Minggu, 31 Mei 2015

Jika ternyata DIAM adalah

Cinta tak Pernah Jadi Apa

Duhai jiwa, mestikah ku kabarkan segala cinta?
supaya jiwa yang dua selalu demikian adanya?
Tapi aku tak pandai,
khawatirku terlalu berlebih-ruah
jika relaku tiba-tiba tak hadir
tinggal kikirku yang jelma
lalu cinta tak akan pernah jadi apa
Salam sambut Juni 2015

Inspirasi: Merugi Karena Waktu adalah Merugi Tiada Ganti


“Dek? Gimana Dompet Dhuafa tadi?”
Nggak bisa katanya, Mbak. Udah habis waktunya soalnya.
Aku tergugu. Waktu memang benar tiada mau menunggu. Setiap yang merasa kehilangan baru akan menyadari bahwa waktu tidak tergantikan kerugiannya dengan apapun. Sekarang, aku merasakannya. Aku memang tidak tahu waktu. Ini kan sudah lewat seminggu dari batas daftar. Tapi, namanya saja aku baru sadar dan merasa iri karena mendengar Romi interview, barulah ide gila ini muncul; yang penting coba dulu, siapa tahu aja masih diterima!
Menyadari kenyataan ini seketika mendorongku untuk berkata: “Ya udah deh, ntar Mbak tanya aja ilmunya sama Adek yaaa.” Tapi akhirnya urung karena aku menyadari bahwa niat yang seperti itu adalah bulshyit. Karena, yang namanya menanyakan ilmu dari kegiatan yang tidak kita ikuti adalah seperti menampung air hujan di atas telapak tangan, Sedikit sekali yang tertangkap. Jadi, kalau mau ilmunya ya ikuti kegiatannya. Because there is no free knowledges. 

“Mbak, di Dompet Dhuafa itu banyak orang-orang besar yang baik hatinya. Kalau pun kita nggak digaji, setidaknya kita bisa memperluas link.”

Kalimat Romi barusan seperti lengking pekikan yang memekakkan telinga dunguku.

Jumpa Penulis dan Soft Launching FLP


Ini komposisi pagi
Gumamku ketika mata menyipit memandang nuansa pagi di luar jendela kamar. Beranjak untuk melaksanakan sholat subuh yang diimami oleh adik sendiri adalah nikmat tersendiri. Ia telah begitu kaya dengan hafalan-hafalan suratnya sementara aku masih membarukan ayat-ayat usang. Rasanya begitu iri akan ketaatannya. Kata Nilam, ia ingin memberikan mahkota terindah dan termahal kepada mami papi. *aku semakin malu. Apakah yang selama ini ku raih akan berubah menjadi hadiah bagi mereka kelak? Atau jangan-jangan, untuk menolongku diriku sendiri pun bahkan tidak cukup?

***
“Nilam mau sarapan apa?”
“Terserah Mbak aja.”
Setelah kamar pecah kena bom nuklir ini ku rapikan, aku bersiap-siap untuk membeli sarapan dan mengantarkan KTI ke Masjid Arfaunnas. Jilbab hitamku ntah kemana, akhirnya aku menggunakan jilbab seadanya. Jilbab coklat, baju berbunga coklat dan  rok berbelang coklat ini jadi penampilan yang cukup acak-adut. Ah, tapi aku mah cuek aja. Biar semua orang tahu dan bisa melihatku dari yang versi paling jelek dan urakan, sampai versi yang paling rapi dan cantik, ehehe. *emangnya ada yang memperhatikan el? huaahhh.
“Ini KTInya harus dirangkap 3 dulu, Kak.”
Segera ku putar motor dari parkiran, eh aku ngelihat bang Rokhim dan kak Nurul sedang duduk berdua di bawa pohon matoa. sihiiiiyyy.
“Ciyeeeeee,” kataku.

Sabtu, 30 Mei 2015

Inspirasi: Tidak Sempat atau Tidak Menyempat?

“El tuh, sediakanlah waktu dalam sehari untuk Quality Time dengan Nilam. Ini sibuuuk terus.”
“Kan biasanya juga 2 minggu sekali dia pasti ku jemput Rin… Ini nggak bisa karena besok ada kegiatan.”
“Iya tahu. Maksudku pergi gitu loh, ntah ke mana gituuu. Ntah ajak si Nilam ke Gramedia, atau ke Alam Mayang atau ke Puswiiill. Banyak kok tempat yang bisa didatangi. Jalan berdua aja gitu. Ini Cuma di rumah aja, disuruh pula tuh nyuci baju. Keja m x lah Kakak yang satu ini.”
Aku memikirkan cermat-cermat kalimat Rini itu. Benar. Aku memang terlalu sibuk atau memang tidak mau meluangkan waktu? Ini baru Nilam, gimana kalau seandainya ada Salsa atau Moza juga? Atau ada keluargaku yang lain di sini? Bisa nggak aku meluangkan waktuku untuk mereka? Ini baru masa kuliah loh, gimana kalau ntar aku beneran sukses dan jam terbangku tinggi? Hiksss, jangan-jangan ngangkat telvon pun aku nggak sempat? hiksssss,
“Rin? Gitu ya?” aku bertanya setelah diamku.
Rini membalas dengan anggukan.
Pernahkah kamu merasa tersentil dengan hal-hal yang sepele dan remeh-temeh? Aku pernah dan inilah kejadiannya. Ya Allah, ternyata aku belum selesai dengan diriku. Ini ujian ‘waktu’ darimu dan pelajaran untukku tentang akhlak kepada keluarga. Aku harus memperbaiki diri dengan yang 1 ini terlebih dahulu. Agar ketika telah tiba masanya, aku telah pantas dan tahu ‘bersikap.
“Pi, setelah Maghrib El jemput Adek.”
“Katanya besok mau pergi?”
“El ajak aja Nilam ikut besok, Pi,” ini atas saran Rini.
“Nah..gitu kan sedaaappp…” Sampai segitu legakah papi? hiksss, maaf pi.

Kita Memang Harus Keliling Dunia!


"Rin, kita harus selesaikan KTI ini sebelum jam 4 sore, sebelum TM.”
Jadilah pagi ini berubah menjadi pagi penuh pemerasan fikiran. Sempat kehilangan fokus dan feeling ketika baru membahas dan mulai menuliskan KTI ini kembali. Untung aja udah ada beberapa coretan dan rancangan yang sempat kami bahas bertiga lebih dari 2 minggu lalu.
Cin, jam berapa ke sini?, tanyaku kepada Lia.
Pagi ini belum bisa Cin. Aku harus ikut DM1 dulu nih.
Aku dan Rini tetap lanjut. Sesekali aku mengajaknya berdiskusi ketika idenya mulai buyar dan nggak tentu arah. Sesekali juga aku ngomel-ngomel kalau kerjanya nggak rapi. hihihiii.
“Hallo?”
“Cek, aku di luar. Cepet ku luar! Assalamualaikum.”
Ih, ngapain sih nih bocah pagi-pagi udah ke sini? Beberapa saat, aku masih belum juga bergerak. Tapi, lama-lama kasihan karena dia manggilin terus, hiksss.
“Apanya!” tanyaku sok ketus.
“Pasti baru bangun tidur kan?”
“Kok tahu sih?” padahal dalam hatiku, sok tempe banget nih bocah!

Tanyakan Tentangku Kepada Aku

"Tanyakan tentangku kepada aku," cetus Okta
tak ku iyakan, tapi tak juga ku tidakkan
ini hanya soal pemandang, bukan?
kadang kita lebih tahu
kadang juga kita tidak lebih tahu
ada aku-aku lainnya yang lebih laku
tapi tidak dengan AKU yang Satu itu

Aku-aku, Juni 2015

Jumat, 29 Mei 2015

Luasnya luas

Luasnya biru tanpa batas luas
Membentang gagah menggagahi kanvas
Semesta terlukis sampai teretas
Tiadalah luas tanpa yang Maha Luas
Kita pun terjaga karena terkemas

Mei bercabang Rasa 2015

Inspirasi: Yang Kuat Mengalahkan yang Smart

"..sekarang, Okta tanya sama Kakak, benarkah Okta lebih baik daripada dia? Okta ni belum ada apa-apanya loh dibanding dia, Kak. Okta masih ngeMC di sini-sini aja, sementara dia udah masuk TV. Walau sebanyak apa pun yang bilang bahwa Okta lebih baik daripada dia, Okta tetap menganggap dia sebagai guru Okta.”
“Emang lebih bagus Adek daripada dia puuunn.”
“Semalam Appa Okta nelvon, dia bilang: “Nak, cobalah rekam waktu Ari Nelvon, biar Appa sama Amma bisa lihat kayak apa anak kami ngeMC. Appa lihat di TV-TV tu orangnya heboh, bisa menghidupkan suasana, apakah anak Appa juga gitu?” Lalu Okta jawab gini; “FKIP ni Okta bikin gitu Pa. Tapi, sayangnya Ari ndak pernah pula mereka Ari waktu ngeMC.”
“Dek, tadi Kakak terkesan waktu Romi bilang gini ke adik-adik juniornya: ‘LIhatlah nih Mbak, padahal dia bisa nerbitin puisinya berkali-kali di Riau Pos sejak SMA, tapi sekarang dia malas banget nulis. Dek, orang yang punya bakat itu akan dikalahkan oleh orang-orang yang mau. Itulah yang membuat banyak orang terlena dan keliru’.”
“Ya Allah, Kak. Itu ngena banget jawabannya Kak. Keren!”
#Inspirasi dari dek Romi:

Kamis, 28 Mei 2015

Lihatlah pada KITA

Lihatlah pada KITA yang dulu
Begitu dekatnya jiwa seolah JARAK tiada

Lalu,
Lihatlah pada KITA yang kini
Begitu berjaraknya jiwa seolah DEKAT tidak pernah ada

Akhirnya,
Lihatlah pada KITA yang nanti,
Akankah JARAK yang akan tersisa?
Ataukah DEKAT yang akan kembali tercipta?

Aduku pada Juni 2015

Inspirasi: Kesehatan Kita Tergantung Gigi Kita

Sambil menikmati santap siang, kami saling bercerita tentang hal-hal seru yang nggak mungkin muat kalau diketikkan di SMS atau diobrolin di HP. Hihii..
“Cek, kemarin Kakak pernah certain hal ini ke Kak Rini dan Kak Rini sependapat ternyata. Nah, bagaimana menuru Cek nanti? Gini, kita kan kalau sakit sering banget menyalahkan makanan yang kita konsumsi. Padahal, ada yang seharusnya lebih kita pertanyakan dan kita persalahkan Cek. Apa itu kira-kira?”
“Emmm… apa ya? Perasaan? Jiwa? Fikiran?”
Aku selalu menggeleng. “Kebersihan gigi kita Cek. Karena makanan itu pertama kali diolah kan dimulut. Coba seandainya kita malas sikat gigi, banyak kuman yang menumpuk di sana dan ketika ada makanan masuk, tentu makanan itu terolah bersama kuman-kuman tadi kan? Terus, tertelan. Terus, tercerna di dalam lambung. Berarti kuman-kuman dari mulut kita tadi udah terbawa sampai ke sana Cek.”
“Iyaaa yaaa,” ujar Novi sambil berfikir jauh.
“Dokter pun sangat jarang mempertanyakan kesehatan mulut si pasien kan Cek? Yang pertama kali ditanya pasti kebiasaan mengkonsumsi apa. Padahal, ketika kita sakit perut, belum tentu karena makanan, bisa jadi karena mulut kita yang kotor. Nih, contohnya lagi kalau kita sedang flu kan tenggorokan ada dahaknya juga tuh. Kan ada kalanya dahak itu tertelan sementara itu mengandung banyak banget kuman. Dahak yang tadinya terletak di antara hidung, telinga dan tenggorokan malah terbawa sampai ke pencernaan. Bener nggak Cek fikiran ngawur Kakak ini?”
“Bener Cek. Iya yaaaa.. AHAA! Pokoknya judul Blog Kakak hari ini harus ada gigi-giginya ya? Hehe.”

Rabu, 27 Mei 2015

Workshop E-Commerce

Nama Acara : Internet Marketing (E-Commerce) sebagai Media Ekspor-Impor bagi UKM dan Masyarakat
Penyelenggara : DISPERINDAG Provinsi Riau di Hotel Premier
Waktu : 27-29 Mei 2015
Judul Karya : -

Tentang Pencapaian :
Aku dan Rini adalah 2 di antara 5 orang utusan UR untuk mengikuti pelatihan ini. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi salah satu peserta dalam pelatihan yang luar biasa ini. Meskipun aku merasa kurang terbina dan terpola karena pesertanya juga rame, tapi setidaknya aku banyak tahu tentang rahasia memanfaatkan media sosial lebih dari yang kebanyakan orang tahu. Bahkan, yang tak kalah luar biasanya adalah ketika salah satu pemateri mengaku sangat sukses dalam bisnis Importnya. Sedikit bertanya-tanya di dalam hati waktu itu; ‘Wajar ajalah kalau kita lebih suka import daripada produksi sendiri, ya karena biayanya bisa jauh lebih murah. Tapi, kalau semua orang berfikir seperti itu, kapan dan siapa yang akan membesarkan negeri ini?’

____Kita adalah pemilik SAH Negera ini. Maka, kita juga SAH sebagai pemakmurnya! (Truly Elysa)

Lelah-langkahku

Mami, kaki anakmu lemah-lelah langkahnya
Yang diharapakan tak sesuai harap
Yang diusahakan tak seusai usaha
Mereka bilang, hasil tidak pernah mengingkari usaha
Tapi kataku, hari ini adalah bukti bahwa hasil bisa saja menghianati usaha.

Aku pernah kecewa, 27 Mei 2015

Inspirasi: Guna Instagram

"Cek udah bikin Instagram?”
“Udah. Udah Novi follow pun Kakak. Tapi masih kosong melompong ya akunnya?”
“Nah, ini dia Cek, sebenarnya Kakak masih ragu tentang upload-upload-an foto ini. Baik nggak sih sebenarnya Cek?”
“Novi pun awalnya ragu Cek. Novi pernah baca-baca artikel kan dan ada 2 pendapat tentang sisi buruk dan sisi baiknya. Kalau yang buruknya, ada yang mengkhawatirkan akan menimbulkan nafsu cowok, takutnya wajah kita dimanfaatkan untuk situs-situs nggak bener atau diguna-guna gitu Cek.”
“Kakak berfikir gini Cek, kalau seseorang meyakini bahwa mengupload foto ke medsos itu nggak boleh, seharusnya dia pun nggak boleh menikmati hasil uploadan orang lain donk!”
“Maksudnya Cek?”
“Gini loh, misalnya Kakak meyakini bahwa mengupload foto itu nggak boleh, ya harusnya Kakak pun nggak boleh menikmati foto-foto orang lain sekalipun itu artis. Tapi, kalau Kakak suka lihat-lihat foto Oki, Bella, Shireen karena Kakak berkeyakinan bahwa mengupload foto itu nggak masalah selama itu bukan foto lebay atau terlalu dekat wajahnya. Gitu aja sih kalau menurut Kakak.”
“Nah, Novi pernah juga baca Cek; Ada seorang cowok yang bilang ‘Tolong bantu kami menjaga nafsu kami’ akibat melihat foto-foto cewek . Sebenarnya, tanpa melihat foto pun, seorang cowok bisa aja bernafsu hanya dari membaca status cewek di medsos. Jadi, sebenarnya yang harus dididik itu nafsunya si cowok itu yang harus dijaga, bukan matanya.”
“Bener banget tuh Cek. Sekarang, pertanyaannya adalah; ‘Apa tujuan dia ngelihatin foto cewek dengan sengaja kalau memang dia tahu itu bisa mengundang nafsunya?’ Apalagi kalau dia seseorang yang udah faham.”
“Tulah Cek. Ntahlah. Novi hanya ingin menginspirasi orang lain dengan berbagi apa yang bisa Novi bagi Cek.”

E-Commerce: Tomini Terlalu Kecil Untukku

“Mana nih si Teguh? Udah El sms kan kalau kita di sini?”
Aku hanya manggut-manggut. Ekspresi yang meragukan sebenarnya. Lalu, kami melanjutkan melahap perkedel jagung yang tersisa di piring ini.
“Hei?” Teriakku sambil melambaikan tangan kepada Teguh yang melintas perlahan.
“Malah ganti PM dulu, bukannya cepat-cepat berangkat. Huh!”
Teguh hanya tersenyum sambil menyodorkan charger laptop yang akan ku bawa duluan.
“Dek, Daeng emang udah positif masuk 10 besar kan? Tapi Mak sedih Dek, semalam aja dia udah sombong gitu sama Mak.”
“Eh Mak, Mak kira status adek tadi tu buat siapa? Ya buat nyindir dia itulah. Adek kan nanya siapa aja yang masuk 10 besar, tapi dia malah mengalihkan ke obrolan lain.”
“Ya Allah Dek, sama kali kita. Mak saking tersinggungnya sampai nangis semalam. Tuh tanyalah Kak Rini Dek. Mak sampai bilang gini; Oh ya maaf ya Yudi. Saya siapa, kamu siapa. *maaf. Tapi, statusmu itu kurang ngena Dek, maunya bilang aja; Tiba-tiba merasa seperti orang lain. Itu baru ngena Dek!”
“Iya Mak, Adek pun merasa kayak gitu. Ntah apa yang mau kita emberkan kalau pun kita tahu hal itu kan?”
“Lagian panitia juga aneh. Kan udah pasti 10 orang itu yang terpilih dan 5 di antaranya bakal berlayar, terus kenapa harus main sembunyi-sembunyian segala? Memangnya bakal ada perubahan? Tiba-tiba yang nggak masuk ke dalam 10 besar itu bakal berangkat? Kan nggak mungkin. Howalaaah. Ntahlah Dek. Seleksinya mati-matian, pengumumannya sembunyi-sembunyian.”
“Udahlah Mak. Biarin aja. Jalan untuk kita masih terbuka lebar. Insya Allah kita juga bisa.”
Setelah itu Teguh langsung pergi sambil berteriak, “Ntar habis masuk, Adek langsung nyusul ke sana Mak.” Dan aku menjawab, “Yuhuuuuuu.”

Selasa, 26 Mei 2015

Belum Tentu

Orang yang bertepuk tangan untukmu, belum tentu bangga kepadamu
Orang yang tersenyum kepadaku, belum tentu ramah kepadamu
Orang yang mengatakan 'kamu hebat!' kepadamu, belum tentu benar adanya begitu
Orang yang menepuk pundakmu, belum tentu sepenuhnya mendukungmu.
BELUM TENTU.

Aku belajar dari hari ini, 26 Mei 2015

Doa: Siapkan Aku untuk Selalu Siap

Selintas, aku memandang ke arah Rini. Ntah dengan siapa saudara sekamarku setelah Rini. Sudah tak terbantahkan lagi tentang niat Rini untuk segera pulang setelah ini. Beberapa sosok bermunculan silih berganti di benakku; adakah salah satunya yang terlihat cocok denganku? Ternyata tidak ada. Aku tak yakin bisa. Akankah aku sendirian saja?
Fikiranku melambung, meretas kegelisahan tentang segala ketidakpastian di masa depan. Hingga bermuara pada kepulangan yang sudah tentu pasti; Kematian.
Ya Allah, jika Engkau bertanya terlebih dahulu setiap kali Engkau akan ‘menjemput’ kami, kami pasti akan selalu menjawab, ‘Ya Allah, tunda dulu, aku belum siap.’ Untuk itulah Engkau selalu memberi kejutan tentang kapan kami akan Engkau bawa pulang ke ‘kampung halaman.’ Tentang ini, Engkau ingin mengajari kami untuk selalu siap setiap saat. Karena kesiapan adalah hasil dari persiapan, bukan penundaan.

TT Duta Bahasa; Jangan Kurangi Cantikmu



Kemarin, aku sempat salah konsep. Bangun jam 3 dini hari untuk tahajud dan ngeblog karena ntah bagaimana ceritanya quota internetku ternyata ada 12.000gb untuk pukul 12 malam sampai jam  7 pagi. Tapi, karena aku belum nulis apapun dan foto-foto belum ada yang diedit, maka jadilah jam 3ku itu ku isi dengan hanya berselancar di FB. Ah, mubazir banget waktuku. Seharusnya aku sudah mengetikkan cerita dan pagi ini tinggal mempostingnya.
Aku malah ngantuk dan kepalaku pusing. Akhirnya ku bawa tidur lagi. Eh, bangunnya malah jadi jam 5 lewat, huaaahh. Memang, waktu yang paling ideal itu ya tidur jam 11 bangunnya jam 4 pagi. Atau kalau bagiku, tidur jam 1 malam aja setelah posting cerita di blog. Lebih tenang, lebih gampang mikir dan bangunnya tetap di jam yang sama juga. Kalau pagi tuh, agak susah mikir akunya brooo hehe.
Pagi ini, aku memposting 1 cerita dan 1 puisi sampai pukul 07.00wib. Lalu, aku berkemas untuk seleksi Duta Bahasa Tahap 1 pagi ini. Jangan sampai terlambat! Aku menggunakan dress berwarna peach dan dibalut dengan blazer hitam. Oh ya, sepatu baru peachku juga ku pakai pagi ini. Perfect!
"Kak, besok jam setengah 8 ya tesnya..”
Kalimat Novi semalam terngiang lagi. Ini sudah pukul 07.12wib dan aku baru saja beranjak dari candu blog. Alhasil, aku buru-buru bersiap-siap, Dhuha pun tak sempat. Sebelum aku memasuki pelataran Balai Bahasa, aku melihat banyak orang yang berdiri di depannya. Ah, baguslah kalau ternyata aku tidak terlambat.

Senin, 25 Mei 2015

Inspirasi: Menolong diri, Menolong Orang Lebih Sempurna

Maaf Kak, pengumpulan KTI terakhir jam 16.00wib tadi.
Aku terperanga membaca pesan ini. Padahal sudah sejak jam 17.00wib ku kirimkan pesan kepada panitia tnetang kejelasan pengumpulan berkas. Tapi baru sekarang dibalasnya dan seperti ini pula kenyataannya. Mendadak kayak tinggal di Jepang aja, telat dikit, tinggal.

Aku menyesal seketika, Ini gara-gara urusan pribadiku belum selesai, maka urusan lainnya jadi terbengkalai. Seandainya aku bisa menolong diriku sendiri, tentulah aku bisa menolong orang  lain dengaa lebih sempurna.

Pembaca Nominasi Pemenang LKTI Nasional

Nama Acara : Penutupan BEM FKIP Celebration
Penyelenggara : BEM FKIP Universitas Riau
Waktu : 25 Mei 2015
Judul Karya : -

Tentang Pencapaian :
Sebuah kehormatan bagiku ketika diminta untuk membacakan nominasi sekaligus penemang LKTI nasional yang diadakan oleh BEM FKIP Universitas Riau. Aku maju dengan penuh percaya diri bersama selempang MAWAPRES yang melabuh di bahuku. Sedikit memberi wejangan sebelum ke poinnya, “Lahirnya karya-karya yang teman-teman torehkan ini adalah bukti bahwa budaya berfikir ilmiah masih terjaga. Semoga ide yang teman-teman tuangkan ini tidak hanya berakhir di atas kertas…” Selanjutnya, aku membacakan 3 pemenang LKTI nasional sekaligus meminta mereka untuk naik ke atas panggung.

___Kita tidak tahu seberapa kuatkah kita sebelum kita menyadari betapa lemahnya kita. (Truly Elysa)

"Kita sedang tinggal di dunia" sadarku kemudian.

Ada banyak cara kita menyalahkan
Kadang, memang pantas menyalahkan
Kadang, pantas pun menyalahkan tak ada guna
Aku berkata kepada adinda yang masih muda,
"Kita sedang tinggal di dunia yang penuh lupa. Bukan di syurga yang penuh cinta."

Mei sendu, 25-2015

Kita Sedang Tinggal di Dunia


Kamarku berserak banget. Udah hampir seminggu seperti ini. Baju-baju yang telah disetrikan rapi jadi kusut kembali karena berserak di tempat tidur dan ditiduri Rini. Agenda pagi ini adalah bersih-bersih kamar. Kakiku masih sangat pegal sebenarnya sejak tes Lari dan Renang kemarin. Ini sedikit menghambat gerakku. Semoga rasa sakit ini jadi penghapus dosa.
Okta memintaku segera ke BEM. Padahal tadi katanya dia udah di tempat bang Hendra, ternyata Cuma ngibulin. Setengah jam kemudian aku baru tiba di BEM dan inilah tanggapan Oktacek,
“Lama betuuuuuuul. Tadi Okta bilang 15 menit, ini dah hampir sejam pula.”
“Kakak udah terlanjur merendam baju loh, Dek. Jadi, nyuci dulu,” belaku.
Tiba-tiba Romi datang dan ikutan nimbrung,
“Iya si Elcek itu memang gitu, lama datangnya kalau udah janji. Bener tuh, Taa..”
Grrrr! Aku jadi bahan bulian pula di sini. BEM sedang sangat rapi karena ruangannya kosong setelah acara kemarin. Ini mereka sedang bersih-bersih dan kami ngerumpi pula di tengah ruangan.
“Eh, pakai sertifikat juga, Kak?”
“Sebaiknya pakai Dek. Walaupun nggak diminta. Tapi, itu kan bisa jadi bahan pertimbangan juga.”

Minggu, 24 Mei 2015

Inspirasi: Dilarang tapi Dilanggar


"Rin, perhatiin nggak sih kalau disetiap bacaan, DILARANG BUANG SAMPAH DI SINI malah di situlah banyak orang buang sampah?”
“Hahaha.. bener-bener-bener. Emang parah kalilah kita nih ya? Dilarang malah semakin suka dilanggar. Kasihan banget nasil si pembuat tulisan hehe.”
“Aku pernah baca di sebuah simpang, YA ALLAH, LAKNATLAH ORANG YANG MEMBUANG SAMPAH DI TEMPAT INI. Itu mungkin saking sakit hatinya ya? huaaahh..”