Kamis, 18 Februari 2016

Ada Resiko bersama Pengakuan



Pernah ada yang bertanya kepadaku; “El, kenapa nggak suka sama dia? Padahal dia kan termasuk cowok yang 'lengkap'?" Ternyata, pertanyaan itu membuatku sadar bahwa yang ku cari itu adalah seseorang yang COCOK denganku; Ibarat jari telunjuk dan jari tengah. Bukan jari Telunjuk dan Jempol. Kalau dia jauh lebih ‘tinggi’ daripada aku, berarti aku yang ZOLIM. Sedangkan kalau dia jauh lebih ‘rendah’ daripada aku, berarti aku yang MERUGI.

Jodoh itu adalah tentang KECOCOKAN; Dialah yang berjalan-BERIRINGAN di samping kita. Bukan yang kita SERET tangannya karena dia tertinggal di belakang kita atau yang kita TARIK tangannya karena dia berjalan mendahului kita. See? Mulailah mengukur diri dari sekarang.

***

Pukul 09.00wib. Aku buru-buru ke Prodi untuk menyerahkan bukti pembayaran Sidang Skripsi kepada pak RM. Sudah seminggu beliau menunggu dan memaklumiku. Kali ini aku harus bersegera. Sebab, aku pun harus mengakui bahwa aku tak suka MENUNGGU LAMA. Eh, tapi ternyata Prodi masih tutup. Aku pun segera menuju ruangan pak Suarman. Dan, ternyata pak Suarman pun belum datang. Akhirnya, aku nongkrong di HIMA bersama 2 orang junior yang sedang menunggui stand pendaftaran Olimpiade Ekonomi (OE-4).
“Kemarin orang tu lomba nyanyi, hari ini lomba apa pula yaa?”
“Fashion show kayaknya hari ini.”
Mendengar obrolan mereka barusan membuatku ingin segera menuju ke arena PAUD FAIR. Tapi, aku nggak ada teman. Rasanya percuma ke sana sendirian, karena toh nggak ada yang bisa memfotokan aku pemirsaaa (dasar otak narsis, hehee). Akhirnya, aku tetap duduk anteng di sini. Bercerita dengan mereka beberapa menit untuk membunuh tunggu.

“Kakak coba ke atas lagi ya Dek, siapa tahu Pak RM udah datang! Makasih tumpangannnya, ehhe.”
Benar saja, Prodi sudah buka dan pak RM ada di dalam. Aku segera menyerahkan slip pmebayaranku kepada beliau. Aku bertanya tentang syarat pencairan kembali uang SPPku untuk semester genap ini. Pak RM menyerahkan berita acara ujian Skripsiku kemarin dan memintaku untuk mengopinya.
“Bang, foto kopi rangkap 3 yaa!” pintaku kepada bang In.
Setelah selesai, aku baru tersadar bahwa aku nggak punya uang sepeser pun di saku. Alamak! Ku perhatikan beberapa orang yang sedang memfotokopi juga, tapi sayangnya nggak ada satu pun yang ku kenal. Memang hanya Rp 500, tapi kalau aku memohon-mohon untuk dibayarkan pun kurang etis rasanya. Akhirnya, aku berlarian ke HIMA dan meminjam uang juniorku tadi.
“Seribu aja Dek!” ketika ia menyodorkan uang Rp 2000 kepadaku.
“Cukup nyo Kak?” tanyanya.
“Cukup Dek. Makasih ya Dek.”

Duh, baik banget sih si adek! Aku mau minjem Rp 1000 malah disodorkan Rp 2000. Kalau nggak ada kamu, Kakak nggak bisa ngurus pencairan SPP hari ini Dek. Aku segera kembali ke prodi untuk mengembalikan berita acara yang asli kepada pak RM. Selanjutnya, aku langsung menuju rekorat. Ke lantai 3, bagian Keuangan dan Dana Masyarakat.
“Pak… saya mau emmm… mencairkan uang SPP saya.. emm…gimana ya caranya ngomongnya?” aku tergagap.
Segera ku keluarkan berita acara ujianku dari dalam tas.
“Nah, ini bukti bahwa saya sudah sidang Pak, nah sekarang saya mau mencairkan kembali uang SPP yang kemarin saya bayarkan Pak untuk semester genap ini. Apa aja ya Pak syaratnya?” kataku, akhirnya.
“Kamu fakultas apa?”
“FKIP Pak.”

Bapak itu kemudian menunjukkanku sebundel berkas. Aku kenal nama itu; Lidia Fitriani, teman sekelasku. Dia sudah wisuda bulan Oktober kemarin dan ternyata dia pun mengurus pencairan SPP juga.
“Boleh saya foto Pak? Supaya saya ingat urutannya.”
“Silahkan!”
Aku memfoto surat permohonan pencairan SPP, kemudian fotokopi pembayaran SPP semester genap ini dan terakhir surat Yudisium. Eh, nanti duluu!
“Pak, saya kan memang sudah sidang, tapi kemarin saya tidak terkejar untuk daftar yudisium Pak. Terus, bagaimana saya dapat surat Yudisium ini Pak sementara kan Yudisiumnya masih bulan Oktober mendatang?” tanyaku, sedikit panik.
“Ya kalau belum yudisium, tentu nggak bisa dicairkaaan,” jelasnya. Pelan, tapi menusuk.
“Terus gimana Pak? Kata ketua prodi saya, pasti bisa dicairkan meskipun belum yudisium. Yudisium itu kan hanya bentuk peresmiannya saja Pak?”
“Emmm…kamu konsultasikanlah dulu ke fakultas kamu ya bagaimana prosedurnya. Yang jelas, itu urutan berkas yang harus dikumpulkan. Besok kalau sudah lengkap, serahkan ke TU ya.”

Aku segera permisi. Menuruni tangga dengan jantung berdegub cepat dan fikiran tak menentu. Segera ku tancap gas menuju Prodi. Pak RM menyarankanku untuk membuat surat permohonan kepada Dekan FKIP guna pembuatan surat keterangan Yudisium. Ah, mendadak aku jadi teringat kalimat Lia kemarin sore; “Anak UIN, kalau belum Yudisium, mereka harus tetap bayar SPP loh Cin! Aisyah kan gitu kemarin.” Huahhhhhhhh! Ya Allah, semoga uang SPP ini adalah rezekiku. Aamiin. Lumayan, untuk bayar uang kosan selama 2,5 bulan nanti ku tinggalkan pengabdian.
“Kak Elissss?” sapa seseorang.
Aku tersenyum dan menyalaminya. Aku tak kenal dengannya, tapi aku kenal dengan temannya.
“Ini Vivi Kak. Kakak pasti nggak kenal sama Viviii. Vivi yang kenal sama Kakak.”
“Owhh, masa iya sih Dek? Salam kenal ya kalau gituuu. Emangnya kenal sama Kakak dari mana Dek?”
“Kakak terkenal loh Kak. Di mana-mana selalu update dan ada nama Kakak.”
“Hihiii… adek bisa ajaa. Hehe. Eh, Kakak duluan ya ke bawah, sedang ubur-ubur (baca: buru-buru) nih!”
“Hati-hati Kak.”

Aku kembali ke ruangan pak Suarman. Syukurlah, beliau ada di dalam. Setelah ku tanya apa yang mesti ku perbaiki, beliau malah menyarankanku untuk memperbaiki apa yang perlu saja. Huahhh, padahal sejak kemarin aku mengira beliau akan banyak menyarankan perbaikan untuk skripsiku. Beliau memintaku untuk meminta tanda tangan 3 penguji Skripsiku dan barulah meminta tanda tangannya. Tak lupa, aku pun menceritakan tentang RDDSIBU padanya dan perihal 2,5 bulan pengabdian yang akan ku lewati. Aku disarankan untuk segera mendaftar S2 di sini, tapi aku memohon doanya supaya aku bisa lolos beasiswa LPDP. Aamiin ya Allah.
“Makasih ya Pak, Elysa permisii..”
Di luar, ternyata ada Ruth yang juga mau bertemu pak Suarman. Ah, Aku kadang bingung kalau bertemu dengannya harus membicarakan apa selain sapa saja. Karena, melihatnya selalu mengingatkanku pada hutang yang belum juga dibayarnya. Aku sudah mengikhlaskannya saja, karena ku perhatikan dia pun tak ada itikad untuk membayarnya. Semoga jadi tambahan pahala untukku. Aaamiin.

Sekarang sudah pukul 11.20wib. Ku putuskan untuk berkunjung ke PAUD FAIR sampai menjelang Zuhur.
“Kakaaaakkk?” sapa dek Nilma padaku.
Aku menyalaminya. Setelah sedikit berbasa-basi, aku memintanya untuk memfotokanku di gerbang yang terbuat dari susunan botol plastik. Aku mencari angle yang berbeda dan tak biasa. Sihiyyy, cantik! Setelah berterimakasih kepada dek Nilma, aku menuju ke tenda penonton.
“Dek Bobiiii! Hayooo…pasti sedang memburu berita yaa?” sapaku pada dek Bobi.
Aku duduk di sebelahnya.
“Nggak kok Kak! Sedang OFF. Aku mau lihat acara ini aja.”
Aku bertanya kepada dek Bobi tentang isu bahwa FB BEM UR pernah dihack beberapa kali. Dan ternyata itu benar. Bahkan sekarang sudah dibuat akun yang kelima. Ia menjelaskan bahwa kemungkinan besar itu adalah perbuatan orang-orang yang tidak senang. Kalau ditukar ke fanspage, khawatir informasi tidak akan tersebar secara masiv karena tidak bisa men-tag akun lain.

“Kalau situs web, mungkin nggak Dek ada yang meng-hacker?” tanyaku.
“Mungkin aja Kak. Dunia IT itu KEJAM Kak! Tapi, kalau misalnya alamat web kita udah terdaftar di web hosting, bisa dengan mudah dilacak siapa yang meng-hack Kak. Kalau FB ni nggak bisa dilacak.”
“Tapi, kalau kita nggak daftar ke web hosting gimana Dek?”
“Ya nggak ada penjaminnya lah Kak. Misalnya blogspot, itu kan gratis Kak. Kalau terjadi apa-apa dengan blog kita ya nggak ada yang bertanggungjawab. Hacker itu nggak mesti harus tahu PIN kita Kak untuk bisa meng-hack.”
Ya Allah… aku jadi PARNO. Gimana nasib 7 blog aku ituuuu? Aku jadi khawatir, ntar kalau blogku semakin terkenal dan ada yang berniat jelek gimana? Masa aku harus ngumpetin blog aku sih? Sementara tujuanku ngeblog kan adalah untuk BERBAGI SE-LUAS-LUASNYA. Huhuuu, gimana nih pemirsaaa? Tapi aku yakin kok, Engkau Maha MENJAGA. Apalagi aku adalah hambaku yang sangat suka ‘dekat’ padaku. Engkau tidak akan mungkin MEMBIARKAN orang lain menjahatiku kan ya Allah? *Kedip-kedip mata sama Allah.

Niatnya mau ke kosan dek Yana untuk ngambil uang. Tapi, selain khawatir bensinku nggak nyampek ke sana, moodku juga sedang nggak bagus. Suntuk banget rasanya! Suntuk karena nggak ada uang di tangan sama sekali dan suntuk karena ternyata isu hacker tadi termakan oleh fikiranku. Sesampainya di kosan, ku hempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Aku akan tidur sampai menjelang Zuhur. Berharap ketika membuka mata nanti semuanya akan terasa jauh lebih baik.

***

Tok..tok..tok!
“Kak Elisss!”
Segera ku buka pintu kamarku dan ternyata yang datang adalah dek Vivid an dek Fresti. Tadi sebelum tidur, mereka sudah menelvonku bahwa akan mereka akan mampir ke sini untuk mendiskusikan tentang proposal mereka. Senang sekali jika aku bisa membantu mereka.
“Kak, sebenarnya ini ada 15 indikatornya, tapi Vivi buang 3 Kak karena kebanyakan kali nanti Kak.”
“Hah? Adek ke manakan yang 3 lagi?” tanyaku.
“Sengaja nggak Vivi masukkan Kak. hehee.”
“Emmm… kalau di BAB Teoritis itu harus dicantumin semuanya Dek. Karena ini kan teori orang. Masa kita dengan enaknya memotong-motong karyanya? Tuliskan aja semuanya, nah nanti diakhir, disimpulkan bahwa Adek hanya mengambil 12 saja dengan alasan bla bla bla. Gituuu!”
“Ohhh gituuuu ya Kak?”

Setelah selesai mengarahkan dek Vivi, kini giliran dek Fresti yang meminta saran atas judul proposalnya karena yang sebelumnya ditolak oleh Ka Prodi lama.
“Kak, makanlah gorengannya Kaak!” kata dek Vivi.
“Iya iya Dek, bentar yaa. Kakak sedang fokus nih menganalisis,” jawabku, berekspresi seperti seorang pemikir.
Beberapa menit kemudian, Dek Vivi menawariku gorengan lagi. Aku masih menolak dengan alasan yang mirip sebelumnya. Sebenarnya, aku sedang berpuasa Kamis. Tapi, aku tidak ingin berkata; ‘Maaf Dek, Kakak sedang puasa,’ karena aku tidak ingin membuatnya merasa bersalah karena udah makan gorengan di depanku. Cukup Engkau (dan pembaca blog ini) saja yang tahu ya Allah.
“Udah bagus kok Dek! Yang penting, carilah judul yang Adek FAHAMI. Terus, kalau mau cepat selesai, hindarilah judul yang terdiri dari 2 variable atau yang analisisnya harus pakai SPSS,” saranku.
Selanjutnya, obrolan kami berpindah ke mental guru-guru di sekolah tempat mereka PPL kemarin. Kemudian berpindah lagi tentang istri dosen kami yang sedang sakit.

“Selama kami kemarin bimbingan dengan Bapak tu di rumah sakit Kak, barulah kami sadar bahwa ternyata Bapak tu penyayang kali sama istri dan anak-anaknya Kak. Itupun Bapak tu masih merasa menyesal karena belum maksimal menyayangi istrinya. Selama ini Bapak tu dan istrinya sama-sama sibuk dan saling cuek. Ibuk tu nya kan kena diabetes basah Kak. Ada luka di kakinya yang nggak sembuh-sembuh dan harus di operasi, Kak.”
“Ya Allah…kasihannyaaaaa,” kataku.
“Bapak tu bilang gini sama kami kak; ‘Makanya, besok kalian cari suami dosen, supaya punya banyak waktu sama kalian’. Gitu kata bapak tu Kak, hehee.”
“Kalian nanti pengen jadi istri yang kayak gimana Dek? Yang sibuk kerja kayak Ibuk itu atau pengen jadi ibu rumah tangga aja?” selidikku.
“Pengen berkarir lah Kak intinya. Tapi nggak terlalu sibuk juga Kak. Yang penting, punya banyak waktu untuk keluarga dan bisa liburan sama keluarga,” jawab dek Vivi.

“Kalau Adek pengen jadi pegawai Bank Kak, hehe,” jelas dek Fresti.
“Eh, pegawai Bank itu sibuk kali loh Dek! Pulang malam. Liburnya cuma 2 hari kalau lebaran dan cuma hari minggu aja bisa libur dalam sepekan,” kataku.
“Iya juga sih Kak. Kalau Kakak pengennya gimana?”
“Kakak pengen jadi PENULIS Dek. Kayak Asma Nadia. Kakak hanya perlu 1x menulis, tapi keuntungan yang Kakak dapat dan manfaat yang orang lain terima bisa mengalir terus menerus. Apalagi kalau difilmkan buku kita tu…”
“Ih iyaa ya Kaaak. Setiap kali difilmkan, pasti kita kecipratan royaltinya jugaak!”
“Doakan Kakak ya Deeek. Semoga yang satu itu terwujud. Aamiin. Kakak juga pengen jadi dosen dan berbisnis dari rumah,” lanjutku.
“Kami pokoknya nggak mau jadi guru Kak. Ya Allah… beraaaat kaliii Kaaak. Kalau siswa gagal, pasti guru yang disalahkan. Tapi kalau jadi dosen, mau ngerti kek mau nggak ngerti kek mahasiswanya, ya itu urusan mahasiswa itu sendiri. Karena diperguruan tinggi ini kan kita dituntut untuk MANDIRI kan Kak? Nah, itulah enaknya jadi dosen; nggak akan ada yang memprotes kita kalau mahasiswanya nggak ngerti pelajaran. Heheee.”

Aku manggut-manggut mendengarkan curhatan mereka yang sahut-menyahut itu. Ini adalah masukan dan pertimbangan bagi hidupku juga. Tadi, aku baru mendapat informasi dari pak Suarman; ketika seorang guru menjadi PNS, maka sekalipun ia melanjutkan kuliah sampai S2, dia tidak akan bisa menjadi dosen (diangkat sebagai PNS dosen). Makanya, penting bagi yang ingin menjadi dosen untuk melanjutkan studi setinggi-tingginya dan tidak gegabah mendaftar PNS setelah S1 ini.

***

Akhirnya, aku mengaku juga kepada mami bahwa uangku sudah habis. Kalau bukan karena uang kos, mungkin aku masih akan berpura-pura masih punya uang saja. Alhamdulilah uangnya sudah dikirim oleh papi barusan. Papi menelvon…
“Udah masuk uangnya El?”
“Udah Pi..makaciiih yaaaa.”
Mendadak teringat lagi dengan cerita tentang penderita diabetes, aku pun langsung bertanya kepada papi tentang kadar gula darahnya. Ternyata papi seminggu ini sudah mengkonsumsi teh dauh Insulin yang dipesannya dari Bogor. Daun Insulin ini asalnya dari Jepang yang berfungsi menetralkan gula darah. Tapi, sejauh ini belum ada perubahan; masih 150 kadarnya ketika dicheck ketika subuh, sebelum mengonsumsi apa-apa.
“Diabetes Papi ini basah atau kering Pi?”
“Kering.”

“Ohhh… berarti kalau luka, bisa cepat sembuh kan Piii?”
“Iyaa.. cepat sembuh kok!”
“Ohh… El kira susah sembuhnyaaa. Kan El jadi khawatiiiirrrrr,” kataku. Ada air mata yang hampir jadi.
“Weleh, weleeehh. Hheee..” kata papi, tertawa.
Telvon pun diakhiri karena paket nelvon papi sudah habis. Aku langsung bersiap-siap ke kosan dek Yana. Katanya, dia masak hari ini dan aku diundangnya ke sana. Asyiikkkk! Wah, ternyata benerrr… ada banyak makanan di sini; ada tumis buncis, rendang kentang, sambal telur, sambal ikan dan kerupuk. Weeeww, aku sangat bersyukur malam ini bisa makan senikmat ini! Setelah makan, aku langsung sholat isya dan dilanjutkan dengan ngobrol Ria sampai pukul 21.40wib.
“…Ada yang menyarankan Kakak untuk mengakui perasaan ini Dek dan jujur kepada orangnya langsung. Tapi, kakak tetap nggak mau. Karena apa? Kakak ini adalah orang yang MUSIMAN. Bahkan, kakak pun nggak tahu sampai kapan USIA PERASAAN ini Dek. Bagi Kakak, ada RESIKO yang menyertai PENGAKUAN; Bisa jadi dia faham dan biasa saja, bisa jadi dia berusaha membalas perasaan Kakak dan bisa jadi dia malah risih dan menjauhi Kakak. Apapun alasannya, bagi Kakak, diam tetaplah yang TERBAIK selama kita belum mampu MENIKAH. Kalau sudah merasa mampu, ya silahkan!”

“Kak, Kakak pernah mikir nggak kalau Allah itu punya MAKSUD di setiap pertemuan kita dengan seseorang?”
“Pernah lah Dek! Justru Kakak sering berfikir kayak gitu. Kakak hanya ingin semua ini menjadi TAWAR kembali Dek. Dan suatu ketika, setelah dia merasa siap untuk MENIKAH, tiba-tiba Allah membuatnya ingat kepada Kakak dan dia akan bergumam di dalam hati;  ‘Oh ya, gimana ya kabar Elysa? Dulu, aku sering kali terlambat membalas pesannya. Tapi, sekalipun dia nggak pernah marah padaku walaupun mungkin dia kecewa. Ah, tak ada salahnya jika aku bertaaruf dengannya. Siapa tahu memang benar, dia jodohku’. Gitu Dek. Hehe. Mengkhayalnya ketinggian ya Kakak ni?”
“Aaamiin ya Allahh. Aamiin Kak.”
“Aamiin. Kalau memang sudah tiba masanya Dek. Allah kan Maha Tahu. Oh ya, kemarin pernah ada yang nanya kenapa Kakak nggak suka sama ***ri? Padahal dia kan termasuk cowok yang ‘lengkap’. Dan, pertanyaan itu membuat Kakak sadar Dek bahwa yang Kakak cari itu adalah yang COCOK dengan Kakak. Ibarat jari telunjuk dan jari tengah. Kalau dia jauh lebih ‘tinggi’ daripada Kakak, berarti Kakak yang ZOLIM. Sedangkan kalau dia jauh lebih ‘rendah’ daripada Kakak, berarti Kakak yang MERUGI. Makanya tadi Kakak bilang, bahwa jodoh itu adalah tentang KECOCOKAN; seseorang yang bisa kita genggam tangannya dengan leluasa karena dia berada disamping kita, bukan yang kita SERET tangannya karena dia tertinggal di belakang kita atau yang kita TARIK tangannya karena dia berjalan mendahului kita. Sihiyyyyyy.. kok Kakak bisa seromantis ini ya Dek? Haaa."

Tidak ada komentar: