
Pernah ada yang bertanya kepadaku; “El, kenapa nggak suka sama dia?
Padahal dia kan termasuk cowok yang 'lengkap'?" Ternyata, pertanyaan itu membuatku sadar bahwa yang ku cari itu adalah
seseorang yang COCOK denganku; Ibarat jari telunjuk dan jari tengah. Bukan jari
Telunjuk dan Jempol. Kalau dia jauh lebih ‘tinggi’ daripada aku, berarti aku
yang ZOLIM. Sedangkan kalau dia jauh lebih ‘rendah’ daripada aku, berarti aku
yang MERUGI.
Jodoh itu adalah tentang KECOCOKAN;
Dialah yang berjalan-BERIRINGAN di
samping kita. Bukan yang kita SERET
tangannya karena dia tertinggal di belakang kita atau yang kita TARIK tangannya karena dia berjalan
mendahului kita. See? Mulailah mengukur diri dari sekarang.
***
Pukul 09.00wib. Aku buru-buru ke
Prodi untuk menyerahkan bukti pembayaran Sidang Skripsi kepada pak RM. Sudah
seminggu beliau menunggu dan memaklumiku. Kali ini aku harus bersegera. Sebab,
aku pun harus mengakui bahwa aku tak suka MENUNGGU LAMA. Eh, tapi ternyata
Prodi masih tutup. Aku pun segera menuju ruangan pak Suarman. Dan, ternyata pak
Suarman pun belum datang. Akhirnya, aku nongkrong di HIMA bersama 2 orang
junior yang sedang menunggui stand pendaftaran Olimpiade Ekonomi (OE-4).
“Kemarin orang tu lomba nyanyi,
hari ini lomba apa pula yaa?”
“Fashion show kayaknya hari ini.”
Mendengar obrolan mereka barusan
membuatku ingin segera menuju ke arena PAUD FAIR. Tapi, aku nggak ada teman.
Rasanya percuma ke sana sendirian, karena toh nggak ada yang bisa memfotokan
aku pemirsaaa (dasar otak narsis, hehee). Akhirnya, aku tetap duduk anteng di
sini. Bercerita dengan mereka beberapa menit untuk membunuh tunggu.
“Kakak coba ke atas lagi ya Dek,
siapa tahu Pak RM udah datang! Makasih tumpangannnya, ehhe.”
Benar saja, Prodi sudah buka dan
pak RM ada di dalam. Aku segera menyerahkan slip pmebayaranku kepada beliau.
Aku bertanya tentang syarat pencairan kembali uang SPPku untuk semester genap
ini. Pak RM menyerahkan berita acara ujian Skripsiku kemarin dan memintaku
untuk mengopinya.
“Bang, foto kopi rangkap 3 yaa!”
pintaku kepada bang In.
Setelah selesai, aku baru
tersadar bahwa aku nggak punya uang sepeser pun di saku. Alamak! Ku perhatikan
beberapa orang yang sedang memfotokopi juga, tapi sayangnya nggak ada satu pun
yang ku kenal. Memang hanya Rp 500, tapi kalau aku memohon-mohon untuk
dibayarkan pun kurang etis rasanya. Akhirnya, aku berlarian ke HIMA dan
meminjam uang juniorku tadi.
“Seribu aja Dek!” ketika ia
menyodorkan uang Rp 2000 kepadaku.
“Cukup nyo Kak?” tanyanya.
“Cukup Dek. Makasih ya Dek.”
Duh, baik banget sih si adek! Aku
mau minjem Rp 1000 malah disodorkan Rp 2000. Kalau nggak ada kamu, Kakak nggak
bisa ngurus pencairan SPP hari ini Dek. Aku segera kembali ke prodi untuk
mengembalikan berita acara yang asli kepada pak RM. Selanjutnya, aku langsung
menuju rekorat. Ke lantai 3, bagian Keuangan dan Dana Masyarakat.
“Pak… saya mau emmm… mencairkan
uang SPP saya.. emm…gimana ya caranya ngomongnya?” aku tergagap.
Segera ku keluarkan berita acara
ujianku dari dalam tas.
“Nah, ini bukti bahwa saya sudah
sidang Pak, nah sekarang saya mau mencairkan kembali uang SPP yang kemarin saya
bayarkan Pak untuk semester genap ini. Apa aja ya Pak syaratnya?” kataku,
akhirnya.
“Kamu fakultas apa?”
“FKIP Pak.”
Bapak itu kemudian menunjukkanku
sebundel berkas. Aku kenal nama itu; Lidia Fitriani, teman sekelasku. Dia sudah
wisuda bulan Oktober kemarin dan ternyata dia pun mengurus pencairan SPP juga.
“Boleh saya foto Pak? Supaya saya
ingat urutannya.”
“Silahkan!”
Aku memfoto surat permohonan
pencairan SPP, kemudian fotokopi pembayaran SPP semester genap ini dan terakhir
surat Yudisium. Eh, nanti duluu!
“Pak, saya kan memang sudah
sidang, tapi kemarin saya tidak terkejar untuk daftar yudisium Pak. Terus,
bagaimana saya dapat surat Yudisium ini Pak sementara kan Yudisiumnya masih
bulan Oktober mendatang?” tanyaku, sedikit panik.
“Ya kalau belum yudisium, tentu
nggak bisa dicairkaaan,” jelasnya. Pelan, tapi menusuk.
“Terus gimana Pak? Kata ketua
prodi saya, pasti bisa dicairkan meskipun belum yudisium. Yudisium itu kan
hanya bentuk peresmiannya saja Pak?”
“Emmm…kamu konsultasikanlah dulu
ke fakultas kamu ya bagaimana prosedurnya. Yang jelas, itu urutan berkas yang
harus dikumpulkan. Besok kalau sudah lengkap, serahkan ke TU ya.”
Aku segera permisi. Menuruni
tangga dengan jantung berdegub cepat dan fikiran tak menentu. Segera ku tancap
gas menuju Prodi. Pak RM menyarankanku untuk membuat surat permohonan kepada
Dekan FKIP guna pembuatan surat keterangan Yudisium. Ah, mendadak aku jadi
teringat kalimat Lia kemarin sore; “Anak
UIN, kalau belum Yudisium, mereka harus tetap bayar SPP loh Cin! Aisyah kan
gitu kemarin.” Huahhhhhhhh! Ya Allah, semoga uang SPP ini adalah rezekiku.
Aamiin. Lumayan, untuk bayar uang kosan selama 2,5 bulan nanti ku tinggalkan
pengabdian.
“Kak Elissss?” sapa seseorang.
Aku tersenyum dan menyalaminya.
Aku tak kenal dengannya, tapi aku kenal dengan temannya.
“Ini Vivi Kak. Kakak pasti nggak
kenal sama Viviii. Vivi yang kenal sama Kakak.”
“Owhh, masa iya sih Dek? Salam
kenal ya kalau gituuu. Emangnya kenal sama Kakak dari mana Dek?”
“Kakak terkenal loh Kak. Di
mana-mana selalu update dan ada nama Kakak.”
“Hihiii… adek bisa ajaa. Hehe.
Eh, Kakak duluan ya ke bawah, sedang ubur-ubur (baca: buru-buru) nih!”
“Hati-hati Kak.”
Aku kembali ke ruangan pak
Suarman. Syukurlah, beliau ada di dalam. Setelah ku tanya apa yang mesti ku
perbaiki, beliau malah menyarankanku untuk memperbaiki apa yang perlu saja.
Huahhh, padahal sejak kemarin aku mengira beliau akan banyak menyarankan
perbaikan untuk skripsiku. Beliau memintaku untuk meminta tanda tangan 3
penguji Skripsiku dan barulah meminta tanda tangannya. Tak lupa, aku pun
menceritakan tentang RDDSIBU padanya dan perihal 2,5 bulan pengabdian yang akan
ku lewati. Aku disarankan untuk segera mendaftar S2 di sini, tapi aku memohon
doanya supaya aku bisa lolos beasiswa LPDP. Aamiin ya Allah.
“Makasih ya Pak, Elysa
permisii..”
Di luar, ternyata ada Ruth yang
juga mau bertemu pak Suarman. Ah, Aku kadang bingung kalau bertemu dengannya
harus membicarakan apa selain sapa saja. Karena, melihatnya selalu
mengingatkanku pada hutang yang belum juga dibayarnya. Aku sudah mengikhlaskannya
saja, karena ku perhatikan dia pun tak ada itikad untuk membayarnya. Semoga
jadi tambahan pahala untukku. Aaamiin.
Sekarang sudah pukul 11.20wib. Ku
putuskan untuk berkunjung ke PAUD FAIR sampai menjelang Zuhur.
“Kakaaaakkk?” sapa dek Nilma
padaku.
Aku menyalaminya. Setelah sedikit
berbasa-basi, aku memintanya untuk memfotokanku di gerbang yang terbuat dari
susunan botol plastik. Aku mencari angle yang berbeda dan tak biasa. Sihiyyy,
cantik! Setelah berterimakasih kepada dek Nilma, aku menuju ke tenda penonton.
“Dek Bobiiii! Hayooo…pasti sedang
memburu berita yaa?” sapaku pada dek Bobi.
Aku duduk di sebelahnya.
“Nggak kok Kak! Sedang OFF. Aku
mau lihat acara ini aja.”
Aku bertanya kepada dek Bobi
tentang isu bahwa FB BEM UR pernah dihack beberapa kali. Dan ternyata itu
benar. Bahkan sekarang sudah dibuat akun yang kelima. Ia menjelaskan bahwa
kemungkinan besar itu adalah perbuatan orang-orang yang tidak senang. Kalau
ditukar ke fanspage, khawatir informasi tidak akan tersebar secara masiv karena
tidak bisa men-tag akun lain.
“Kalau situs web, mungkin nggak
Dek ada yang meng-hacker?” tanyaku.
“Mungkin aja Kak. Dunia IT itu
KEJAM Kak! Tapi, kalau misalnya alamat web kita udah terdaftar di web hosting,
bisa dengan mudah dilacak siapa yang meng-hack Kak. Kalau FB ni nggak bisa
dilacak.”
“Tapi, kalau kita nggak daftar ke
web hosting gimana Dek?”
“Ya nggak ada penjaminnya lah
Kak. Misalnya blogspot, itu kan gratis Kak. Kalau terjadi apa-apa dengan blog
kita ya nggak ada yang bertanggungjawab. Hacker itu nggak mesti harus tahu PIN
kita Kak untuk bisa meng-hack.”
Ya Allah… aku jadi PARNO. Gimana
nasib 7 blog aku ituuuu? Aku jadi khawatir, ntar kalau blogku semakin terkenal
dan ada yang berniat jelek gimana? Masa aku harus ngumpetin blog aku sih?
Sementara tujuanku ngeblog kan adalah untuk BERBAGI SE-LUAS-LUASNYA. Huhuuu,
gimana nih pemirsaaa? Tapi aku yakin kok, Engkau Maha MENJAGA. Apalagi aku
adalah hambaku yang sangat suka ‘dekat’ padaku. Engkau tidak akan mungkin
MEMBIARKAN orang lain menjahatiku kan ya Allah? *Kedip-kedip mata sama Allah.
Niatnya mau ke kosan dek Yana
untuk ngambil uang. Tapi, selain khawatir bensinku nggak nyampek ke sana,
moodku juga sedang nggak bagus. Suntuk banget rasanya! Suntuk karena nggak ada
uang di tangan sama sekali dan suntuk karena ternyata isu hacker tadi termakan
oleh fikiranku. Sesampainya di kosan, ku hempaskan tubuhku di atas tempat
tidur. Aku akan tidur sampai menjelang Zuhur. Berharap ketika membuka mata
nanti semuanya akan terasa jauh lebih baik.
***
Tok..tok..tok!
“Kak Elisss!”
Segera ku buka pintu kamarku dan
ternyata yang datang adalah dek Vivid an dek Fresti. Tadi sebelum tidur, mereka
sudah menelvonku bahwa akan mereka akan mampir ke sini untuk mendiskusikan
tentang proposal mereka. Senang sekali jika aku bisa membantu mereka.
“Kak, sebenarnya ini ada 15
indikatornya, tapi Vivi buang 3 Kak karena kebanyakan kali nanti Kak.”
“Hah? Adek ke manakan yang 3
lagi?” tanyaku.
“Sengaja nggak Vivi masukkan Kak.
hehee.”
“Emmm… kalau di BAB Teoritis itu
harus dicantumin semuanya Dek. Karena ini kan teori orang. Masa kita dengan
enaknya memotong-motong karyanya? Tuliskan aja semuanya, nah nanti diakhir,
disimpulkan bahwa Adek hanya mengambil 12 saja dengan alasan bla bla bla.
Gituuu!”
“Ohhh gituuuu ya Kak?”
Setelah selesai mengarahkan dek
Vivi, kini giliran dek Fresti yang meminta saran atas judul proposalnya karena
yang sebelumnya ditolak oleh Ka Prodi lama.
“Kak, makanlah gorengannya Kaak!”
kata dek Vivi.
“Iya iya Dek, bentar yaa. Kakak
sedang fokus nih menganalisis,” jawabku, berekspresi seperti seorang pemikir.
Beberapa menit kemudian, Dek Vivi
menawariku gorengan lagi. Aku masih menolak dengan alasan yang mirip
sebelumnya. Sebenarnya, aku sedang berpuasa Kamis. Tapi, aku tidak ingin
berkata; ‘Maaf Dek, Kakak sedang puasa,’ karena aku tidak ingin membuatnya
merasa bersalah karena udah makan gorengan di depanku. Cukup Engkau (dan
pembaca blog ini) saja yang tahu ya Allah.
“Udah bagus kok Dek! Yang
penting, carilah judul yang Adek FAHAMI. Terus, kalau mau cepat selesai,
hindarilah judul yang terdiri dari 2 variable atau yang analisisnya harus pakai
SPSS,” saranku.
Selanjutnya, obrolan kami
berpindah ke mental guru-guru di sekolah tempat mereka PPL kemarin. Kemudian
berpindah lagi tentang istri dosen kami yang sedang sakit.
“Selama kami kemarin bimbingan
dengan Bapak tu di rumah sakit Kak, barulah kami sadar bahwa ternyata Bapak tu
penyayang kali sama istri dan anak-anaknya Kak. Itupun Bapak tu masih merasa
menyesal karena belum maksimal menyayangi istrinya. Selama ini Bapak tu dan
istrinya sama-sama sibuk dan saling cuek. Ibuk tu nya kan kena diabetes basah
Kak. Ada luka di kakinya yang nggak sembuh-sembuh dan harus di operasi, Kak.”
“Ya Allah…kasihannyaaaaa,”
kataku.
“Bapak tu bilang gini sama kami
kak; ‘Makanya, besok kalian cari suami dosen, supaya punya banyak waktu sama
kalian’. Gitu kata bapak tu Kak, hehee.”
“Kalian nanti pengen jadi istri
yang kayak gimana Dek? Yang sibuk kerja kayak Ibuk itu atau pengen jadi ibu
rumah tangga aja?” selidikku.
“Pengen berkarir lah Kak intinya.
Tapi nggak terlalu sibuk juga Kak. Yang penting, punya banyak waktu untuk
keluarga dan bisa liburan sama keluarga,” jawab dek Vivi.
“Kalau Adek pengen jadi pegawai
Bank Kak, hehe,” jelas dek Fresti.
“Eh, pegawai Bank itu sibuk kali
loh Dek! Pulang malam. Liburnya cuma 2 hari kalau lebaran dan cuma hari minggu
aja bisa libur dalam sepekan,” kataku.
“Iya juga sih Kak. Kalau Kakak
pengennya gimana?”
“Kakak pengen jadi PENULIS Dek.
Kayak Asma Nadia. Kakak hanya perlu 1x menulis, tapi keuntungan yang Kakak
dapat dan manfaat yang orang lain terima bisa mengalir terus menerus. Apalagi
kalau difilmkan buku kita tu…”
“Ih iyaa ya Kaaak. Setiap kali
difilmkan, pasti kita kecipratan royaltinya jugaak!”
“Doakan Kakak ya Deeek. Semoga
yang satu itu terwujud. Aamiin. Kakak juga pengen jadi dosen dan berbisnis dari
rumah,” lanjutku.
“Kami pokoknya nggak mau jadi
guru Kak. Ya Allah… beraaaat kaliii Kaaak. Kalau siswa gagal, pasti guru yang
disalahkan. Tapi kalau jadi dosen, mau ngerti kek mau nggak ngerti kek
mahasiswanya, ya itu urusan mahasiswa itu sendiri. Karena diperguruan tinggi
ini kan kita dituntut untuk MANDIRI kan Kak? Nah, itulah enaknya jadi dosen;
nggak akan ada yang memprotes kita kalau mahasiswanya nggak ngerti pelajaran.
Heheee.”
Aku manggut-manggut mendengarkan
curhatan mereka yang sahut-menyahut itu. Ini adalah masukan dan pertimbangan
bagi hidupku juga. Tadi, aku baru mendapat informasi dari pak Suarman; ketika
seorang guru menjadi PNS, maka sekalipun ia melanjutkan kuliah sampai S2, dia
tidak akan bisa menjadi dosen (diangkat sebagai PNS dosen). Makanya, penting
bagi yang ingin menjadi dosen untuk melanjutkan studi setinggi-tingginya dan
tidak gegabah mendaftar PNS setelah S1 ini.
***
Akhirnya, aku mengaku juga kepada
mami bahwa uangku sudah habis. Kalau bukan karena uang kos, mungkin aku masih
akan berpura-pura masih punya uang saja. Alhamdulilah uangnya sudah dikirim
oleh papi barusan. Papi menelvon…
“Udah masuk uangnya El?”
“Udah Pi..makaciiih yaaaa.”
Mendadak teringat lagi dengan
cerita tentang penderita diabetes, aku pun langsung bertanya kepada papi
tentang kadar gula darahnya. Ternyata papi seminggu ini sudah mengkonsumsi teh
dauh Insulin yang dipesannya dari Bogor. Daun Insulin ini asalnya dari Jepang
yang berfungsi menetralkan gula darah. Tapi, sejauh ini belum ada perubahan;
masih 150 kadarnya ketika dicheck ketika subuh, sebelum mengonsumsi apa-apa.
“Diabetes Papi ini basah atau
kering Pi?”
“Kering.”
“Ohhh… berarti kalau luka, bisa
cepat sembuh kan Piii?”
“Iyaa.. cepat sembuh kok!”
“Ohh… El kira susah sembuhnyaaa.
Kan El jadi khawatiiiirrrrr,” kataku. Ada air mata yang hampir jadi.
“Weleh, weleeehh. Hheee..” kata
papi, tertawa.
Telvon pun diakhiri karena paket
nelvon papi sudah habis. Aku langsung bersiap-siap ke kosan dek Yana. Katanya,
dia masak hari ini dan aku diundangnya ke sana. Asyiikkkk! Wah, ternyata
benerrr… ada banyak makanan di sini; ada tumis buncis, rendang kentang, sambal
telur, sambal ikan dan kerupuk. Weeeww, aku sangat bersyukur malam ini bisa
makan senikmat ini! Setelah makan, aku langsung sholat isya dan dilanjutkan
dengan ngobrol Ria sampai pukul 21.40wib.
“…Ada yang menyarankan Kakak
untuk mengakui perasaan ini Dek dan jujur kepada orangnya langsung. Tapi, kakak
tetap nggak mau. Karena apa? Kakak ini adalah orang yang MUSIMAN. Bahkan, kakak
pun nggak tahu sampai kapan USIA PERASAAN ini Dek. Bagi Kakak, ada RESIKO yang
menyertai PENGAKUAN; Bisa jadi dia faham dan biasa saja, bisa jadi dia berusaha
membalas perasaan Kakak dan bisa jadi dia malah risih dan menjauhi Kakak.
Apapun alasannya, bagi Kakak, diam tetaplah yang TERBAIK selama kita belum
mampu MENIKAH. Kalau sudah merasa mampu, ya silahkan!”
“Kak, Kakak pernah mikir nggak
kalau Allah itu punya MAKSUD di setiap pertemuan kita dengan seseorang?”
“Pernah lah Dek! Justru Kakak
sering berfikir kayak gitu. Kakak hanya ingin semua ini menjadi TAWAR kembali
Dek. Dan suatu ketika, setelah dia merasa siap untuk MENIKAH, tiba-tiba Allah
membuatnya ingat kepada Kakak dan dia akan bergumam di dalam hati; ‘Oh ya, gimana ya kabar Elysa? Dulu, aku
sering kali terlambat membalas pesannya. Tapi, sekalipun dia nggak pernah marah
padaku walaupun mungkin dia kecewa. Ah, tak ada salahnya jika aku bertaaruf
dengannya. Siapa tahu memang benar, dia jodohku’. Gitu Dek. Hehe.
Mengkhayalnya ketinggian ya Kakak ni?”
“Aaamiin ya Allahh. Aamiin Kak.”
“Aamiin. Kalau memang sudah tiba
masanya Dek. Allah kan Maha Tahu. Oh ya, kemarin pernah ada yang nanya kenapa
Kakak nggak suka sama ***ri? Padahal dia kan termasuk cowok yang ‘lengkap’.
Dan, pertanyaan itu membuat Kakak sadar Dek bahwa yang Kakak cari itu adalah
yang COCOK dengan Kakak. Ibarat jari telunjuk dan jari tengah. Kalau dia jauh
lebih ‘tinggi’ daripada Kakak, berarti Kakak yang ZOLIM. Sedangkan kalau dia
jauh lebih ‘rendah’ daripada Kakak, berarti Kakak yang MERUGI. Makanya tadi
Kakak bilang, bahwa jodoh itu adalah
tentang KECOCOKAN; seseorang yang bisa kita genggam tangannya dengan leluasa
karena dia berada disamping kita, bukan yang kita SERET tangannya karena dia
tertinggal di belakang kita atau yang kita TARIK tangannya karena dia berjalan
mendahului kita. Sihiyyyyyy.. kok Kakak bisa seromantis ini ya Dek? Haaa."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar