“Rin, Riiin. Mau dengerin ceritaku lagi?” tanyaku sambil
menggoyang-goyangkan bahu Rini.
“Ceritalah! Tapi aku sambil merem yaa. Mataku pedih
soalnya.”
“Gini Rin, tadi aku jumpa dengan seniorku yang angkatan 09.
Dia aneh Rin, ketika dia menceritakan tentang kerusakan keluarganya ke aku tapi
dengan ekspresi datar; sama sekali nggak tergambar di wajahnya kalau dia sedang
menceritakan sesuatu yang sedih. Padahal, mataku aja udah berkaca-kaca loh! Aku
berfikir, kuat kali lah Kakak itu. Dari wajahnya kita nggak akan ngira kalau
keluarganya broken Rin, karena Kakak tu ceria aja. Tapi memang sih, Kakak itu
mudah mengeluh. Hemmm… aku belum tentu bisa setegar dia kalau berada di
posisinya. Rin, kita berdoa yaa, semoga nantinya keluarga yang kita bangun
SUKSES dunia-akhirat. Nggak gagal apalagi kandas di tengah jalan kayak gitu.”
“Aamiin ya Allah.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar