Jika ternyata DIAM adalah
MENULIS adalah AKU; caraku beristirahat, caraku memaafkan, caraku mencintai dan caraku hidup abadi.
Minggu, 31 Mei 2015
Cinta tak Pernah Jadi Apa
Inspirasi: Merugi Karena Waktu adalah Merugi Tiada Ganti
“Dek? Gimana Dompet Dhuafa tadi?”
Nggak bisa katanya, Mbak. Udah habis waktunya soalnya.
Aku tergugu. Waktu memang benar tiada mau menunggu. Setiap
yang merasa kehilangan baru akan menyadari bahwa waktu tidak tergantikan kerugiannya
dengan apapun. Sekarang, aku merasakannya. Aku memang tidak tahu waktu. Ini kan
sudah lewat seminggu dari batas daftar. Tapi, namanya saja aku baru sadar dan
merasa iri karena mendengar Romi interview, barulah ide gila ini muncul; yang penting coba dulu, siapa tahu aja
masih diterima!
Menyadari kenyataan ini seketika mendorongku
untuk berkata: “Ya udah deh, ntar Mbak tanya aja ilmunya sama Adek yaaa.” Tapi
akhirnya urung karena aku menyadari bahwa niat yang seperti itu adalah bulshyit. Karena, yang namanya
menanyakan ilmu dari kegiatan yang tidak kita ikuti adalah seperti menampung
air hujan di atas telapak tangan, Sedikit
sekali yang tertangkap. Jadi, kalau mau ilmunya ya ikuti kegiatannya. Because there is no free knowledges. “Mbak, di Dompet Dhuafa itu banyak orang-orang besar yang baik hatinya. Kalau pun kita nggak digaji, setidaknya kita bisa memperluas link.”
Kalimat Romi barusan seperti lengking pekikan yang
memekakkan telinga dunguku.
Jumpa Penulis dan Soft Launching FLP
Ini komposisi pagi
Gumamku ketika mata menyipit memandang nuansa pagi di luar jendela
kamar. Beranjak untuk melaksanakan sholat subuh yang diimami oleh adik sendiri
adalah nikmat tersendiri. Ia telah begitu kaya dengan hafalan-hafalan suratnya
sementara aku masih membarukan ayat-ayat usang. Rasanya begitu iri akan
ketaatannya. Kata Nilam, ia ingin memberikan mahkota terindah dan termahal
kepada mami papi. *aku semakin malu. Apakah yang selama ini ku raih akan
berubah menjadi hadiah bagi mereka kelak? Atau jangan-jangan, untuk menolongku
diriku sendiri pun bahkan tidak cukup?
***
“Nilam mau sarapan apa?”
“Terserah Mbak aja.”
Setelah kamar pecah kena bom nuklir ini ku rapikan, aku
bersiap-siap untuk membeli sarapan dan mengantarkan KTI ke Masjid Arfaunnas.
Jilbab hitamku ntah kemana, akhirnya aku menggunakan jilbab seadanya. Jilbab
coklat, baju berbunga coklat dan rok
berbelang coklat ini jadi penampilan yang cukup acak-adut. Ah, tapi aku mah
cuek aja. Biar semua orang tahu dan bisa melihatku dari yang versi paling jelek
dan urakan, sampai versi yang paling rapi dan cantik, ehehe. *emangnya ada yang
memperhatikan el? huaahhh.
“Ini KTInya harus dirangkap 3 dulu, Kak.”
Segera ku putar motor dari parkiran, eh aku ngelihat bang
Rokhim dan kak Nurul sedang duduk berdua di bawa pohon matoa. sihiiiiyyy.
“Ciyeeeeee,” kataku.
Sabtu, 30 Mei 2015
Inspirasi: Tidak Sempat atau Tidak Menyempat?
“El tuh, sediakanlah waktu dalam sehari untuk Quality Time
dengan Nilam. Ini sibuuuk terus.”
“Kan biasanya juga 2 minggu sekali dia pasti ku jemput Rin…
Ini nggak bisa karena besok ada kegiatan.”
“Iya tahu. Maksudku pergi gitu loh, ntah ke mana gituuu.
Ntah ajak si Nilam ke Gramedia, atau ke Alam Mayang atau ke Puswiiill. Banyak
kok tempat yang bisa didatangi. Jalan berdua aja gitu. Ini Cuma di rumah aja,
disuruh pula tuh nyuci baju. Keja m x lah Kakak yang satu ini.”
Aku memikirkan cermat-cermat kalimat Rini itu. Benar. Aku
memang terlalu sibuk atau memang tidak mau meluangkan waktu? Ini baru Nilam,
gimana kalau seandainya ada Salsa atau Moza juga? Atau ada keluargaku yang lain
di sini? Bisa nggak aku meluangkan waktuku untuk mereka? Ini baru masa kuliah
loh, gimana kalau ntar aku beneran sukses dan jam terbangku tinggi? Hiksss,
jangan-jangan ngangkat telvon pun aku nggak sempat? hiksssss,
“Rin? Gitu ya?” aku bertanya setelah diamku.
Rini membalas dengan anggukan.
Pernahkah kamu merasa tersentil dengan hal-hal yang sepele
dan remeh-temeh? Aku pernah dan inilah kejadiannya. Ya Allah, ternyata aku
belum selesai dengan diriku. Ini ujian ‘waktu’ darimu dan pelajaran untukku tentang
akhlak kepada keluarga. Aku harus memperbaiki diri dengan yang 1 ini terlebih
dahulu. Agar ketika telah tiba masanya, aku telah pantas dan tahu ‘bersikap.
“Pi, setelah Maghrib El jemput Adek.”
“Katanya besok mau pergi?”
“El ajak aja Nilam ikut besok, Pi,” ini atas saran Rini.
“Nah..gitu kan sedaaappp…” Sampai segitu legakah papi? hiksss, maaf
pi.
Kita Memang Harus Keliling Dunia!
"Rin, kita harus selesaikan KTI ini sebelum jam 4 sore,
sebelum TM.”
Jadilah pagi ini berubah menjadi pagi penuh pemerasan
fikiran. Sempat kehilangan fokus dan feeling ketika baru membahas dan mulai
menuliskan KTI ini kembali. Untung aja udah ada beberapa coretan dan rancangan
yang sempat kami bahas bertiga lebih dari 2 minggu lalu.
Cin, jam berapa ke
sini?, tanyaku kepada Lia.
Pagi ini belum bisa
Cin. Aku harus ikut DM1 dulu nih.
Aku dan Rini tetap lanjut. Sesekali aku mengajaknya berdiskusi
ketika idenya mulai buyar dan nggak tentu arah. Sesekali juga aku ngomel-ngomel
kalau kerjanya nggak rapi. hihihiii.
“Hallo?”
“Cek, aku di luar. Cepet ku luar! Assalamualaikum.”
Ih, ngapain sih nih bocah pagi-pagi udah ke sini? Beberapa saat,
aku masih belum juga bergerak. Tapi, lama-lama kasihan karena dia manggilin
terus, hiksss.
“Apanya!” tanyaku sok ketus.
“Pasti baru bangun tidur kan?”
“Kok tahu sih?” padahal dalam hatiku, sok tempe banget nih bocah!
Lokasi:
Queensland, Australia
Tanyakan Tentangku Kepada Aku
Jumat, 29 Mei 2015
Luasnya luas
Inspirasi: Yang Kuat Mengalahkan yang Smart
"..sekarang, Okta tanya sama Kakak, benarkah Okta lebih baik
daripada dia? Okta ni belum ada apa-apanya loh dibanding dia, Kak. Okta masih
ngeMC di sini-sini aja, sementara dia udah masuk TV. Walau sebanyak apa pun
yang bilang bahwa Okta lebih baik daripada dia, Okta tetap menganggap dia
sebagai guru Okta.”
#Inspirasi dari dek Romi:
“Emang lebih bagus Adek daripada dia puuunn.”
“Semalam Appa Okta nelvon, dia bilang: “Nak, cobalah rekam
waktu Ari Nelvon, biar Appa sama Amma bisa lihat kayak apa anak kami ngeMC.
Appa lihat di TV-TV tu orangnya heboh, bisa menghidupkan suasana, apakah anak
Appa juga gitu?” Lalu Okta jawab gini; “FKIP ni Okta bikin gitu Pa. Tapi, sayangnya
Ari ndak pernah pula mereka Ari waktu ngeMC.”
“Dek, tadi Kakak terkesan waktu Romi bilang gini ke adik-adik
juniornya: ‘LIhatlah nih Mbak, padahal dia bisa nerbitin puisinya berkali-kali
di Riau Pos sejak SMA, tapi sekarang dia malas banget nulis. Dek, orang yang
punya bakat itu akan dikalahkan oleh orang-orang yang mau. Itulah yang membuat
banyak orang terlena dan keliru’.”
“Ya Allah, Kak. Itu ngena banget jawabannya Kak.
Keren!”#Inspirasi dari dek Romi:
Kamis, 28 Mei 2015
Lihatlah pada KITA
Inspirasi: Kesehatan Kita Tergantung Gigi Kita
Sambil menikmati santap siang, kami saling bercerita tentang
hal-hal seru yang nggak mungkin muat kalau diketikkan di SMS atau diobrolin di
HP. Hihii..
“Cek, kemarin Kakak pernah certain hal ini ke Kak Rini dan
Kak Rini sependapat ternyata. Nah, bagaimana menuru Cek nanti? Gini, kita kan
kalau sakit sering banget menyalahkan makanan yang kita konsumsi. Padahal, ada
yang seharusnya lebih kita pertanyakan dan kita persalahkan Cek. Apa itu
kira-kira?”
“Emmm… apa ya? Perasaan? Jiwa? Fikiran?”
Aku selalu menggeleng. “Kebersihan gigi kita Cek. Karena
makanan itu pertama kali diolah kan dimulut. Coba seandainya kita malas sikat
gigi, banyak kuman yang menumpuk di sana dan ketika ada makanan masuk, tentu
makanan itu terolah bersama kuman-kuman tadi kan? Terus, tertelan. Terus,
tercerna di dalam lambung. Berarti kuman-kuman dari mulut kita tadi udah
terbawa sampai ke sana Cek.”
“Iyaaa yaaa,” ujar Novi sambil berfikir jauh.
“Dokter pun sangat jarang mempertanyakan kesehatan mulut si
pasien kan Cek? Yang pertama kali ditanya pasti kebiasaan mengkonsumsi apa.
Padahal, ketika kita sakit perut, belum tentu karena makanan, bisa jadi karena
mulut kita yang kotor. Nih, contohnya lagi kalau kita sedang flu kan
tenggorokan ada dahaknya juga tuh. Kan ada kalanya dahak itu tertelan sementara
itu mengandung banyak banget kuman. Dahak yang tadinya terletak di antara
hidung, telinga dan tenggorokan malah terbawa sampai ke pencernaan. Bener nggak
Cek fikiran ngawur Kakak ini?”
“Bener Cek. Iya yaaaa.. AHAA! Pokoknya judul Blog Kakak hari
ini harus ada gigi-giginya ya? Hehe.”
Rabu, 27 Mei 2015
Workshop E-Commerce
Penyelenggara : DISPERINDAG Provinsi Riau di Hotel Premier
Waktu : 27-29 Mei 2015
Judul Karya : -
Tentang Pencapaian :
Aku dan Rini adalah 2 di antara 5 orang utusan UR untuk mengikuti
pelatihan ini. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi salah satu peserta
dalam pelatihan yang luar biasa ini. Meskipun aku merasa kurang terbina dan
terpola karena pesertanya juga rame, tapi setidaknya aku banyak tahu tentang
rahasia memanfaatkan media sosial lebih dari yang kebanyakan orang tahu.
Bahkan, yang tak kalah luar biasanya adalah ketika salah satu pemateri mengaku
sangat sukses dalam bisnis Importnya. Sedikit bertanya-tanya di dalam hati
waktu itu; ‘Wajar ajalah kalau kita lebih suka import daripada produksi
sendiri, ya karena biayanya bisa jauh lebih murah. Tapi, kalau semua orang
berfikir seperti itu, kapan dan siapa yang akan membesarkan negeri ini?’
____Kita adalah pemilik SAH Negera ini. Maka, kita juga SAH sebagai
pemakmurnya! (Truly Elysa)
Lelah-langkahku
Inspirasi: Guna Instagram
"Cek udah bikin Instagram?”
“Udah. Udah Novi follow pun Kakak. Tapi masih kosong
melompong ya akunnya?”
“Nah, ini dia Cek, sebenarnya Kakak masih ragu tentang
upload-upload-an foto ini. Baik nggak sih sebenarnya Cek?”
“Novi pun awalnya ragu Cek. Novi pernah baca-baca artikel
kan dan ada 2 pendapat tentang sisi buruk dan sisi baiknya. Kalau yang
buruknya, ada yang mengkhawatirkan akan menimbulkan nafsu cowok, takutnya wajah
kita dimanfaatkan untuk situs-situs nggak bener atau diguna-guna gitu Cek.”
“Kakak berfikir gini Cek, kalau seseorang meyakini bahwa
mengupload foto ke medsos itu nggak boleh, seharusnya dia pun nggak boleh
menikmati hasil uploadan orang lain donk!”
“Maksudnya Cek?”
“Gini loh, misalnya Kakak meyakini bahwa mengupload foto itu
nggak boleh, ya harusnya Kakak pun nggak boleh menikmati foto-foto orang lain
sekalipun itu artis. Tapi, kalau Kakak suka lihat-lihat foto Oki, Bella,
Shireen karena Kakak berkeyakinan bahwa mengupload foto itu nggak masalah
selama itu bukan foto lebay atau terlalu dekat wajahnya. Gitu aja sih kalau
menurut Kakak.”
“Nah, Novi pernah juga baca Cek; Ada seorang cowok yang
bilang ‘Tolong bantu kami menjaga nafsu kami’ akibat melihat foto-foto cewek .
Sebenarnya, tanpa melihat foto pun, seorang cowok bisa aja bernafsu hanya dari
membaca status cewek di medsos. Jadi, sebenarnya yang harus dididik itu
nafsunya si cowok itu yang harus dijaga, bukan matanya.”
“Bener banget tuh Cek. Sekarang, pertanyaannya adalah; ‘Apa
tujuan dia ngelihatin foto cewek dengan sengaja kalau memang dia tahu itu bisa
mengundang nafsunya?’ Apalagi kalau dia seseorang yang udah faham.”
“Tulah Cek. Ntahlah. Novi hanya ingin menginspirasi orang
lain dengan berbagi apa yang bisa Novi bagi Cek.”
E-Commerce: Tomini Terlalu Kecil Untukku
“Mana nih si Teguh? Udah El sms kan kalau kita di sini?”
Aku hanya manggut-manggut. Ekspresi yang meragukan sebenarnya. Lalu, kami melanjutkan melahap perkedel jagung yang tersisa di piring ini.
Aku hanya manggut-manggut. Ekspresi yang meragukan sebenarnya. Lalu, kami melanjutkan melahap perkedel jagung yang tersisa di piring ini.
“Hei?” Teriakku sambil melambaikan tangan kepada Teguh yang melintas
perlahan.
“Malah ganti PM dulu, bukannya cepat-cepat berangkat. Huh!”
Teguh hanya tersenyum sambil menyodorkan charger laptop yang
akan ku bawa duluan.
“Dek, Daeng emang udah positif masuk 10 besar kan? Tapi Mak
sedih Dek, semalam aja dia udah sombong gitu sama Mak.”
“Eh Mak, Mak kira status adek tadi tu buat siapa? Ya buat
nyindir dia itulah. Adek kan nanya siapa aja yang masuk 10 besar, tapi dia
malah mengalihkan ke obrolan lain.”
“Ya Allah Dek, sama kali kita. Mak saking tersinggungnya
sampai nangis semalam. Tuh tanyalah Kak Rini Dek. Mak sampai bilang gini; Oh ya maaf ya Yudi. Saya siapa, kamu siapa.
*maaf. Tapi,
statusmu itu kurang ngena Dek, maunya bilang aja; Tiba-tiba merasa seperti orang lain. Itu baru ngena Dek!”
“Iya Mak,
Adek pun merasa kayak gitu. Ntah apa yang mau kita emberkan kalau pun kita tahu
hal itu kan?”
“Lagian panitia juga aneh. Kan udah pasti 10 orang itu yang terpilih dan 5 di antaranya
bakal berlayar, terus kenapa harus main sembunyi-sembunyian segala? Memangnya
bakal ada perubahan? Tiba-tiba yang nggak masuk ke dalam 10 besar itu bakal
berangkat? Kan nggak mungkin. Howalaaah. Ntahlah Dek. Seleksinya mati-matian,
pengumumannya sembunyi-sembunyian.”
“Udahlah
Mak. Biarin aja. Jalan untuk kita masih terbuka lebar. Insya Allah kita juga
bisa.”
Setelah itu
Teguh langsung pergi sambil berteriak, “Ntar habis masuk, Adek langsung nyusul
ke sana Mak.” Dan aku menjawab, “Yuhuuuuuu.”
Selasa, 26 Mei 2015
Belum Tentu
Orang yang bertepuk tangan untukmu, belum tentu bangga kepadamu
Orang yang tersenyum kepadaku, belum tentu ramah kepadamu
Orang yang mengatakan 'kamu hebat!' kepadamu, belum tentu benar adanya begitu
Orang yang menepuk pundakmu, belum tentu sepenuhnya mendukungmu.
BELUM TENTU.
Orang yang tersenyum kepadaku, belum tentu ramah kepadamu
Orang yang mengatakan 'kamu hebat!' kepadamu, belum tentu benar adanya begitu
Orang yang menepuk pundakmu, belum tentu sepenuhnya mendukungmu.
BELUM TENTU.
Aku belajar dari hari ini, 26 Mei 2015
Doa: Siapkan Aku untuk Selalu Siap
Selintas, aku memandang ke arah Rini. Ntah dengan siapa saudara
sekamarku setelah Rini. Sudah tak terbantahkan lagi tentang niat Rini untuk
segera pulang setelah ini. Beberapa sosok bermunculan silih berganti di
benakku; adakah salah satunya yang terlihat cocok denganku? Ternyata tidak ada.
Aku tak yakin bisa. Akankah aku sendirian saja?
Fikiranku melambung, meretas kegelisahan tentang segala
ketidakpastian di masa depan. Hingga bermuara pada kepulangan yang sudah tentu pasti;
Kematian.
Ya Allah, jika Engkau
bertanya terlebih dahulu setiap kali Engkau akan ‘menjemput’ kami, kami pasti
akan selalu menjawab, ‘Ya Allah, tunda dulu, aku belum siap.’ Untuk itulah
Engkau selalu memberi kejutan tentang kapan kami akan Engkau bawa pulang ke
‘kampung halaman.’ Tentang ini, Engkau ingin mengajari kami untuk selalu siap setiap saat. Karena
kesiapan adalah hasil dari persiapan, bukan penundaan.
TT Duta Bahasa; Jangan Kurangi Cantikmu
Kemarin, aku sempat salah
konsep. Bangun jam 3 dini hari untuk tahajud dan ngeblog karena ntah bagaimana
ceritanya quota internetku ternyata ada 12.000gb untuk pukul 12 malam sampai
jam 7 pagi. Tapi, karena aku belum nulis apapun dan foto-foto belum ada yang
diedit, maka jadilah jam 3ku itu ku isi dengan hanya berselancar di FB. Ah,
mubazir banget waktuku. Seharusnya aku sudah mengetikkan cerita dan pagi ini
tinggal mempostingnya.
Aku malah ngantuk dan kepalaku pusing. Akhirnya ku bawa tidur lagi. Eh, bangunnya malah jadi jam 5 lewat, huaaahh. Memang, waktu yang paling ideal itu ya tidur jam 11 bangunnya jam 4 pagi. Atau kalau bagiku, tidur jam 1 malam aja setelah posting cerita di blog. Lebih tenang, lebih gampang mikir dan bangunnya tetap di jam yang sama juga. Kalau pagi tuh, agak susah mikir akunya brooo hehe.
Pagi ini, aku memposting 1 cerita dan 1 puisi sampai pukul 07.00wib. Lalu, aku berkemas untuk seleksi Duta Bahasa Tahap 1 pagi ini. Jangan sampai terlambat! Aku menggunakan dress berwarna peach dan dibalut dengan blazer hitam. Oh ya, sepatu baru peachku juga ku pakai pagi ini. Perfect!
"Kak, besok jam setengah 8 ya tesnya..”
Kalimat Novi semalam terngiang lagi. Ini sudah pukul 07.12wib dan aku baru saja beranjak dari candu blog. Alhasil, aku buru-buru bersiap-siap, Dhuha pun tak sempat. Sebelum aku memasuki pelataran Balai Bahasa, aku melihat banyak orang yang berdiri di depannya. Ah, baguslah kalau ternyata aku tidak terlambat.
Aku malah ngantuk dan kepalaku pusing. Akhirnya ku bawa tidur lagi. Eh, bangunnya malah jadi jam 5 lewat, huaaahh. Memang, waktu yang paling ideal itu ya tidur jam 11 bangunnya jam 4 pagi. Atau kalau bagiku, tidur jam 1 malam aja setelah posting cerita di blog. Lebih tenang, lebih gampang mikir dan bangunnya tetap di jam yang sama juga. Kalau pagi tuh, agak susah mikir akunya brooo hehe.
Pagi ini, aku memposting 1 cerita dan 1 puisi sampai pukul 07.00wib. Lalu, aku berkemas untuk seleksi Duta Bahasa Tahap 1 pagi ini. Jangan sampai terlambat! Aku menggunakan dress berwarna peach dan dibalut dengan blazer hitam. Oh ya, sepatu baru peachku juga ku pakai pagi ini. Perfect!
"Kak, besok jam setengah 8 ya tesnya..”
Kalimat Novi semalam terngiang lagi. Ini sudah pukul 07.12wib dan aku baru saja beranjak dari candu blog. Alhasil, aku buru-buru bersiap-siap, Dhuha pun tak sempat. Sebelum aku memasuki pelataran Balai Bahasa, aku melihat banyak orang yang berdiri di depannya. Ah, baguslah kalau ternyata aku tidak terlambat.
Senin, 25 Mei 2015
Inspirasi: Menolong diri, Menolong Orang Lebih Sempurna
Maaf Kak, pengumpulan KTI terakhir jam 16.00wib tadi.
Aku terperanga membaca pesan ini. Padahal sudah sejak jam 17.00wib ku kirimkan pesan kepada panitia tnetang kejelasan pengumpulan berkas. Tapi baru sekarang dibalasnya dan seperti ini pula kenyataannya. Mendadak kayak tinggal di Jepang aja, telat dikit, tinggal.
Aku menyesal seketika, Ini gara-gara urusan pribadiku belum selesai, maka urusan lainnya jadi terbengkalai. Seandainya aku bisa menolong diriku sendiri, tentulah aku bisa menolong orang lain dengaa lebih sempurna.
Aku terperanga membaca pesan ini. Padahal sudah sejak jam 17.00wib ku kirimkan pesan kepada panitia tnetang kejelasan pengumpulan berkas. Tapi baru sekarang dibalasnya dan seperti ini pula kenyataannya. Mendadak kayak tinggal di Jepang aja, telat dikit, tinggal.
Aku menyesal seketika, Ini gara-gara urusan pribadiku belum selesai, maka urusan lainnya jadi terbengkalai. Seandainya aku bisa menolong diriku sendiri, tentulah aku bisa menolong orang lain dengaa lebih sempurna.
Pembaca Nominasi Pemenang LKTI Nasional
Penyelenggara : BEM FKIP Universitas Riau
Waktu : 25 Mei 2015
Judul Karya : -
Tentang Pencapaian :
Sebuah kehormatan bagiku ketika diminta untuk membacakan
nominasi sekaligus penemang LKTI nasional yang diadakan oleh BEM FKIP
Universitas Riau. Aku maju dengan penuh percaya diri bersama selempang MAWAPRES
yang melabuh di bahuku. Sedikit memberi wejangan sebelum ke poinnya, “Lahirnya
karya-karya yang teman-teman torehkan ini adalah bukti bahwa budaya berfikir
ilmiah masih terjaga. Semoga ide yang teman-teman tuangkan ini tidak hanya
berakhir di atas kertas…” Selanjutnya, aku membacakan 3 pemenang LKTI nasional
sekaligus meminta mereka untuk naik ke atas panggung.
___Kita tidak tahu seberapa kuatkah kita sebelum kita menyadari betapa
lemahnya kita. (Truly Elysa)
"Kita sedang tinggal di dunia" sadarku kemudian.
Kita Sedang Tinggal di Dunia
Kamarku berserak banget. Udah hampir seminggu seperti ini. Baju-baju
yang telah disetrikan rapi jadi kusut kembali karena berserak di tempat tidur
dan ditiduri Rini. Agenda pagi ini adalah bersih-bersih kamar. Kakiku masih
sangat pegal sebenarnya sejak tes Lari dan Renang kemarin. Ini sedikit
menghambat gerakku. Semoga rasa sakit ini jadi penghapus dosa.
Okta memintaku segera ke BEM. Padahal tadi katanya dia udah di
tempat bang Hendra, ternyata Cuma ngibulin. Setengah jam kemudian aku baru tiba
di BEM dan inilah tanggapan Oktacek,
“Lama betuuuuuuul. Tadi Okta bilang 15 menit, ini dah hampir sejam
pula.”
“Kakak udah terlanjur merendam baju loh, Dek. Jadi, nyuci dulu,”
belaku.
Tiba-tiba Romi datang dan ikutan nimbrung,
“Iya si Elcek itu memang gitu, lama datangnya kalau udah janji.
Bener tuh, Taa..”
Grrrr! Aku jadi bahan bulian pula di sini. BEM sedang sangat rapi
karena ruangannya kosong setelah acara kemarin. Ini mereka sedang bersih-bersih
dan kami ngerumpi pula di tengah ruangan.
“Eh, pakai sertifikat juga, Kak?”
“Sebaiknya pakai Dek. Walaupun nggak diminta. Tapi, itu kan bisa
jadi bahan pertimbangan juga.”
Minggu, 24 Mei 2015
Inspirasi: Dilarang tapi Dilanggar
"Rin, perhatiin nggak sih kalau disetiap bacaan, DILARANG BUANG SAMPAH DI SINI malah di
situlah banyak orang buang sampah?”
“Hahaha.. bener-bener-bener. Emang parah kalilah kita nih
ya? Dilarang malah semakin suka dilanggar. Kasihan banget nasil si pembuat
tulisan hehe.”
“Aku pernah baca di sebuah simpang, YA ALLAH, LAKNATLAH ORANG YANG MEMBUANG
SAMPAH DI TEMPAT INI. Itu mungkin saking sakit hatinya ya? huaaahh..”
Langganan:
Postingan (Atom)


