"Rin, kita harus selesaikan KTI ini sebelum jam 4 sore,
sebelum TM.”
Jadilah pagi ini berubah menjadi pagi penuh pemerasan
fikiran. Sempat kehilangan fokus dan feeling ketika baru membahas dan mulai
menuliskan KTI ini kembali. Untung aja udah ada beberapa coretan dan rancangan
yang sempat kami bahas bertiga lebih dari 2 minggu lalu.
Cin, jam berapa ke
sini?, tanyaku kepada Lia.
Pagi ini belum bisa
Cin. Aku harus ikut DM1 dulu nih.
Aku dan Rini tetap lanjut. Sesekali aku mengajaknya berdiskusi
ketika idenya mulai buyar dan nggak tentu arah. Sesekali juga aku ngomel-ngomel
kalau kerjanya nggak rapi. hihihiii.
“Hallo?”
“Cek, aku di luar. Cepet ku luar! Assalamualaikum.”
Ih, ngapain sih nih bocah pagi-pagi udah ke sini? Beberapa saat,
aku masih belum juga bergerak. Tapi, lama-lama kasihan karena dia manggilin
terus, hiksss.
“Apanya!” tanyaku sok ketus.
“Pasti baru bangun tidur kan?”
“Kok tahu sih?” padahal dalam hatiku, sok tempe banget nih bocah!
Ternyata dia mau tanya-tanya tentang ide untuk artikel Duta
Bahasa. Aku nggak mau kalah. Langsung aja ku ceritakan tentang ide KTI MTQku
ini. Sesekali dia menyangkal dan aku selalu menjawab, “Tunggu dulu! Orang belum
selesai cerita!” dan Okta seketika manggut-manggut, nurut. hehe.
“Hemmm…bagus Kak idenya!”
“Ciyusss nih?”
“Iyoooo.”
Rini mengodeku untuk minta tolong sama Okta belikan bensinku. Wah,
ide bagus juga tuh! Motorku mogok pas di depan kosan, semalam. Mumpung ada Okta
nih! Bukan hanya minta tolong belikan bensin, aku juga minta tolong belikan
brunch (breakfast dan lunch) buat kami.
“Kalau bensin, Okta nggak mau!”
“Loh kenapa? Kan sekalian?”
“Pokoknya Okta nggak mau. Sesekali harus menolak Kakak! haaha.”
“Woy! Tolonglah Kakka dulu. Masa Okta rela liat Kakak jauh-jauh
jalan kaki ke depan beli bensin sambil dorong motor?”
“Pokoknya Okta nggak mau? Masa Okta gendong-gendong bensin?”
Aku melirik ke helmnya yang disangkutkan di jok motor. “Nah, taruk
sini kan bisa!” sambil menunjuk ke helm yang terbalik itu. Ide macam apa ini?
hhaha. Tapi, baguslah! Karena akhirnya Okta pasrah.
“Iya iya! Kalau sama si Elis nih susah ngelawan emang!”
5 menit kemudian, semua pesananku sudah dibawannya. yeheeee!
Makacih Dek endutt. haha. Rini ternyata sama kelaparannya denganku. Kami makan
dengan lahap di antara tumpukan bantal dan kasur yang masih berserak. Tapi,
yang mengherankan adalah, nggak ada tumpukan buku atau kertas di sekitar kami.
Weesss, keren ya nulis KTInya nggak perlu buku lagi? ehhehe.
Cin, jam berapa ke
sini?
Setelah ashar ya
Cin. jawab
Lia.
Ya Allah. Ntar sore
tu udah TM. KTI baru 60%, modem kami nggak ada.
Eh, Cuma selisih beberapa menit aja Lia udah nongol di depan
kamarku. Dia segera mengonekkan wifi dari androidnya tanpa masuk ke dalam
kamar.
“Mu mau pergi lagi?” tanyaku.
“Iya Cin. Maaf ya aku sama sekali nggak membantu. Mu berdua aja
sama Rini yang maju kalau gitu.”
Dengan lesu aku menjawab, “Okelah.”
Lalu benarlah ia segera berlalu.
“Aku nggak pernah seserius ini ikut
pelatihan. Mungkin karena ini yang terakhir. Assalamualaikum Ciiinnn…”
Aku membangunkan Rini yang sempat
permisi untuk tidur selama 10 menit.
“Tadi Lia ke sini ya?” tanya Rini.
“Iya dan dia minta maaf karena nggak
bisa bantu. Dia bilang, aku sama Rini aja yang maju. Ehhhmm, tiba-tiba aku
berniat ngajakin Okta aja Rin. Kalau seandainya kita juara 1, aku sekaligus
mengajak 2 orang yang belum pernah ke luar kan? Dan, mungkin ini yang terakhir
sebelum wisuda. Menurut Rini gimana? Okta nggak perlu ikut bikin KTI ini, ntar
aku mau ngasih kejutan aja kalau ternyata masuk 10 besar.”
“Emang Lia beneran nyuruh kita berdua
aja?”
“Iya, karena dia merasa nggak enak.
Tapi, nggak enak juga sih. Walaubagaimana pun, ide ini kan bareng dia juga
netapinnya dan sekarang dia nyerahin HPnya untuk kita pake. Dan, kapan lagi
kita bisa terbang bertiga? Aku kapan lagi bisa membawanya? Ah, tetep Lia aja
deh Rin.”
Kami segera melanjutkan penulisan
hingga Ashar tiba.
“Belum dibalas-balas nih sama panitia
dimana ngumpulinnya! Kita makan mie ayam dulu yuk?” ajakku.
Rencana mau makan mie goreng di Kantin
Alif berubah jadi mie ayam di Binkrid.
"Kok nggak dikasih kecap sih mie-mu?"
"Aku suka yang original El."
"Lihatlah mie-ku ini. Bahkan pantat kuali pun kalah hitamnya."
"Selalaaaapnyaaa..(baca: selalu)."
“Rin, aku agak sedikit heran. Lia kok
ikut-ikutan menganggap aku nggak mau cepat tamat ya? Dan, seolah-olah dari
kata-katanya semalam, dia pun kayak nggak yakin kalau aku mau tamat Oktober
ini.”
“Aku aja nggak kefikiran ke sana loh,
El. Justru aku menilai Oktober tuh udah paling lama target El.”
“Untunglah Rini nggak ikut-ikutan
aneh. Tapi, aku mau membantah pun nggak bisa Rin. Karena emang bener sampai
saat ini aku belum berbuat apa-apa. Makanya aku diam aja. Karena aku belum punya
bukti pasti untuk menangkis itu.”
“Arassoooh..”
***
“El tuh, sediakanlah waktu dalam sehari untuk Quality Time
dengan Nilam. Ini sibuuuk terus.”
“Kan biasanya juga 2 minggu sekali dia pasti ku jemput Rin…
Ini nggak bisa karena besok ada kegiatan.”
“Iya tahu. Maksudku pergi gitu loh, ntah ke mana gituuu.
Ntah ajak si Nilam ke Gramedia, atau ke Alam Mayang atau ke Puswiiill. Banyak
kok tempat yang bisa didatangi. Jalan berdua aja gitu. Ini Cuma di rumah aja,
disuruh pula tuh nyuci baju. Kejam x lah Kakak yang satu ini.”
Aku memikirkan cermat-cermat kalimat Rini itu. Benar. Aku
memang terlalu sibuk atau memang tidak mau meluangkan waktu? Ini baru Nilam,
gimana kalau seandainya ada Salsa atau Moza juga? Atau ada keluargaku yang lain
di sini? Bisa nggak aku meluangkan waktuku untuk mereka? Ini baru masa kuliah
loh, gimana kalau ntar aku beneran sukses dan jam terbangku tinggi? Hiksss,
jangan-jangan ngangkat telvon pun aku nggak sempat? hiksssss,
“Rin? Gitu ya?” aku bertanya setelah diamku.
Rini membalas dengan anggukan.
Pernahkah kamu merasa tersentil dengan hal-hal yang sepele
dan remeh-temeh? Aku pernah dan inilah kejadiannya. Ya Allah, ternyata aku
belum selesai dengan diriku. Ini ujian ‘waktu’ darimu dan pelajaran untukku
tentang akhlak kepada keluarga. Aku harus memperbaiki diri dengan yang 1 ini
terlebih dahulu. Agar ketika telah tiba masanya, aku telah pantas dan tahu
‘bersikap.
“Pi, setelah Maghrib El jemput Adek.”
“Katanya besok mau pergi?”
“El ajak aja Nilam ikut besok, Pi,” ini atas saran Rini.
“Nah..gitu kan sedaaappp…” Segitu
legakah papi? hiksss, maaf pi.
Aku segera mengabari Titin bahwa
aku nggak jadi nginap di kosannya. Rangsel yang udah berisi perlengkapan
menginap ini seketika beralih fungsi. Aku menyandangnya dalam rangka menjemput
Nilamku. Di depan pesantrennya, aku berdoa, “Ya Allah, atas niat baikku ini
terhadap adikku, tolong mudahkan jalan KTI MTQku ini.” Aku berdoa seperti itu
lantaran khawatir pengumpulan KTI ini benar-benar sudah terlambat.
Maaf
kak. Pengumpulan KTI terakhir tadi jam 16.00wib.
Aku berharap kalimat sms itu segera
aku berubah melegakan atas permohonan maafku. Namun, setelah perjalanan motor
ini mendekati kosanku, belum juga ada pesan baru yang ku terima.
“Mbak, Bapaknya teman Kakak yang
namanya Alifa, meninggal kemarin.”
“Sakit?”
“Kecelakaan katanya. Bapaknya kan
jualan baju pakai mobil taking gitu. Kasihanlah Mbak. Kemarin teman Kakak yang
satu lagi pun Bapaknya meninggal. Waktu itu kami heran waktu si Alifa bilang
dia kangen kali sama bapaknya, padahal kami sedang belajar. Itulah rupanya
pertanda bahwa besoknya bapaknya meninggal. Kemarin Bapaknya terkahir pernah ke
sini, sendirian aja. Katanya nggak niat awalnya, karena sekaligus ada urusan
gitu ke Pekanbaru.”
“Makanya, kita harus doakan orang tua kita
terus yaa. Semoga selamat dan sehat selalu dan meninggalnya pun dalam keadaan
baik.”
“Aamiin,” balas Nilam.
Memang, tidak ada pembicaraan yang
paling instant melembutkan hati selain kabar tentang PEMUTUS SEGALA NIKMAT;
kematian. Kali ini pun aku sedang tertegun. Bulu kuduk mendadak berdiri, hati
jadi was-was. Kematian memang senantiasa mengintai dan nggak pernah lalai. Kita
mungkin yang bisa lalai, tapi ajal nggak pernah. hiksss…
“Lam. kita sholat Isya di sini ya!”
pintaku kepada Nilam. Biar nggak susah-susah ntar kalau memang masih ada
keringanan dan malam ini juga harus ku antarkan KTInya.
Setelah sholat Isya, Alhamdulillah
jawaban sesuai pengharapan benar-benar ku terima.
Iya
gpp. Untuk LKTI nggak jadi tadi cabut undinya dan untuk yang presentasi hanya 10 besar yang lulus seleksi
naskah. Diumumkannya pada hari senin.
“Fabiayyi’alaa irobbikuma
tukadzibaan..”
***
“Mana Nilam, El?”
“Ini udah di jalan, Pi.”
“Belum nyampe kosan?”
“Belum.”
Aku tak mengatakan bahwa kami sedang beli pisang coklat keju.
Ntar ketahuan deh kalau aku suka ngemil, ehhe. Tadi aja waktu Nilam ku beri
tahu bahwa beratku sudah 62kg, dia sampai melotot dan beristighfar, hiksss.
Sesampainya di kosan, papi nelvon lagi dan ku serahkan
langsung HPnya ke Nilam. Sementara aku, terus aja menyantap irisan demi irisan
pisang bertabur coklat dan keju sambil nonton SUCI4. Aku udah berpesan ke Nilam
supaya jangan menjawab apa-apa kalau mampi-papi tanya-tanya tentang uang atau
berat badanku. *itu sedang rentan banget pemirsaaahh,,hikss
“Udahlah, Mbak. Untuk nanti lagi,” tiba-tiba Nilam menarik
kotak pisang dan menjauhkannya dariku.
“Loh?” aku melongo.
“Udah, untuk nanti kalau nyariin makanan malam-malam.”
“Kesinikanlah! Apa ni? Mbak nggak nyari-nyari makanan lagi
kok! Ini udah sekaligus aja.”
Akhirnya Nilam mengalah dan seketika langsung ludes si
pisangnya. Pemirsa masih ingat kan dengan rumus 0%-100%ku? Nah, masa Nilam
menyetop makanku kayak gitu? Ya mana aku bisa. hehee. Kalau habis ya habis
sekalian, kalau nggak sanggup ngabisin ya jangan dimakan dulu. Simple atau
rempong tuh? hihiii.
***
“Cin, mumpung masih ada beberapa menit nih, aku mau cerita
dikit. Tadi, pemateri di DM2 kereeen banget. Materinya tentang Syumul Islam,
artinya islam itu menyeluruh. Dan, mu tahu apa nasehat terakhirnya yang bikin
aku terperanga Cin?”
“Apa tuhh?”
“Dia nyuruh kita kelilin dunia Cin. Pokoknya paling lama sebulan setelah hari ini, saya mau seluruh kadre
punya paspor!, gitu katanya tadi Cin."
"Kok bisa nyampe sana?"
"Iya, alasannya karena penyebaran islam itu adalah di seluruh muka bumi. Jadi, ke mana pun kita pergi, di sana pasti ada Islam. Keceeeee bangettt! Cin, aku mau ke luar negeri. Ayo kita pergiiii.”
"Kok bisa nyampe sana?"
"Iya, alasannya karena penyebaran islam itu adalah di seluruh muka bumi. Jadi, ke mana pun kita pergi, di sana pasti ada Islam. Keceeeee bangettt! Cin, aku mau ke luar negeri. Ayo kita pergiiii.”
Aku pun terkesan. Lia memang benar luar biasa. Di saat harus
menerima kenyataan bahwa hanya aku yang dibiayai ke Thailand, ia tetap legowo.
Bahkan ngongkosin aku segala, katanya
biar uangnya sampai ke Thailand duluan dan setelah itu orangnya. aamiin Cinnnn.
Aku sangat mengamiininya.
Sekarang, giliran Okta yang nelvon,
“…jadi, menurut Kakak, salahkah jika Okta mengharapkan
menang, mendapatkan nama sekaligus mendapatkan uang hadiahnya, Kak?”
“Nggak salah Kok! Justru harus Dek. Kan, kata Allah mintalah
apa pun kepada-Nya, bahkan untuk sandal jepit yang putus sekali pun. Allah kan
sesuai prasangka hamba-Nya, Dek. Allah juga menyuruh kita meminta permintaan
yang terbaik, yaitu minta syurga Firdaus karena itu yang tertinggi. Apalagi
Cuma minta uang, Dek?”
“Gitu ya Kak? Okta cuma takut salah.”
“Insya Allah tidak, Dek.”
***
Ku intip jumlah uang yang ada di dalam amplop pemberian Kepsek SMP
Madani tadi. Ada Rp 150.000 ternyata. Ya Allah, Alhamdulillah. Aku bahkan nggak
nyangka dibayar, karena aku tahu kondisi sekolah itu yang sumber keuangannya
adalah dari donasi. Mana pantas aku berharap dibayar? Awalnya aku menduga isi
amplop ini hanya Rp 100.000 atau Rp 50.000 eh, ternyata keduanya.
Niat untuk membeli cas latop menggebu. TInggal tambah Rp 100.000
lagi, aku pasti bisa beli cas baru. Tapi, niat itu sudah ku urungkan ketika aku
menyadari bahwa aku lebih butuh pertolongan Allah yang lebih besar. Akhirnya,
aku menghubungi bang Alam untuk mengirimkan no.rek FLP dan aku menyedekahkan
semuanya kepada FLP.
Bang, doakan semoga
seleksi Elysa di KPN dan Duta Bahasa diberi kelancaran dan kemudahan oleh Allah
yaa...
Bang Alam menduga aku baru saja menang lomba. Tapi, aku hanya
membalas dengan senyuman tanpa menjelaskan yang sebenarnya. Aku sadar, selama
ini pun FLP banyak disokong oleh para donator. Setiap acara-acara kekeluargaan
selalu aja ada makan siang padahal acara itu tanpa iuran. Nah, hari ini giliran
aku yang wajib bersedekah. Toh, ini pun untuk kesejahteraan dan kebelangsungan
hidup FLPku tercinta.
Kalau mau jadi orang
kaya, ya kita harus bermental seperti orang kaya; suka memberi, nggak khawatir
kehabisan uang, dermawan, bahagia karena merasa segalanya cukup.
Dan, aku meyakininya!
Doakan saya segera kaya ya pemirsaaa..aamiin ^_^


Tidak ada komentar:
Posting Komentar