Minggu, 31 Mei 2015

Jika ternyata DIAM adalah

Cinta tak Pernah Jadi Apa

Duhai jiwa, mestikah ku kabarkan segala cinta?
supaya jiwa yang dua selalu demikian adanya?
Tapi aku tak pandai,
khawatirku terlalu berlebih-ruah
jika relaku tiba-tiba tak hadir
tinggal kikirku yang jelma
lalu cinta tak akan pernah jadi apa
Salam sambut Juni 2015

Inspirasi: Merugi Karena Waktu adalah Merugi Tiada Ganti


“Dek? Gimana Dompet Dhuafa tadi?”
Nggak bisa katanya, Mbak. Udah habis waktunya soalnya.
Aku tergugu. Waktu memang benar tiada mau menunggu. Setiap yang merasa kehilangan baru akan menyadari bahwa waktu tidak tergantikan kerugiannya dengan apapun. Sekarang, aku merasakannya. Aku memang tidak tahu waktu. Ini kan sudah lewat seminggu dari batas daftar. Tapi, namanya saja aku baru sadar dan merasa iri karena mendengar Romi interview, barulah ide gila ini muncul; yang penting coba dulu, siapa tahu aja masih diterima!
Menyadari kenyataan ini seketika mendorongku untuk berkata: “Ya udah deh, ntar Mbak tanya aja ilmunya sama Adek yaaa.” Tapi akhirnya urung karena aku menyadari bahwa niat yang seperti itu adalah bulshyit. Karena, yang namanya menanyakan ilmu dari kegiatan yang tidak kita ikuti adalah seperti menampung air hujan di atas telapak tangan, Sedikit sekali yang tertangkap. Jadi, kalau mau ilmunya ya ikuti kegiatannya. Because there is no free knowledges. 

“Mbak, di Dompet Dhuafa itu banyak orang-orang besar yang baik hatinya. Kalau pun kita nggak digaji, setidaknya kita bisa memperluas link.”

Kalimat Romi barusan seperti lengking pekikan yang memekakkan telinga dunguku.

Jumpa Penulis dan Soft Launching FLP


Ini komposisi pagi
Gumamku ketika mata menyipit memandang nuansa pagi di luar jendela kamar. Beranjak untuk melaksanakan sholat subuh yang diimami oleh adik sendiri adalah nikmat tersendiri. Ia telah begitu kaya dengan hafalan-hafalan suratnya sementara aku masih membarukan ayat-ayat usang. Rasanya begitu iri akan ketaatannya. Kata Nilam, ia ingin memberikan mahkota terindah dan termahal kepada mami papi. *aku semakin malu. Apakah yang selama ini ku raih akan berubah menjadi hadiah bagi mereka kelak? Atau jangan-jangan, untuk menolongku diriku sendiri pun bahkan tidak cukup?

***
“Nilam mau sarapan apa?”
“Terserah Mbak aja.”
Setelah kamar pecah kena bom nuklir ini ku rapikan, aku bersiap-siap untuk membeli sarapan dan mengantarkan KTI ke Masjid Arfaunnas. Jilbab hitamku ntah kemana, akhirnya aku menggunakan jilbab seadanya. Jilbab coklat, baju berbunga coklat dan  rok berbelang coklat ini jadi penampilan yang cukup acak-adut. Ah, tapi aku mah cuek aja. Biar semua orang tahu dan bisa melihatku dari yang versi paling jelek dan urakan, sampai versi yang paling rapi dan cantik, ehehe. *emangnya ada yang memperhatikan el? huaahhh.
“Ini KTInya harus dirangkap 3 dulu, Kak.”
Segera ku putar motor dari parkiran, eh aku ngelihat bang Rokhim dan kak Nurul sedang duduk berdua di bawa pohon matoa. sihiiiiyyy.
“Ciyeeeeee,” kataku.