Kamis, 18 Februari 2016

Ada Resiko bersama Pengakuan



Pernah ada yang bertanya kepadaku; “El, kenapa nggak suka sama dia? Padahal dia kan termasuk cowok yang 'lengkap'?" Ternyata, pertanyaan itu membuatku sadar bahwa yang ku cari itu adalah seseorang yang COCOK denganku; Ibarat jari telunjuk dan jari tengah. Bukan jari Telunjuk dan Jempol. Kalau dia jauh lebih ‘tinggi’ daripada aku, berarti aku yang ZOLIM. Sedangkan kalau dia jauh lebih ‘rendah’ daripada aku, berarti aku yang MERUGI.

Jodoh itu adalah tentang KECOCOKAN; Dialah yang berjalan-BERIRINGAN di samping kita. Bukan yang kita SERET tangannya karena dia tertinggal di belakang kita atau yang kita TARIK tangannya karena dia berjalan mendahului kita. See? Mulailah mengukur diri dari sekarang.

Berumah tangga sukses dunia-akhirat



“Rin, Riiin. Mau dengerin ceritaku lagi?” tanyaku sambil menggoyang-goyangkan bahu Rini.
“Ceritalah! Tapi aku sambil merem yaa. Mataku pedih soalnya.”
“Gini Rin, tadi aku jumpa dengan seniorku yang angkatan 09. Dia aneh Rin, ketika dia menceritakan tentang kerusakan keluarganya ke aku tapi dengan ekspresi datar; sama sekali nggak tergambar di wajahnya kalau dia sedang menceritakan sesuatu yang sedih. Padahal, mataku aja udah berkaca-kaca loh! Aku berfikir, kuat kali lah Kakak itu. Dari wajahnya kita nggak akan ngira kalau keluarganya broken Rin, karena Kakak tu ceria aja. Tapi memang sih, Kakak itu mudah mengeluh. Hemmm… aku belum tentu bisa setegar dia kalau berada di posisinya. Rin, kita berdoa yaa, semoga nantinya keluarga yang kita bangun SUKSES dunia-akhirat. Nggak gagal apalagi kandas di tengah jalan kayak gitu.”
“Aamiin ya Allah.”

Manusia dan Takdirnya



Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini sejatinya sedang hidup bersama TAKDIR yang telah ditakdirkan baginya. Ada jenis takdir yang bisa kita otak-atik lewat doa dan upaya. Ada pula jenis takdir yang hanya perlu kita terima dengan segala keikhlasan dan kesabaran. Dan tentang yang satu ini, setiap orang mempunyai jalan ceritanya masing-masing. Bagi kita yang saat ini merasa bahagia, syukurilah kebahagiaan ini sebelum ia berubah menjadi duka. Bagi kita yang saat ini sedang berduka, bersabarlah karena sebentar lagi kebahagiaan akan menjelang. Di mana pun kita berada saat ini, syukurilah segalanya. Kita tidak perlu menunggu duka sehingga mampu menghargai bahagia. Sebaliknya, kita tidak perlu menunggu bahagia barulah akan memaknai duka. Segalanya terjadi untuk kita ambil pelajarannya. Dan hanya mereka yang BELAJARLAH yang akan menjadi seberuntung-beruntungnya manusia

Upaya mendustai kantuk

Sudah jelang tengah malam
tapi aku baru mulai mensyukuri hari
dalam diary

Jemariku mulai kaku
ternyata bukan hanya lidah yang bisa kelu
jika telah lama tak dibiasakan

Apapun yang dimau-i
syaratnya tak muluk-muluk
hanya... lakukan!
atau ia tak kan menjadi apapun
atau siapapun...


Februari yang semakin menepi, 2016