagaimana caranya meminta maaf tanpa berkata MAAF dan tentang bagaimana caranya menyebarkan cinta dan salam dari PENA. Terimakasih sastra...

Hari dan hari yang terutangi

Pada numerik 00.05, aku masih aku yang siang
segalanya menjadi larut dan pekat
Hening
dalam rayap gulita membening
aku masih aku yang siang
dalam malam yang malam
masih ada 1 puisi lagi yang terjanji
harus ku selesaikan sebelum aku lelap
sebab, sudah terlalu banyak hutangku pada hari
dan hati-hati yang belum sempat ku cintai

Januari dan tagihan hari, 2016