Jumat, 11 Desember 2015

Bagaimana Kamu Padaku adalah Bagaimana Aku Padamu


Aku memburu senja. Berusaha mendahului petang sebelum petang sampai di peraduan. Masih ada jejak-jejak senja yang tertinggal di langit Pekanbaru, pertanda masih ada harapan untuk menandingi datangnya petang. Aku sudah tiba di pembelokan tugu Songket, Panam sudah menyambutku. Okta dan Nova mungkin sudah ketinggalan jauh di belakang. Lajuku memang ku pacu, demi sebuah demi.
“Umumnya Pembaca tak pernah mau TAHU bagaimana Penulis Menulis.”
Ntah ilham dari mana ini. Belakangan aku baru menyadari bahwa ternyata aku selalu ngobrol dengan fikiran dan hatiku sendiri. Maka, tak heran jika kalimat-kalimat ‘supranatural’ seperti yang barusan itu bermunculan.  Untungnya aku selalu sadar dan segera mememenjarakannya dalam ingatan. Adapun maksud kalimat itu seperti ini…
“Pembaca tulisan-tulisanku yang rajin banget nagih tulisanku setiap kali aku terlambat update itu tidak pernah bertanya; ‘Kenapa terlambat meng-up-date? Apa kendalanya?’. Tidak pernah. Mereka tidak pernah mau tahu itu. Yang terpenting adalah TULISANKU HARUS SELALU TERHIDANG. Tak peduli, betapa sibuknya aku, betapa tidak sempatnya aku, betapa lelahnya aku dan betapa aku pun sering kali ‘kalah’ dan dipecundangi oleh diriku sendiri.”
Ah…. Tapi tak apa. Aku justru menikmati semua momen indah bersama tulisan dan segala resiko ‘tagihan’ yang mengiringinya. Aku suka sekali dipaksa oleh keadaan seperti ini.
“Ya Allah, izinkan hamba hidup dalam ‘kemewahan’ hati, rasa dan cinta dalam tulisan dan persahabatan yang menghebatkan. Aamiin.”


Nasehat: Alay-lah pada Orang Tuamu

Assalamualaikum mi.. lagi ngapain? Dah mamam? Mi, el awali pagi ini dengan meminta maaf atas semua kesalahan El. dan minta doanya untuk cita-cita el. bububuyuuu..muachhh.
Memang, aku akui kalimat SMSku itu alay, hehe. Tapi, eh jangan salah loh orang tua kita itu sebenarnya sukaaa banget diala;y-in sama anaknya. coba deh kalau nggak percaya! Lalu lihatlah bagaimana responnya?
Waalaikumsalam. Habis ngebonsai bunga kertas nih. Udah makan tadi sama sayur Gori (bjaca: nangka) dan ikan asin. Dimaafkan, didoakan yang terbaik buat dunia dan akhirat.
Legaaaaaa dan bahagiaaaa banget bacanya. Alhamdulillah, hati jadi jauh lebih tenang kalau udah dapat restu dan doa dari mami. Biasanya aku akan lebih bersemangat dan rezeki bakal lancar. Karena aku sangat percaya bahwa restu orang tua adalah pembuka segala kemudahan, keberkahan dan ampunanNya. Aku segera kembali lagi pada tulisan-tulisanku.

Mari Berhuruf

Desember ini pun akan berganti Januari
Kelak pun, Januari akan berujung pada Desember

Ini tentang Mula dan Pulang
Huruf-hurufmu akan jadi saksi di setiap mula
Akan jadi rindu pada setiap pulang
dan jadi kesegaran di setiap antara

Kamu.
Sudahkah berhuruf hari ini?

Desember dan aku yang berhuruf. 2015